NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 - Eksekusi Pasal 7 (+)

Suara halus pintu kamar utama yang tertutup kedap malam ini terdengar seperti vonis akhir bagi Nami. ​Ia berdiri mematung di dekat meja rias, meremas ujung kemejanya dengan jemari yang gemetar.

Gema ucapan Nyonya Sofia di ruang tengah tadi masih berputar hebat di kepalanya, memicu debaran jantung yang jauh lebih liar daripada saat ia menghadapi pasien henti jantung di IGD.

​Cklek.

​Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Nami tersentak. Dari pantulan cermin, ia melihat Max melangkah keluar.

Pria itu sudah menanggalkan jas mahalnya. Dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka, memperlihatkan potongan rahang tegas dan dada bidangnya yang kokoh di bawah pendar lampu kamar yang temaram.

Rambutnya yang sedikit basah disisir asal ke belakang, memancarkan aura maskulin yang intimidatif.

​Atmosfer kamar yang luas itu mendadak menjelma menjadi ruang interogasi yang menyempit. Panas.

​"Kau terlihat gelisah, Namira," suara bariton Max memecah keheningan, rendah dan kaku. Pria itu berjalan lambat, mengikis jarak hingga kini berdiri tepat di belakang Nami.

​Nami membalikkan tubuhnya dengan cepat, mencoba menegakkan bahu demi mempertahankan sisa-sisa harga diri yang ia miliki.

"Siapa yang tidak gelisah setelah ibumu tiba-tiba menjatuhkan bom waktu seperti tadi? Kamar bayi? Cucu? Max, kontrak kita baru berjalan beberapa hari!"

"Ibuku sudah menyuruh kepala pelayan merenovasi kamar sebelah," potong Max cepat, tanpa jeda.

Tatapan matanya yang sedingin es kini mengunci manik mata Nami dengan intensitas yang pekat. "Itu artinya, kita tidak memiliki alasan lagi untuk menunda pasal utama dalam perjanjian ini."

​"Memangnya membuat anak itu semudah membalik telapak tangan?!" balas Nami sengit, napasnya mulai memburu.

"Sudah kubilang, aku sedang tidak dalam masa suburku sekarang, Max. Persentase keberhasilannya sangat rendah. Tapi bagimu ini cuma transaksi bisnis biasa yang bisa dikebut sesukamu tanpa peduli teori ilmiah, kan?!"

​Max tidak langsung menjawab. Ia mengambil satu langkah maju, membuat Nami terpaksa mundur hingga pinggulnya terbentur tepi ranjang king size di belakangnya.

​Max mengungkung tubuh Nami, menumpukan satu tangannya di sisi ranjang, memaksa wanita itu mendongak demi menatap wajahnya yang berjarak amat dekat.

Aroma parfum maskulin Max yang berkelas bercampur samar dengan aroma sabunnya, menciptakan kombinasi yang memabukkan.

​"Awalnya, iya," bisik Max akhirnya, suaranya merendah tepat di depan wajah Nami. "Ini hanya urusan bisnis dan efisiensi waktu demi Ibuku."

​Max menjeda kalimatnya. Matanya bergerak lambat, mengunci bibir Nami yang sedikit terbuka.

​Namun, di dalam kepalanya, badai lain sedang bergemuruh tanpa suara. Max menatap lekat wanita di bawah kungkungannya.

Mengingat bagaimana Nami begitu tulus menyelamatkan ibunya kemarin, melihat kerelaan wanita ini melepas jas dokter kebanggaannya demi selembar kertas kontrak... Max sadar ego dan teritorinya telah bergeser.

Jauh di dalam lubuk hatinya, sebuah pengakuan rahasia muncul tanpa bisa ia cegah.

Max sama sekali tidak keberatan jika anak yang akan lahir dari darah dagingnya nanti, memiliki ibu seperti Namira.

​"Tapi malam ini," ucap Max lagi, memutus pergolakan batinnya sendiri. Suaranya kembali terdengar dominan dan mutlak di telinga Nami.

"Aku tidak menerima alasan medis atau kalkulasi masa subur apa pun darimu, Dokter Namira."

​Sebelum Nami sempat memproses kilat intens di mata pria itu, Max menundukkan kepala.

​Cup.

​Bibir kokoh Max mendarat di atas bibir Nami. Bukan sekadar kecupan kaku seperti saat di altar pernikahan, melainkan sebuah lumatan yang dalam, panas, dan penuh penekanan yang menyapu bersih sisa-sisa penolakan di ujung lidah Nami.

​Nami tersentak hebat. Kedua telapak tangannya langsung bertumpu pada dada bidang Max, mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh kokoh itu menjauh.

Namun, Max menahannya. Cengkeraman tangan kiri Max di pinggang Nami justru semakin mengerat, mengunci pergerakan wanita itu hingga tubuh rampingnya semakin menempel tanpa celah pada dada bidangnya.

​Nami mencoba memalingkan wajah untuk memutuskan ciuman panas itu, namun pautan Max terlalu kuat dan menuntut, meraup seluruh napasnya hingga membuat pasokan oksigen di kepala Nami mendadak menipis.

Sentuhan Max menjelma menjadi api yang membakar habis sisa-sisa kekuatan fisik Nami, menuntut hak mutlak atas kelanjutan malam pertama mereka yang sempat tertunda.

​Erangan halus yang tertahan lolos dari sela bibir Nami saat Max memperdalam ciumannya, memiringkan kepala demi meraup seluruh napas wanita itu.

​Di bawah kendali instingnya yang dominan, jemari kokoh Max merayap naik ke dada Nami, mulai bergerak menuntut di sela-sela kancing kemeja wanita itu.

Satu kancing terlepas dengan gerakan halus namun pasti, memaparkan kulit leher Nami pada sapuan angin malam yang dingin, sebelum kembali dihangatkan oleh sentuhan kulit Max.

​Nami memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya yang semula mendorong kini beralih meremas kemeja putih Max dengan frustrasi hingga kainnya meremuk.

Logikanya berteriak menolak, namun fisiknya yang mulai lelah akibat kalah tenaga kini perlahan-lahan dipaksa menyerah oleh jerat pesona sang CEO yang malam ini berubah menjadi begitu posesif.

​Saat kancing kedua kemejanya kembali terlepas dan Max mulai menuntun tubuhnya untuk merebah di atas empuknya kasur, Nami tahu... malam ini, tidak akan ada lagi telepon darurat yang bisa menyelamatkannya.

​Dan untuk pertama kalinya, di tengah ketidakberdayaannya menolak takdir kontrak ini, Nami memilih untuk menyerahkan dirinya secara sukarela ke dalam dekapan sang iblis berwajah tampan itu.

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!