NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Awal Kemarahan Besar

Siapa bilang jadi CEO itu pekerjaannya santai? Malah sebaliknya. Arvin contohnya. Setiap hari otak dan tenaganya diperas habis hanya agar bisnisnya terus kuat menghadapi persaingan ketat.

Sudah berhari-hari ini, Arvin selalu berangkat pagi pulang malam. Biasanya memang seperti itu, tapi tidak separah kali ini. Bahkan, pria itu jadi sering terlihat baru pulang di jam 12 malam.

Perusahaan milik Arvin memang sedang mengerjakan proyek besar dan Ayu jadi sangat kasihan melihat kondisi suaminya.

Ayu yang biasanya melihat Arvin pagi-pagi memancarkan raut segar berwibawa saat akan berangkat kerja, kini pria itu jadi sering terlihat redup, loyo, dan pucat. Seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.

Ayu juga pernah mendapati Arvin baru pulang di jam 1 pagi. Kala itu Ayu terjaga dari tidurnya karena haus. Lalu, dia tak sengaja melihat Arvin melangkah terseok-seok menuju kamarnya. Lemas layaknya zombie.

“Aku pikir jadi CEO kerjanya santai. Ternyata lebih berat dari kerjaan kuli,” lirih Ayu. Merasa miris saat melihat sang suami dari jauh.

Pernah suatu malam, Arvin pulang lebih cepat tapi untuk melanjutkan tugas kantor. Dia masuk di ruang kerja pribadinya. 

Karena penasaran, Ayu nekat mengintip Arvin di ruang kerjanya itu — melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka.  

Di dalam sana, Ayu menyaksikan Arvin merobek-robek kertas. Terkadang berteriak frustasi tak karuan.

Ayu mengerutkan dagu lalu menghela napas panjang.

Arvin memang sedang diterpa proyek segunung. Namun gara-gara itu juga, peristiwa melihat Ayu tanpa busana jadi sedikit terlupakan di kepalanya. Bahkan keinginannya melihat tubuh polos Ayu dari sisi depan sudah luntur, tertutup padatnya jadwal kerja.

...***...

Pagi-pagi sekali, Ayu bersiap mengerjakan jadwal rutin mengepel rumah. Dia baru akan melangkah ke ruang belakang, tiba-tiba Arvin memanggil. 

Ayu tertegun karena hari ini pria itu nampak kembali segar dan berwibawa seperti sediakala.

“Ayu!”

“Iya Pak!” Ayu bergegas mendekat.

“Malam ini saya mau sedikit santai. Jadi buat seluruh ruangan rumah lebih mengkilap. Saya tidak mau melihat ada debu sedikitpun yang membuat waktu santaiku nanti terganggu. Paham?”

“Paham, Pak.”

Selesai memberi mandat, Arvin berangkat kerja seperti biasa.

Dengan langkah semangat, Ayu mulai mempersiapkan semuanya. 

Pekerjaan Ayu pun dimulai, dari mengepel setiap ruangan dengan telaten, hingga menyingkirkan debu-debu setiap perabotan rumah dengan kemoceng.

Ayu tulus melakukan pekerjaannya, meski tubuhnya jadi lelah dan berkeringat. Dan juga dia memang menginginkan Arvin malam ini bisa santai. Dia ikut senang melihat raut sang suami kembali segar seperti biasa. Itu artinya pekerjaan padat Arvin di kantor sudah merenggang.

“Ini kesempatan buatku untuk menghidangkan masakan enak lagi untuk pak Arvin,” cetusnya sembari tetap bersih-bersih.

Semua ruangan sudah dibersihkan Ayu sepenuh hati, kecuali satu ruangan. Yakni ruang kerja pribadi Arvin.

Ayu nampak bingung menimbang-nimbang. “Apa perlu aku masuk ke dalam sana?”

Arvin pernah melarang tegas Ayu masuk ke ruang kerjanya itu. Katanya karena urusan privasi.

Tapi bukankah Arvin tadi menyuruhnya untuk membersihkan seluruh ruangan?

Ayu mendekat ragu-ragu menuju pintu ruang kerja itu, lalu mundur lagi. Sampai akhirnya Ayu berpikir serius sejenak lalu membuat keputusan.

“Pak Arvin menyuruhku membersihkan rumah sampai mengkilap. Artinya aku memang harus bersih-bersih ke dalam sana juga,” cetusnya.

Tanpa ragu-ragu, Ayu melangkah masuk ke ruang kerja pribadi Arvin. Di dalam sana, Ayu memindai ruangan dengan raut bingung serta keheranan. Pasalnya, semua barang tertata rapi dan bersih tanpa debu.

Terutama meja kerja. Meski banyak dokumen tetap tertawa rapi dan enak dilihat.

Khusus ruangan ini, Arvin mungkin mengurus kebersihannya secara pribadi.

“Sepertinya tak perlu bersih-bersih di sini,” gumam Ayu hendak pergi. Namun, sudut matanya menangkap sesuatu di lantai dekat kaki kursi kerja.

Ada 3 lembar kertas jatuh berserakan di bawah sana.

“Itu kertas apa?” bingung Ayu.

Ayu berjongkok, memungut tiga-tiganya lalu mengangkat dan menatapnya baik-baik.

Selembar kertas itu berisi tulisan panjang dan ada stempel bertanda tangan di bawahnya. Dua kertas lainnya juga sama, bedanya ada gambar diagram yang Ayu tidak jelas maksudnya.

Kertas-kertas itu sedikit lusuh, membuat Ayu mengerutkan dahi.

“Sepertinya ini kertas tidak penting. Kalau penting, gak mungkin tergeletak di lantai dan lusuh begini.”

Dengan bergegas dan yakin, Ayu pun keluar membawa kertas-kertas itu, lalu dimasukkan ke kantong sampah yang langsung dibawa oleh petugas pembersih sampah.

Satu jam kemudian, Ayu sudah berganti pakaian dan semua tugasnya pagi ini selesai.

Ayu meraih buku resep pemberian dari Raka lalu membacanya di sofa ruang tengah.

Buku itu dibuka Ayu di halaman satu. Ayu memperhatikan gambar makanan di sana. “Sup ini kelihatan enak dan mewah. Pak Raka sepertinya akan suka,” ucapnya, tersenyum manis.

Dan baru saja Ayu akan memulai baca bahan-bahannya, perhatiannya terputus karena mendengar suara digital pintu rumah berbunyi terbuka.

Rupanya Arvin yang datang, masuk dengan langkah terburu-buru. Dia melewati Ayu begitu saja, menuju ruangan kerja pribadinya, tak jauh dari tempat Ayu duduk. Arvin pun masuk ke ruang kerjanya.

Ayu tertegun melihat gerak-gerik Arvin yang selalu nampak sibuk. “Sepertinya Pak Arvin ketinggalan sesuatu,” ucapnya.

Karena Arvin tak kunjung keluar, pandangan Ayu pun kembali diturunkan ke buku resep. Namun, baru hendak membaca, tubuh Ayu tersentak kaget. 

Arvin membanting pintu ruang kerjanya keras-keras. Berdiri di tengah ambang pintu menghadap ke tempat Ayu dengan dada naik turun.

Ayu sontak bangun dari sofa. Melepas kasar buku resepnya.

“Pak Raka!” lirih Ayu.

Ayu mulai merasakan gejolak tak beres. Sebab, Arvin datang mendekat dengan raut wajah layaknya macan yang akan mengamuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!