Alea kembali dalam hidup Niko sebagai sosok yang berbeda. Dia yang dulu ditinggal Niko tanpa kepastian, kini berhasil masuk ke dalam perusahaan Sanjaya sebagai sekretaris Niko.
Niko yang telah menikah karena perjodohan dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tergoda oleh pesona Alea, mantan terindahnya.
Apa tujuan Alea kembali dalam hidup Niko? Apa setelah dia berhasil merusak hubungan Niko dengan istrinya, dia akan memiliki Niko, ayah biologis dari anaknya yang selama ini tidak diketahui kehadirannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama Reka 2
"Reka mau mobil yang ini?" tanya Niko sambil memilih mobil-mobilan di pusat toko mainan anak siang itu.
Reka menggelengkan kepalanya. "Mobil-mobilan Reka sudah banyak, Om." Reka berlari kecil menuju sebuah rak dimana ada aneka mainan lego berjajar di sana. "Reka mau lego yang series terbaru, boleh?" Reka menunjukkan mata berninarnya sambil jarinya menunjuk sebuah lego yang lumayan besar dengan harga ratusan itu.
"Iya, boleh." Niko mengambilnya untuk Reka. "Mau apalagi? Mau puzle juga?" Niko tak pernah merasa sebahagia ini berjalan dengan anak kecil. Mungkin benar, ikatan batin orang tua dan anak itu sangat kuat.
"Boleh, Om?" tanya Reka memastikan. Lagi-lagi wajah polosnya membuat Niko semakin gemas.
"Iya boleh."
Niko ikut tersenyum melihat Reka dengan cerianya memilih aneka puzle.
"Habis ini kita makan siang ya, sama beli es krim. Reka mau makan dimana?" tanya Niko setelah Reka puas memilih mainannya, dia kini sedang membayarnya di kasir.
"Mau makan di McD."
"Oke, Reka." Niko berulang kali mengusap puncak kepala Reka. Setelah selesai melakukan pembayaran, Niko menggandeng tangan Reka keluar dari mall dan berjalan menuju restoran cepat saji itu yang berada di sebelah mall.
Reka bercerita banyak hal pada Niko saat berada di restoran cepat saji itu. Benar-benar anak yang pintar dan menggemaskan.
"Reka, makan dulu nanti cerita lagi. Mau Om suapi?"
Reka menganggukkan kepalanya.
Hati Niko seketika menghangat. Dia tidak pernah merasakan moment seperti ini. Dia semakin yakin, Reka adalah putra kandungnya.
Maafkan Ayah sayang, selama ini Ayah tidak tahu keberadaan kamu. Pantas Alea tega menipuku, pasti hidup yang dia jalani setelah aku tinggal tidak mudah.
"Om, kenapa baik banget sama Reka?" tanya Reka setelah menghabiskan makanannya.
Niko tersenyum. "Karena Om anggap Reka seperti anak Om sendiri."
Reka yang saat itu sedang memakan es krim nya, seketika terdiam dan menundukkan kepalanya sambil mengaduk es krim nya pelan.
Melihat perubahan ekspresi Reka, Niko menjadi khawatir. "Reka kenapa?"
"Om dan Papa Kevin anggap Reka seperti anak sendiri tapi Reka sampai sekarang tidak pernah bertemu Ayah asli Reka."
Seketika hati Niko mencelos mendengar kalimat itu. Dia merasa menjadi seorang Ayah yang sangat tega di dunia ini. Dengan hati-hati Niko kembali bertanya. "Memang Ayah Reka kemana?"
Reka menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu. Mama cuma bilang kalau Ayah sudah tidak ada."
"Reka pernah lihat foto Ayah?"
Reka hanya menggelengkan kepalanya.
"Reka sayang gak sama Ayah?"
"Sayang. Kata Bu Ita, guru Reka, kita harus sayang sama kedua orang tua kita."
Seketika Niko memeluk tubuh kecil itu. Dadanya bergetar hebat. Ada rasa haru yang menyesakkan dada. Mulai detik ini dia ingin selalu menyayangi Reka.
"Om kenapa?"
Niko menekan ujung matanya agar air mata itu tidak sampai lolos. "Tidak apa-apa." Niko melepas pelukannya. "Ayo dihabiskan es krimnya sebentar lagi kita pulang."
"Iya Om."
Niko terus tersenyum menatap Reka. Rasa menyesal itu masih saja memenuhi relung hatinya. Andai saja dulu dia tidak meninggalkan Alea, pasti dia sekarang bisa hidup bahagia dengan Alea dan Reka.
...***...
Di rumah Kevin, Alea tidak bisa duduk dengan tenang. Dia beberapa kali menghubungi nomor Niko tapi tidak aktif. Bahkan kabar Niko membawa Reka membuat Kevin juga ikut pulang ke rumah karena Alea sangat panik.
"Lea, udah. Niko pasti gak akan ngapa-ngapain Reka." Kevin berusaha menenangkan Alea.
"Tapi Kev, aku takut. Bagaimana kalau Reka gak kembali?"
"Kalau Niko sampai gak antar Reka kembali, aku akan lapor polisi."
Alea akhirnya duduk sambil terus mencoba menghubungi Niko. "Aku takut kalau Niko sampai balas dendam pada Reka karena aku udah nyuri berkas itu." Alea mulai menangis. Dia kini memikirkan yang tidak-tidak tentang Reka.
Kevin duduk di sebelah Alea dan merengkuh bahunya. "Sudah, jangan mikir yang tidak-tidak. Niko tidak akan menyakiti Reka. Bagaimanapun juga, mereka ada hubungan darah pasti ikatan batin mereka sangat kuat."
Alea menghapus sisa-sisa air matanya. "Aku mau tunggu diluar saja." Dia berdiri dan keluar dari rumah.
Kevin menghela napas panjang. Lalu dia berdiri dan mengikuti Alea.
...***...
Niko tersenyum menatap Reka yang kini tertidur pulas di sampingnya sambil memeluk mainannya. Dia menghentikan mobilnya di depan rumah Kevin. Tapi rasanya dia tidak tega untuk membangunkannya.
"Ayah sayang sama Reka," gumam Niko pelan lalu dia mencium kening dan kedua pipi Reka.
Reka hanya bergeliat kecil tapi dia terbangun saat mendengar pintu gerbang dibuka dengan keras.
"Sudah sampai?" Reka mengucek matanya.
"Iya, ayo turun. Mama pasti sudah cariin Reka." Niko turun dari mobil lalu membuka pintu di sebelah Reka dan membantunya turun. Dia kini mendapat tatapan sengit dari Alea.
"Reka, kamu darimana? Mama khawatir." Alea menarik tangan Reka agar menjauh dari Niko.
"Reka habis jalan-jalan sama Om. Om Niko baik banget, Ma. Reka dibelikan mainan," cerita Reka pada Alea. Tapi pandangan Alea masih menatap tajam pada Niko berulang kali.
"Reka, kan Mama sudah bilang jangan mau diajak sama orang yang baru kenal. Apalagi sampai dibelikan mainan, jangan mau. Mainan Reka juga sudah banyak di rumah!" Alea sedikit meninggikan nada bicaranya hingga membuat Reka menunduk takut.
"Iya Ma. Reka minta maaf. Kalau gitu mainannya Reka kembalikan." Reka membalikkan badannya dan mengulurkan mainan itu pada Niko. "Maaf Om. Sama Mama tidak boleh."
Niko menghela napas panjang lalu dia membungkukkan badannya. "Reka, ini tadi Reka yang memilih sediri kan. Reka bawa saja ya. Nanti buat mainan di dalam rumah."
Reka hanya menundukkan kepalanya. Dia memang sangat menurut dengan Alea.
Niko mengusap puncak kepala Reka sambil tersenyum. "Kamu bawa saja ya Reka. Bilang lagi sama Mama kalau Reka mau mainan ini."
Melihat pemandangan itu, hati Alea terasa perih. Harusnya kasih sayang itu sudah sejak lama Reka dapatkan, tapi Niko pergi begitu saja. Dan kini dia tidak rela kalau Niko bertemu dengan Reka apalagi sampai mengajaknya pergi.
"Ya sudah gak papa, Reka ayo masuk. Mandi dulu sama Bi Sum terus baru main ya."
"Makasih, Ma." Reka berjalan riang sambil membawa mainannya masuk ke dalam rumah.
Alea kini bersitatap dengan Niko. Matanya telah memerah, bahkan bulir bening beberapa kali berhasil lolos melewati pipinya. "Jangan pernah bawa Reka pergi tanpa seizin aku!"
"Kenapa? Dia anak kandung aku."
"Bukan!! Dia bukan anak kamu!" Alea membalikkan badannya tapi tangannya dicekal oleh Niko.
"Aku yakin, dia anak kandung aku."
Alea kembali menatap nanar Niko. "Darimana kamu yakin! Bukankah kamu sendiri yang bilang, cuma melakukan sekali, aku gak mungkin bisa hamil!"
takutnya malah dia yg terbakar gairahnya sendiri bukan terbakar api dendam
mo baca kekuatan dendam Alea