NovelToon NovelToon
TEROR LEAK (Jiwa Yang Tergadai)

TEROR LEAK (Jiwa Yang Tergadai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Mata Batin / Tumbal
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.

Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...

Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...

ikuti kisah selanjutnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jro Mangku

Komang Sari sudah tiba di rumah sakit. Membawa pakaian ganti, dan juga sarapan untuk sang adik serta Kadek Satya dan juga Putu Angga yang sedang berada di ruang rawat inap.

"Apa yang terjadi pada Dwi?" ia langsung menyodorkan pertanyaan tersebut.

"Gak tau, Mbok Gek. Malam tadi kami mengejarnya, sebab ia ke Pura Dalem, sendirian, seperti ada yang ngajakin gitu," ucap Nyoman Sari dengan perasaan bingung.

Komang Shinta melongo. "Hah? Pura Dalem? Malam-malam?" ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

Tentu saja itu sangat mustahil. Sebab Pura Dalem hanya di gunakan saat acara ngaben dan perayaan tertentu saja.

"Bahkan Dwi terus mengigau, katanya ada nenek-nenek yang bawa bokor pitra yadnya dan ingin menjemputnya," Kadek Satya buka suara.

Mendadak Komang Shinta terduduk lemas. "Ini ulah pengleakan, Dwi pasti terkena saat acara metatah," ucapnya dengan wajah pucat.

"Belum tentu, Mbok Gek. Kita akan kirim tes darahnya ke Ibukota, untuk memastikan apa penyebabnya," potong Nyoman Sari dengan cepat.

"Nyoman, sebaiknya kamu nurut, deh. Kita cari balian yang bisa faham akan hal seperti ini, agar Dwi tidak terlambat penanganannya. Atau kita panggil saja mangku Gede," saran Komang Shinta.

"Tunggu dulu. Kita tunggu hasil dari lab di Jakarta, kalau tidak juga ada hasilnya, maka kita akan panggil balian. Aku yakin fasilitas rumah sakit ini saja yang tidak memadai. Dan ini semua tidak ada kaitannya dengan acara metatah," sanggahnya.

Komang Shinta menelan salivanya. Sikap keras kepala sang adik terkadang membuatnya gemas. Tetapi tidak di dengarkan saat berpendapat, maka itu membuatnya sesikit kecewa.

Komang Shinta menyerahkan semua keperluan yang diminta, dan setelah satu jam menunggu, ia akhirnya berpamitan.

*****

Tiga hari berlalu. Putu Dwi tak juga mengalami kemajuan. Kondisinya sama, hanya saja berat badannya menyusut dengan drastis.

Dokter akhirnya menyerah. "Non-infeksius. Mungkin penyakit non-medis. Silahkan bawa ke pemuka agama jika keluarga percaya," ucap sang dokter.

ucapan sang dokter sudah membuat Nyoman Sari patah semangat. Bahkan dokter sendiri memintanya agar membwa ke pemuka agama atau biasa balian yang di percaya dapat mengobati penyakit non-medis.

Dwi di letakkan di kamar yang mana harus dengan suhu rendah, sebab ia tak dapat terkena matahari, karena kulitnya akan memerah seperti terbakar.

Jika malam hari, ia akan mengalami demam tinggi, saat siang tubuhnya sangat dingin, dan saat jam dua belas malam, ia akan mengigau.

"Bli, Dia di depan rumah, di pagar bawa bokor Pitra yadnya. Katanya untuk aku,"

Kadek Satya yang sudah tidak tidur sejak tiga hari mendadak kepalanya merasa sakit, dan emosinya tidak terkontrol.

"Dwi... Tolong. Tidak ada siapapun di luar sana. Itu hanya halusinasi kamu saja," ucap Kadek setengah emosi.

Ia keluar dari kamar, lalu menghampiri Nyoman Sari yang sedang melukis rajahan (tulisan dengan huruf yang di depan pintu menggunakan aksara dewanagari dan juga pallawa) sebagai mantra kuno.

Ia berharap, jika rajahan itu dapat memberikan perlindungan pada mereka yang ada di dalam rumah.

Tak lupa kembang sedap malam ia letakkan di dalam Pura keluarga. Semoga kiranya Sang Hyang Widhi mendengar doanya.

Sedangkan Putu Angga berjaga malam di bale dangin yang ada di sisi timur perkarangan rumah, tempat dimana Dwi saat itu melakukan acara metatah, sembari memegang keris pusaka, dan tetap berjaga hingga subuh.

"Bu... Tolonglah, kita cari balian. Kita panggil mangku Gede untuk mengobati Putu Dwi, sebab ini sudah bukan lagi medis," pintanya dengan sangat memohon.

"Bersabarlah, Kadek. Bukankah kamu tahu, apa yang terjadi saat ini adalah ujian yang harus kita hadapi," sahutnya, mencoba tenang. "Bukankah kamu tahu sendiri, makna dari metatah itu sendiri ya harus bisa menghadapi pahit dan getirnya kehidupan,"

Kadek Satya menarik nafasnya dengan berat, ia tidak tahu lagi harus mengatakan apa, tetapi hatinya merasa lelah, sebab Dwi selalu mengigau setiap malam, dan ia yang berjaga tentu saja ikut merasakan penderitaan itu, dimana tak ada waktu untuk beristirahat.

"Nyoman. Sebaiknya kita panggil balian. Kita boleh berserah diri, tetapi berusaha itu perlu," Putu Angga menimpali. Ia sedikit kecewa dengan keras kepala sang istri yang tak ingin mendengarkan nasehat.

Sedangkan tetangga mulai berbisik-bisik. Jika apa yang terjadi pada Putu Dwi ada kaitannya saat acara metatah tempo hari.

"Sepertinya Dwi terkena sakit nyawan. Kena cetik Leak di Pura Dalem," ujar salah satu warga yang pagi tadi datang menjenguk.

"Bisa jadi, bisa tidak. Mungkin saja terkena pengleakan karena tidak pakai balian," sahut yang lainnya.

Saat hari yang di tunggu, seminggu kemudian, hasil dari lab di Jakarta memperlihatkan jika hasilnya normal. Tidak ada yang di khawatirkan, dan hal ini akhirnya membuat Nyoman Sari mengalah, lalu memilih memanggil balian untuk mengobati puterinya.

Seorang balian di datangkan dari desa sebelah. Saat melihat Dwi, ia langsung menggelengkan kepalanya. "Sudah terlanjur," ucapnya dengan nada yang cukup lemah.

"Maksudnya gimana, Jro Mangku?" terdengar suara Kadek Satya cukup serak, dan ia benar-benar kurus setelah seminggu tanpa istirahat.

"Jiwanya di ikat di Pelinghih. Di ikat oleh janji metatah yang tidak bisa selesai. Tubuhnya sehat, tetapi sukmanya setengah hilang. Sehingga dokter melihat hasilnya semua bagus. Sebab ada yang menutupnya,"

"Sekarang kami harus apa?" suara Putu Angga seakan habis.

"Harus di tebus sebelum Kajeng Kliwon. Kalau tidak ditebus, maka ia akan tetap menunggu, dan juga menjemput." Jro Mangku menunjuk ke arah pintu.

Saat bersamaan, suara anjing melolong dengan cukup panjang, dan aroma anyir darah masuk terbawa angin.

Sedangkan mereka tidak ada yang memelihara anjing.

Baru saja Jro Mangku selesai bicara, tiba-tiba Dwi terbangun, dan beranjak dari ranjangnya.

"Dia sudah datang..." bisiknya dengan senyum aneh. "Dia bawa bokor pitra Nadnya, katanya untuk aku."

Jro Mangku langsung membaca mantra, dan asap dupa mengepul di udara. Hawa ruangan rumah mendadak panas, dan jendela mendadak mengembun, sedangkan hujan tidak turun.

Dari celah pintu, tercium bau anyir darah , serta bayangan rambut panjang yang berjalan di teras rumah dengan tubuh membungkuk.

Kadek Satya memegang Dwi dengan erat. Aku tidak akan memberi kamu pergi, Apapun caranya,"

"Gak bisa, Bli. Ini sudah perjanjian di altar, dan tidak ada yang bisa menghalangiku!"

Sementara itu, di Pura Dalem, patung Dewi Durga mengalami keretakan. Benang jiwa yang mengikat semakin merah, dan seperti mau putus.

Sedangkan Saras yang baru saja pulang dari puskesmas, tiba-tiiba mimisan, ingatannya terhadap Dwi hadir dengan cepat.

Ia hanya kehilangan ingatan untuk kedua orang tuanya dan juga adik kandungnya, tidak untuk yang lainnya.

1
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
korain ada tambahn up lagi kk siti ruoanya notif
smgt kk 💪💪💪
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
dwi udh paham mkne dia membela saras semua itu terpaksa krn klo tidak mlh cucu mu mati
dasar ya
Tini Nurhenti
nu ws thor
Desyi Alawiyah
Iya Kak..
kinoy
ko JD gini
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: jamgan di baca, Kak.. ada episode yang lepencet. dalam.penghapusan
total 1 replies
Desyi Alawiyah
Semoga hati Kadek Arya terketuk, dan mau menerima Chandra sebagai menantu serta memaafkan Saraswati.. 😌

Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
Desyi Alawiyah
Tuyul? 😯😯😯
neni nuraeni
semoga Kadek Arya cepat luluh hati nya agar merestui pernikhn Saras dan chandra
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
edan ini si arya
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduh aq mau si arya menyesal dengan sangat2
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung

kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: ggo opo kk 🤣🤣🤣
total 4 replies
Desyi Alawiyah
Udah deh Arya, jangan keras kepala... Gimanapun juga Saras kan anakmu.. masa kamu tega membenci anakmu sendiri.. 😥
Desyi Alawiyah
Kadek Dharma kali Kak 😄
neni nuraeni
iihhh seruuu lnjuttt
Anggita.🤗
mampir thor, lama gak baca jd kangen othor q. 🤭🤭
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih, Kak
total 1 replies
neni nuraeni
hadeeh si Komang Sinta mlh nylhin anak dan menantunya,,, pdhl mereka mati"an ingin menyelamatkan Kadek darma, kalau memang benci knp DTG,,, kalau sayang restui aja,,, toh anakmu ga knp",,, ih aku ya kasian ma Ketut Chandra ma saras
kinoy
emh..alamat alamat ni mah..Komang sints yg td y baik dah ni mah slh paham ke Saras JD nyalahin dah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduh malah jadi incaran saras jadi sasaran kemarahan sang ibu pula
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: hooh g cuma repot tp kuuues tenan
total 7 replies
Desyi Alawiyah
Wayan Ratri yah? 😫😫

Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
Desyi Alawiyah
Waduh 🤣
kinoy
ea..ea..ea
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!