LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Retakkan Pada Perisai
Kembali di Safe House, suasana terasa jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya. Udara dingin dari pendingin ruangan seolah membekukan setiap napas. Di tengah ruang utama, perangkat Neural Jammer yang berhasil disita dari van musuh kini terbaring di atas meja besi operasi, dikelilingi oleh Reza, Arisendra, Dinda, dan tentu saja, Sabiru serta Allbiru. Cahaya lampu sorot memantul pada permukaan logam hitam perangkat itu, membuatnya terlihat seperti artefak alien yang mematikan.
"Ini bukan sekadar pengganggu sinyal biasa," kata Reza dengan suara serak, memutar perangkat itu menggunakan pinset isolasi khusus. Matanya menyipit membaca data di tablet yang terhubung langsung ke alat tersebut. "Frekuensinya dirancang spesifik, sangat presisi, untuk menargetkan gelombang otak pengguna Neural Link generasi ketiga. Jika perangkat ini aktif dalam radius lima meter dari Sabiru... efeknya bukan hanya pusing. Dalam sepuluh detik, Sabiru bakal mengalami kejang tonik-klonik parah. Dalam dua menit, otaknya bisa mengalami shutdown permanen. Ini senjata pembunuh targeted."
Wajah Allbiru seketika menjadi gelap, bayangan kemarahan dan ketakutan bergulung di matanya. Dia berdiri tepat di belakang Sabiru, tangannya bertumpu kuat di kedua bahu gadis itu, seolah berusaha mentransfer energi dan perlindungan fisik melalui sentuhan itu. Otot-otot lengannya menegang. "Mereka belajar dari kesalahan di Pulau Hitam," geram Allbiru, suaranya rendah namun penuh amarah tertahan. "Mereka tahu kelemahan Ru. Mereka tahu kalau Sabiru adalah kunci, dan mereka menciptakan alat khusus untuk mematikan kuncinya sebelum pintu dibuka."
"Maka kita tidak punya pilihan lain selain menghancurkan sumbernya," kata Sabiru tegas, meski tangannya sedikit gemetar. Dia melepaskan tangan Allbiru dari bahunya sebentar, lalu berbalik menghadap Arisendra. Tatapannya tajam, menghilangkan segala keraguan. "Ayah, di mana server pusat yang mengendalikan jaringan jammer-jammer ini? Kita harus memutus kepala ularnya."
Arisendra menghela napas berat, lalu menunjuk peta holografik tiga dimensi yang muncul di tengah meja. Titik merah berkedip-kedip menandai sebuah lokasi di jantung Jakarta. "Di laboratorium bawah tanah Gedung Genesis Core lama di Thamrin. Tapi masuk ke sana hampir mustahil, Sabiru. Keamanan fisiknya setara benteng militer, dan keamanan digitalnya berlapis-lapis enkripsi kuantum. Tidak ada manusia biasa yang bisa menembusnya."
"Aku bisa masuk," potong Sabiru cepat. "Via Neural Link. Aku tidak perlu masuk secara fisik ke ruang server. Jika aku bisa mendapatkan akses titik masuk terdekat—misalnya terminal di lobi atau pos keamanan—aku bisa meretas server pusat itu dari jarak jauh, menyusup ke dalam sistem mereka, dan menghapus protokol jammer selamanya."
"TAPI!" suara Allbiru meledak, memecah keheningan ruangan. Dia meraih lengan Sabiru, cengkeramannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kalau kamu pakai Link di sana, dan mereka menyalakan jammer lain yang belum kita deteksi? Atau jika frekuensinya berubah dinamis? Kamu bisa mati di tempat, Ru! Otakmu akan hangus! Aku nggak bisa terima itu! Aku nggak akan membiarkan kamu jadi umpan lagi!"
Ruangan hening seketika. Semua mata tertuju pada Allbiru. Ini pertama kalinya pria itu menaikkan suara setinggi itu, kehilangan komposur dinginnya. Ketakutannya begitu telanjang, begitu nyata, hingga membuat dada siapa pun yang melihatnya ikut sesak. Bagi Allbiru, kehilangan Sabiru bukan sekadar kegagalan misi; itu adalah akhir dari dunianya.
Sabiru menatap Allbiru dengan pandangan lembut namun tak tergoyahkan. Perlahan, dia melepaskan cengkeraman Allbiru, lalu mengambil kedua tangan pria itu dalam genggamannya sendiri. Dia memaksa Allbiru untuk menatap lurus ke matanya.
"Biru, dengerin aku," kata Sabiru, suaranya lembut namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan. "Aku nggak akan mati. Karena aku nggak sendirian. Lihat sekelilingmu. Ada kamu yang akan jagain fisikku, jadi perisaiku. Ada Dinda yang akan monitor kondisiku detik demi detik. Ada Reza yang siap back-up dataku dan mengalihkan serangan siber balik. Dan ada Ayah yang pandu strategiku dari luar. Kita satu tim. Dan dalam tim ini, kita saling percaya. Kepercayaan itu adalah kekuatan terbesarku, lebih kuat dari jammer apapun."
Allbiru menatap Sabiru, napasnya masih berat dan tersengal. Logikanya tahu Sabiru benar, tapi insting protektifnya berteriak keras. Rasa takut kehilangan Sabiru menggenggam jantungnya lebih kuat daripada musuh manapun.
"Aku janji," lanjut Sabiru, mengangkat tangan kanannya, jari kelingkingnya terangkat tinggi. Gestur sederhana yang tiba-tiba terasa sangat sakral di tengah ketegangan itu. "Kalau aku merasa sakit sedikit saja, bahkan sekadar denyut aneh di pelipis, aku akan langsung cabut koneksi. Aku janji, Biru. Demi kita. Demi masa depan yang ingin kita bangun bersama."
Allbiru menatap jari kelingking Sabiru yang terulur. Detik-detik terasa berjalan lambat. Perlahan, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia mengaitkan jari kelingkingnya sendiri dengan jari Sabiru. Sebuah janji suci di tengah badai yang akan datang.
"Kalau kamu ingkar janji..." bisik Allbiru, suaranya serak dan penuh emosi, matanya berkaca-kaca. "...aku akan kurung kamu di kamar ini selamanya. Aku akan pasang gembok ganda. Kamu nggak akan boleh keluar bahkan untuk ambil napas tanpa iziniku."
Sabiru tertawa kecil, suara tawa yang meredakan ketegangan di ruangan itu. Lalu, dengan keberanian yang hanya dimiliki Sabiru, dia menarik tubuh Allbiru dan mencium bibir pria itu singkat, manis, namun penuh makna dan janji setia. "Deal. Sekarang, mari kita hancurkan The Eternity Circle."
Reza batuk-batuk keras, pura-pura tersedak ludahnya sendiri sambil menutup mata. "Oke, cukup! Gue mau muntah liat kalian! Gula darah gue naik drastis. Mending kita fokus bikin plan serangan siber yang matang. Operasinya kita namain apa? Operasi Cinta Sejati? Operasi Jari Kelingking?"
Kenzi tertawa terbahak-bahak, menepuk punggung Reza. "Jangan deh, norak banget. Gimana kalau Operasi Mindbreaker aja? Kedengeran keren, intimidatif, cocok sama gaya kita."
Arisendra tersenyum tipis melihat interaksi mereka. Untuk pertama kalinya dalam 22 tahun hidup dalam pelarian dan ketakutan, dia melihat putrinya benar-benar bahagia. Bahagia bersama seseorang yang benar-benar melindunginya bukan karena tugas, tapi karena cinta.
"Operasi Mindbreaker disetujui," kata Arisendra, kembali ke mode komandan. "Besok malam, kita serang. Siapkan mental dan fisik kalian. Ini bukan lagi permainan sembunyi-sembunyi atau kucing-kucingan. Ini perang terbuka. Kita masuk ke sarang musuh."
Sabiru menggenggam tangan Allbiru erat, tidak berniat melepaskannya malam ini. Besok malam, mereka akan menghadapi neraka dunia nyata. Tapi selama mereka bergandengan tangan, selama janji jari kelingking itu masih berlaku, neraka sekalipun bisa mereka taklukkan.