NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Ancaman Sekutu Cahaya

Keheningan jatuh setelah ancaman Wiryo selesai menggantung di udara malam seperti pisau yang siap jatuh kapan saja.

Dyah Ayu menggantung di cengkeraman Wiryo dengan mata yang sudah tidak bisa menyembunyikan ketakutan. Nafasnya terputus-putus seperti lilin yang hampir padam diterpa angin yang tidak kelihatan.

Arjuna berdiri diam.

Tidak ada ekspresi kemarahan, dan tidak ada ekspresi kepanikan. Hanya ketenangan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang tidak perlu dia cari lagi.

"Kalkulasi dimulai," ucap Arjuna dengan sangat tenang.

"Arjuna!" bentak Wiryo, mata biruya memancar dengan amarah yang sudah tidak bisa ditahan. "Kali ini tidak ada istana yang menyelamatkanmu! Gadis ini akan aku hancurkan di depan matamu!"

"Bahkan dengan Jendral Hydra, kalian masih tidak sebanding dengan kami," timpal Suryadewa, aura keemasan miliknya memancar lebih brutal dari sebelumnya. "Ini adalah kekalahan telak yang kalian pilih sendiri untuk berjalan kedepan maut."

"Manusia murni yang seharusnya sudah dilenyapkan sejak lahir," tambah Abhinata, suaranya sangat tenang tapi mengandung bobot yang mengerikan. "Sekarang kau akan melihat apa itu kekuatan sejati dari sekutu cahaya yang telah berkuasa selama ribuan tahun."

Harjasa berdiri di belakang Arjuna, aura Void Anchoring Realm memancar penuh seperti badai yang menunggu perintah untuk meledak.

Mata emas murni Harjasa memindai ketiga Komandan itu dengan kalkulasi yang berbeda dari biasanya, bukan kalkulasi kemenangan, tapi kalkulasi siapa yang akan mendapat medali tertinggi malam ini.

Arjuna tidak menjawab satupun dari tiga ancaman, dan cacian yang baru saja ditumpuk kepadanya.

Matanya hanya bergerak sangat pelan memindai Dyah Ayu dari atas ke bawah. Kemudian menghitung setiap detail kondisi gadis itu dengan presisi yang tidak bisa dilihat oleh siapapun di lokasi itu.

Lalu domain Spirit Awakening Realm: Golden Star meletus dari tubuhnya tanpa peringatan, dan memperluas jangkauan hingga 50 meter ke segala arah dalam sepersekian detik.

Wiryo, Abhinata, dan Suryadewa membatu seketika. “Apa?! Kenapa dengan domain ini?!”

Domain yang seharusnya 20 meter, ternyata radiusnya melebar menjadi  50 meter. Ini diluar kalkulasi mereka bertiga.

Arjuna bergerak dalam sepersekian detik dengan tubuh berkedip.

"Sky Hand Flip!" serunya pelan.

Domain 50 meter meletus penuh. Tubuh Arjuna menghilang dari posisi semula, dan muncul tepat di samping Wiryo dalam kecepatan yang tidak bisa diantisipasi oleh mata biasa.

Tangannya menyambar pergelangan tangan Wiryo dengan presisi yang tidak memberi ruang untuk reaksi, lalu dalam 1 milidetik menukar posisi Dyah Ayu ke sisinya dalam satu gerakan yang mulus tanpa celah.

Dyah Ayu tiba-tiba berpindah ke sisi Harjasa, tubuhnya masih gemetar tapi nafasnya mulai kembali normal di bawah perlindungan aura Void Anchoring Realm yang menggantikan tekanan tiga Komandan.

"Ar-Arjuna," bisik Dyah Ayu, matanya memandang ke arah kubus yang belum terbentuk dengan ekspresi yang tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Harjasa menangkap Dyah Ayu dengan satu tangan, matanya memindai situasi dengan kalkulasi yang cepat.

Arjuna berdiri di tengah, domain 50 meter masih memancar dari seluruh tubuhnya.

Wiryo tidak terkejut.

Bukan hanya tidak terkejut, dia tersenyum.

Senyuman paling mengerikan yang pernah Arjuna lihat dalam tiga tahun di bawah komandonya.

"Umpan sudah dimakan," desah Wiryo tersenyum licik, suaranya mengandung kepuasan yang sangat dalam, dan tangannya menekan tombol bracelet, "Tepat seperti kalkulasi kami."

Abhinata dan Suryadewa bergerak bersamaan. Tangan mereka masing-masing menekan tombol bracelet untuk mengeluarkan sesuatu. Sebuah artefak yang belum pernah Arjuna lihat sebelumnya muncul di telapak tangan masing-masing.

Artefak itu berbentuk tiga pecahan kristal hitam yang menyambung menjadi satu saat ketiganya menyentuh ujung-ujungnya bersamaan.

"Kuda Bajranga!" seru ketiganya serentak.

Cahaya hitam pekat meledak dari artefak itu. Kemudian menyebar ke segala arah dengan kecepatan yang melampaui antisipasi domain Arjuna sekalipun.

Kubus tak terlihat terbentuk dalam sepersekian detik. Dindingnya transparan, tapi memancarkan tekanan yang membuat udara di dalamnya terasa lebih berat dari baja.

Arjuna, dan ketiga Komandan sekutu cahaya itu terkunci di dalamnya.

Harjasa bergerak maju dengan aura Void Anchoring Realm penuh, “Hydra Anchoring Fist!”

Kemudian tangannya menghantam dinding kubus dengan tenaga yang cukup untuk menghancurkan bangunan terkuat di Prefektur Draconis.

Dinding itu tidak bergerak satu milimeter pun.

"Satu jam, hahaha …," ucap Wiryo dari dalam kubus, matanya menatap Harjasa yang berdiri di luar dengan tatapan yang mengandung kemenangan yang sudah digenggam. "Dalam satu jam, Arjuna Sasrabahu tidak akan ada lagi di Benua Sangakama ini."

Harjasa menghantam dinding kubus sekali lagi, dan hasilnya tetap sama.

Tidak ada getaran maupun pergerakan.

“Sial, artefak apa itu?” gumamnya dengan leher mengeras.

Dyah Ayu berdiri di samping Harjasa, dan matanya menatap Arjuna di dalam kubus dengan ekspresi yang tidak bisa dia sembunyikan.

"Arjuna," bisik Dyah Ayu, suaranya seperti seseorang yang baru menyadari dirinya sudah kehilangan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan. “Ka-kamu harus selamat.”

Di dalam kubus segel penjara Kuda Bajranga, Wiryo melesat dari sisi kiri, Abhinata dari atas, dan Suryadewa dari kanan.

Tiga arah sekaligus dengan kecepatan Spirit Awakening Realm: Celestial Star yang memancar penuh tanpa sisa.

Arjuna mengaktifkan Devil Phantom Raijin. Lalu tubuhnya menghilang dari posisi semula dalam sepersekian detik, dan muncul di sisi lain domain dengan luka goresan di bahu kiri yang tidak sempat dia hindari sepenuhnya.

"Lambat!" ejek Wiryo, matanya berkilau dengan kenikmatan yang tidak disembunyikan. "Tiga tahun di bawah komandoku, dan manusia ini masih bergerak seperti cacing yang baru belajar merayap? Hahahaha …."

"Manusia murni yang mengandalkan domain," timpal Suryadewa, aura keemasan memancar lebih brutal. "Tanpa domain itu, kau tidak ada bedanya dengan mayat yang belum menyadari dirinya sudah mati."

"Bahkan seekor serangga pun lebih bermartabat dari ras manusia murni," ucap Abhinata, suaranya tenang tapi mengandung penghinaan yang jauh lebih dalam dari teriakan manapun. "Setidaknya serangga tidak berpura-pura setara dengan kekuatan yang tidak akan pernah bisa dia capai."

Arjuna berdiri di tengah domain dengan darah mengalir dari bahu kirinya, nafasnya teratur, dan matanya tidak berkedip.

"Menarik," ucap Arjuna, suaranya mengandung sesuatu yang berbeda dari sebelumnya, bukan kemarahan, bukan kepanikan, tapi nada seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat lucu. "Tiga Komandan internasional membutuhkan artefak penyegelan, tiga lawan satu, dan satu jam penuh hanya untuk membunuh satu manusia murni. Sungguh ras Hybrida yang sangat lemah, dan sampah.”

Wiryo mengerutkan dahi.

"Itu bukan keberanian," lanjut Arjuna, satu langkah maju yang tidak meminta izin. "Itu ketakutan yang sangat mahal harganya."

"Tutup mulutmu!" bentak Wiryo, amarahnya meledak seperti bendungan yang tidak bisa ditahan lagi.

"Ketakutan," ulang Arjuna dengan nada yang sama tenangnya, matanya memindai ketiga Komandan satu per satu, "Kalian membutuhkan semua ini hanya untuk menghadapi satu manusia yang kalian sebut sampah. Aku tidak perlu menghina kalian, kalian sudah melakukannya sendiri. Dasar ras Hybrida sampah!"

Keheningan jatuh di dalam kubus Kuda Bajranga.

Lalu Wiryo tersenyum, dan senyuman yang jauh lebih dingin dari kemarahan.

"Habisi dia!" titah Wiryo, suaranya kembali ke nada yang paling mengerikan. "Dengan cara yang paling brutal."

Ketiganya menyentuh tanah serentak.

"Art Transformation Triwikrama: Ancient Etherion!" seru Wiryo.

"Art Transformation Triwikrama: Deity Seal!" seru Suryadewa.

"Art Transformation Triwikrama: Chaerubim God!" seru Abhinata.

Cahaya biru, emas, dan putih meledak bersamaan di dalam kubus, membutakan seluruh area dalam kilatan yang menembus dinding transparan hingga terlihat dari luar.

Tiga raksasa berdiri di hadapan Arjuna dengan aura yang menekan kubus segel penjara seperti mau retak.

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!