Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Menjemput anak-anak?" gumam Aqilla, memandang wajah Kaila dan Keano secara bergantian.
"Kenapa kamu terkejut begitu, Aqilla? Kita 'kan udah sepakat," decak Ilham, seringai tipis terukir di kedua sisi bibirnya, lalu mengalihkan pandangan mata kepada Radit. "Selamat pagi, Pak Radit. Maaf, saya menganggu aktifitas Anda."
Aqilla memalingkan wajah ke arah samping seraya menggigit bibir bawahnya keras. Ia sama sekali tidak menyangka, Ilham akan menjemput anak-anak secepat ini. Padahal, ia sudah mengatakan bahwa dirinya sendiri yang akan mengantarkan anak-anak kepada mantan suaminya itu. Aqilla larut dalam lamunan, hingga suara teriakan Kaila seketika mengejutkan semua yang berada di sana.
"Nggak, aku gak mau ikut sama Ayaaaah!" teriak Kaila seraya terisak. "Aku maunya di sini sama Om Radit, Ayah jahat. Aku gak mau!"
"Astaga, Kaila. Kamu tenang, ya," ucap Radit seraya mengusap punggung Kaila dengan lembut mencoba untuk menenangkan.
"Mas Radit, bisa tolong bawa anak-anak ke belakang? Aku mau bicara sama Mas Ilham," pinta Aqilla dengan mata berkaca-kaca. Jujur, ia belum siap jika harus berpisah dengan kedua anak-anaknya.
"Nggak, aku gak mau!" tolak Keano, melingkarkan kedua tangan di leher Ilham. "Aku mau ikut sama Ayah aja, Bu. Aku kangen banget sama Ayah!"
Aqilla menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, memandang sayu wajah sang putra. "Ya udah, kamu siap-siap dulu sana. Ibu 'kan pernah bilang sama kamu kalau Ibu nggak akan ngelarang kamu tinggal sama Ayahmu, Keano."
"Beneran, ya. Ibu gak akan ngelarang aku tinggal sama Ayah?"
Aqilla menganggukkan kepala seraya menahan air mata.
"Baiklah, aku akan siap-siap dulu," kata Keano, seraya turun dari gendongan ayahnya. "Ayah tunggu sebentar di sini, ya."
Ilham menganggukkan kepala seraya mengusap kepala Keano dengan lembut, menatap kepergian Keano dan juga Kaila yang dua-duanya dituntun oleh Radit yang tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun Ilham adalah bawahannya di perusahaan.
"Awas kamu, Ilham. Saya pastikan akan membuat kamu membayar semua ini," batin Radit menahan kesal.
Walau bagaimana pun, ini adalah urusan pribadi mereka dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Itu sebabnya ia diam saja, tidak tahu harus berbuat apa.
Sepeninggal Radit dan kedua anak-anaknya, Aqilla menarik pergelangan tangan Ilham dengan keras dan membawanya keluar dari dalam rumah dengan perasaan kesal. Ilham hanya tersenyum puas karena berhasil memprovokasi mantan istrinya dan ia yakin, Aqilla akan membatalkan pernikahannya dengan Radit, atasannya di perusahaan tempat di mana ia bekerja.
"Berani sekali kamu dateng ke sini, Mas? Kamu gak takut dipecat sama Mas Radit, hah?" bentak Aqilla, seraya menghempaskan pergelangan tangan Ilham dengan kasar.
Lagi-lagi, Ilham tersenyum menyeringai. "Kenapa saya harus takut, Aqilla? Saya dateng ke sini cuma mau jemput anak-anak. Nggak ada hubungannya sama pekerjaan. Kamu liat, Pak Radit juga diem aja, 'kan?"
"Tapi, aku 'kan udah bilang sama kamu kalau aku akan mengantarkan mereka sendiri. Nggak perlu kamu sampe dateng ke sini segala!"
"Kenapa? Kenapa saya gak boleh dateng ke sini? Kamu takut ketahuan kalau kamu udah kumpul kebo sama Pak Radit?"
"Hati-hati kamu kalau ngomong, Mas Ilham! Aku nggak kumpul kebo!"
"Terus, apa namanya kalau bukan kumpul kebo?" tanya Ilham dengan santai. "Kenyataannya, kamu tinggal di rumahnya Pak Radit, 'kan? Padahal, kalian belum menikah."
Aqilla mengepalkan kedua tangan, matanya nampak tajam memandang wajah Ilham penuh dendam. "Ya, meskipun aku kumpul kebo sama Mas Radit pun, itu bukan urusan kamu, Mas. Kamu gak ingat, kamu juga kumpul kebo sama wanita sialan itu! Jadi, lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga dan berhenti ikut campur sama urusan aku!"
"Saya akan pergi sama anak-anak."
"Kamu gak denger Kaila ngomong apa tadi? Dia gak mau ikut sama kamu!"
"Tapi Keano mau ko."
"Mereka itu harus selalu bersama, gak pernah berpisah sedikit pun. Kasih aku waktu, aku akan ngomong sama Kaila dan membujuk dia untuk tinggal sama kamu."
Ilham tertawa nyaring. "Hahaha ... nggak bisa, Qilla. Saya udah jauh-jauh dateng ke sini, kalau Kaila gak mau tinggal sama saya juga gak apa-apa. Biar Keano aja yang ikut. Saya yakin, Kaila akan menyusul adiknya nanti."
"Nggak bisa, Mas."
"Kenapa gak bisa!" bentak Ilham dengan mata membulat. "Kalau kamu gak mau anak-anak ikut sama saya, makannya batalin pernikahan kamu sama Pak Radit. Saya janji gak akan ganggu kamu dan anak-anak!"
Aqilla terdiam, menahan sesak dan menahan buliran bening yang memenuhi kelopak matanya. Rasa benci kepada mantan suaminya itu semakin menjadi-jadi, muak dan ingin rasanya ia cabik-cabik tubuh pria tidak tahu diri itu. Namun, dirinya tidak ingin mengotori tangannya dengan perbuatan melanggar hukum yang akan membawanya ke lubang kehancuran.
"Jika saja membunuh itu halal, udah aku habisi nyawamu, Mas," gumam Aqilla tanpa sadar.
"Apa? Kamu ngomong apa, Aqilla?"
Aqilla kembali terdiam seraya mengusap kedua matanya yang berair.
"Saya beri satu kesempatan lagi, batalkan pernikahan kamu atau saya akan benar-benar membawa anak-anak tinggal bersama saya," ancam Ilham dengan tegas dan penuh penekanan.
"Tak perlu, silahkan bawa anak-anak tinggal sama kamu, Mas Ilham. Kamu tunggu di sini, aku akan coba bicara sama Kaila," jawab Aqilla dengan wajah datar, lalu melangkah memasuki rumah.
"Dasar keras kepala kamu, Aqilla. Awas aja, saya pastikan kamu akan menyesal karena udah menyerahkan anak-anak sama saya," batin Ilham, memandang punggung Aqilla dengan kedua tangan mengepal.
Bersambung ....