"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 RIBUT YANG TERASA BERBEDA
Situasi sudah memanas diantara dua cowok yang menyimpan dendam lama. Dan akan membuat kehidupan Ana akan berubah drastis.
Setelah percakapan menusuk Nathan dan Kai, Kai langsung beranjak pergi meninggalkan Nathan yang masih berdiri di depan ruang Laboratorium.
"Kai. Kamu nggak pantas bahagia!" geram Nathan, lalu gemeretak giginya dan mengerutkan kening.
Di Kantin, tampak suasana sangat ramai dan mungkin mereka tidak kebagian tempat duduk.
"Yah.. penuh. Nggak ada meja yang kosong." sahut Sheila sambil menghembuskan nafas kecewa.
"Hem. Kita kembali ke kelas aja." jawab Jeje dengan santai.
Ana yang melirik makanan di kantin dan perutnya berbunyi.
Dari kejauhan, Nathan melihatnya dan dia sudah mempersiapkan meja yang sebenarnya sudah diisi tapi ia usir hanya untuk Ana.
"Woy cewek aneh! Disini kosong!" panggilnya sambil menunjuk meja di sampingnya.
"Huft. Dia lagi.." batin Ana, malas berdebat.
"Shel,, Je,, kita kembali ke kelas aja." sahut Ana sambil merangkul teman - temannya.
Nathan yang tadinya duduk langsung berdiri dan menghampiri Ana.
"Heh. Aku udah kosongkan mejanya untuk kalian duduk. Kenapa kalian pergi gitu aja? Nggak sopan." gerutu Nathan.
"Kita nggak selera makan." jawab Ana tanpa melihat Nathan.
Tiba - tiba...
Krubuk krubuk!! Suara perut Ana kembali bunyi, membuat kedua temannya langsung fokus ke perut Ana. Malu sekali gadis itu, sampai menutup rapat bibirnya dan memejamkan matanya.
"CK, makannya nggak usah gengsi. Perut kamu aja jaim-"
"Ish! Diam."
Nathan tanpa sadar tersenyum.
Geng Nathan yang masih duduk di meja berusaha untuk tidak berisik padahal mereka sangat ingin melakukan kehebohan.
Sheila yang sedang menahan tawa pun langsung menarik tangan Ana untuk duduk di meja yang sudah disiapkan Nathan.
Jeje hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Nathan hari ini.
Mereka bertiga pun duduk sedangkan Nathan yang masih berdiri, dengan cara jalannya yang arogan duduk di samping Ana tanpa bicara apalagi meminta izin.
"Ka-kamu?! Bukannya meja kamu disebelah?" terkejut Ana dan langsung menggerutu.
Nathan menatap Ana, lalu pura pura tak menggubris pertanyaannya.
"Um.. nasi goreng kayaknya enak deh." mengambil kertas untuk mencatat makanan yang sedang di pegang Ana.
Sheila dan Jeje hanya saling memandang satu sama lain. Nathan begitu usil dan mengganggu, tapi mereka berdua tidak bisa menghentikannya.
"Itu! (melihat kertasnya dirampas.) Kamu bisa nggak sih, sehari aja nggak menyebalkan! CK."
Nathan hanya melirik Ana dan meledeknya. "Salah siapa, waktu itu kamu nggak minta maaf. Wlee!"
Ana semakin sebal dengan keusilan Nathan.
Ditengah adu mulut ringan di antara mereka, ternyata ada yang sedang menyaksikannya dari jauh.
Ya, Kai.
Berusaha tenang dan memastikan kelakuan Nathan tidak membuat gadis itu terluka. Atau... Memastikan agar Nathan tidak terlalu dekat?"
Makan siang pun akhirnya bisa berjalan dengan baik walaupun ditambah dengan bumbu - bumbu keusilan dari Nathan.
Ana, Sheila dan Jeje pun langsung pergi ke kelas. Nathan juga sudah kembali bersama Geng-nya. Tapi setelah Ana pergi, Nathan baru tersadar ada yang memperhatikannya.
Tersenyum arogan ke arah seseorang di meja kantin paling belakang yakni Kai.
Kai hanya diam, dengan ekspresi dinginnya. Tak lama, ia pun pergi dari kantin.
"Rupanya dia mengawasi, aku dan Ana dari jauh." batin Nathan, rahang mengeras dan tatapannya tajam.
[Musik rock Gengster.]
Di kelas, Ana langsung duduk di meja nya karena perutnya sudah terisi kenyang. "Aku susah menelan makananku." sahut Ana, memegangi perutnya.
"Hem.. masalah orang cantik emang gini. Aku juga mengalami kok.. sabar ya." jawab Sheila dengan percaya diri.
"Hem?!" terkejut Ana dengan wajahnya yang polos kebingungan.
"CK. Jangan mulai deh Sheila." tegur Jeje.
"Apa? Yang aku bilang udah benar kok. Nathan terus usil, mungkin karena dia tertarik dengan wajah cantiknya Ana."
"Nathan orang yang sangat berbahaya. Keusilannya sangat mengganggu Ana. Lihat, dia jadi kembung karena nggak nyaman makan." tepis Jeje.
Kai yang sudah berdiri di depan pintu kelas, langsung beranjak pergi lagi tanpa suara dan tanpa ada yang menyadarinya.
Kai berlari kecil menuju UKS dan ditengah perjalanan Nathan melihat Kai sedang masuk ke ruang UKS. Rasa penasarannya pun muncul tapi ia berusaha mengabaikannya.
"Ada apa bos? Kenapa berhenti?" tanya Leo.
Ian pun celetuk, "Tuh, ada musuh bebuyutan si bos."
"Mau kita hajar aja, bos?"
"Nggak perlu." singkatnya, lalu pergi dan Geng-nya pun hanya mengikuti.
Di UKS..
Kai dengan ekspresi dinginnya mencoba bertanya kepada penjaga UKS yang dimana adalah siska salah satu penggemar Kai.
Gemetar saat memberikan obat yang Kai minta.
"Ouh, obat kembung ya Ka-Kai.."
"I-ini obatnya, tapi keliatannya kamu baik - baik aja.", sahut Siska yang melihat dari ujung kaki sampai ujung rambut Kai.
Kai yang merasa sudah tak nyaman diruangan itu, tanpa menjawab pertanyaan dari Siska, ia pun langsung keluar.
"Wah... Tinggi dan gagah banget! Aku baru pertama kali melihat dia dari jarak dekat. Tapi, tunggu. Untuk siapa obat kembung yang dia bawa, ya?" sahut gadis itu penasaran.
Kai langsung kembali lagi ke kelasnya dan melihat Ana masih mengelus perutnya sendiri. Sambil berjalan Kai menaruh obat di meja Ana tanpa ada yang melihat kecuali Ana yang terkejut.
(Menengadah, dan menatap Kai.)
Kai pun memberikan isyarat untuk Ana mengambil obatnya. Lalu Kai, kembali duduk di kursinya.
Ana yang tak mengerti, langsung menghampiri Kai sambil membawa obat.
"Kamu memberiku apa? Ini obat apa?" tanya Ana.
"Obat kembung." jawab Kai singkat tanpa menoleh. Dan hanya fokus mencatat.
"Kembung? Ka-kamu tau dari siapa aku kembung?" tanya Ana sekali lagi, dan berusaha untuk menutupi wajahnya yang sudah sangat malu.
Kai akhirnya menghadap ke arah Ana, tak sengaja matanya terfokus pada leher Ana.
Melihat ada benda berkilauan, kalung liontin bentuk hati.
Mengingatkan dia pada sesuatu..
Namun, terpatahkan dengan bunyi bel menandakan pelajaran mereka akan segera dimulai.
"Aku nggak berniat meracuni kamu, yang kamu pegang itu obat kembung. Minum saja, selagi aku baik." jawabnya.
Ana pun terdiam, berusaha menerima obatnya.
Disisi lain, saat ia akan kembali ke kursinya..
Nathan sedang melewati kelasnya dan mata mereka saling bertemu. Nathan mengangkat alisnya dan tersenyum padanya tapi setelah tersenyum laki - laki itu meledeknya dengan gaya tangan di kepala seperti monyet.
"Ha?! Dasar nyebelin. Tapi entah kenapa keusilannya nggak membuatku ingin menjauh? Huft, aneh."
Nathan kembali tersenyum tapi ekspresinya berubah saat melihat ke arah kursi dekat jendela. Kai, Kai juga melihatnya dengan ekspresi dingin. Kedua laki - laki itu sekarang hanya saling menatap tajam.
Ana langsung melihat ke belakang dan benar saja, tatapan sinis dari Nathan itu tertuju untuk Kai.
"Sebenarnya mereka itu kenapa sih?" bingung Ana, mencoba melirik mereka secara bergiliran.
#Bersambung...