Bagaimana jika seorang pemuda yang setiap harinya hanya menjadi anak seorang supir didalam keluarga kaya dan dia harus menerima untuk dinikahkan dengan Nona Muda mereka yang tidak bisa bicara.
"Nak, Ibu dan Bapak ingin berbicara serius dengan kamu" ucap Pak Budi pada putranya.
"Bicara apa Pak? Bicara saja" tanya Adji yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Begini nak, tadi siang Bapak dan Ibu diundang kerumah Tuan Nadi dan kami disana membahas masalah perjodohan untuk kamu. Bapak tidak bisa memutuskan nya sendiri, karena Bapak tidak mungkin memutuskan. Bapak ingin membicarakan ini dengan kamu dan jika kamu menerimanya, Bapak dan Ibu akan membalasnya lebih dalam lagi dengan keluarga beliau" jelas Pak Budi dengan panjang lebar.
Penasaran apa jawaban Adji pada kedua orang tuanya???
Yuk baca dan ramaikan setiap babnya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga pollow akun Othor ya...
Terimakasih dan selamat membaca 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikah syarif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran 2
Semalaman mereka tidak tidur untuk menjaga Mama Dania. Clarissa sudah bisa mengeluarkan suaranya sedikit demi sedikit. Walau masih sakit tenggorokan nya saat mengeluarkan suaranya.
Menjelang subuh, Clarissa keluar untuk membelikan makanan untuk Mama dan Papa nya. Dia sebenarnya sangat merindukan moment kebersamaan dan kebahagiaan nya yang dulu.
Tapi saat akan keluar rumah sakit. Dia melihat seseorang yang sangat mirip dengan orang yang dia kenal berada didalam rumah sakit itu juga.
"Apa mungkin itu dia? Tapi, kenapa dia adalah di rumah sakit? Apa dia sakit, atau ada keluarganya yang sakit? Ah, kenapa juga aku harus ingin tahu" gumamnya yang sama sekali tidak mengeluarkan suaranya sedikitpun juga.
Lalu dia berjalan kearah Mushola untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang Muslim. Dia berdo'a untuk kesehatan Mama dan keutuhan keluarganya sendiri. Dia sudah berjanji akan menjadi lebih baik, tapi dia tetap bersikap seperti biasanya yang selalu angkuh dan arrogant.
Setelah selesai dia keluar untuk membelikan bubur untuk sang Mama. Dia juga membelikan sarapan kesukaan dari sang Papa beserta dirinya. Tapi saat akan masuk kedalam ruangan perawatan Mama Dania. Dia mendengar suara orang yang sedang berbicara dengan Papa Nadi.
Semalam memang Mama Dania sudah dipindahkan kedalam ruangan perawatan. Walau kata dokter semuanya baik-baik saja, baik Papa Nadi dan Clarissa ingin jika Mama Dania dirawat disana hingga kondisinya benar-benar pulih.
"Apa ada tamu yang menjenguk Mama? Tapi siapa? Kenapa suaranya begitu asing" gumam Clarissa yang tidak langsung masuk kedalam ruangan rawat.
"Apa anda yakin Tuan Nadi? Apa anda memang sudah benar-benar yakin untuk menyerahkan semuanya ini kepada Tuan Muda Dude Adji yang mana memang adalah darah daging anda?" tanya seseorang yang entah siapa menurut Clarissa.
"Saya yakin, karena dia memang putra kandung saya. Saya tidak mungkin menyerahkan nya pada orang lain selain dia, hanya dia yang berhak dalam semua ini. Makanya saya ingin menjodohkan Clarissa dengan nya, karena saya tidak mungkin membiarkan dia bersama dengan wanita lain" jawab Papa Nadi.
JEDER...
BRUK...
Clarissa menjatuhkan makanan yang dia beli. Dia merasa telah dipermainkan, bahkan dia juga berperasangka pada Mama Dania yang mungkin juga sudah mengetahui segalanya akan dirinya dan, anak supir yang selalu dia salahkan.
Clarissa berlari tidak tentu arah. Bahkan dia beberapa kali terjatuh saat berlari. Tapi dia tidak menghiraukan rasa sakitnya sama sekali. Sesekali dia mengusap air matanya yang mengalir dipipinya dengan kasar.
.
Sedangkan didalam ruangan rawat Mama Dania kedua pria yang tidak lain adalah Papa Nadi dan seorang pengacara pribadinya sendiri untuk menyerahkan semua aset yang dimiliki beliau.
"Tapi Clarissa adalah putriku juga. Dia berhak atas separuh yang saya dan istri saya miliki. Walau dia bukan darah daging saya sendiri" ucap Papa Nadi yang tidak Clarissa ketahui, jika Papa Nadi sangat menyayanginya juga.
"Anda memang benar Tuan. Karena Nona Clarissa memang putri anda yang sah secara hukum dan negara. Apa lagi Nona Clarissa sangat anda dan Nyonya manjakan sejak kecil, dia pasti sangat bangga memiliki Ayah seperti anda" ucap Pak Burhan yang memuji kebaikan Papa Nadi.
"Semoga saja. Saat ini kami sedang berselisih faham" gumam Papa Nadi yang membuat Pak Burhan mengernyitkan keningnya bingung akan gumaman Papa Nadi.
"Tuan, maaf sebelumnya. Apa Tuan Muda Dude Adji sudah tahu yang sebenarnya? Jika dia adalah putra kandung anda dari kesalahan yang anda sembunyikan selama ini? Maaf jika saya terlalu ikut campur masalah pribadi anda. Saya hanya takut, jika kebenaran ini terungkap akan menjadi masalah" tanya Pak Burhan dengan sangat hati-hati.
Papa Nadi hanya menghela nafasnya dan beliau tidak langsung menjawab pertanyaan dari Pak Burhan.
Tiba-tiba saja terdengar benda terjatuh dari luar ruangan rawat Mama Dania. Membuat Pak Burhan bertanya pada Papa Nadi.
"Tuan, apa anda mendengar sesuatu? Sepertinya Nona Clarissa sudah kembali" tanya pengacara yang bernama Burhan tersebut.
"Apa mungkin dia sudah kembali" gumam Papa Nadi yang segera bangkit dari duduknya menuju arah pintu.
"Apa dia mendengar semua pembicaraan kami berdua? Jika iya, ini akan menjadi masalah besar. Dania juga pasti akan semakin drop" gumam Papa Nadi saat melihat kantung pelastik teronggok dilantai.
"Apa anda menemukan sesuatu Tuan?" tanya Pak Burhan pada Papa Nadi yang hanya berdiri mematung didepan pintu.
"Dia pasti sudah mendengarnya. Biarkan saja, biarkan dia sendiri dan memperbaiki sikapnya" ucap Papa Nadi yang sebenarnya sedang ketar ketir memikirkan keadaan Clarissa dan istrinya yang mungkin saja sudah mendengarkan pembicaraan mereka berdua juga.
"Baik Tuan, jika begitu saya permisi. Saya akan membuatkan apa yang anda inginkan" ucap Pak Burhan pada Papa Nadi.
"Silahkan" jawab Papa Nadi yang segera memungut kantung pelastik tersebut dan menyimpan nya diatas meja.
Untung saja isi didalam kantung pelastik tersebut tidak tumpah atau berantakan. Karena menggunakan tempat yang aman jika terjatuh.
"Apa yang Papa bicarakan dengan Pak Burhan? Apa Papa akan menyerahkan perusahaan pada Clarissa sekarang?" tanya Mama Dania yang ternyata tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Papa tidak membicarakan apa-apa Ma. Pak Burhan kemari ingin menjenguk Mama dan Mama masih tidur. Jadi dia langsung pulang lagi" jawab Papa Nadi yang menutupi dari Mama Dania.
"Oh. Dimana Clarissa Pa? Kenapa dia tidak ada disini?" tanya Mama Dania yang melihat keseluruh ruangan rawatnya tidak ada siapa-siapa lagi selain Papa Nadi.
"Dia sedang izin keluar, katanya ingin membelikan sesuatu setelah membelikan ini untuk Mama" jawab Papa Nadi yang berbohong pada Mama Dania.
Sebenarnya beliau tidak tahu dimana keberadaan Clarissa sekarang. Mama Dania hanya mengangguk dan percaya akan ucapan Papa Nadi padanya.
"Mama sarapan dulu. Setelah itu minum obat, biar lebih baik" ucap Papa Nadi yang langsung diangguki oleh Mama Dania.
.
Sedangkan ditempat lain, Clarissa sedang menangis sesegukan ditempat yang sangat sepi. Dimana lagi jika bukan ditempat yang sudah menjadi tempat paforitnya.
Dimana lagi jika bukan disebuah gubuk terbengkalai ditepi hutan. Dia sering kesana jika sedang merasa tidak baik-baik saja perasaan nya. Seperti sekarang saat dia mendengar semuanya dengan jelas dari mulut Papa Nadi sendiri.
Tapi dia tidak mendengar ucapan selanjutnya dari Papa Nadi. Dia semakin salah faham padamu Papa Nadi, apa lagi saat mendengar jika Adji adalah putra kandung dari Papa Nadi.
"Kenapa harus dia. Kenapa!!! Tidak bisakah orang lain yang menjadi putranya?" teriak batin Clarissa yang sudah sangat terluka akan kebenaran yang datang bertubi-tubi padanya.
"Disaat aku akan merubah semua pandangan dan juga sikapku padanya. Aku malah mendengar kenyataan sepahit ini" gumamnya lagi yang mana semakin menangis sesegukan dan dia memeluk lututnya sendiri.
dan semoga sehat selalu buat penulis nya❤️
gk tahu krn sikapmu membuat ortumu khawatir n km jg jd menderita di luar sana
ortu mu pasti akan mengerti keputusan mu