Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML020~
Alena dan Pak Alex kini sedang berada dapur dengan posisi duduk saling berhadapan.
"Kak, anak-anak udah nggak disini. Kak Alex ada perlu apa?" tanya Alena.
"Axan tadi memberitahuku, ada seorang perempuan yang mengaku Ibunya saat di sekolah. Apa itu benar?"
Alena mengangguk.
"Iya, namanya Syeera. Dia ngaku Ibunya Xan, tapi aku nggak mau percaya gitu aja. Kulihat Axan udah pucet, jadi buru-buru ku bawa pulang." jawab Alena.
Pak Alex menghela napas berat.
"Maaf sebelumnya nih, Kak. Aku nggak tau kisah asmara kak Alex gimana. Kalau Syeera bener-bener Ibu kandung Axan, aku minta maaf banget. Aku terlalu panik tadi,"
Pak Alex menggeleng pelan.
"Tidak, Alena. Kamu tidak salah. Aku tidak kenal orang itu,"
Alena bernapas lega, setidaknya ia tidak melakukan sebuah kesalahan seperti yang dipikirkannya.
"Jadi Syeera bukan Ibu kandung Axan, kan?" tanya Alena memperjelas dan disahuti anggukan oleh Pak Alex.
"Sebenarnya ini rahasia, tapi aku ingin membukanya untukmu."
Jantung Alena berdegup kencang, dirinya terlalu bersemangat jika berurusan dengan rahasia.
"Apa itu, Kak?"
Pak Alex mencondongkan kepalanya.
"Sepertinya kamu sangat penasaran."
Alena menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia mengalihkan pandangannya dari Pak Alex. Alena mengambil gelasnya dan meneguk airnya secara perlahan.
"Axan bukan darah dagingku."
Spontan air yang berada di mulutnya langsung memaksa keluar dan menyembur wajah tampan Pak Alex.
"Aduh!" Alena langsung mendekat dan mengelap wajah Pak Alex menggunakan tangan kosong.
"Maaf banget, serius aku nggak sengaja." ucap Alena yang panik.
Melihat Pak Alex yang menatapnya datar sungguh membuat Alena semakin merasa sungkan, wajah Pak Alex masih basah, mata Alena bergerak sana-sini mencari keberadaan tisu yang tiba-tiba langka.
Alena melihat baju yang dikenakan sangat longgar, ia mengangkat ujung bawah bajunya dan langsung digunakan untuk mengelap wajah Pak Alex.
Pak Alex menahan tangan Alena yang gemetaran, Alena mulai sadar apa yang dilakukan saat ini malah membuat dirinya semakin malu, ia melepas ujung baju yang digenggamnya.
"Masih seperti dulu, ceroboh." kata Pak Alex pelan namun Alena tetap bisa mendengarnya.
Tangan kekar itu dengan lembut menyeka air yang membasahi dagu Alena. Badan Alena rasanya merinding, rasa malunya kian terasa. Wajah Pak Alex mulai memerah namun tanpa terasa senyumnya terus merekah.
"Eh, Mama?" Ziya tiba-tiba muncul, Alena langsung menarik tangannya dengan keras, dengan badan yang masih gemetaran ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang.
"Awww."
"Mama!" Ziya berlari ke arah Alena, Pak Alex langsung membantu Alena berdiri.
"Mama kenapa? Sakit?" tanya Ziya yang khawatir.
Ziya menyentuh wajah Alena yang memerah.
"Om, Mama panas. Kayaknya Mama sakit." kata Ziya.
"Tenang saja, ada Om disini."
"Ziya beliin obat ya?"
Alena menggeleng dengan cepat.
"Mama nggak sakit, Ziya ngapain disini?"
"Oh, ini... Ziya mau ambil susu di kulkas buat Ziya sama Xan."
"Ya udah, ambil sana. Bawa camilan juga."
Ziya mengacungkan jempol, ia berlari ke arah kulkas dan mengambil empat kotak susu serta dua camilan berukuran besar yang ada di rak kecil.
"Ziya main lagi ya." pamit Ziya.
Pak Alex memangku wajah dengan tangan kanannya yang bertumpu pada meja makan.
"Jangan liatin aku kayak gitu." Alena menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Sepertinya aku tidak akan sedih lagi setelah ini."
"Malu banget!!!" batin Alena.
Hilang sudah niat Pak Alex yang akan menceritakan asal-usul Axan yang sebenarnya, saat ini ia lebih suka melihat Alena yang sedang salah tingkah. Harapan dalam hati Pak Alex semakin besar.
"Alena, saat kita masih kuliah, kamu sering melihat teman disampingku secara diam-diam ya?" tanya Pak Alex, pertanyaan ini menurutnya akan memancing Alena.
"Mana ada, aku kenalnya kan cuma Kak Alex."
Masuk jebakan.
"Kalau begitu saat itu kamu sedang melihatku, ya?"
"Kak Alex nyebelin banget, astaga."
Dengan wajah yang masih tertutup tangan, Alena langsung berdiri dan meninggalkan Pak Alex. Senyum lebar terlukis sempurna di wajah Pak Alex.
"Alena, kali ini aku tidak akan membiarkanmu menjadi milik orang lain lagi."
Di kamar Ziya...
Alena langsung membuka pintu tanpa permisi, belum lega pernapasannya kini ia dibuat terkejut dengan keberadaan Axan dan Ziya yang sedang bermain di kamar Ziya.
"Loh, Mama?"
"Kalian kok main disini?" tanya Alena.
"Disini lebih enak, Ziya bisa tidur di kasur kalau capek." jawab Ziya.
"Maaf Tante, tadi Xan sudah menolak, tapi Ziya memaksa." kata Axan yang mendapat anggukan dari Ziya.
"Mama kenapa lagi? Kok muka Mama tambah merah?" tanya Ziya.
"Tante sakit?" tanya Axan, ia menghampiri Alena.
"Enggak, Tante baik-baik aja. Tante cuma salah masuk kamar, kalian lanjutin aja mainnya." Alena langsung keluar dari kamar Ziya.
"Mama aneh," kata Ziya sambil menopang dagu.
Mata Alena membulat saat melihat Pak Alex sedang berjongkok di depan kamarnya.
"Kak Alex ngapain disitu?" tanya Alena.
"Mencarimu." jawabnya singkat.
"Duh, nanti anak-anak salah paham kalau liat kita disini." Alena berjalan menuruni anak tangga diikuti Pak Alex.
"Aku berharap itu terjadi,"
Alena berkacak pinggang dan menghentikan langkahnya, Pak Alex ikut menghentikan langkahnya dan berdiri di samping Alena.
"Kita bukan lagi remaja, Kak. Nggak enak kalau diliat anak-anak."
"Ya biarkan saja." ucap Pak Alex dengan santai.
"Aku baru menyadarinya, ternyata matamu sering melihatku dulu. Kenapa sekarang tidak mau melihatku, hm??"
Tanpa mereka sadari Ziya dan Axan berdiri di lantai dua sedang menyaksikan drama yang menarik bagi mereka.
"Xan, isi pikiranmu sama kayak aku, nggak?" bisik Ziya.
"Tidak tahu, memangnya apa yang kamu pikirkan?"
"Kayaknya Papa Xan suka sama Mama Ziya."
Axan mengangguk pelan.
"Aku sepemikiran."
"Selama ini Ziya nggak pernah liat Mama kayak gitu kalau sama cowok. Palingan Mama sering bahas jual kebun, uang kost sama uang apa itu ya? Pokoknya urusan uang. Baru ini Ziya liat Mama kayak cacing kena injek, nggak bisa diem."
Axan menahan tawa saat Ziya mengibaratkan Ibunya dengan seekor cacing.
"Kalau Om ganteng sendiri gimana? Udah banyak Tante cantiknya ya?" tanya Ziya masih dengan suara pelan, Axan menggeleng.
"Xan tidak pernah melihat Papa segatal itu pada perempuan, baru ini Xan lihat Papa bertingkah seperti ini." Axan merinding melihat eskpresi wajah Pak Alex yang sedang menggoda Alena.
"Berarti sama, ya?"
Axan mengangguk, ia menarik Ziya untuk pergi dari tempat menontonnya itu.
"Kita pindah saja, khawatir nanti ketahuan," ajak Axan.
"Oke, hihi."
Alena mengatur napasnya sambil berkacak pinggang.
"Udah, Kak. Jangan aneh-aneh." kata Alena, ia berlalu meninggalkan Pak Alex yang menahan tawa.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin