Gendis baru saja melahirkan, tetapi bayinya tak kunjung diberikan usai lelahnya mempertaruhkan nyawa. Jangankan melihat wajahnya, bahkan dia tidak tahu jenis kelamin bayi yang sudah dilahirkan. Tim medis justru mengatakan bahwa bayinya tidak selamat.
Di tengah rasa frustrasinya, Gendis kembali bertemu dengan Hiro. Seorang kolega bisnis di masa lalu. Dia meminta bantuan Gendis untuk menjadi ibu susu putrinya.
Awalnya Gendis menolak, tetapi naluri seorang ibu mendorongnya untuk menyusui Reina, putri Hiro. Berawal dari menyusui, mulai timbul rasa nyaman dan bergantung pada kehadiran Hiro. Akankah rasa cinta itu terus berkembang, ataukah harus berganti kecewa karena rahasia Hiro yang terungkap seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika Ssi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Hampir Ketahuan
Perjalanan pulang terasa panjang. Hiro memacu mobil melewati jalanan malam, pikirannya terus berputar. Hiro bimbang ketika hendak memberi tahu Gendis tentang hasil tes DNA. Namun, di sisi lain Reina merupakan harapan yang terkabul bagi Yumi dan Reiki.
Begitu sampai di rumah, Hiro menemukan Gendis sudah tertidur di sofa, Reina di pelukannya. Lampu kamar hanya menyala redup.
Hiro berdiri memandangi mereka cukup lama. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Gendis terlihat damai, jauh berbeda dari perempuan angkuh yang dulu hanya dia kenal lewat hubungan bisnis.
Hiro mendekat, menarik selimut untuk menutupi keduanya. Jemarinya berhenti sejenak di rambut Reina. Untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar dilema.
Keesokan paginya, Gendis bangun dengan senyum kecil. “Kamu pulang lagi tadi malam?”
Hiro mengangguk. “Ya. Kamu sudah merasa lebih baik?”
Gendis menatapnya, lalu tersenyum lebih lebar. “Aku mencoba. Rasanya ... aku ingin tetap di sini sedikit lebih lama. Bisakah kita perpanjang masa kontraknya? Aku ingin lebih lama bersama dengan Reina.”
Hiro menahan diri untuk tidak langsung mengiyakan permintaan Gendis. Dia ingin hubungan keduanya yang baru membaik kembali terguncang. Namun di dalam hatinya, Hiro tahu cepat atau lambat dia harus memberitahu perempuan itu bahwa Reina bukan hanya bayi yang dirawat. Reina adalah darah dagingnya sendiri. Ketika saat itu tiba, segalanya mungkin tidak akan sama lagi.
"Yah, bisa dipikirkan lagi nanti. Masih ada sisa 10 bulan lagi. Yumi pasti akan terus mendesak ketika Reina sudah bisa mengonsumsi susu lain."
"Hiro, apa hubungan kalian baik-baik saja? Kenapa tidak mencoba bersatu kembali dengan ikatan lebih kuat karena adanya Reina?" tanya Gendis tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
"Sepertinya kamu salah paham, Ndis. Yumi itu bukan seperti yang kamu bayangan itu itu kakak iparku," celetuk Hiro.
Gendis terbelalak. Dia menatap Hiro dengan pupil melebar. Sementara itu, Hiro yang menyadari sudah melakukan kesalahan langsung mengatupkan bibirnya.
"Ehm, jadi begini ...." Hiro berdeham sebelum akhirnya kembali mengungkapkan satu hal yang tidak pernah dia konfirmasi kepada Gendis.
"Aku memiliki seorang kakak yang menikah dengan Yumi. Jadi, secara hubungan kami ini adik dan kakak ipar, bukan seperti ada dalam pikiranmu." Hiro mengusap tengkuknya secara kasar.
"Jadi, Reina ... ibu Reina ada di mana? Apa kamu menghamili sesorang di luar nikah? Apa istrimu ...." Gendis menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"Sudah meninggal?" tanya Gendis sambil menatap Hiro dengan pupil bergetar.
"Bukan, Ndis. Aku harus meluruskan semuanya. Aku takut jika kamu tahu semuanya dari orang lain. Jadi begini ...."
Hiro mendekati Gendis yang masih duduk di tepi ranjang. Dia menggeser kursi meja rias dan kini duduk berhadapan dengan perempuan tersebut. Tatapannya tak lepas dari mata Gendis yang penuh dengan tanda tanya.
"Reina itu sebenarnya anak Yumi dan kakakku. Mereka sudah menantikan kehadiran Reina sejak lama. Jadi, alasan kenapa aku tidak bisa memperpanjang kontrakmu sebagai ibu susu secara sepihak. Yumi terus mendesak agar bisa segera membawa Reina ke Jepang." Hiro menarik napas dalam sebelum akhirnya melanjutkan ucapan.
Mendengar kalimat itu membuat Gendis merasa sesak. Dia melirik Reina yang masih terlelap dalam boks bayi. Membayangkan perpisahan dengan bayi tersebut membuat Gendis merasa begitu sakit.
"Aku berharap Reina kondisinya lebih stabil. Selain agar bisa kembali ke dalam pelukan Yumi, kamu juga bisa melanjutkan kehidupanmu, Ndis. Aku tidak ingin kamu merasa terbebani karena harus mengasuh dan menyusui Reina."
"Aku tidak masalah dengan itu, Hiro. Aku tidak pernah merasa terbebani. Justru dengan bersama Reina, aku merasa hidup. Cahaya hidupku seakan redup bahkan hampir mati ketika kehilangan putriku, Hiro." Gendis kini menatap Hiro dengan mata sebak.
"Tapi ... tetap saja. Kita akan perpanjang kontrak ketika dokter menyatakan masih diperlukan." Hiro merasa dadanya diimpit dengan batu besar ketika melihat Gendis terlihat sendu.
Gendis menunduk dalam. Jemarinya saling meremas satu sama lain. Air mata perlahan menetes membasahi pipinya.
Gendis tiba-tiba mendongak, tatapannya menusuk menembus dinding hati Hiro. Wajahnya tampak tegas, mata yang masih berkaca-kaca kini memantulkan tekad yang tak biasa.
"Hiro ...." Suara Gendis rendah, nyaris hanya berupa bisikan, tetapi setiap kata terdengar seperti gemerincing besi yang jatuh di lantai sepi.
"Kenapa Yumi tidak menyusui Reina sendiri? Kenapa kamu yang memintaku menjadi ibu susu? Bukankah seorang ibu biasanya akan berusaha sebisa mungkin untuk memberikan ASI, bahkan kalau perlu sampai terapi?"
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti awan pekat sebelum badai. Hiro terdiam. Napasnya tertahan di kerongkongan.
Tatapan Gendis membuat jantungnya berdegup tak beraturan. Pertanyaan itu terlalu tepat sasaran, terlalu dekat dengan rahasia yang sedang dia simpan rapat-rapat. Hiro menatap Gendis lama, berusaha mencari celah aman di dalam pikirannya.
“Yumi ....” Hiro menelan ludah, mencoba membentuk kalimat yang terdengar masuk akal, tetapi bibirnya terasa kaku.
“Yumi sudah mencoba terapi hormon, bahkan sempat dirawat untuk merangsang produksi ASI. Tapi tubuhnya tidak merespon. ASI-nya tidak keluar sama sekali. Itu sebabnya aku ....”
Tangisan Reina tiba-tiba memecah udara, memotong kalimat Hiro yang nyaris menjadi kebohongan sempurna. Bayi itu menangis keras, seolah tahu bahwa orang dewasa di sekitarnya sedang menyimpan sesuatu.
Gendis segera bangkit, mengambil Reina dari boks dan mendekapnya erat. Tangannya otomatis membuka kancing baju, menawarkan kehangatan yang membuat tangis bayi itu perlahan mereda. Hiro berdiri, jantungnya tetap berdegup kencang. Tangisan itu memberinya alasan untuk berhenti bicara.
“Aku ... harus pergi sebentar ke kantor,” kata Hiro cepat.
“Ada laporan yang harus aku lihat.”
Gendis menoleh, tatapannya tajam. “Sekarang? Pagi-pagi begini?”
“Ya,” ucap Hiro mengangguk, berusaha terdengar biasa.
“Ini penting.” Hiro bergegas keluar sebelum Gendis sempat mengajukan pertanyaan lain.
Mobil Hiro melaju pelan di jalanan pagi. Jalanan kota belum terlalu ramai, tetapi pikirannya justru riuh. Kata-kata Gendis terus terngiang di telinga.
Kenapa Yumi tidak menyusui sendiri? Kenapa kamu memintaku?
Hiro menggenggam setir lebih erat, buku-buku jarinya memutih. Jujur atau tetap diam adalah keputusan yang sangat sulit kali ini. Mengungkapkan bahwa Reina bukan anak kandung Yumi dan Reiki berarti membuka kotak Pandora yang mungkin tak bisa dia tutup lagi.
Akan tetapi, menyembunyikannya terlalu lama sama saja dengan menunda ledakan bom waktu. Dia hanya butuh sedikit waktu lagi sampai sang kakak sadar dari koma. Dia ingin menanyakan semuanya kepada Reiki agar bisa mengambil keputusan terbaik.
Saat tiba di gedung kantor, Hiro langsung menuju lantai teratas. Napasnya masih belum teratur ketika dia mendorong pintu ruang kerjanya. Yumi sudah berdiri di sana.
Perempuan itu tampak tenang, meski mata bengkaknya mengisyaratkan malam tanpa tidur. Di tangannya ada sebuah amplop putih yang berisi hasil tes DNA.
Hiro berhenti di ambang pintu. “Yumi?”
aksara bener2 superhero untuk mereka
terima kasih bacaannya thor
terus semangat berkarya thor ❤️❤️❤️❤️
Akhirnya sah Hiro dan Gendis
Meski ada hati yang terluka dibalik kebahagiaan mereka.
Semangat Aksara
Aksara....pengorbananmu untuk Gendis dan Hiro begitu luar biasa
Hiro-Gendis-Aksara......kemana hati akan berlabuh