Seorang wanita yang diceraikan oleh suaminya. Ia kehilangan segalanya karena sang suami direbut oleh pelakor.
Bahkan, suami yang gemar melakukan KDRT pada isterinya itu pun tak merasa bersalah ketika sang isteri keguguran anak pertama mereka akibat perbuatan kasarnya.
Sang wanita yang dulunya seorang CEO dan telah yatim piatu itu makin terpuruk, setelah semua hartanya direbut sang suami. Ia menderita, menjadi gelandangan dan hidup di jalanan.
Hingga akhirnya, sebuah takdir merubahnya. Ia bertemu gank motor beranggotakan para gangster yang semuanya beranggotakan wanita, saat ia terpaksa berteduh pada sebuah club malam terbengkalai yang ternyata membawanya ke sebuah kelompok mafia terbesar di Rusia.
WARNING!
💣Cerita ini hanya fiktif belaka
💣Siapkan mental karena novel ini mengobrak-abrik perasaanmu
💣Jangan lupa makan sebelum membaca
💣Jangan lupa dukung author dg like, komen positif, vote poin, koin & vocer yg banyak
Lele padamu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lelevil Lelesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner
Bodyguard Antony menunjukkan kamar yang akan Manda tempati selama tinggal di kastilnya. Manda terlihat begitu mengagumi kediaman Antony bak kerajaan megah itu. Tampak para pelayan untuk setiap bidang pekerjaannya. Dari petugas kebersihan rumah hingga pengurus kebun, pengurus kendaraan, dan tukang masak.
Terlihat para penjaga bersenjata api di tiap sudut ruangan dan beberapa berpatroli di lorong. Meski tampak menyeramkan dan terasa tegang, tapi Manda merasa Antony memiliki kekuasaan yang mutlak tak seperti para pria yang pernah ia temui sebelumnya, bahkan Adam sekalipun.
"Tuan Antony benar-benar kaya. Banyak sekali pelayannya. Rumah ini juga sangat besar, banyak anak tangga dan banyak ruangan. Jika aku tak berhati-hati, pasti aku akan tersesat dan itu sangat memalukan," ucap Manda dalam hati yang terlihat sibuk melihat sekeliling hingga ke langit-langit.
Manda yang terbengong itu sampai tak sadar jika bodyguard Tuan Antony sudah berdiri diam di depan sebuah pintu menatapnya sambil menahan tawa. Mereka berbicara bahasa Rusia.
"Nona Manda, ehem ... nona Manda," ucapnya berdiri tegap sembari memegang gagang pintu.
Manda tertegun dan tak sengaja menabrak bodyguard itu. Mereka berdua terlihat cangung satu sama lain dan Manda tersipu malu karena merasa sangat konyol.
"Ini kamar Anda, silahkan beristirahat," ucapnya sopan sembari membuka pintu untuknya.
"Oh ya, oke, terima kasih." Ucapnya sambil tersenyum dan masuk ke dalam.
Bodyguard itu menutup pintunya dan membiarkan Manda beristirahat. Di dalam kamar, mulut Manda menganga lebar. Ia tak menyangka jika kamarnya sangat besar. Sebuah kamar mandi dalam mewah dengan sebuah jakuzi yang langsung menghadap hutan pinus di depannya dan terhalang kaca besar, terlihat begitu sejuk.
Sebuah ruangan tempat menyimpan baju, sepatu, tas dan segala produk fashion dan dilengkapi meja rias di dalamnya. Manda begitu terpukau karena rumahnya saja tak semewah dan sebesar ini.
Sebuah ruang tidur dengan kasur ukuran super 200x200 yang empuk. Bahkan Manda seperti anak kecil karena melompat-lompat di atasnya dengan riang. Sebuah kamar kosong di dekat kamar mandi yang rencananya akan Manda gunakan sebagai ruang kerja pribadinya.
Manda begitu menyukai tempat itu. Ada perapian dan ruang tamu kecil di kamar utamanya. Tapi, ruangan itu tak di fasilitasi televisi ataupun alat musik lainnya, sepertinya Antony sengaja menjadikan ruangan itu khusus untuk beristirahat.
Manda terlihat puas, senyumnya merekah. Ia pun langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuknya itu. Manda memejamkan matanya dan lama-kelamaan ia tertidur pulas masih menggunakan pakaian lengkap.
Manda membiarkan jendela kamarnya terbuka saat itu karena hari masih sore. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Matahari sudah digantikan rembulan yang bersinar sangat terang malam itu, seolah-olah langit ditelan olehnya.
Manda membuka matanya perlahan karena merasakan semilir angin menerpa tubuhnya. Angin dingin mulai mengusiknya. Ia menatap langit-langit kamar barunya tanpa ekspresi, membiarkan kesadarannya terkumpul untuk membuatnya terbangun.
Manda pun langsung duduk dengan rambut yang berantakan. Saat ia melihat sekitar, Manda melihat sebuah gaun merah menyala dan sepatu berwarna keemasan digantung pada sebuah pintu. Manda menatap gaun itu seksama.
Manda pun beranjak dari kasur malasnya dan mendatangi gaun itu dengan bertelanjang kaki. Ada sebuah kertas terselip pada ornamen balutan di dadanya. Manda pun membaca surat itu yang dituliskan dalam bahasa Rusia.
"Bersiaplah, aku menunggumu di bawah tepat pukul 8 malam, Tony."
Mata Manda terbelalak lebar. Ia pun langsung mencari jam dinding di kamarnya.
"Oh shit! Jam 19.30!" pekiknya panik seketika.
Manda langsung bergegas membuka kopernya dan mencari pakaian dalam. Ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Manda secepat kilat membersihkan tubuhnya dan menggosok giginya.
"Ah, jika aku keramas tak akan sempat untuk dikeringkan, ah biarlah, aku akan mencucinya besok saja," ucap Manda kesal pada dirinya sendiri.
Manda pun langsung mengeringkan tubuhnya dan memakai pakaian dalamnya yang ia serasihkan dengan gaunnya yang berwarna merah. Ia pun tak sabar mencoba gaun yang terbuat dari sutera halus dan licin itu. Terlihat begitu mewah dan pas ditubuhnya. Bahkan ukuran sepatunya pun pas di kakinya.
"Ya Tuhan, semua ukurannya pas, siapa yang menyiapkan gaun ini ya? Tuan Antony kah? Tidak mungkin," ucapnya dalam hati.
Manda pun merias wajah seperlunya. Ia tak mau terlihat mencolok dan berlebihan seperti make up nya ketika bersama geng, Red Skull. Selama bersama Antony, Manda merasa bisa menjadi dirinya sendiri. Manda suka barang mewah, tapi tak suka yang terlalu mencolok. Ia suka tampil elegan dengan kesan glamour sexy tanpa harus tampil berlebihan.
Jam dinding menunjukkan waktu tepat pukul 8 malam. Manda bergegas meninggalkan kamarnya dan turun ke bawah. Ternyata Antony tepat waktu, ia sudah menunggu Manda dengan stelan hitamnya dan terlihat begitu menawan.
Manda sampai tak mengedipkan mata dan menelan ludah. Saat Manda terpesona akan ketampanannya, tiba-tiba seseorang mengagetkannya.
"Hai, Manda. Wah ku kira kau wanita bergaya kuno, ternyata kau bisa berubah menjadi cinderella saat memakai gaun ini, pilihan Antony memang sangat pas," ucap Axton menepuk pundaknya hingga Manda sampai melompat kecil karena kaget.
"Ya Tuhan, tuan Axton, kau mengagetkanku, untung aku tak jatuh dari tangga ini," ucap Manda memegangi dadanya dan terlihat shock itu.
Axton hanya terkekeh melihat Manda pucat seketika. Ia pun mengulurkan telapak tangannya meminta pada Manda agar memberikan tangannya untuk diajak berjalan bersama.
Manda pun mengangguk pelan dan berjalan berdampingan bersama Axton turun dari tangga. Manda fokus pada tiap langkahnya. Ternyata Antony mengamati gerak-gerik Manda sedari tadi saat ia berdiri di atas bersama Axton.
"Oke, Tony. Manda sudah siap. Ayo kita berangkat," ucap Axon dengan senyum mengembang dengan lengan sudah dirangkul oleh Manda.
Antony langsung berdiri dan menutup majalahnya dengan kasar. Ia membuang majalahnya di atas sofa yang ia duduki begitu saja. Ia menatap Manda tajam hingga Manda merasa ketakutan seketika.
"Aku berubah pikiran, kalian pergi saja berdua. Kalian terlihat serasi," ucapnya dingin dan langsung berpaling pergi.
Manda dan Axton terlihat kebingungan dan saling berpandangan.
"Hei, apa maksudmu? Begini caramu menyambut tamu? Antony!" teriak Axton lantang karena Antony mengabaikannya dan berjalan lurus hingga dirinya tak tampak lagi.
Manda terlihat kebingungan.
"Aish, orang ini. Dia kenapa sih?" ucap Axton bingung sendiri, "baiklah Manda sayang, karena kau sudah sangat cantik hari ini, mari kita pergi tanpa Tony, mari ... malam ini izinkan tuan Axton yang akan menemanimu makan malam, kau tak keberatan kan?" ucap Axton dengan senyum penuh maksud.
Manda terlihat bingung.
"A-apa tidak apa-apa? Ba-bagaimana jika Tuan Antony membutuhkan bantuanku?" ucap Manda gugup.
"Jangan khawatir, Antony memiliki banyak anak buah. Kehilangan satu bukan masalah baginya. Baiklah, kita berangkat sekarang," ucap Axton langsung menggandengnya keluar kastil dan membawanya masuk ke mobil.
Manda hanya bisa menurut meski hatinya enggan. Ia memikirkan sikap Antony yang tiba-tiba saja berubah. Mobil limousine hitam yang seharusnya dikendarai oleh Antony, Axton dan Manda untuk pergi ke restaurant mewah yang sudah dipesan Antony. Kini hanya ditumpangi Axton dan Manda. Sopir dan sebuah mobil SUV mengikuti mereka dari belakang melindungi mobil Axton.
Selama di perjalanan, Manda hanya diam saja menatap jalanan dan memikirkan Antony. Ia mengabaikan Axton yang sedari tadi mengajaknya bicara.
"Manda, hey, Manda, kenapa kau diam saja? Kau tak sakit kan?" tanya Axton menatapnya seksama.
Manda tertegun dan mulai menatap Axton dengan tersipu malu.
"Oh tidak, aku hanya terpesona dengan pemandangan di luar," ucapnya berbohong.
"Benarkah? Di luar kan gelap, apa yang bisa dilihat? Apa ... jangan-jangan kau bisa melihat hantu ya?" tanya Axton tiba-tiba.
Manda spontan tertawa mendengarnya.
"Tidak, aku tak bisa melihat hantu. Aku takut hantu, jadi jangan sampai aku bisa melihatnya, bisa pingsan aku nanti," ucap Manda dengan lugunya.
"Wah, kau takut hantu? Sebenarnya, aku juga, hahahaha," balas Axton.
Tanpa mereka sadari, Axton dan Manda malah mengobrol akrab. Bahkan sampai di restaurant itu, Manda dan Axton tak berhenti mengobrol. Mereka makan dengan lahab dan mengobrol secara intens.
Manda dibuat tertawa dengan semua cerita lucu Axton. Ia tak menyangka jika Axton tipe lelaki yang banyak bicara dan suka bercerita, Manda pun menyukainya. Tak terasa mereka sudah pergi 3 jam lamanya.
"Baiklah, sudah larut malam. Sebaiknya kita segera kembali, aku masih ada urusan dengan Tony," ucap Axton sembari meletakkan gelas wine yang baru saja ia teguk.
"Oke." Jawab Manda sembari mengelap bibirnya dengan serbet di meja makan itu.
Manda kembali merangkul lengan Axton. Mereka kembali berbincang bahkan sampai perjalanan pulang di mobil. Tak terasa mereka sudah sampai di kastil Antony.
Seperti biasa, kastil itu terlihat dingin dan senyap. Banyak orang bekerja di sana, tapi mereka hampir tak bersuara, sangat sepi. Saat mereka memasuki ruang tamu, Axton pun mencium punggung tangan Manda sebagai salam perpisahan dengannya. Manda tersenyum manis pada Axton.
"Baiklah, nona Manda, tuan Axton mohon diri. Sampai jumpa besok pagi, semoga malam mu indah bersamaku," ucap Axton mesra.
Manda tersipu malu. Sudah lama ia tak diperlakukan secara lembut oleh seorang lelaki.
"Terima kasih, tuan Axton atas makan malam yang berkesan. Semoga malammu menyenangkan, good nite." Ucap Manda dengan senyum manisnya.
Manda pun kembali ke kamarnya menaiki anak tangga. Axton masih berdiri menatapnya dari lantai bawah hingga Manda tak terlihat. Manda tersenyum manis padanya dan melambaikan tangan. Manda masih tersenyum hingga ia masuk ke kamarnya.
Saat Manda menyalakan lampunya, ia kaget setengah mati melihat Antony berbaring di kasurnya yang sudah bertelanjang dada dan hanya menyelimuti tubuh bagian bawahnya. Antony menatap Manda tajam.
nd semua nya rekayasa kematian palsu yg di inginkan Manda 🤔🙄
sampqi sport jantung 👏👍😙
duh senangnya /Kiss/
sia diculik , Manda mw melahirkan
rumit semua Thor , mba lele yg bikin cerita Aq yg deg-deg'an
malah mabok nd ni na ni nu
sm PSK asia 😧😆