Di cintai dengan tulus oleh pasangan merupakan impian bagi seseorang yang menjalin hubungan.
Mengisahkan perjuangan cinta anak sekolah antara Nasya dan Aditya. Aditya beberapa kali menyatakan perasaannya, namun di buat menunggu oleh keputusan Nasya untuk tidak menjalin hubungan dekat sampai mereka lulus SMA. Walau begitu, Aditya setia menunggu jawaban Nasya setelah nantinya lulus SMA.
Mereka berdua menjalin persahabatan sejak pertama kali mereka bertemu. Selama bersekolah mereka sangat bahagia dan nyaman satu sama lain sebelum datang wanita yang mengaku kekasih Aditya yang selalu berusaha untuk memisahkan mereka berdua.
Bagaimana kisahnya? Apakah hubungan mereka berjalan dengan mulus atau tidak?
Selamat Membaca 💫
Dukung karya ini dengan ➡️ Like, Subscribe, vote, dan komentar terbaikmu. Terima kasih.
Salam hangat dari Author💫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vincar:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 20 Saling Percaya
Lalu datang Intan menghampiri Aditya yang sedang menunggu Nasya dari toilet. Aditya menunggu Nasya di depan pintu seraya sibuk dengan ponselnya.
"Aditya ... besok kamu datang yah ke rumahku."
"Buat apa."
"Kita belajar bersama untuk olimpiade besok," ucap Intan yang mendekati Aditya seraya memegang tangannya.
"Ih apaan sih Intan ...." Risih Aditya.
"Bolehkan," ucap Intan.
"Baiklah aku akan datang ... Tapi ingat, Saya datang hanya sebagai teman belajarmu dan tidak lebih dari itu," jelas Aditya.
Lalu Nasya keluar dari toilet dan hendak menemui Aditya yang sedari tadi menunggunya. Nasya sangat terkejut saat Aditya sedang bersama lagi dengan Intan.
Seperti biasa, perasaan itu pun datang, rasa di mana dirinya cemburu melihat kebersamaan Aditya dan Intan. Bagaimana tidak! Sesekali Intan memegang tangan dan merangkul Aditya.
"Aku tidak ingin terlibat jauh dengan hubungan ini sebelum aku lulus," kecewa Nasya dalam hati.
Kemudian Nasya pun mengambil tasnya dan mulai berjalan terburu-buru meninggalkan mereka berdua. Lagi dan lagi, tidak sengaja Nasya menyenggol tempat sampah yang tepat berada di depannya.
"Trak .... " Suara jatuhan tempat sampah. Suara tersebut menarik perhatian Aditya, dan menoleh ke arah suara tersebut. Lalu Aditya melihat Nasya yang tengah sibuk memasukkan sampah-sampah di tempatnya.
"Cya, Nasya," panggil Aditya.
Lalu Nasya terus berjalan tanpa memperdulikan penggilan Aditya yang memanggil namanya. Dengan raut wajah sedih Dia berjalan terburu-buru menuju ke arah parkiran kendaraan.
Tiba-tiba di depan Nasya ada Rafael yang mencoba menghalangi jalannya. Rafael tahu bahwa Aditya memanggil Nasya dari kejauhan.
"Ih apaan sih, minggir saya mau lewat," kesal Nasya.
"Kamu gak dengar, Aditya memanggilmu!" Ucap Rafael yang masih mencoba menghalangi jalannya.
Aditya yang melihat Nasya terhenti, lalu dengan berlari cepat Aditya menghampiri Nasya serta meninggalkan Intan. Intan yang terlihat kesal hanya pasrah di tinggal begitu saja oleh Aditya.
Sesampainya Aditya, dia berusaha menjelaskan apa yang telah terjadi dan mereka bicarakan antara dia dan Intan. Kemudian Nasya duduk di pos satpam untuk menjelaskan maksudnya meninggalkan mereka berdua.
"Maaf banget Adi, hubungan ini rumit. Aku sulit menjelaskannya kepadamu," ucap Nasya dengan kepala tertunduk.
"Apa, rumit? Kenapa Nasya, aku kan setia ingin menunggu jawabanmu sampai lulus SMA."
"Apalagi yang membuat kamu ragu Nasya?" tanya Aditya.
"Entah kenapa perasaanku tadi sedikit gelisah. aku, aku-" Ragu Nasya.
"Ragu kenapa Cya?" tanya Aditya yang penasaran.
"Aku sedikit terganggu saat melihatmu bersama dengan Intan, beberapa kali saya meyakinkan diri saya untuk tidak peduli."
"Tetapi hati dan pikiranku seakan menolak," jelas Nasya yang sesekali memandang ke arah Aditya.
Mendengar curahan hati Nasya, Aditya hanya mengukir senyuman di bibirnya ala iklan pasta gigi.
"Akhirnya hatimu yang mengeras itu perlahan mulai luluh," kata Aditya.
"Gini amat jadi nyamuk, dari tadi saya berdiri sendiri dan mereka tidak mengajakku untuk duduk bersama mereka, nasib jomblo." Batin Rafael yang tidak jauh dari Aditya dan Nasya.
"Hallo guys, aku duluan yah," celutuk Rafael.
Mereka berdua tak menghiraukan ucapan Rafael. Lalu Rafael bergegas meninggalkan mereka berdua.
Selang beberapa menit, lalu Aditya mengajak Nasya untuk pulang.
"Ayo pulang, sudah siang. Nanti di jalan Kamu kepanasan naik motor." Perhatian Aditya.
Nasya terdiam melihat ajakan Aditya, lalu pandangannya mengarah ke arah kiri dan tampak dari kejauhan Intan yang kesal melihat mereka berdua.
Lalu mereka pun mengambil motor dan memakaikan helm di kepala.
"Cya, jangan lupa belajar di rumah. Karena besok penentuan hasil lomba. Jadi berusaha dan tetap berdoa, cheer up baby." Kata-kata yang keluar dari mulut Aditya.
Nasya pun menggelengkan kepalanya seraya tersenyum melihat Aditya yang sudah memberinya semangat.
"Hati-hati di jalan Aditya," ujar Nasya.
"Oke Bos. Besok aku jemput yah," teriak Aditya yang sudah menyalakan mesin motor dan lalu bergegas pergi.
"I-iya Adi," jawab Nasya yang sedikit ragu.
Lalu Nasya pun menyalakan mesin motornya dan bergegas untuk pulang.
.
.
.
Rumah Nasya.
Setibanya di rumah, Nasya pergi ke kamarnya dan ganti baju. Dia pun membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Oh Tuhan, ternyata Aditya begitu serius mencintaiku," gumam Nasya dalam hati.
"Ting ... Ting ...." Notifikasi dari ponsel Nasya Ternyata pesan tersebut dari Rafael. Lalu Nasya pun membaca pesan dari Rafael.
"Halo Nasya cantik nan Anggun, mana nomor Priskila?"
"Ih Rafael, menganggu khayalanku aja," celutuk Nasya.
Tanpa pikir panjang, lalu Nasya mengirimkan nomor Priskila ke Rafael, yang sedari tadi Rafael memohon di sekolah.
Malam telah meninggal cahayanya, menemani raga yang sudah lelah agar segera mengistirahatkan diri sejenak dari rasa lelah setelah sehari penuh beraktivitas.
Tidak lupa Nasya membuka bukunya dan belajar sebagai persiapan ujian besok. Setelah 1 jam berlalu, Nasya merapikan buku dan alat tulisnya.
Lalu Nasya beranjak dari tempat duduknya menuju ke tempat tidurnya. Nasya langsung merebahkan tubuhnya dan berharap besok lebih baik lagi dari hari sebelumnya.
"Oh Tuhan, semoga besok aku bisa mengerjakan soal matematika." Doa Nasya dalam seraya memejamkan mata. Lalu Nasya tidur dalam keheningan malam yang menyelimuti.
.
.
.
Keesokan pagi.
Terdengar suara Ayam berkokok sebagai tanda Matahari mulai terbit dengan sisa-sisa embun yang menempel di daun.
Pagi hari mengajarkan kita bahwa segala sesuatu selalu di awali dengan rasa syukur dan embun adalah tanda keikhlasannya.
Seperti biasa Nasya bersiap-siap untuk ke sekolah, lalu sarapan bersama keluarganya. Setelah selesai sarapan Nasya kembali ke kamarnya untuk mengambil tasnya.
"Tok ... tok ...." Suara ketukan pintu dari arah luar rumah Nasya.
"Iya, sebentar," jawab Michael adiknya Nasya seraya membuka pintu.
"Nasya ada? Saya temannya Nasya," ucap Aditya dengan senyuman tipis.
"Kak Nasya, ada temannya!" teriak Michael
"Tak ... tak ... tak ...." Suara langkah kaki Nasya yang menuruni anak tangga.
"Cie ... udah punya tukang ojek pribadi nih kakak," celutuk Michael.
"Ih, jangan usil! Cepat berangkat nanti kamu juga terlambat ke sekolah," ucap Nasya.
"Eh Adi, bentar yah saya pamit dulu sama orang tuaku," ujar Nasya.
Terlihat senyuman terukir di bibir Aditya. "Iya Nasya".
"Ayah Ibu, saya jalan dulu ya." Pamit Nasya seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Aditya dan Nasya segera berangkat ke sekolah. Di belakang Aditya, Nasya terlihat senyum-senyum sendiri yang tanpa sadar Aditya mengamatinya dari kaca spion sebelah kiri.
"Kayaknya bahagia banget, ada apa ini?" tanya Aditya.
"Mau tahu atau mau tahu banget?" gurau Nasya.
"Mau tahu banget dong."
"Hmm ... ada deh," Ujar Nasya dengan senyuman kecil.
"Baiklah, jika kamu tidak mengatakannya."
"Eh Adi, kamu udah belajar gak?" tanya Nasya yang mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Cantik," Jawab Aditya.
Setibanya di parkiran, Nasya turun dari motor dan melepaskan helmnya.
"Akhirnya sampai juga," ujar Aditya.
Dari kejauhan Nasya melihat siswa berkumpul di mading untuk melihat nama-nama yang lolos ujian kemarin.
Dengan tergesa-gesa Nasya langsung menghampiri para siswa yang berkumpul dan berharap dirinya lolos.
Bersambung.
Langsung saja baca bab berikutnya.
Semoga harimu menyenangkan 💫
Aku masih pegang Adit Nasya nih. Tapi kalau Arman lebih gentle keknya bisa kali 😏😏😏
Coba Rafa jadi alim dikit
Berasa nyewa di sini