Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian di Atas Kertas Berlapis Emas
Keheningan yang merayap di dalam ruang rawat VIP paviliun barat terasa semakin pekat dan mengintimidasi. Giovanni Alberto masih berdiri kokoh di samping ranjang medis, laksana sebuah monumen kekuasaan yang dipahat dari batu marmer hitam yang dingin. Sepasang matanya yang sewarna malam kelam tidak berkedip sedikit pun, mengunci pandangan Alessa yang masih tampak memutih pucat setelah membaca rincian tagihan medis sebesar seratus dua puluh juta rupiah.
Di atas selimut bulu angsa yang empuk, papan klip kayu mahoni yang menjepit lembaran kertas bertekstur tebal itu tergeletak pasrah. Kilatan foil emas murni pada kop surat dokumen tersebut seolah memantulkan bayangan ironi dari kemiskinan struktural yang selama ini mencekik leher Alessa. Hanya dalam waktu kurang dari dua belas jam sejak dia melompat ke dalam bus malam tanpa alas kaki, status finansialnya telah bermutasi dari seorang buruh potong roti berutang menjadi seorang pasien darurat dengan utang kasta bangsawan.
Kesedihan yang teramat mendalam kembali mengetuk dinding kesadaran Alessa, mengalir perlahan laksana racun dingin yang melumpuhkan. Dia menatap jemari tangannya yang kini bersih dari noda hitam karat pisau mentega, namun terasa sangat asing di bawah balutan gaun perawatan sutra putih gading ini. “Ibu... Ayah... Alessa bener-bener gak tahu harus melangkah ke mana lagi,” ratap batinnya, rasa sesak yang masif membuat dadanya yang dibalut perban terasa kian menyempit. “Keluar dari neraka Kak Rian, Alessa malah menabrak tembok raksasa milik monster berjas mahal ini. Apa hidup Alessa memang hanya ditakdirkan untuk berpindah dari satu sangkar besi ke sangkar emas yang lebih mematikan?”
Amarah yang pekat ikut bergolak di sela-sela rasa putus asanya. Dia marah pada dunia yang memperlakukannya seperti barang dagangan, marah pada ketidakadilan yang membuat setetes darahnya dihargai dengan nominal puluhan juta rupiah oleh sistem manajemen medis milik Giovanni. Ketika kepalanya kembali berputar hebat akibat vertigo emosional, sekring sarkasme radikal di dalam otaknya memercikkan api gaibnya untuk terakhir kali di siang yang menegangkan itu. Komedi tragis adalah satu-satunya senjata orisinal Alessa untuk menolak tunduk pada dominasi absolut pria di depannya.
Alessa mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Giovanni yang hampa dari kehangatan emosi manusia biasa. Sebuah tawa pendek yang sangat kering dan parau lolos dari celah bibirnya yang pecah.
"Gila... bener-bener konsep investasi yang visioner, Mas Bos Giovanni," kata Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi yang tajam, menantang langsung aura intimidasi sang penguasa. "Jadi, dengan nominal seratus dua puluh juta ini, lu resmi membeli hak cipta atas sisa hidup seorang buronan pelabuhan yang punggungnya mirip kain perca dan kakinya dibungkus perban mirip mumi? Apa di duniaku yang serba mewah ini, mengoleksi manusia babak belur adalah tren hobi terbaru para miliarder kaku yang bosan menghitung tumpukan saham?"
Giovanni tidak menunjukkan reaksi kemarahan sedikit pun atas kelancangan kata-kata Alessa. Wajahnya tetap tenang, berwibawa, dan tanpa riak. Dia justru mengagumi bagaimana garis pertahanan mental gadis ini tetap kokoh berdiri menggunakan bahan bakar sarkasme, bahkan di saat tubuhnya berada di ambang kolaps dan jiwanya dikepung oleh kepanikan finansial.
"Darahmu mungkin tidak berharga di pasar saham, Alessa," desis Giovanni dingin, suaranya yang berat dan rendah memotong udara kamar dengan presisi yang mematikan. "Namun, ketegaran gilamu yang menolak untuk mati di atas kap mesin mobilku adalah aset yang tidak bisa dibeli dengan uang. Di duniaku, tidak ada yang namanya kemurahan hati yang gratis. Tagihan ini adalah bentuk legalitas awal bahwa kamu kini berada di bawah yurisdiksi perlindunganku."
Giovanni kembali menjentikkan jarinya sekali ke arah pintu. Pria tambun berjas navy yang menjabat sebagai Kepala Administrasi Finansial Mansion kembali melangkah masuk dengan sangat formal. Kali ini, dia tidak membawa papan klip lama, melainkan selembar dokumen baru yang diletakkan di dalam map kulit buaya berwarna hitam legam dengan tepi yang dilapisi kuningan antik.
"Letakkan di sana," perintah Giovanni tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Alessa.
Pria tambun itu meletakkan map kulit itu di atas meja nakas, tepat di samping vas kristal berisi bunga lili putih segar, lalu mundur tiga langkah dengan kepala tertunduk patuh sebelum akhirnya keluar kembali dan menutup pintu dengan bunyi klik yang halus.
Giovanni melangkah mendekati meja nakas, membuka map kulit tersebut, membalikkan selembar kertas bertekstur tebal yang permukaannya dipenuhi oleh bait-bait pasal perjanjian berbahasa hukum formal—perpaduan antara hukum perdata internasional dan klausul tertutup aliansi Alberto. Di bagian pinggir kertas tersebut, ukiran foil emas murni membentuk motif sulur yang sangat rumit, menegaskan bahwa dokumen ini memiliki bobot hukum yang sakral dan tak terbantahkan.
"Perjanjian di atas kertas berlapis emas," ucap Alessa lirih, matanya melotot geli melihat penampilan fisik dokumen tersebut yang terlalu estetis untuk sebuah surat utang. "Waduh, Mas Bos... ini surat kontrak kerja atau surat perjanjian damai antar-mafia internasional sih? Desain kertasnya bener-bener bikin jiwa miskin gue merasa terintimidasi secara visual. Kurang stempel darah saja ini biar sah mirip kontrak sama penguasa kegelapan."
"Ini adalah kontrak pengalihan hak asuh dan perlindungan mutlak," kata Giovanni, suaranya terdengar sangat tenang namun mengandung getaran bahaya yang absolut. "Bacalah klausul pertamanya, Gadis Sarkas."
Alessa meraih dokumen baru itu dengan tangan kanan yang masih gemetar akibat sisa efek sedatif. Dia memicingkan matanya, membaca deretan kalimat formal yang tercetak dengan tinta hitam tebal di bawah pendaran lampu kristal VIP:
KLAUSUL I: PENGALIHAN BEBAN FINANSIAL DAN HAK PERLINDUNGAN MUTLAK
Bahwa Pihak Pertama (Giovanni Alberto) setuju untuk melunasi, menghapuskan, dan mengambil alih seluruh beban finansial, biaya medis, serta utang pihak ketiga dari Pihak Kedua (Alessa) secara tunai dan seketika pada tanggal penandatanganan kontrak ini.
Sebagai kompensasinya, Pihak Kedua setuju untuk menyerahkan hak perlindungan diri, hak penentuan domisili, dan loyalitas fungsional secara mutlak kepada Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku, tanpa intervensi hukum publik mana pun.
Alessa menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang membuat jahitan di sepanjang tulang belikatnya kembali terasa menarik kulitnya yang kaku. "Loyalitas fungsional... Istilah hukum lu bener-bener halus banget ya, Mas Bos. Bilang saja kalau gue sekarang resmi jadi asisten rumah tangga kasta tinggi atau sandera eksklusif yang tugasnya menghibur lu pakai barisan lelucon tragis ini."
Dia membalik halaman berikutnya, dan kepanikannya kembali memuncak saat melihat nilai nominal kompensasi tambahan yang tertera di halaman kedua kontrak tersebut.
KLAUSUL II: KOMPENSASI TAMBAHAN DAN EKSEKUSI UTANG PIHAK KETIGA
Pihak Pertama akan mengalokasikan dana sebesar Rp 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) untuk menyelesaikan sengketa utang domestik atas nama pihak ketiga (Rian) di sektor pelabuhan utara Surabaya, sekaligus menetapkan Pihak Kedua bebas dari segala bentuk tuntutan fisik maupun finansial dari jaringan tersebut.
"Dua ratus juta..." bisik Alessa, suaranya tercekat di tenggorokan. Air mata yang sejak tadi dia tahan di sudut kelopak matanya yang bengkak kini hampir merembes jatuh membasahi kertas berlapis emas tersebut.
Nominal utang judi Rian yang telah merenggut martabat kemanusiaannya, yang membuatnya harus merangkak menembus sabetan ikat pinggang dan berlari bertelanjang kaki di atas aspal dingin Terminal Pasar Turi semalam... kini dihapuskan hanya dengan satu goresan pena di atas kertas mewah milik Giovanni Alberto. Skala kekuasaan pria di depannya ini begitu masif hingga sanggup meruntuhkan seluruh dunia kecil Rian yang beringas hanya dalam hitungan detik kalkulasi bisnis.
Rasa lega yang teramat luar biasa bercampur dengan ketakutan yang mendalam bergolak liar di dalam dada Alessa. Dia bebas dari Rian, bebas dari preman pelabuhan yang membawa rantai besi semalam. Namun, harga dari kebebasan itu adalah dirinya sendiri yang kini harus terikat pada selembar kertas berlapis emas milik sang penguasa dunia malam.
Mekanisme pertahanan absurd Alessa kembali menyala di detik-detik krusial tersebut, memaksanya untuk menertawakan takdir barunya agar jiwanya tidak hancur oleh rasa rendah diri yang masif.
Alessa mendongak, memandang wajah tampan Giovanni yang tetap laksana pahatan patung marmer kuno tanpa emosi. "Mas Bos Giovanni... kontrak ini bener-bener penawaran yang gak masuk akal buat ukuran buronan tanpa alas kaki kayak gue. Lu bayar seratus dua puluh juta buat biaya rumah sakit, ditambah dua ratus juta buat melunasi utang judi kakak gue yang gak punya otak itu. Totalnya tiga ratus dua puluh juta rupiah... hanya demi memelihara seorang gadis sarkas berwajah lebam di mansion mewah ini? Lu bener-bener investor paling buruk yang pernah gue temui di dunia, Mas. Konsep return on investment-nya gak bakal ketemu sampai kiamat kurang dua hari."
Giovanni melangkah maju satu tapak lagi, menundukkan tubuh tegapnya sedikit ke arah wajah Alessa. Aroma parfum mahal oud-nya yang pekat kembali menyerbak, menguasai seluruh indra penciuman Alessa, menciptakan sebuah batas wilayah kekuasaan yang tak terbantahkan di atas ranjang medis.
"Tiga ratus dua puluh juta rupiah adalah angka yang terlalu murah untuk membeli selembar tiket pertunjukan drama balas dendam yang akan aku gelar malam ini, Alessa," desis Giovanni dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan bergetar dengan otoritas mutlak. "Di duniaku, nilai sebuah barang ditentukan oleh seberapa besar fungsionalitasnya untuk menghiburku. Dan malam ini, namamu akan menjadi alasan runtuhnya seluruh eksistensi jaringan tikus pelabuhan yang telah berani merusak kap mesin kendaraanku."
Pria itu mengambil sebuah pena teknis berlapis emas murni dari saku jas hitam pekatnya, lalu menyodorkannya ke arah tangan kanan Alessa yang masih terpasang selang infus.
"Tandatangani kontrak ini," perintah Giovanni dingin. "Dan saksikan bagaimana dunia Il Miliardario bekerja untuk mematahkan kaki orang-orang yang membuat sepasang telapak kakimu terluka semalam."
Alessa menatap pena emas di jemari Giovanni, lalu menatap lembar halaman terakhir kontrak berlapis emas yang menantinya di atas kasur. Sebuah senyuman kaku, getir, namun memancarkan kilatan kebebasan yang liar akhirnya muncul di sudut bibirnya yang pecah. Pelariannya tanpa alas kaki di bawah hujan deras semalam telah resmi membawanya ke titik persimpangan takdir ini. Dia tidak punya pilihan lain untuk selamat, dan jika dia harus menjual sisa hidupnya pada seorang monster, maka dia akan memilih monster yang memiliki selera parfum terbaik di ibu kota.
"Baiklah, Mas Bos Kanebo Kering..." kata Alessa datar penuh ironi, meraih pena emas tersebut dengan jemari yang gemetar namun pasti. "Mari kita tanda tangani kontrak kerja fasyun ekstrem ini. Tapi awas ya, kalau sup ayam Prancis lu besok rasanya turun standar, gue bakal ajukan tuntutan revisi pasal ke pengadilan fungsionalitas rasa internasional."
Dengan satu gerakan mantap, ujung pena emas itu menggoreskan tanda tangan Alessa di atas kertas berlapis emas, mengunci secara resmi aliansi tak tertulis di antara sang penguasa dunia malam dan gadis tanpa alas kaki di dalam sangkar kemewahan yang mematikan.