"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"
Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Bayangan di Perbatasan dan Bisikan Rahasia
Setelah insiden "salah koordinasi tangan" yang membuat atmosfer kamar seketika selevel dengan suhu kawah merapi, Alistair segera berpamitan dengan langkah seribu. Ia butuh oksigen segar dan air dingin untuk mendinginkan wajahnya yang masih terasa terbakar.
"Aku... aku harus memeriksa sesuatu di luar. Istirahatlah," ucap Alistair kaku, bahkan tanpa berani menatap mata Lia.
Lia hanya bisa meringkuk di balik selimut sambil menggigit ujung bantal.
Aduh, Pangeran... mukanya yang merah itu lebih lucu daripada emas-emas gue! Tapi jujur, gue juga mau pingsan saking malunya!
Alistair berjalan menuju area kolam di taman belakang. Kecanggungan tadi ia simpan rapat-rapat di sudut pikirannya, karena ada hal lain yang mengusik jiwanya. Ia berdiri di tepi kolam, tepat di titik Lia terjatuh.
Alistair berjongkok, lalu menempelkan telapak tangannya ke tanah yang masih lembap. Ia mengaktifkan kemampuan khususnya Echo of the Past.
Cahaya biru tipis merambat dari ujung jarinya ke permukaan tanah, memutar kembali memori tempat itu dalam bentuk bayangan cahaya yang hanya bisa dilihat olehnya.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Bayangan Yovan yang mengintimidasi Lia, perdebatan sengit mereka, hingga momen saat kaki Lia terpeleset dan Yovan hanya berdiri mematung dengan tatapan dingin sebelum akhirnya melenggang pergi meninggalkan istrinya yang meregang nyawa.
Rahang Alistair mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah. Namun, di tengah kemarahan itu, ada rasa lega yang aneh. Selama bertahun-tahun, Alistair sering menggunakan teknik ini hanya untuk melihat betapa mesranya Aurellia dan Yovan merencanakan pengkhianatan terhadap dirinya, sebuah tindakan masokis yang selalu menghancurkan hatinya.
Tapi kali ini berbeda. Ia melihat Aurellia yang ketus, Aurellia yang membela suaminya, dan Aurellia yang dengan berani mengancam Yovan.
Dia benar-benar telah berubah, batin Alistair.
Ia teringat kembali wajah memerah Lia saat insiden di kamar tadi, dan tanpa sadar, sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat terukir di wajah kaku sang Pangeran Agung.
"Apa hal yang membuat Pangeran Agung terlihat begitu bahagia di tempat yang hampir menjadi lokasi duka ini?"
Suara bariton yang familier itu mengejutkan Alistair. Ia segera bangkit dan menetralkan ekspresinya menjadi dingin kembali. Di sana berdiri Pangeran Rayyan, sang putra mahkota, dengan senyum khasnya yang jenaka.
"Apa yang membawa Pangeran Mahkota datang ke kediamanku tanpa pengawalan resmi?" tanya Alistair balik, berusaha menutupi kegugupannya.
Rayyan tertawa kecil, melangkah mendekat.
"Aku menemani Ibu. Beliau sangat khawatir setelah mendengar Putri Aurellia jatuh ke kolam. Sekarang beliau sedang berada di dalam bersama kakak ipar. Jadi, daripada aku mengganggu obrolan wanita, lebih baik aku mencari Kak Alistair."
Senyum Rayyan perlahan memudar, berganti dengan raut wajah yang lebih gelap.
"Lagipula, ada sesuatu yang harus aku laporkan secara pribadi, Kak."
Alistair menajamkan pendengarannya.
"Bicara."
"Akhir-akhir ini, situasi di perbatasan sebelah timur tidak terkendali. Banyak laporan tentang gadis-gadis muda yang hilang secara misterius. Raja sudah mengirim dua mata-mata terbaik dari unit intelegen, tapi... keduanya hilang tanpa jejak. Tidak ada jenazah, tidak ada pesan, seolah-olah mereka ditelan bumi."
Mendengar itu, wibawa militer Alistair yang sudah lama tertidur seolah bangkit kembali. Selama kakinya lumpuh, ia hanya bisa duduk di balik meja pengadilan sebagai hakim tertinggi. Ia merindukan medan laga, ia merindukan memburu kegelapan.
"Sepertinya aku harus turun tangan sendiri untuk masalah kali ini," ucap Alistair mantap.
"Benarkah? Aku akan sangat terbantu jika Kakak ikut!" seru Rayyan semangat.
"Namun, Kak..." Rayyan melangkah lebih dekat, suaranya mengecil menjadi bisikan.
"Ada satu hal yang membuatku curiga. Sebelum mata-mata terakhir menghilang, dia sempat mengirimkan kode bahwa hilangnya gadis-gadis itu berkaitan dengan sebuah eksperimen energi yang hanya dimiliki oleh keturunan Tabib Agung."
Alistair membeku. Tubuhnya mendadak kaku, dan aura di sekelilingnya menjadi sangat dingin.
Keturunan Tabib Agung? Itu artinya... Aurellia.
"Itu tidak mungkin..." desis Alistair, tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
Rayyan menepuk bahu Alistair pelan.
"Aku hanya memberitahumu agar waspada, Kak. Aku tahu Aurellia adalah istrimu, tapi pola hilangnya gadis-gadis itu terlalu rapi, seolah ada seseorang yang sangat ahli dalam medis dan energi pengobatan di baliknya."
Alistair terdiam. Ia menoleh ke arah paviliun tempat Lia berada. Jika bisikan Rayyan benar, bahwa ada rencana gelap yang melibatkan kekuatan medis keluarga Aurellia, maka sikap perubahan Lia selama ini, kebaikannya, manja-manjanya, bahkan air matanya di pelukan Alistair tadi... semuanya akan kembali ia pertanyakan.
Apakah ini hanya trik baru untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih besar?