Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Malam semakin larut.
Setelah makan malam Melina memutuskan kembali ke kamarnya di lantai bawah dekat taman.
Dirinya belum berani tidur di kamar Ishan, karena disana dirinya mendapatkan amarah dari Ishan.
Namun, Ishan sering sekali mengunjunginya-----tak setiap hari hanya beberapa kali.
Kadang minta berhubungan badan setiap mengunjunginya, ucapannya adalah klasik.
"Saya mau punya anak darimu...setelah punya anak nanti saya akan ceraikan kamu?" ucapnya setiap mau meminta hubungan badan dengan istrinya.
Malam ini setelah makan malam Melina langsung ke kamar, karena tadi Melina yang memasak dan sekarang untuk mencuci piring di serahkan kepada asisten rumah tangga.
Melina nampak mengenakan kaos berbahan rayon motif garis-garis hijau, dan putih yang terasa dingin di kulitnya, di padukan celana pendek berwarna biru sampai lutut.
Melina di kamarnya mengerjakan tugas kuliah----dengan tugas kuliah Melina mencoba melupakan rasa sakit dan trauma dari kejadian KDRT yang sudah menimpanya.
Gadis yang sebenarnya sudah tak layak disebut gadis, karena Melina sudah kebobolan gawangnya.
Wanita itu tengah duduk di tempat tidur empuk yang di lapisi sprei putih, duduk bersila menghadap laptop yang menyala.
Malam ini Melina terlihat sedikit santai dengan pakaian rumahan yang sederhana, kadang kala hatinya tak tenang karena takut sang suami akan masuk kamarnya.
Rambut panjangnya yang terurai kadang di mainkan menggunakan tangannya, sambil memikirkan mata kuliah Digital Marketing.
Laptop di pangkuannya, tatapannya fokus ke layar Laptop untuk memperoleh sebuah website menggunakan wordpress.
Cahaya hangat dari lampu di atas meja tempat tidur, nampak menyinari wajahnya yang begitu lelah----seperti menunjukkan sisa rasa cemas.
Rasa cemas, karena takut suaminya akan tiba-tiba masuk dan menyuruh berhubungan.
Hatinya masih berharap agar suaminya tak masuk kamar yang di tempatinya, karena Melina sudah amat trauma dan takut.
Namun, sepertinya yang di atas tak mengabulkan keinginannya.
Tak lama kemudian, suara pintu kamarnya tiba-tiba terbuka memecah konsentrasinya.
Suaminya---Ishan masuk ke dalam kamarnya.
Wajah Ishan berbeda dari sebelumnya tak ada amarah di wajahnya, kali ini hanya tatapan lembut dengan tas bingkisan kecil di tangannya.
Ishan mengenakan kaos abu-abu lengan pendek yang melekat di tubuh atletisnya, dan celana pendek warna biru tua di bawahnya.
Melina mundur ketakutan seolah mau di terkam oleh Ihsan.
Namun, tatapan Ihsan yang lembut---tidak ada lagi sorot mata yang galak, dan cengkraman kasar.
Justru Ihsan tersenyum tipis, karena ada maunya.
Ishan melangkah mendekati tempat tidur, di tangan kanannya, membawa bingkisan kecil berupa tas kado coklat yang berisi sesuatu.
"Mas...mau ngapain?" tanya Melina dengan nada suara yang gemetar ketakutan, dan menghentikan gerakan jari di tangannya.
"Mel...," sapa Ishan dengan suara lembut.
Tak ada bentakan seperti biasanya.
Melina menatap suaminya dengan rasa takut, tapi Ishan tersenyum berusaha mendekatinya.
"Mas...to-tolong ja-jan-jangan," ucap Melina ketakutan.
"Mama!" teriak Melina mau berlari tapi kakinya di tahan Ishan.
Melina sudah ketakutan, mematikan laptopnya.
"Mel saya ini suami kamu!" ucapnya dengan nada tegas.
Ishan mencengkram kedua bahu Melina, dan gadis ini wajahnya pucat.
Melina langsung tersentak kaget karena tiba-tiba Ishan langsung memeluknya erat.
Ada rasa ragu dan takut mendadak kembali muncul di hatinya, kenapa Ishan tiba-tiba baik dan mau menerimanya sebagai istri.
Melina harus mempersiapkan kemungkinan terburuknya.
"Besok mama pergi arisan," bisiknya sambil memeluk Melina.
Ihsan melepaskan pelukannya, wajah Melina sudah pucat dengan peluh di keningnya.
"Mas...," ucap Melina lirih, namun Ihsan menutup bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Shuttt."
"Mas...tolong jangan pukul aku," ujar Melina menyatukan tangannya.
"Saya nggak mau mukul kamu," jawab Ishan.
Lalu Ishan memberikan sesuatu kepada istrinya, pertama kalinya Melina merasakan di berikan hadiah oleh suaminya.
"Ini untukmu," ucap Ishan sambil menyerahkan tas kado itu perlahan ke arah Melina.
Melina menerima bingkisan tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar, karena takut dengan Ihsan.
"Terima kasih, Mas," jawabnya singkat dengan senyum ketakutan.
Suaranya tak terdengar agak serak dan datar, tanpa gairah atau rasa bahagia----yang di rasakan Melina hanya rasa takut.
"Besok saya libur dan di rumah, saya harap kamu pakai baju itu besok," pinta Ihsan berdiri menjauh.
Melina menghela napas, mengedipkan matanya berkali-kali----lalu tersenyum menganggukkan kepalanya.
Entah mengapa bagi Melina, setiap perhatian dari Ishan di barengi rasa waspada---karena dirinya tahu jika Ihsan baik padanya pasti selalu ada maunya.
Jujur saja, Melina tak tahu apa sebenarnya isi kado itu----tapi yang lebih dirinya pikirkan sebenarnya apa yang akan terjadi besok padanya.
Dan kenapa Ihsan tiba-tiba memberikannya baju dan menyuruhnya mengenakannya.
"Buka saja, semoga kamu suka," kata Ishan lagi.
Pria itu masih menatap Melina dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rasa bersalah atau hanya ingin memastikan Melina tetap patuh kepadanya.
Melina perlahan membuka tas tersebut, sementara hatinya terus bertanya akan sesuatu.
Apa isinya.
Hal yang membuat terkejut saat tas bingkisan itu di buka adalah isinya gaun satin yang sangat menggoda.
"Mas..." ucap Melina dengan lirih.
Gaun satin berwarna biru muda, mata Melina menatap suami dan baju yang di berikan suaminya secara bergantian.
"Pakai itu besok, kita akan habiskan waktu bersama," ujar Ihsan.
"Mas aku nggak nyaman pakai baju begini!" keluh Melina menatap baju itu.
"Memang kita mau kemana sih Mas?" tanyanya.
Ihsan mendekat, Melina mundur beberapa langkah di kasur.
Matanya menatap mata hijau milik Ihsan Ganendra, lalu Ihsan dengan jari telunjuknya mengangkat dagu Melina.
"Pakai itu dan hibur aku besok di rumah," ujar Ihsan.
Mendengar keinginan Ihsan, Melina langsung menelan salivanya.
"Hibur?" tanya Melina dengan polos.
Melina amat polos tak mengerti apa maksud Ihsan menghiburnya.
"Intinya kamu besok saat mama saya nggak di rumah pakai itu," ucap Ihsan.
Ihsan langsung menjauhi Melina dan segera pergi meninggalkan kamar itu.
Sementara Melina menatap pakaian yang di berikan Ihsan untuknya, melihat bagaimana gaun ini terlalu sexy untuk di kenakannya.
Melina sejenak memejamkan matanya, dan membayangkan entah apa yang akan terjadi besok.
*