🏆 Juaranya 2 Lomba Tema Chiklit - Wanita Kuat S3
Aku Lucia. Seorang agent peringkat SSS di sebuah organisasi yang mengembangkan Sistem Reinkarnasi dunia modern di masa depan.
Masalah muncul pada dunia kecil yang terus bermunculan akibat manusia terus membuat novel dan komik.
Aku sebagai salah satu agent menjalankan reinkarnasi dan memainkan peran untuk mengubah isi novel atau komik karena permintaan dan ketidakpuasan pemeran pendukung pada bagian akhir cerita.
Aku bersama Momo si pendamping sistem menjelajahi berbagai dunia kecil dan dengan cepat meraih peringkat tinggi di organisasi.
"Nona, ada misi lagi. Wah, hadiahnya besar sekali kalau bisa menyelesaikan dengan peringkat sss."
Aku mendorong Momo ke pinggir hingga dia terjatuh karena kucing gemuk itu menutupi layar.
"Menjelajahi dunia kecil dan membersihkan sampah-sampah ini. Misi yang begitu mudah dengan hadiah yang besar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Nona, ini sudah surat undangan ke 57. Apa nona tidak akan pergi ke salah satunya?" Momo yang melihat lihat dan memilih beberapa surat kemudia memberikan sebuah surat pada Lucia. "Nona, bagaimana dengan ini? Nona Margareta Quill? Dia sudah lebih dari sebelas kali mengirim surat tapi tidak mendapat respon dari Nona."
Lucia mengambil surat dan mengingat fakta bahwa Margareta adalah anak dari Nyonya Quill yang berusaha mempermalukannya saat bertemu di istana ratu. "Ibunya tidak bisa menjatuhkanku, sekarang dia mulai mengandalkan anaknya."
Lucia meletakkan surat itu perlahan di atas meja. Matanya memicing dan senyum sinis terukir di wajahnya. "Aku jadi penasaran, Momo. Apa ya yang akan mereka lakukan padaku? Ayo bersiap! Pertemuannya hari ini, loh."
Lucia memanggil sayangnya yang berada di luar untuk membantu mempersiapkan diri. "Siapkan penampilan yang sederhana tapi terlihat elegan," perintahnya.
"Baik, Nona Muda."
Kediaman Nyonya Quill terasa meriah. Halaman belakang yang penuh dengan bunga menjadi tempat yang cocok untuk bertemu dengan Nyonya dan Nona bangsawan kenalannya.
"Nyonya Quill, apakah Nona Muda Lamboerge akan kesini?" Tanya seorang Nyonya yang memiliki banyak perhiasan di tubuhnya.
"Aku juga tidak yakin. Nona itu tidak pernah membalas surat dari anakku. Mungkin karena kami hanya dari Keluarga Count jadi tidak pantas untuk mengundang seorang putri duke." Nyonya Quill memainkan dramanya sebagai nyonya baik hati yang selalu menerima penderitaan. Sekaan air matanya membuat Margareta juga turut serta dalam drama itu.
"Ibu, ibu tidak usah sedih. Meskipun Nona Muda Lamboerge tidak datang setelah aku undang sebelas kali tapi aku yakin dia akan segera menanggapi suratku. Lagi pula ada Nona Selviana disini."
Nyonya Quill melihat Selviana dengan tatapan yang sangat berterima kasih. "Saya tidak menyangka kalau Nona Selviana mau repot-repot menerima undangan saya. Anda adalah orang yang bahkan Pangeran hormati. Saya merasa tersanjung dan bangga atas kehadiran anda."
Selviana yang dipuji demikian tentu saja bangga di dalam hati tapi dia tidak ingin menunjukkannya di depan mereka semua agar terlihat lebih bersahaja. Lagi pula pertemuan ini adalah kesempatan dia untuk mengumpulkan lebih banyak orang-orang untuk berpihak padanya.
"Nyonya Quill tidak perlu begitu menyanjung, saya hanya lah gadis biasa yang berada disisi Pangeran untuk membantu beliau. Jadi saya mohon jangan memuji saya lagi."
Kerendahan hati dari Selviana tentu saja mendapat pujian dari semua Nona dan Nyonya Countes yang hadir hingga kehadiran Lucia pun hampir membutakan mata mereka.
Lucia mengenakan gaun merah muda yang sederhana dengan perhiasan yang terlihat elegan. Gaun dan perhiasan yang berada di Butik Rosegold bukanlah barang murah. Hanya segelintir keluarga Count yang bisa membeli barang-barang dari Butik Rose.
Bagaimana mungkin mereka tidak iri dengan semua yang dikenakan oleh Lucia? Mulai dari kepala hingga kaki semua produk langka dari Butik Rosegold dengan harga ratusan ribu hingga jutaan keping emas.
Nona Margareta mempersilahkan Lucia duduk. Tapi mereka benar-benar lupa untuk menundukkan kepala saat bertemu dengan Putri Duke. Lucia yang menggendong Momo berkata, "Apakah Nona dan Nyonya di sini sudah lupa tatakrama? Melihat Putri Duke malah tidak menundukkan kepala."
Beberapa Nona dan Nyonya disana tidak menyambut Lucia dengan baik dan malah menghardiknya kembali. "Apakah Nona Lamboerge gila hormat sehingga kami harus menundukkan kepala pada anda?"
Lucia melirik wanita yang berdandan menor dan memiliki banyak hiasan bunga di kepalanya dan bertanya, "Nona siapa?"
"Nama saya adalah Arissa Cadby. Saya putri dari Count Cadby,"jawabnya dengan nada yang sombong. Lirikan dan tatapan kehinaan dari Lucia ditangkap olehnya dan membuat dia semakin berang.
"Oh, saya tidak sangka kalau Count Cadby memiliki anak yang tidak memiliki tatakrama dan juga berpenampilan dengan norak. Bunga di kepala anda cukup besar tapi mungkin itu menghalangi otak anda untuk berpikir."
Arissa Cadby berdiri dan hampir memarahi Lucia sebelum Nyonya Quill menghentikannya. "Kita disini untuk berkumpul untuk saling mempererat persahabatan bukan untuk bertengkar. Silahkan duduk dan lupakan tentang tatakrama yang membosankan itu. Iya kan Nona Lucia?"
"Terserah Nyonya Quill saja." Lucia begitu malas berdebat dan mengambil beberapa kue serta memasukkannya ke dalam mulut Momo. "Kalian tidak keberatan kan kalau peliharaan ku makan satu meja dengan kalian? Dia sudah aku anggap seperti keluarga sendiri."
Beberapa Nona dan Nyonya ingin keberatan tapi Nyonya Quill memberi isyarat untuk menghentikan mereka. Mereka mulai saling berbicara membanggakan anak-anak mereka, membicarakan perjodohan dan memuji-muji Selviana. Mereka mengabaikan Lucia.
"Nona dan Nyonya sekalian kenapa kalian tidak berbicara juga dengan Lucia? Beliau adalah tamu kehormatan disini," tanya Selviana. Dia kemudian memberikan tatapan aneh pada Lucia.
"Ah iya Nona Lucia maafkan kami karena asyik sendiri. Ngomong-ngomong baju dan perhiasan Nona sangat bagus. Bukankah itu barang dari Butik Rosegold?" Tanya Margareta dengan mata yang selalu mengarah ke leher Lucia yang terbalut kalung mewah berwarna perak.
"Ah, iya ini menghabiskan hampir 1 juta koin emas." Semua yang mendengar merasa ingin merobek-robek pakaian mereka saat mendengar ucapan santai Lucia yang menyebutkan 1 juta koin emas. Selviana bahkan merasa sangat iri.
"Keluarga Lamboerge selain sangat kuat juga sangat kaya ya bisa membuang 1 juta koin emas untuk barang sekali pakai seperti ini?" Dalam tradisi kerajaan Salvavor sangat jarang bangsawan memakai perhiasan dan gaun lebih dari satu kali.
"Iya memang mudah karena Keluarga kami menghasilkan penghasilan tahunan yang hampir sama dengan kerajaan."
Arissa merasa semakin tersulut amarahnya karena rasa iri pada Lucia. "Nona Lucia bisa mengenakan itu karena keluarga anda adalah keluarga Duke Lamboerge, jadi jangan sombong hanya untuk beberapa pakaian. Jika anda tanpa keluarga, anda hanyalah orang biasa."
"Anda lihat Nona Selviana. Dia berusaha dengan kakinya sendiri untuk bisa mencapai posisi yang tinggi di kerajaan yang mungkin tidak akan bisa anda capai."
Ucapan Arissa tersebut membuat Lucia tertawa terbahak-bahak. Semua orang merasa tidak nyaman dengan tertawaan Lucia. "Kenapa memangnya? Karena aku adalah putri duke jadi kamu merasa iri? Aku memakai pakaian dan perhiasan dari Butik Rosegold kalian juga merasa iri?"
"Keluarga Lamboerge memiliki status dan kekayaan jauh diatas kalian bahkan jika kekayaan kalian semua digabungkan. Aku sombong juga tidak masalah kan?"
"Nona Selviana itu anak dari seorang Count yang sangat rendah. Gelar countnya itu dibeli bukan dari keturunan. Dia berusaha mencapai posisinya sekarang karena ingin mengubah nasib. Jika tidak, bagaimana mungkin dia bisa duduk di sini bersama kalian?"
"Aku terlahir sebagai putri Duke. Aku tidak perlu menjilat Pangeran untuk menaikkan statusku. Aku juga tidak perlu menjilat orang-orang kerajaan untuk mendapat relasi dari keluarga Kerajaan."
Semua perkataan Lucia membuat mereka semakin marah. Selviana bahkan terlihat terpukul karena Lucia menyinggung status masa lalunya. "Sepertinya kehadiranku di sini tidak di inginkan. Aku sudah menghapal nama kalian semua. Tenang saja aku pasti akan memberitahu Duke Lamboerge semua yang terjadi. Nikmatilah kesenangan kalian."
Lucia meniupkan serbuk dari tangannya tapi tidak ada satu orang pun yang menyadari. Serbuk itu akan memberi efek muntah-muntah beberapa jam pada orang yang menghirupnya.
Beberapa langkah lagi Lucia akan memasuki kereta kuda, terdengar bunyi muntahan yang menjijikkan dari dalam.
"Oek, oek, apa yang oek."
"Ah, menjijikan, oek...."
"Jangan muntah di bajuku. Uwek."
Lucia cekikikan dan Momo menggelengkan kepalanya karena kejahilan Lucia.
Setibanya di Istana Lucia dipanggil kembali oleh Duke keruangannya. Duke memperlihatkan surat lamaran yang datang begitu banyak.
"Apakah orang-orang ini tidak takut kepalanya dipenggal oleh Raja? Mereka ini bodoh, tuli atau apa? Raja kan sudah bilang akan menjadikan aku menantu. Kenapa mereka masih saja mengirim surat?"
"Kebanyakan lamaran ini berasal dari negara lain. Bagaimana menurutmu, Lucia?"
"Bagaimana apanya? Ya tolak saja semua. "