Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Titik Nadir
Sektor Tujuh perlahan kembali ke ritme normalnya, meskipun sisa-sisa kegelisahan masih menggantung di udara seperti kabut tipis yang enggan beranjak. Tim sanitasi GDC menyisir jalanan dengan mesin penyedot partikel, memastikan tidak ada butiran abu hitam yang tertinggal di celah-celah trotoar. Di permukaan, dunia tampak telah diselamatkan sekali lagi oleh keberanian Valerius.
Arthur berjalan pulang melewati kerumunan orang yang masih membicarakan pidato Valerius dengan mata berbinar. Ada sekelompok pemuda yang sedang memasang spanduk besar bertuliskan "Valerius: Sang Penjaga Cahaya". Arthur hanya menatap spanduk itu sesaat, lalu kembali fokus pada es krim yang mulai meleleh di tangannya.
Baginya, semua pemujaan itu adalah kebisingan yang tidak perlu. Namun, ia juga sadar bahwa Valerius adalah satu satunya alasan ia masih bisa menikmati es krim ini tanpa harus dikerumuni oleh agen rahasia atau ilmuwan yang haus akan data kekuatannya.
Begitu sampai di apartemen, Arthur disambut oleh Clara yang tampak jauh lebih ceria. "Arthur! Kau lihat beritanya? Hujan debu itu sudah berhenti sepenuhnya! GDC bilang udara sudah seratus persen bersih. Kau tidak perlu memakai masker lagi."
Arthur tersenyum polos, menjilat sisa es krim di jarinya. "Baguslah, Kak. Masker itu membuat hidungku gatal."
"Malam ini aku akan memasak nasi kari spesial untuk merayakan keselamatan kita," ujar Clara sambil bersenandung menuju dapur. "Oh, dan tadi ada kurir yang mengantarkan satu kotak besar susu stroberi lagi. Temanmu yang 'kaya' itu benar-benar royal, ya?"
Arthur tertawa kecil. Valerius memang tahu cara menyuap anak kecil, pikirnya. Namun, di balik senyum itu, Arthur merasakan sebuah pesan mental yang dikirimkan melalui frekuensi koin emas di saku tasnya. Valerius sudah menunggu di titik pertemuan yang telah disepakati.
Pukul sembilan malam, saat Sektor Tujuh mulai tenang di bawah cahaya lampu neon, Arthur menyelinap keluar melalui jendela kamarnya. Ia tidak menggunakan jalur biasa. Ia melipat ruang di sekitarnya, melangkah dari balkon apartemennya langsung menuju atap sebuah gedung tua yang terbengkalai di pinggiran Sektor Tujuh.
Di sana, di bawah bayang-bayang menara transmisi yang sudah berkarat, Valerius dan Silas sudah menunggu. Valerius tidak mengenakan baju zirah emasnya, ia hanya memakai jaket hitam biasa dengan tudung yang menutupi wajahnya. Silas berdiri di sampingnya, memegang tablet digital yang layarnya diredupkan agar tidak memancing perhatian drone patroli.
Suasana di atap gedung itu sangat sunyi, hanya terdengar suara angin yang berdesir di antara kabel-kabel besi. Valerius tampak sangat gelisah, kakinya tidak berhenti mengetuk lantai beton. Begitu ia melihat sosok Arthur muncul entah dari mana, ia langsung berdiri tegak.
"Arthur," suara Valerius terdengar parau. "Dunia memanggilku nabi. Mereka memujaku seolah aku adalah Tuhan. Aku... aku tidak sanggup lagi menahan beban ini."
Arthur berjalan mendekat, tangannya masuk ke saku celana pendeknya. Ia menatap Valerius dengan pandangan yang membuat pahlawan peringkat satu itu merasa sangat kecil. "Dunia butuh kebohonganmu, Valerius. Jika kau jujur sekarang, mereka akan hancur oleh kenyataan bahwa pelindung mereka sebenarnya tidak ada di pihak mereka."
"Tapi sampai kapan?" sela Valerius frustrasi. "Hujan abu kemarin... itu bukan serangan fisik. Aku bisa merasakannya. Aku berteriak di depan kamera, dan tiba-tiba kiamat itu berhenti. Kau yang melakukannya, kan? Kau menggunakan suaraku untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa ku pahami."
Silas maju satu langkah, mencoba menengahi. "Komandan, tenanglah. Arthur memiliki rencana yang lebih besar dari sekadar reputasi Anda. Arthur, satelit kami melaporkan bahwa Jembatan di Pasifik sedang mengalami percepatan. Fase Final... Protokol Genesis. Apa sebenarnya yang akan keluar dari sana?"
Arthur menoleh ke arah Silas. "Bukan kapal perang lagi. Architects menyadari bahwa penguasaan fisik di bumi sulit dilakukan selama aku ada di sini. Jadi, mereka akan mengirimkan 'Benih Inti'. Sebuah struktur biologis yang akan menancap di dasar laut dan mulai menyerap seluruh energi kehidupan planet ini secara langsung."
"Menyerap energi kehidupan?" Silas mengerutkan dahi. "Maksudmu seperti parasit?"
"Lebih dari itu," jawab Arthur. "Ini adalah konversi total. Benih itu akan mengubah bumi menjadi baterai raksasa bagi dimensi mereka. Dan begitu prosesnya dimulai, tidak ada teknologi manusia yang bisa menghentikannya. Bahkan jika kau meledakkan nuklir di atasnya, benih itu hanya akan menyerap radiasinya dan tumbuh lebih cepat."
Valerius menelan ludah. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Kau bilang aku harus menyiapkan evakuasi. Tapi kemana? Tidak ada tempat di bumi yang aman jika planet ini sendiri yang menjadi mangsa."
"Evakuasi ke Sektor Satu," perintah Arthur. "Sektor itu memiliki pondasi tektonik yang paling stabil. Aku akan menggunakan Heart of Gaia untuk menciptakan zona isolasi di sana. Sektor-sektor lain mungkin akan mengalami guncangan hebat, tapi setidaknya populasi utama akan selamat."
Valerius menatap Arthur dengan ragu. "Hanya evakuasi? Kau tidak akan menghancurkan benih itu sebelum mendarat?"
"Benih itu mendarat di dalam gelembung dimensi yang tidak bisa disentuh oleh massa fisik," Arthur menjelaskan dengan sabar, seolah sedang mengajar di kelas. "Aku harus membiarkannya 'menancap' terlebih dahulu. Saat ia menancap, ada jendela waktu selama tiga detik di mana energinya akan terhubung dengan inti bumi. Itulah saat di mana aku bisa membalikkan arusnya."
Arthur mendekati pinggiran atap, menatap ke arah laut yang jauh. "Aku butuh kau berada di sana, Valerius. Bukan untuk bertarung, tapi untuk memastikan tidak ada pahlawan lain yang mendekati lokasi pendaratan. Jika ada energi asing yang masuk saat aku sedang membalikkan arus, seluruh planet ini bisa meledak karena ketidakstabilan frekuensi."
"Jadi tugas pahlawan nomor satu dunia adalah menjadi penjaga garis pantai agar tidak ada orang yang mengganggu anak kecil bermain di laut?" Silas bertanya dengan nada sinis yang khas, namun penuh dengan pengertian.
"Tepat sekali," jawab Arthur. "Gunakan alasan 'Operasi Segel Langit'. Katakan bahwa siapa pun yang mendekat dalam radius seratus kilometer akan terpapar radiasi mematikan. Hanya pahlawan peringkat satu yang bisa bertahan di sana."
Valerius menghela napas panjang, menatap tangannya sendiri. "Aku mengerti. Aku akan menjalankan sandiwara ini sampai akhir. Tapi Arthur... setelah ini selesai, apa kau akan tetap menjadi anak kecil di Sektor Tujuh?"
Arthur terdiam sejenak. Ia melihat ke arah apartemennya yang terlihat kecil dari kejauhan. "Aku suka sup ayam Clara. Dan aku belum menamatkan video game favoritku. Jadi ya, aku akan tetap di sini selama dunia ini masih cukup menarik untuk ditinggali."
Arthur berbalik, bersiap untuk pergi. Namun, ia berhenti dan menatap Silas. "Dan Silas, ada satu hal lagi. Jangan biarkan dewan pusat mengirimkan tim investigasi ke apartemenku besok pagi. Aku tahu mereka sudah mulai mencurigai pasokan susu stroberiku yang berlebihan."
Silas tersentak, wajahnya sedikit memerah. "Aku... aku akan mengurusnya. Aku akan membuat laporan bahwa itu adalah bantuan nutrisi resmi dari GDC untuk anak-anak berbakat."
Arthur menghilang dalam sekejap, meninggalkan Valerius dan Silas dalam kesunyian malam. Di atas mereka, bulan tampak sedikit lebih merah dari biasanya, seolah olah alam semesta sendiri sedang menahan napas menunggu apa yang akan terjadi besok.
Valerius menoleh ke arah Silas. "Kita benar-benar sedang mempertaruhkan segalanya pada seorang bocah yang peduli pada pasokan susunya."
"Kadang-kadang, Komandan," Silas memperbaiki letak kacamatanya. "Alasan yang paling sepele adalah motivasi yang paling kuat di alam semesta. Sekarang, mari kita siapkan 'Operasi Segel Langit'. Besok adalah hari di mana sejarah manusia akan ditentukan, entah kita akan tetap ada atau menjadi sejarah bagi dimensi lain."
Kembali di kamarnya, Arthur merangkak ke bawah selimut. Ia memejamkan mata, namun pikirannya tidak beristirahat. Ia sedang melakukan komunikasi jarak jauh dengan Heart of Gaia yang ia simpan di dalam laci mejanya. Kristal itu terus bergetar, memberitahukan bahwa Benih Inti Architects sudah memasuki atmosfer teratas bumi secara tidak terlihat.
"Besok jam sepuluh pagi," gumam Arthur. "Tepat saat jam pelajaran olahraga dimulai."
Arthur mendesah lesu. "Padahal besok rencananya ada tes lari maraton. Sepertinya aku punya alasan bagus untuk membolos kali ini."
Ia pun terlelap, sementara di kedalaman samudra Pasifik, air laut mulai berhenti mendidih dan berubah menjadi warna hitam pekat. Sesuatu yang sangat besar, sangat gelap, dan sangat haus akan kehidupan sedang turun dari langit, siap untuk menelan bumi dalam satu pelukan dingin.