"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Hinaan yang Menyakitkan
Suasana kantin kampus siang itu tidak terlalu ramai, namun cukup untuk membuat suara Baskara terdengar jelas oleh beberapa pasang mata yang duduk tak jauh dari sana. Aruna sedang duduk sendirian di sudut ruangan, menikmati roti lapis sederhana dan segelas air putih. Devan dan Theo sedang ada urusan di sekretariat, meninggalkannya tanpa "pelindung" untuk sejenak.
Langkah kaki yang tegas itu berhenti tepat di depan meja Aruna. Tanpa permintaan izin, Baskara menarik kursi di hadapan Aruna dan duduk dengan gaya angkuh, melipat tangan di depan dada.
"Masih dengan menu makanan yang sama setiap hari, Aruna?" sindir Baskara, matanya menatap roti lapis itu dengan pandangan menghina. "Saya heran, apa beasiswamu begitu kecil sampai kamu tidak mampu membeli makanan yang layak di London?"
Aruna berhenti mengunyah. Ia menunduk, mencoba mengatur napasnya agar tidak meledak. Ia tidak ingin menjawab, takut dianggap tidak sopan pada dosennya sendiri, meski hatinya sudah sangat panas.
"Kenapa diam saja?" Baskara memajukan tubuhnya, memancing keributan. Suaranya merendah namun penuh provokasi. "Apa sekarang kamu jadi bisu kalau tidak ada dua pengawalmu itu? Atau kamu takut? Takut saya cari kesalahanmu lalu mengeluarkanmu dari universitas ini?"
Beberapa mahasiswa mulai berbisik-bisik. Aruna mengepalkan tangannya di bawah meja. Hinaan tentang kemiskinannya masih bisa ia telan, tapi ancaman tentang masa depannya benar-benar menyulut sesuatu di dalam dirinya.
Baskara menyeringai kecil, merasa menang karena Aruna hanya terdiam. "Gadis kecil dari desa sepertimu memang seharusnya tahu diri. Tempatmu bukan di sini, apalagi bermimpi melawan arus."
Perlahan, Aruna mengangkat wajahnya. Tidak ada ketakutan di sana. Matanya yang jernih menatap langsung ke dalam manik mata Baskara dengan ketajaman yang membuat pria itu sedikit tersentak.
"Bapak ingin tahu kenapa saya diam?" tanya Aruna, suaranya sangat tenang namun bergetar oleh emosi yang tertahan.
Baskara mengangkat alisnya. "Ya, silakan bicara."
"Saya diam bukan karena takut dikeluarkan, Pak Baskara yang terhormat. Saya diam karena saya sedang mencoba mengingat ajaran Papa saya," Aruna menjeda kalimatnya, memberikan tatapan yang begitu dingin hingga Baskara terdiam sejenak.
"Papa saya selalu bilang, jangan pernah membuang energi untuk meladeni orang yang hanya punya jabatan tapi tidak punya martabat. Bapak mungkin dosen saya di sini, tapi di luar sana... Bapak hanya pria sombong yang tidak tahu kalau dunia bisa berputar dan menghancurkan Bapak dalam satu malam."
Baskara tertegun. Kalimat "dunia bisa berputar dan menghancurkan Bapak dalam satu malam" terdengar sangat familiar, seperti gaya bicara para penguasa bisnis tingkat atas yang pernah ia temui di jamuan makan malam ayahnya.
Sebelum Baskara sempat membalas, Aruna sudah berdiri. Ia membereskan rotinya yang belum habis, menyampirkan tasnya, dan menatap Baskara sekali lagi dengan tatapan meremehkan yang justru lebih menyakitkan daripada makian.
"Permisi, Pak. Saya masih punya harga diri yang harus saya jaga, tidak seperti Bapak yang hobi menindas mahasiswa demi merasa berkuasa."
Aruna melangkah pergi dengan kepala tegak, meninggalkan Baskara yang mematung di kursinya. Untuk pertama kalinya, sang dosen muda yang ditakuti itu kehilangan kata-kata. Ada rasa dingin yang menjalar di punggungnya, sebuah firasat bahwa gadis yang baru saja ia hina bukanlah sekadar mahasiswi biasa yang bisa ia tindas sesuka hati.
Sikap Baskara setelah kejadian di kantin justru semakin menjadi-jadi. Alih-alih merenungkan ucapan Aruna, ego pria itu tampaknya terluka hebat. Ia merasa harga dirinya sebagai dosen sekaligus pria berkuasa diinjak-injak oleh seorang gadis kecil yang ia anggap remeh.
Pagi itu, suasana kelas Hukum Perdata terasa lebih mencekam dari biasanya. Baskara masuk dengan membanting setumpuk berkas ke meja, matanya langsung menyisir ruangan dan berhenti tepat di wajah Aruna yang duduk di barisan terdepan.
"Hari ini kita akan membahas tentang etika profesi," suara Baskara menggema, dingin dan penuh penekanan. "Sesuatu yang sepertinya sangat asing bagi beberapa orang di ruangan ini. Terutama mereka yang merasa sudah merasa paling benar padahal statusnya hanya penumpang di negara orang."
Seluruh kelas terdiam. Devan dan Theo saling lirik, mereka tahu ke mana arah pembicaraan ini, tapi aura Baskara hari ini benar-benar tidak mengizinkan siapa pun untuk memotong.
"Dunia hukum itu keras," lanjut Baskara sambil berjalan perlahan mendekati meja Aruna. "Tidak butuh orang yang bermulut besar namun berpenampilan seperti peminta-minta. Kamu tahu, Aruna? Ada orang yang terlahir untuk memimpin, dan ada yang terlahir hanya untuk menjadi pengikut yang menyedihkan. Jangan karena kamu bisa menjawab satu atau dua soal, kamu merasa bisa bicara sejajar dengan saya."
Aruna tetap diam. Ia menatap lurus ke arah papan tulis, tangannya menggenggam pulpen dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Lihat dia," Baskara menunjuk Aruna dengan pulpen peraknya, membuat seluruh mata tertuju pada gadis itu. "Diam seperti batu. Mungkin dia baru sadar kalau beasiswa dan keberuntungan tidak bisa membeli kelas atau tata krama. Di luar sana, orang-orang seperti kamu hanya akan menjadi kerikil yang disapu dari jalanan oleh orang-orang besar."
Michelle dan gengnya mulai cekikikan di barisan belakang, sementara mahasiswa lain hanya menunduk, tak ada yang berani menyela saat Baskara sedang dalam mode "membantai" seperti ini. Bahkan Devan yang biasanya vokal pun tertahan oleh tatapan tajam Baskara yang seolah mengancam akan menghancurkan nilai siapa pun yang ikut campur.
"Kenapa? Kamu mau bicara soal 'dunia yang berputar' lagi?" sindir Baskara tepat di depan wajah Aruna. "Silakan putar duniamu, Aruna. Saya ingin lihat seberapa jauh mahasiswi miskin sepertimu bisa bertahan sebelum akhirnya menyerah dan pulang ke desamu untuk mencangkul."
Aruna perlahan menoleh. Ia tidak menangis, matanya justru terlihat sangat kering dan tajam. Ia tidak menjawab sepatah kata pun, namun ia mengambil buku catatannya, menuliskan sesuatu dengan huruf kapital yang sangat besar, lalu menutup bukunya dengan dentuman keras.
Baskara tertegun melihat reaksi itu. Ia mengharapkan Aruna memohon maaf atau menangis tersedu-sedu, bukan malah menatapnya balik dengan keberanian yang begitu tenang.
"Lanjutkan pelajarannya, Pak. Waktu saya terlalu berharga untuk mendengarkan hinaan yang tidak ada di dalam kurikulum," ucap Aruna pendek, suaranya sangat rendah namun mematikan.
Baskara terdiam, rahangnya mengeras. Ia ingin berteriak lagi, namun ia sadar bahwa beberapa mahasiswa mulai menatapnya dengan pandangan aneh, seolah-olah dialah yang terlihat tidak profesional di sini. Dengan perasaan gusar, Baskara kembali ke mejanya.
"Buka halaman dua ratus!" bentaknya.
Sepanjang sisa jam pelajaran, Aruna tidak pernah melepaskan pandangannya dari papan tulis. Ia sudah memutuskan. Jika Baskara ingin bermain dengan "kekuasaan", maka Aruna akan menunjukkan padanya apa arti kekuasaan yang sesungguhnya di luar dinding universitas ini. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan bom identitasnya.