Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pagi yang romantis, Ishan dengan gerakan lembut menjauh dari tubuh istrinya.
Melina terduduk di tepi ranjang dengan senyum pagi yang tak pernah pudar, rasanya amat bahagia sekali suaminya sudah mulai menerimanya.
"Terimakasih ya tuhan, suamiku sudah mau menerimaku," batin Melina dengan tersenyum.
Ihsan mendekati istrinya dan saat mau menjejakkan kakinya ke lantai marmer itu, Melina merasa Ihsan mendekatinya membantu dengan lembut merapikan gaun satin biru miliknya yang tersingkap di bagian depan.
Langkah kaki Melina ingin ke kamar mandi untuk bersiap kuliah, namun Ishan menarik tubuhnya kembali memeluknya dan mencium bahu dan telinganya.
Posisi Melina duduk di pangkuan suaminya, dengan sepasang tangan Ihsan melingkar di tubuhnya.
"Saya nggak suka setiap tubuh kamu terbuka begini, apalagi di lihat oleh pria lain."
Ihsan berbisik di telinga Melina, tangannya membelai rambut istrinya yang lurus.
"Apalagi jika kamu berdekatan dengan pria lain," lanjutnya.
Ihsan seolah menunjukkan rasa kepemilikan yang mutlak atas diri Melina.
"Tapi Mas, aku kuliah harus memiliki teman pria. Juan dan Alvaro kami hanya berteman," ujar Melina dengan polos.
Melina merutuki kebodohannya, kenapa dirinya tak bisa mengerem bibirnya untuk terus berucap.
Benar saja, sesuai dugaan----tangan kekar Ihsan mencengkram leher Melina yang kecil dari belakang.
"Mas...," pekik Melina dengan lirih.
Ihsan berbisik dengan penuh ancaman di telinga Melina.
"Apa perlu saya mengeluarkan ancaman sama kamu," ujar Ihsan tangannya masih setia mencekik leher Melina dari belakang.
"Saya akan kurung kamu dan bagaimana pun saya akan menghentikan kuliahmu!" lanjutnya dengan nada mengancam.
Seketika mendengar ancaman itu bulu kuduk Melina menjadi meremang, dan dirinya tak mau menyia-nyiakan kesempatannya untuk berkuliah.
"Mas, aku janji nggak akan deket dengan pria lain---jika mau kerja kelompok aku akan bersama temen cewek aku," ujar Melina berusaha memohon pada suaminya.
Demi meredakan amarah Ishan, Melina kembali merenggut bibir Ihsan---ciuman yang lebih manis dari sebelumnya.
Tangan Melina melingkar di leher suaminya yang di belakang.
"Baiklah asal ada ceweknya, ingat aku akan selalu pantau kamu!" ucapnya penuh peringatan.
Melihat tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Ihsan langsung mencium punggung, leher dan bahunya.
"Baiklah, ayo cepat mandi dan bersiap. Kita akan sarapan saya sendiri yang akan mengantarmu ke kampus," ucap Ishan dengan nada penuh perhatian.
"Nggak usah Mas, aku nanti ama Mang---" belum sempat Melina menyelesaikan kalimatnya.
Dirinya langsung terhenti saat Ishan, mengisyaratkan berhenti lewat telunjuknya di taruh dibibir Melina.
Melina hanya bisa tersenyum canggung, menganggukkan kepalanya perlahan agar Ihsan mau melepaskannya.
Meski tatapannya masih terpaku di depannya, seolah dirinya mencari jawaban akan nasibnya.
Ihsan melepaskan pelukannya, lalu Melina berdiri mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi di dalam kamarnya.
Di dalam kamar mandi, Melina memikirkan nasibnya---dirinya harus memikirkan bagaimana nasibnya ke depan.
Setelah melahirkan anak Ihsan akan membuangnya selayaknya seonggok sampah.
Melina menghela napas, mencoba membasuh rasa lelah yang menghimpit jiwanya.
Beberapa saat kemudian, Melina sudah rapih dengan tampilan gaya mahasiswi yang tampilannya sopan.
Ihsan sangat posesif, seolah melarang Melina ke kampus mengenakan pakaian lengan pendek.
Jadi Melina mengenakan kaos lengan pendek warna hijau di padukan dengan celana kulot berbahan jeans.
Tak lupa sesuai aturan yang Ihsan terapkan, dirinya mengenakan sebuah kardigan berwarna coklat terselampir di tubuhnya sebagai pelengkap.
Sementara tas ransel cokelat sudah tergantung di bahunya.
Ihsan pagi ini mengantar istrinya dengan tampilan yang nampak santai, namun tetap tampan dengan mengenakan kaos biru gelap dan celana pendek hitam.
Di dalam mobil, perjalanan menuju kampus berlangsung dalam keheningan yang canggung.
Melina menatap keluar jendela karena belum berani membuka percakapan, sementara Ihsan fokus pada kemudi.
Begitu mobil berhenti di depan gerbang Kampus Pelita Bakti.
Melina segera meraih punggung tangan suaminya lalu menciumnya, hanya untuk melakukan salim sebagai tanda hormat seorang istri kepada suaminya.
"Belajar yang bener! Ingat jangan macam-macam saya selalu tahu apa yang kamu lakukan di kampus," pesan Ishan singkat.
"Iya Mas..," ucap Melina dengan patuh.
Melina ingin membuka pintu mobil, sekali lagi Ihsan menahan tangannya.
"Apa tadi?" tanya Ihsan sekali lagi.
Melina menatap suaminya dan tersenyum.
"Jangan deket ama cowok lain dan kalo mau kerkom harus ada ceweknya," jawab Melina yang seolah paham.
Ihsan tersenyum lalu mencium kening istrinya.
Melina mengangguk sambil tersenyum, lalu turun dari mobil.
Ihsan memperhatikan punggung istrinya yang mulai menjauh dan hilang di balik kerumunan mahasiswa.
Namun, senyum ramah yang tadi di tunjukkan seketika memudar dan di gantikan ekspresi yang sangat serius.
Begitu memastikan istrinya sudah memasuki area kampus, Ishan segera meraih ponselnya yang ada di saku celana.
Tangannya menekan sebuah nomer dan menunggu beberapa saat hingga panggilan benar-benar terhubung.
Ihsan tengah menelepon orang suruhannya untuk memantau apa saja kegiatan Melina selama di kampus.
"Halo," suara Ishan merendah, matanya terus mengawasi gerbang kampus.
Wajah Ihsan sangat serius, dengan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Melina sudah masuk. Pastikan kamu memantaunya sepanjang hari. Setiap langkahnya, setiap orang yang bicara dengannya... aku ingin laporannya melalui foto segera. Jangan sampai dia tahu."
"Baik Boss," ujar pria di sebrang telepon.
Ishan menutup telepon dengan satu gerakan cepat.
Baginya mengantar Melina ke kampus bukan hanya sekedar tindakan romantis seorang suami, melainkan memastikan istrinya tetap di bawah pengawasannya.
Pengawasan sampai Melina mengandung anaknya, dan memastikan gadis itu hanya miliknya.
Bahkan saat dirinya tidak di samping Melina, Ihsan tak akan membiarkan pria manapun mendekati Melina dari Juan ataupun Alvaro.
"Bagus!" ucapnya.
"Tinggal gua cari cara memutuskan hubungan sama Livia, bagaimana pun caranya gua harus putus."
Ihsan bicara seolah dirinya amat mencintai Melina, dirinya sudah tak ingin bercerai dengan Melina.
Hanya saja gadis itu sudah mempersiapkan semuanya, jika kalo Ihsan mau menceraikannya setelah memiliki seorang anak.
"Melina lu udah jadi milik gua...gua nggak akan lepasin lu," tekadnya dalam hati.
*
*
*
*
buat ishan di tunggu penyesalanmu.
pada saat penyesalan itu tiba jng beri maaf.apalagi nanti berdahlil anak.ishan aja raguin anaknya.
mohon maaf ya thor jng Samapi Melina balik sama ishan ya.tubuhnya saja sdh kotor bgt tidur sama si Livia.
heran Artis tp bodohnya minta ampun hadehhhh