Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 : Cemburu dan masa lalu
Pagi ini Gita sudah siap dengan celana kain hitam, dalaman singlet kain satin warna hitam serta blazer warna khaki, rambutnya ia gerai dan di catok sedikit gelombang bagian bawah.
Rafael sudah bersiap dari tadi, ada Andra juga yang mengecek barang bawaan Rafael. Rafael harus segera kembali kejakarta karena masih ada pekerjaan yang sedang menunggu.
"Kita makan dulu aja." Rafael berkata pada Gita.
"Kayaknya gak bisa deh, pak bos bilang berangkat jam tujuh." Gita merapikan blazernya. Lalu memakan roti yang sempat ia beli semalam. Rafael berdecak padahal niatnya ingin sarapan bareng pagi ini.
"Kamu juga harus sampe bandara pagi kan? Lumayan dari sini ke bandara. " kata Gita.
"Iya tapi masih keburu kok, pengen makan sop buntut yang kemarin dimakan teman kamu." sahut Rafael. Ia tetap santai sambil melihat berita terkini di sosial media. sedangkan Andra sibuk dengan tablet mengecek jadwal Rafael.
"Aku pergi dulu Uda 06.50." Gita mengecek jam ponselnya.
"Aku antar," Rafael berdiri dari duduknya seketika juga Andra mendongak melihat Rafael sekaligus heran.
Di lobby hotel Arjusena berdiri sambil sesekali melihat jam tangannya baru lima menit menunggu Gita tapi seperti satu jam. Lobby hotel masih sepi. Hanya ada resepsionis dan satpam hotel karena masih sangat pagi. Tapi jalan kota surat sudah nampak sibuk.
Dari kejauhan Gita berjalan dengan heels bludru hitam 5cm. Cantik seperti biasa pikir Arjusena. Seketika senyumnya pudar ketika melihat seseorang yang berjalan di samping Gita. Rafael, moodnya tiba-tiba hancur. Ia merubah raut wajahnya jadi datar.
Gita menatap Arjusena tanpa menyapanya. Dengan menenteng tas ransel berisi laptop dan berkas penting. Ini event pertama kali di Surabaya, mereka berharap akan sukses dan menggaet banyak peminat.
"Ayo Gita," Arjusena membuka suara lebih dulu.
"Titip istriku, jaga baik-baik." Rafael menatap Arjusena dengan aura intimidasi. Ia tahu bagaimana laki-laki modelan Arjusena ini.
"Pasti akan aku jaga dengan sangat-sangat baik." Arjusena tersenyum miring. Gita merinding melihatnya. Tangannya mulai berkeringat. Sebelum berangkat sebenarnya ia sudah menghubungi Utari untuk ikut serta. Tapi kenapa Utari belum ke lobby, pikir Gita panik.
Tanpa di sangka Rafael menarik pinggang Gita, dan mendaratkan kecupan dipipi kanan Gita. Yang membuat Gita membatu sesaat. Perasaannya jadi tak karuan. Ia gila karena dua laki-laki di hadapannya.
Sedangkan Arjusena mengepalkan tinjunya lalu membuang muka. Tidak lama Utari berlari kecil sambil merapikan kemejanya.
"Maaf terlambat." kata Utari saat berhenti di hadapan Gita. Arjusena heran melihat Utari yang akan ikut serta ia hanya bilang pada Gita kan kemarin. Arjusena melihat Gita meminta penjelasan.
"Saya pak yang mengajak. Utari juga tim kita kan. Sebaiknya kita tunggu yang lainnya juga." Gita tersenyum terpaksa. Arjusena benar-benar tak habis pikir di buatnya. Ia tahu Gita sedang sangat menghindarinya. Semua rencananya gagal total. Rencana sarapan bersama dengan Gita gagal total.
Rafael melihatnya tersenyum.
"oke sayang hati-hati. Jangan lupa sering kirim pesan oke." Rafael berkata sambil menangkup wajah Gita dengan kedua tangan besarnya. Gita sedikit limbung saat Rafael memperlakukannya seperti itu. Terlebih Rafael mengelus puncak kepalanya pelan.
Lalu Rafael pergi berjalan menjauh, Utari yang sedari tadi cengengesan salting sendiri melihat perlakuan bintang top itu kepada istrinya.
Jantung Gita masih berdentum kencang, banyak hal yang tidak biasa yang dilakukan Rafael sejak ia membuka mata pagi ini.
Rafael kembali kekamar, ia menghembuskan nafas berat. Andra masih disana dengan secangkir kopi didepannya. Andra melirik wajah kusut Rafael.
"Kenapa?" tanya Andra.
"Kayaknya Arjusena itu suka sama Gita."
"Bagus sih, seenggaknya ada yang nungguin jandanya Gita. " Andra menjawab dengan enteng tanpa perasaan. Mendapat tatapan tajam dari Rafael.
"Salah gue kayaknya ngomong sama Lo." sahut Rafael ketus.
"Kenapa Lo cemburu?" tembak Andra, ia sudah tahu sebenarnya dari gerak-gerik Rafael. Andra sudah 17tahun kenal Rafael.
"Gue gak tau," Gumam Rafael lirih matanya tertuju pada lantai kamar hotel yang hitam putih.
"Pastikan dulu perasaan Lo ke Gita. Udah lah, kita sarapan dulu baru ke bandara. Waktunya masih lumayan lama." Rafael mengikuti Andra. Mereka memilih makan di bandara saja setelah cek out.
***
Gita berjalan berdampingan bersama Utari. Matanya mengedar mana saja yang menurutnya belum benar tata letaknya. Buku-buku terbitan pustaka abadi juga sudah tertata rapi.
Mereka juga mengundang beberapa narasumber lainnya. Termasuk Gita mengisi di bagian pelatihan editor dan penyuntingan. Gita mengecek lagi file pada laptopnya. Sudah semua. Jantungnya sedikit berdebar. Ia berharap semua berjalan lancar.
Sudah pukul 10 lewat, seminar diadakan pukul 11 siang semua tamu sudah datang. Gita tersenyum melihat antusiasme para tamu. Gita yakin semua akan sukses dan berjalan lancar.
Sekitar empat berlalu begitu saja. Acara di akhiri dengan sukses. Gita meminum air mineral di bawah kursinya hingga tandas. Suaranya hampir serak. Tapi ia puas.
Setelah makan siang yang tertunda mereka kembali ke hotel. Gita kembali kekamar bersama Utari.
"Jalan yuk, gue belum pernah ke Surabaya ini." rengek Utari pada Gita.
"Ya sama, tapi kemana gue takut nyasar." sahut Gita.
"Kan ada map, yang lain juga mau jalan-jalan dulu kok." Gita mengangguk setuju. Gita juga butuh refreshing.
Kebetulan hari ini malam Minggu, jalanan Surabaya begitu ramai banyak event di setiap sudut. Mereka berlima berjalan beriringan. Melihat jajanan dan gemerlap lampu Surabaya. Tak jauh beda dengan Jakarta ternyata. Makin malam, semakin ramai tempat kuliner hampir susah untuk berjalan.
Utari yang tadinya di sebelah Gita jadi mundur dan entah kemana. Gita panik, kepalanya celingukan mencari teman-temannya. Kepalanya mulai nyut-nyutan melihat kerumunan banyak orang. Tiba-tiba tangan berotot menarik lengannya untuk menepi.
Arjusena, menarik Gita lalu merapatkan pada tubuhnya. Parfum khas Arjusena yang tak pernah bisa di lupakan Gita. Gita sempat berontak namun cekalan Arjusena lebih kuat.
"Ramai banget hati-hati tas kamu." bisiknya tepat di telinga Gita.
Dulu Arjusena adalah salah satu orang yang ia kagumi, hanya sebagai atasan tidak lebih. tidak ada perasaan spesial di hati ya pada Arjusena. Namun Arjusena menafsirkan lain. Ia jatuh cinta pada Gita. Perempuan mandiri, cantik dan tegas.
Semakin mengenal Gita, semakin Arjusena terobsesi. Seperti kafein yang membuatnya candu. Hingga suatu saat ia kelewat batas. Keluar dari jalur normal yang ada. Ia menyakiti Gita karena obsesi berlebih ia jadi gila. Melakukan hal yang sepantasnya tidak dilakukan pada orang yang amat dicintainya.
Hingga setelahnya, Gita melihatnya seperti sesuatu yang menjijikkan tentu saja itu membuat Arjusena semakin marah dan emosinya meledak. Hingga seisi kantor mendengar rumornya dengan Gita dari mulut ke mulut.
Arjusena mengerti, Gita pasti terpukul. Seharusnya Gita yang dimutasi atau dikeluarkan dari perusahaan. Tapi Arjusena mengalah. Tapi setelah beberapa tahun ia memilih kembali. Setelah muncul berita di televisi wanitanya menikah dengan seorang aktor terkenal.