Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
"Na, aku sayang kamu" Mohan menyerahkan sekotak brownies coklat berlapis keju, kesukaan gadis itu. Bersama setangkai mawar putih yang masih segar.
"Aku juga sayang kamu, Momon..." ucapnya malu-malu. Ia menerima pemberian itu dengan mata berbinar, lantas menyimpannya di atas meja samping.
"Jangan pergi yah! Tetap disini, di sisiku" Mohan menggenggam kedua tangan Naysilla, mengusapnya lembut, membawanya mendekat kearah pipinya sendiri untuk bermanja. Dengan tatapan hangat penuh cinta.
"Tapi..." wajahnya menunduk lesu, membayangkan potret mesra Mohan semalam dengan gadis berwajah samar.
"Tapi apa sayang..." suaranya terdengar begitu lembut. Perlahan ia mengangkat dagu sang gadis.
"Hah...! Sayang...?" antara terkejut dan senang, Naysilla memandang dengan mata berbinar. Pipinya bersemu merah menahan rasa malu yang meluap.
"Iyah sayang... Kita sekarang kan sepasang kekasih" ucapnya lembut sekali. Tatapan nya hangat penuh cinta.
Naysilla menepis perasaan cemburu yang sempat meracuni hatinya. Ia meraba halus wajah sang kekasih, menjelajah ke setiap inci, menghafal setiap lekuk keindahan yang tercipta. Sampai jemarinya terhenti pada rahang tegas yang memikat.
"Momon..." tangannya turun ke bawah, menyentuh dada bidang berdebar kencang, persis seirama dengan debarannya sendiri. "Siapa yang kamu simpan di sini?" lanjutnya.
"Tentu saja hanya kamu, Nasa ku..." jawabnya lirih. Tanpa ragu ia merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah‑olah itu adalah harta paling berharga yang tak rela ia lepaskan selamanya.
Dua debaran yang saling menyatu, dengan getaran yang sama. Darah berdesir kencang, membawa kehangatan cinta pada setiap urat nadinya. Kehangatan yang kian memuncak, nyaris meledak sebelum gadis asing datang membawa sembilu pilu.
"Jadi, kamu anggap aku apa Mohan?" seorang gadis muncul di bawah kegelapa. Wajahnya menunduk lesu, terlihat samar.
Mohan terpaku, matanya terbuai pada gadis asing yang mirip kekasihnya. Pakaian nya, rambutnya, wanginya, tapi semua terasa hambar tanpa kehangatan.
Ia mendekat dengan tatapan kosong, dan gadis itu menyambutnya dengan suka cita.
"Momon... Jangan Momon....! Itu bukan aku, aku disini, kekasihmu..." suaranya menggema penuh getaran. Seakan langit pasti akan runtuh ketika ikut mendengar. Tapi gadis asing itu terus menutup telinga Mohan dengan rayuan manisnya.
Sampai ketika gadis itu mengangkat wajahnya. Menampakkan kecantikan palsu, hasil tiruan yang jauh dari kata sempurna.
Mohan terperangah, ingin berbalik ke belakang tapi kakinya kaku di tempat. Ia terjerat pada jebakan penuh muslihat.
Perlahan kepalanya menoleh ke belakang. Di sana, sosok kekasihnya kian menjauh, menatapnya dengan air mata yang jatuh dalam diam.
"Kamu mau kemana Mohan? jangan kesana, tempatmu disini sama aku" ucap gadis berwajah samar, yang perlahan mulai jelas wujud aslinya.
****************
Naysilla tersentak kecil saat kesadarannya perlahan kembali. Kepalanya terasa berdenyut hebat, dan saat ia mencoba menggerakkan jari‑jarinya, terasa ada selang yang menempel di kulitnya.
Ia mengerjap berulang kali, berusaha menyesuaikan pandangan, hingga akhirnya menyadari, ia tak berada di kamarnya, melainkan di ruangan asing beraroma obat dan sunyi.
"Jadi itu semua hanya mimpi?" bisiknya lirih. Bayangan mimpi buruk kembali menghantui. Semua itu terlintas seperti nyata. kasih sayangnya, debarannya, bahkan perasaan kecewa dan sakit hati itu, masih ada.
Ia memandang sekotak brownies coklat berlapis keju di atas meja. Di sampingnya, setangkai mawar putih segar tergeletak tanpa tuan.
Naysilla terhenyak, bunga mawar putih melambangkan cinta yang murni, tulus, dan tak perlu kata-kata untuk dibuktikan, hanya butuh kehadiran.
****************
Disisi lain, seorang pemuda terhenyak seketika. Ia menegakkan duduknya, menyentuh dadanya yang berdebar kian hebat. Masih tersisa jejak kehangatan dan juga rasa sakit yang amat dalam.
Gambaran tentang mimpinya kembali berputar dikepala. Ucapannya, keberanian nya yang sungguh tak bisa ia lakukan secara nyata. Semua gambaran mimpinya, benar-benar apa yang tersimpan rapat di hatinya, yang tak mampu ia keluarkan ke permukaan.
Semuanya terasa seperti nyata, ia pun mengutuk dirinya yang merasa terbuai kepalsuan, dadanya terasa ada kekosongan jiwa yang amat besar, walaupun jejak hangatnya cinta juga masih begitu nyata disetiap denyut nadinya.
"Mohan, ayo nak waktunya kita kembali ke asrama" tegur sang bunda lembut, setelah selesai berbincang-bincang dengan Mamih dari Naysilla.
"Tapi Bun, Nasa..." ia menunjuk pintu kamar rawat inap yang ditempati Naysilla, posisi tak jauh dari tempatnya duduk.
"Nay masih belum bangun nak Mohan, doain ajah yah semoga dia nggak apa-apa dan cepat sadar. Dan makasih lho udah jagain anak Mamih" ucap Mamih Naysilla lembut.
"Itu kan memang sudah jadi tugas Mohan, jeng. Ayo kita pulang dulu, besok kita kesini lagi" ucap bunda tegas yang di balut kelembutan.
Mohan hanya bisa pasrah berjalan menunduk kebawah. Ia menyempatkan diri mengintip gadis itu lewat sela-sela pintu yang sedikit terbuka. Tapi pandangannya terhalang seorang perawat yang tengah memeriksa.
"Na, gue janji besok pasti kesini lagi" batinnya sebelum benar-benar pergi dari sana.
Waktu terasa begitu cepat. Ia tiba di asrama tepat pukul sembilan malam. Suasana masih cukup ramai, ia memilih berjalan kaki lewat pintu belakang, dari pada diantar bundanya sampai halaman dan menimbulkan kehebohan.
Di bawah langit hitam bergemuruh, udara dingin berhembus kencang, menusuk kulit sampai ke tulang.
Mohan berjalan di bawah kegelapan, menuju sudut tersembunyi nan sepi. Disini, rooftop sekolah yang ia pasangi lampu warna-warni. Ia memandang kearah kursi tempat biasa diduduki Naysilla.
Kini ia hanya sendiri, memeluk rindu lewat bayangan semu. Semakin membayangkan rasanya semakin nyata. Kehangatan datang merayap di punggungnya.
Ia memejamkan matanya, menikmati kenyamanan yang semakin dirasa semakin hambar. Dengan cepat ia membalik tubuhnya, menangkap tangan kurus yang meletakkan selimut hangat di punggungnya.
"Sorry, udah bikin lo kaget. Gue cuma mau kasih lo selimut. Disini dingin"
Mohan menatap tak percaya pada sosok yang ada didepannya. Ia kembali duduk di tempatnya, acuh.
"Ada apa?" tanyanya datar, dengan Pandangan lurus ke depan.
"Gue tapi nggak sengaja liat lo ke atas sendirian. Mungkin lo butuh temen, jadi gue nyusul kesini" ucapnya lirih.
Wajahnya menunduk ke bawah dengan debaran yang tak bisa diam. Ia mengusap pinggangnya dengan wajah bersemu merah.
"Gue biasa sendiri" ucapnya datar. Ia menyulut rokok miliknya, menghisap nikotin dan menghempaskan asap nya tinggi-tinggi.
"Oh, sorry kalo gue ganggu. Uhuk... Uhuk..."
Mohan memandang gadis di sebelahnya yang terbatuk-batuk ulah dirinya, tapi ia tak peduli "Lo boleh turun"
gadis itu hendak berbalik arah tapi urung ketika tiba-tiba datang seorang pemuda ber hoodie hitam dengan tergesa. Ia menyerahkan ponsel dengan layar menyala menampakkan sebuah gambar terpampang nyata.
Mohan mengepal tangannya erat, memandang foto dirinya yang terlihat begitu nyaman tertidur di pangkuan seorang gadis dengan tangan memeluk erat pinggang gadis itu.
Pikirannya kembali pada malam itu, tapi sialnya ia tak ingat apapun. Dan paginya ia merasa gadisnya bersikap berbeda. "Jadi lo udah tau duluan, Na? Lo nggak tanya dulu ke gue?"
Dari samping, gadis berkepang dua yang sengaja mendengarkan semuanya, merasa nyalinya menciut. Perlahan-lahan ia mundur kebelakang dengan tangan bergetar.
"Selidiki semuanya!" ucap Mohan dingin, membuat gadis berkepang dua semakin kaku ditempatnya.
cupu tuh apaan ?