NovelToon NovelToon
Suami Pilihan Putri Bangsawan Li

Suami Pilihan Putri Bangsawan Li

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Harem / Romansa Fantasi / Rebirth For Love / Cinta setelah menikah / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wulandari

Ratu Shen Yue menikah di usia muda dan merebut tahta setelah tahun kelima pernikahannya. Setelah dia berhasil menduduki kekuasaan tertinggi. Wanita mulia itu tidak pernah menikah lagi. Dia hidup dalam kesendirian di sangkar besar yang ia gunakan untuk mengurung dirinya sendiri.

Di usianya yang hampir mencapai empat puluh tahun. Ratu Shen Yue menghembuskan napas terakhirnya.

Semua kehidupan itu seperti sebuah mimpi panjang. Di saat wanita itu membuka matanya untuk kedua kalinya. Dia sudah menjadi putri satu-satunya dari kediaman Bangsawan Li.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia istriku dan milikku

Kereta kuda berhenti tepat di gerbang utama menuju istana utama. Beberapa wanita bangsawan juga datang bersama suami mereka. Hanya Li Qianzhi yang berjalan sendiri karena Zhang Wei tengah di sibukkan tugasnya.

Seorang pelayan wanita istana menghentikan langkahnya. "Nyonya muda Li, Yang Mulia dan Permaisuri ingin bertemu dengan anda."

Li Qianzhi memberikan anggukan pelan.

Gadis itu di arahkan menuju kesalahsatu jalur yang mengarahkannya keistana barat.

Pelayan istana berhenti tepat di depan pintu masuk. "Nyonya Li, silakan."

Li Qianzhi masuk dengan sangat tenang. Dia berjalan menuju kearah Kaisar Yan Ying dan Permaisuri Agung Lu Xui. Yang tengah menggendong bayi kecilnya.

Belum sempat Li Qianzhi sampai di tempat mereka. Permaisuri Agung sudah bangkit dari tempat duduknya. Wanita mulia itu menggendong bayinya menuju kearah Li Qianzhi.

"Yang..."

"Ibunda."

Li Qianzhi bahkan belum memberikan hormatnya. Namun Permaisuri Agung Lu Xui langsung memberikan hormat juga salamnya.

"Putri ini senang Ibunda bisa datang melihat kami berdua." Permaisuri Agung Lu Xui memperlihatkan putrinya yang ada di dalam pelukannya.

"Bolehkah aku menggendongnya?" Kata Li Qianzhi.

"Tentu." Permaisuri Agung Lu Xui memberikan putrinya kedalam dekapan gadis muda di depannya. Yaitu sosok yang memiliki jiwa Ibunda Ratunya.

Dengan penuh kehati-hatian dan kelembutan. Li Qianzhi mengambil bayi itu lalu mendekapnya penuh kehangatan.

Mereka berjalan menuju kearah Paviliun yang ada di tengah taman istana.

Kaisar Yan Ying bangkit di saat pijakan Li Qianzhi mengenai satu anak tangga pertama. "Ibunda."

Sesampainya di dalam Paviliun, Li Qianzhi duduk di ikuti Kaisar Yan Ying dan Permaisuri Agung Lu Xui.

"Maaf sudah mengganggu ketenangan Ibunda kali ini. Setelah mendapatkan surat dari Ibunda. Aku jadi terus memikirkan semua orang yang ada di dalam buku besar. Buku yang Ibunda berikan," ujar Kaisar Yan Ying. Dia mengambil buku besar yang ia simpan di satu kotak kayu. Tepat berada di sampingnya.

"Apakah benar ada perkumpulan pembunuh yang akan membuat kehancuran di istana? Sejak dulu Ibunda tidak pernah memberitahu ku akan hal ini." Kaisar Yan Ying melanjutkan.

"Mereka selalu ada. Dulu aku kira telah sepenuhnya memberantas mereka sampai keakarnya. Tapi ternyata aku salah. Setelah kehidupan yang berulang. Dan tanda itu menghilang. Baru aku sadar jika mereka belum sepenuhnya menghilang. Masih ada pimpinan baru yang berhasil membuat kekuatan yang jauh lebih besar. Mereka bersembunyi dan menunggu waktu yang tepat. Untuk menyerang istana lalu merebut kedudukan pemimpin negeri." Li Qianzhi menjelaskan sembari menimang cucu kecilnya.

"Aku sudah mendapatkan informasi di mana saja mereka bersembunyi. Aku harap dapat memberantas mereka dalam sekali gerakan. Tapi mereka telah berakar terlalu dalam." Li Qianzhi menatap kearah putranya. "Yan Ying, Ibunda tidak akan pernah membiarkan kamu, istrimu dan cucu kecilku. Berada dalam bahaya."

"Ibunda selalu saja seperti ini." Kaisar Yan Ying bangkit dari tempat duduknya. Dia mendekat kearah Li Qianzhi lalu duduk di sampingnya. "Sekarang, biarkan putra ibunda yang menyelesaikan masalah ini. Aku tidak ingin Ibunda terluka lagi." Meraih tangan gadis muda di depannya. "Ibunda, biarkan aku yang menyelesaikan masalah akhirnya. Aku mohon." Dia mencoba meyakinkan Ibundanya kambali.

Mendengar itu Li Qianzhi tersenyum lembut. "Baik. Putra Ibunda sudah dewasa. Dapat menanggung beban negara yang sangat berat ini sendiri." Mengelus lembut kepala putranya. "Tapi, setiap prosesnya Ibunda ingin berpartisipasi di dalamnya."

"Baik. Aku akan membuat pengaturan untuk itu," ujar Kaisar Yan Ying.

Li Qianzhi melihat kearah cucunya yang tertidur sangat lelap dalam pangkuannya. "Dia terlihat sangat manis. Pesta sudah akan di mulai. Lebih baik kita bergegas sekarang."

"Baik."

Permaisuri Agung Lu Xui mengambil alih gendongan.

Mereka berjalan keluar dari Paviliun di istana barat. Namun Permaisuri Agung Lu Xui memilih untuk kembali keistana. Dia tidak ingin buah hatinya terbangun karena keramaian di pesta.

Di perjalanan menuju ketempat pesta di adakan. Kaisar Yan Ying terus menatap penuh kasih sayang kearah gadis di sampingnya. Mereka berbincang penuh kehangatan. Hingga tanpa mereka sadari dari kejauhan. Seseorang tengah memperhatikan mereka berdua.

"Zhang Wei." Li Qianzhi melihat kearah pria yang tengah berdiam dari kejauhan.

Langkah mereka terhenti.

Zhang Wei berjalan mendekat.

"Tatapan matanya hampir melubangi wajahku," ujar Kaisar Yan Ying.

Li Qianzhi tersenyum mendengar ucapan pria di sampingnya. "Jika pedang di perbolehkan masuk keistana. Mungkin saja saat ini pedang itu sudah ia genggam menodong kearahmu." Tertawa kecil. "Tapi, bukankah dia terlihat sangat manis?"

"Manis! Bahkan aku sebagai Kaisar memiliki perasaan takut saat menatapnya." Berbisik pelan. "Lihatnya wajah mengerikannya. Dia sudah seperti pemangsa yang ingin melahap habis mangsanya." Kaisar Yan Ying sedikit gugup. Takut suami Ibundanya akan salah paham. Karena di kehidupan ini dirinya hanya ingin Ibundanya bahagia.

"Yang Mulia." Zhang Wei memberikan hormat lalu menarik lembut tangan istrinya. Agar gadis itu berpindah tempat berada di sisinya. "Saya bahkan tidak tahu Yang Mulia bisa begitu dekat dengan istriku." Manatap dingin.

Melihat itu Kaisar Yan Ying merasa lucu. "Ayah." Terkejut dengan ucapannya sendiri. "Maksudku, pejabat Zhang."

Li Qianzhi juga telah menekan rasa gugupnya di saat pria di depannya salah berbicara.

Zhang Wei mengerutkan keningnya. Dia pikir dirinya hanya salah mendengar. Jika Kaisar memanggil dirinya sebagai Ayah.

"Apa tugas mu sudah selesai?" Tanya Li Qianzhi.

Di saat melihat kearah istrinya. Pandangan mata Zhang Wei menjadi sangat lembut. "Pengejaran masih di lakukan. Saat aku pulang, Bibi Ding bilang kamu datang keistana. Jadi aku ingin menjemputmu kembali."

"Pejabat Zhang, lebih baik kamu juga ikut bersama kami menghadiri pesta. Pesta hanya berlangsung selama satu jam saja. Tidak akan menunda waktumu terlalu lama," ujar Kaisar Yan Ying.

"Baik."

Mereka bertiga berjalan bersama menuju kearah istana selatan. Tempat pesta di adakan.

"Yang Mulia telah tiba." Teriakan kuat dari Kasim kepala menggema.

Semua orang segara berlutut. "Yang Mulia panjang umur dan sejahtera."

"Kalian bisa bangkit," kata Kaisar Yan Ying.

"Baik."

Semua orang bangkit.

Kaisar Yan Ying duduk di atas tahtanya.

Dan Li Qianzhi juga suaminya duduk di tempat yang telah di sediakan.

Pesta berlangsung dengan cukup meriah. Dengan tarian, permainan alat musik juga atraksi menjadi hiburan untuk semua tamu undangan.

Sesekali Zhang Wei memperhatikan Kaisar Yan Ying. Pria di atas tahtanya itu terus saja memperhatikan Istrinya. Dia bangkit, "Yang Mulia. Ada yang harus hamba laporkan kepada anda. Bisakah saya mengatakannya dari jarak yang lebih dekat dengan anda?"

Li Qianzhi menatap kearah suaminya.

Dengan tenang Kaisar Yan Ying berkata, "Tentu, kamu bisa mengatakannya."

Zhang Wei melangkah mendekat. Di saat langkahnya hanya berjarak satu meter saja dari Kaisar Yan Ying. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya. Dan mulai berbisik pelan, "Yang Mulia menyukai istriku?" Lirikannya mematikan.

Kedua alis Kaisar Yan Ying terangkat. Dia tidak pernah menyangka Zhang Wei akan berkata begitu belak-blakan dan sangat lancang. "Pejabat Zhang, dengan ucapanmu ini aku bisa memberikan hukuman penggal sembilan keturunan kepadamu. Apa yang membuatmu begitu berani mempertahankan kesetiaanku?"

"Karena saya selalu melihat tatapan cinta dari mata anda di saat melihat kearah Istriku. Yang Mulia, sekalipun anda akan memberikanku hukuman mati. Li Qianzhi adalah istriku. Saya tidak akan melepaskannya sekalipun kematian yang akan saya dapatkan." Suara Zhang Wei menekan penuh kecemburuan.

"Istriku adalah duniaku." Menatap kearah Li Qianzhi. "Sedangkan dia adalah wanita yang sangat berharga untukku." Seseorang yang selalu ia hormati dan cintai sebagai Ibundanya. "Jika aku menginginkannya. Kamu tidak akan bisa menghalangiku."

Amarah semakin menekan hati Zhang Wei. "Sekalipun saya mati. Tidak akan saya biarkan anda mengambilnya dariku." Mundur tiga langkah lalu memberikan hormatnya. "Yang Mulia, masih ada tugas yang harus saya selesaikan. Saya bersama istri saya mohon pamit undur diri." Berjalan menghampiri istrinya.

Wajah Zhang Wei sudah menghitam. "Kita harus kembali." Mengulurkan tangannya kepada istrinya.

Li Qianzhi bangkit. Belum sempat dia memberikan tanggapan ataupun memberikan hormat kepada Kaisar Yan Ying. Zhang Wei langsung menggendongnya dengan sangat lembut.

Semua orang terkejut melihat pria yang paling di takuti di wilayah kekaisaran. Menjadi pria romantis di saat bersama istrinya. Bahkan sangat berani menampilkan kemesraannya di depan Kaisar dan seluruh pejabat pemerintahan.

Zhang Wei membalikkan tubuhnya menatap kearah Kaisar Yan Ying. Dia memberikan hormatnya lagi. Dengan menetapkan jika wanita dalam pelukannya adalah miliknya. Dan tidak ada satupun pria di dunia yang boleh merebutnya. Sekalipun dia adalah seorang pemimpin negeri.

"Zhang Wei." Li Qianzhi merasa kurang nyaman karena di lihat banyak orang. "Ini tidak pantas di lakukan."

"Kamu istriku, tidak ada yang tidak pantas." Zhang Wei melangkah pergi dengan pandangan yang sangat dingin.

Setelah pria yang telah membuat keributan itu pergi. Kaisar Yan Ying mencoba menahan tawanya. "Aku hanya sedikit mengusiknya. Dan dia sudah akan meratakan istanaku. Ibunda benar. Dia pria yang lucu dan manis."

1
chataleya
dia pernah jadi ratu. tapi kenapa masih sembrono 😄 rasakan nona Li...
nia kurniawati
ceritanya singkat padat dan menarik,
Sri wulandari: Terima kasih sudah setia mengikuti kisah Li Qianzhi kk. 🌹❤️🤗
total 1 replies
restu s a
.
Endang Sulistia
dah sekarat baru nyesal..banyak bacot
Endang Sulistia
mantap...
Imas Fatimah
ditunggu kelanjutannya thor🤣👍
Sri wulandari: Siap kk.
total 1 replies
sahabat pena
good job.. lanjut 💪💪💪
zylla
😭😭😭
restu s a
Lanjut thor😊
restu s a
terimakasih thor
Sri wulandari: Siap kk.🤗
total 1 replies
restu s a
good
Sri wulandari: Terima kasih sudah setia mengikuti kisah Li Qianzhi kk.🌹❤️🤗
total 1 replies
restu s a
.😭😢😢
restu s a
mampir thor
Sri wulandari: Siap kk.
total 1 replies
zylla
jail kaliii 🤣🤣🤣
zylla
astaga 🤣🤣🤣🤣
zylla
paksu cemburu ntar 🤣🤣🤣
sahabat pena
gmn ya ekspresi nya klo tau istrinya itu ternyata ratu terdahulu 🤣🤣🤣🤣
zylla
Ngungsi di rumah besan 🤣🤣🤣
zylla
Astaga, dianggep patung 🤣🤣🤣
Imas Fatimah
serasa dunia milik berdua,yg lain ngotrak🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!