[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[BACA [RDY'S#1] LAA TAHZAN! DULU BIAR PAHAM ALUR DAN KONFLIKNYA!]
[FOLLOW IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU]
Kisah tentang;
"Dia adalah orang yang kerap membuatku merasa perih, tetapi dia juga yang kerap membuatku merasa rindu."
@Anniza Az-Zahra Rulen
Anniza Az-Zahra Rulen. Gadis berhijab dengan akhlak yang mulia, tubuhnya ditutupi kain lebar dengan hijab yang membalut kepalanya. Kesabarannya sudah tidak dapat diragukan lagi saat ia dengan hati yang tabah kembali terjun ke masa empat tahun yang silam.
Verrel Aryanka Radeya. Lelaki tanpa ekspresi yang tengah menjabat sebagai mahasiswa jurusan fotografi, sekaligus pemilik studio pemotretan VR. Terhenyak saat kilatan masa lalu yang terbenam di hatinya kembali muncul kepermukaan.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Destiny 20
"Tungguin gue atau Jessica di sini. Jangan kemana-mana, banyak cowok mesum di luar. Kamu paham, kan? Kadang para model punya tempelannya sendiri," canda Rangga yang memancing tawa kecil dari Zahra.
Rangga bergumam pelan, tawa itu berhasil membuat tubuhnya bergetar hebat. Hingga tanpa sadar, Rangga mengklaim tawa itu sebagai tawa favoritnya. Pemandangan terindah yang patut Rangga kenang.
"Gue pergi. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Zahra. Perhatiannya sesaat teralih ke punggung Rangga. Setelah melihat Rangga hilang di balik pintu, Zahra kembali mendongakkan wajah ke arah bintang yang bersinar terang di atas sana.
"Bintang di negara Brazil nggak pernah seterang dan secantik ini." Zahra berujar pelan. Netra coklat yang memandang penuh binar itu perlahan redup, helaan nafas berat Zahra hembuskan.
Awan hitam tanpa warna itu menyimpan beribu buliran bening yang tak terasa turun dengan deras. Hingga Zahra berjengit kaki, dengan tergesa-gesa dia melangkah mundur, hingga ujung rok plisket panjang yang dia kenakan ikut terinjak.
"Aakhh---." Zahra menutup mata saat tubuhnya terhuyung jatuh kebelakang. Namun, tidak ada tanda-tanda tubuhnya menyentuh lantai. Rasanya dia melayang, apa dia jatuh ke atas?
####
Bagai teka-teki tanpa jawaban. Hingga kepala Verrel terasa penuh dan pening. Belum lagi dengan Jessica dan Keysa yang kembali menggodanya, dua model itu benar-benar menguji kesabaran.
Kalau mengingat gadis itu. Verrel seperti ingin mengutuk diri sendiri. Namun, apa daya, Verrel kalah telak oleh Rangga sebelum berjuang.
Tiga tahun dia berusaha mati-matian mengubur perasaan itu. Melakukan hal-hal lain yang dapat mengalihkan pikiran dan hatinya.
Hingga kalimat tanpa sengaja yang dia dengar saat melintas di depan masjid besar. Membuat Verrel tersadar, dirinya sudah buruk di mata dunia, buruk pula di mata Allah.
"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)."
(QS. An-Nur 24: Ayat 26)
Arti dari potongan ayat itu menggetarkan hati Verrel. Hingga sampai sekarang, arti dari potongan ayat itulah yang menjadi alasan paling tepat kenapa gadis itu meninggalkannya.
Verrel menggeleng pelan, memijit pangkal hidung dengan kaki yang melangkah lebar ke sudut ruangan.
Pintu Verrel buka dengan pelan. Namun, dia membeku saat melihat gadis berhijab disana.
Lama Verrel terdiam, bertarung dengan pikiran sendiri antara menghampiri atau meninggalkan.
"Bintang di negara Brazil nggak pernah seterang dan secantik ini."
"Pen," batin Verrel berseru. Mata hitam itu masih memandang punggung kecil yang dilapisi baju bermotif kotak-kotak.
"Sinting!" Verrel mengumpat pelan. Namun, hantaman ribuan air yang tiba-tiba turun membuat langkahnya yang hendak pergi langsung terhenti.
Verrel sontak mengalihkan atensi ke arah Zahra. Melihat gadis itu mundur tergesa-gesa, hingga tanpa sengaja menginjak rok plisket panjang yang dia kenakan.
Impuls mulai berkerja mengenai afektornya. Hingga dengan gerakan tak terduga Verrel meraih tubuh kecil itu dan mendekapnya seolah tak mau kehilangan.
Netra hitam pekat milik Verrel memandang dalam wajah ketakutan Zahra yang memejamkan mata. Verrel tertegun, ada rasa terbelenggu yang berusaha lepas dari dalam dadanya.
Verrel memejamkan mata sejenak. Berusaha menghilangkan perasaan aneh yang kembali menjalar, dia tidak ingin masuk ke lubang yang sama. Cukup sudah penderitaan yang gadis itu torehkan ke hidupnya.
Hati Verrel bukan permainan. Bukan tempat singgah untuk kenyamanan sesaat. Lalu, kenapa Verrel masih mengharapkan sesuatu yang telah berlalu itu. Bukankah, orang yang hanya singgah akan pergi ketika tak butuh tempat itu lagi.
"Karena aku mau, mulai hari ini kamu gak usah suka sama aku lagi! Mulai hari ini anggap aja kita gak pernah ketemu. Anggap aja aku cuman angin lalu di hidup kamu!"
Kalimat itu! Verrel mendesis. "Kenapa?"
Mata Zahra perlahan terbuka, dia langsung bangkit dan memundurkan langkah ke belakang. Namun, Verrel mendekat dengan sorot mata yang menyedihkan, Zahra tak pernah melihat sorot mata itu. Apa lagi-lagi, dia yang menjadi penyebab Verrel jadi sedih seperti sekarang?
"Kenapa lo kembali dengan fisik yang sama namun dengan perasaan yang berbeda?" Verrel semakin menyudutkan Zahra. Malam ini, Verrel ingin menyuarakan sesuatu yang sudah lama tertimbun di dalam hatinya.
Lagi-lagi Zahra meneteskan air mata. Takut, melihat sorot mata Verrel yang segelap malam, tetapi kesedihan terpancar jelas di sana.
"Berbulan-bulan gue nyari lo waktu itu. Hingga lo telfon gue dengan iming-iming ketemu di pantai. Gue seneng banget, Pen." Verrel menjeda Kalimatnya. "Saking senengnya gue. Gue Sampai nggak sadar jika hari itu lo mau pamit, dan maksa buat lupain perasaan suka gue ke lo."
Verrel berhenti melangkah, pandangannya dia alihkan ke langit malam. Dulu, dia sangat benci ketika melihat buliran bening itu meluncur dari mata coklat Pen-nya.
Namun sekarang, Verrel seolah membiarkan. Bahkan, dia ingin menjadi salah satu penyebab buliran bening itu mengalir sederas hujan.
"Dulu, lo selalu nanya, gue udah balas perasaan lo apa enggak." Mata Verrel terpejam, saat sesuatu yang tajam seolah menusuk dadanya. Dia menarik nafas sesak. "Dan saat gue pengen bilang 'Iya, gue udah suka sama lo'." Verrel terkekeh hambar. "Lo malah pergi semau lo. Lucu banget, kan?"
Kepala Zahra menggeleng pelan. Matanya tak pernah teralihkan dari raut wajah Verrel yang begitu menyesakkan dada.
"Gimana menurut, lo? Lucu, kan?" Verrel menilik kedua mata coklat yang sedang menatapnya.
Zahra kembali menggeleng. Hatinya sangat sakit, tubuhnya lemas hingga tak mampu berkata-kata selain menggeleng. Melihat Verrel yang memejamkan mata, menjadi kesempatan untuk Zahra keluar dari ruangan ini.
"KALO LO MEMILIH PERGI, LALU KENAPA LO KEMBALI?!!"
🌻
🌻
🌻
VOTE + LIKE
3x tetap engk bosen
.. ahahhaha
𝘣𝘤 𝘵𝘳𝘴, 𝘴𝘶𝘬𝘢 bgt👍
ngga kebayang jadi Kesya suruh siapa dia yang keras kepala kerendahan harga diri demi dapetin hati cowo yang dia suka padahal udah di tolak mentah", bukan salah untuk cerita cinta verell dan Zahara yang rumit sampai membawa nama Kesya dan Daniel toh ngga ada yang nyuruh juga dari pihak verell dan Zahara ko mereka hadir dengan sendirinya.
hati Kesya ngga sesakit hati Zahra dengan gampangnya Jessica ngomong kaya gitu ke Zahra. di sini Zahra lah yang paling menderita Jes.
huuuu ..... jadi coment lagi kan padahal tahun udah jadi 2022 untuk coment di cerita thn 2020 🤦
ngga kebayang jadi Reihan dan Zahra terutama Reihan dari umur 5 thn membesarkan adiknya dari umur 3 thn sampai dewasa manusia manah yang kuat anak kecil udah kenal yang namanya bekerja.
kasian juga untuk bunda Aisyah dan ayah Juna belasan tahun di kurung di tempat yang tak layak pakai akibat ulah seseorang yang gila harta dia menyakiti seseorang yang memiliki banyak harta hanya karna merasa iri sampai sebegitu'nya kalau aku jadi Zahra juga ogah sih sama Verrel yang notabenenya anak seorang penjaht yang jelas udah misahin kluarga nyampe belasan tahun.
tapi yah gitu namanya persaan susah untuk di lupakan buat pelajaran mencintai seseorang jangan terlalu dalam 🤣