"Kita putus saja, gue gak nyangka lo segendut itu, gue kira lo cuma montok saja. Sorry, gue gak suka sama cewek gendut." Begitulah isi pesan yang dikirim oleh Allan kepada Aline, setelah pertemuan pertama mereka.
Sejak saat itu, Aline bersumpah akan kurus dan melakukan diet ketat. Ia bertekad pas masuk SMA nanti, berat badannya sudah harus ideal.
Hem, entah jodoh atau kesialan, Aline malah satu SMA dengan Allan. Dan yang bikin ia makin spot jantung, mereka sekelas dengan posisi duduk berdekatan dengan si mantan nyebelin itu.
Apakah Aline dan Allan akan CLBK atau malah menjadi musuh bubuyutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evhae Naffae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wallpaper
Mantan Nyebelin
Bagian 20 : Wallpaper
[Kak, Aline pulang duluan ya. Sampai ketemu besok 😘] Kukirim pesan itu kepada Kak Raka sambil melirik Siluman Es Batu yang sudah siap tancap gas.
Mobil melaju, aku mengigit bibir sambil teringat ulah Allan di sekolah tadi.
"Ya, halo, Pak .... " Siluman Es membenarkan letak headset di telinganya.
Aku melirik pria dengan setelan jas hitam itu ternyata dia sedang menerima panggilan telepon itu.
"Saya masih di jalan, Pak, mau antar Aline pulang," ujarnya dengan raut wajah yang selalu serius.
Aih, kok pakai sebut-sebut namaku. Apa Bang Aldi yang telepon?
"Oke, Pak. Saya segera ke kantor." Siluman es mengakhiri panggilan teleponnya.
Dia melirikku sekilas lalu berkata, "Kita ke kantor Pak Aldi sebentar, ya! Ada urusan mendesak."
Aku hanya memutar bola mata seraya mengangguk. Mobil berbelok ke arah kantor Bang Aldi. Terserah saja deh, aku 'kan cuma patung. Yeahhh ....
Sesampainya di kantor, Siluman es langsung turun dari mobil dan membukakan pintu untukku.
"Gue tunggu di sini ajalah," jawabku acuh.
"Pak Aldi menyuruh kamu untuk menunggu di ruangannya. Ayo!"
Dengan tampang dongkol, kulangkahkan kaki memasuki bangunan bertingkat itu. Lalu menuju ruangan kerja Bang Aldi. Siluman es sudah tak terlihat lagi, entah ke mana perginya, aku tak perduli.
"Line, lo tunggu di sini dulu! Abang ada rapat mendadak dengan para staf inti. Di atas meja ada makan siang Abang, itu buat lo aja," sambut Bang Aldi sambil meraih jasnya kemudian keluar meninggalkanku yang masih berdiri di dekat pintu.
Yeah, kenapa aku mesti disuruh nunggu di ruangan ini? Kenapa gak disuruh pulang naik taxi aja? Ih, dua pria itu sama anehnya. Baik Siluman Es Batu mau pun Si Tuan Tanah.
Kudekati meja kerja dengan papa tulisan 'Direktur Utama' itu, lalu mengambil nasi kotak yang dikatakan Bang Aldi tadi. Kemudian membawanya ke sofa.
Taklama kemudian, bunyi pesan masuk terdengar dari ponselku di dalam tas. Dengan cepat, aku langsung merogoh benda pipih itu dan membuka pesan.
[Iya, Sayang. Sekarang lagi apa? Udah makan belum?] Aku tersenyum senang menatap layar ponsel, Kak Raka tersayang sudah membalas pesanku.
[Ini lagi mau makan. Aline belum nyampai rumah, ini masih terdampar di kantor Bang Aldi 😐]
[Oh, ya? Emang ngapin di sana?]
[Lagi nungguin dia selesai rapat, baru diantar pulang 🙄]
[Oh gitu. Ya sudah, Aline makan siang dulu gih!]
[Mau disuapin sama Kak Raka lagi 😂] Aku senyum sendiri mengirim pesan itu.
[😱😱😱]
[😭😭😭]
Taklama kemudian, panggilan video dari Kak Raka membuat senyum ini makin mengembang. Tanpa menunggu lama, langsung kugeser tombol hijaunya. Wajah tampan maksimal si pemilik senyum termanis itu langsung terpampang di layar ponsel. Ia terlihat sedang berbaring di kamarnya.
"Sayang .... " sapa Kak Raka dari seberang sana.
Kuletakkan ponsel di dekat tas sekolah, kemudian membuka nasi kotak dari Bang Aldi.
"Kak Raka udah makan?" tanyaku sambil memperlihatkan menu makanan di depanku.
"Udah, barusan selesai makan. Aline buruan makan!" ujarnya.
Aku tersenyum sambil mulai menyendok makanan dan Kak Raka masih mengamati aktifitas makan ini. Ia tersenyum senang sambil menyanyikan sebuah lagu.
Ya ampun, gini deh kalau punya pacar anak band yang pinter nyanyi. Mau bobo dinyanyiin, lagi maem juga dinyanyiin. Ehmmm, apa pas malam pertama nanti dia juga bakal nyanyi ya? Hehee, jadi mesum deh nih otak. Lagi-lagi error.
Panggilan telepon kami akhiri. Bawaan sudah kenyang, mata jadi mengantuk. Kurebahkan tubuh dan mulai memejamkan mata.
"Oh, Aline tidur rupanya." Sayup-sayup terdengar namaku disebut-sebut lagi.
"Kamu harus bisa meluluhkan hatinya. Kawal dia dengan ketat! Saya percayakan dia sama kamu. Dia harus terbiasa denganmu, bimbinglah dia sedari sekarang. Dia anak manja yang haus kasih sayang."
"Siap, Pak. Saya akan melakukan semua yang bapak perintahkan."
Begitulah pembicaraan dua orang yang terdengar sayup-sayup di telingaku, sebelum akhirnya aku sudah berada di mobil saat membuka mata.
Aku mengerjap berkali-kali dan menatap sekeliling. Perasaan tadi aku tidur di ruangan kerja Bang Aldi deh, kok sekarang malah udah di mobil dan terparkir di depan rumah.
Kutautkan alis menatap pria tanpa ekpresi itu lalu berujar, "Mas, kok kita udah di sini aja?"
Siluman es batu tampak menyembunyikan senyumnya dan melirikku sekilas.
"Udah sampai, buruan turun!" perintahnya.
Ya elah, pertanyaanku malah tak digubris. Kubuka pintu mobil dan tanpa menolehnya lagi, kulangkahkan kaki masuk ke rumah.
Kepala masih terasa pusing, aku langsung masuk kamar dan lanjut tidur lagi. Akan tetapi, pembicaraan dua orang saat aku terlelap tadi kembali terngiang di kepala. Aku yakin, itu suara Bang Aldi dan Faiz.
Apa maksud pembicaraan mereka? Apa benar Bang Aldi menjodohkanku dengan Faiz? Masa iya sih? Dia seumuran Bang Aldi deh, apa gak ketuaan kalau jadi suamiku nanti? Ya ampun, terus Kak Rakaku gimana? Huaaaa, aku gak mau nikah ama Siluman Es Batu ... bisa-bisa melahirkan Beruang kutub aku. Huaaaaa ....
*******
Beberapa hari kemudian. Saat aku berjalan masuk ke kantin bersama Amelia, terlihat ada yang berbisik-bisik sambil melirik ke arahku. Ya ampun, apalagi ini? Masa iya mereka mengagumi kecantikanku atau jangan-jangan tubuh idealku sudah kembali gendut? Aku menghela napas.
Di sebelah kiri meja kami, Allan terlihat sedang makan bersama teman klub futsalnya. Yah, waktu masih SMP, dia emang begitu menggilai film kartun Tsubatsa. Jadi, pas masuk SMA, dia bergabung dengan klub Futsal sekolah. Aih, kok malah ingat yang dulu-dulu sih? Kuseruput es jeruk di atas meja untuk menertalkan perasaan.
"Wisss, wallpapernya kagak nahan .... " ucap teman Allan dengan setengah berteriak sambil melihat ke arahku.
"Emang apaan wallpapernya, Bro?" Teman lainnya malah merebut ponsel si dinosaurus.
Astaga, apa Allan masih menggunakan foto kami sebagai wallpapernya? Aduh, bagaimana ini? Jangan sampai Kak Raka tahu. Kupegangi kepala sambil menatap sengit mantan nyebelin yang sekarang malah sedang tersenyum narsis.
"Aline, gabung sini dong!" teriak salah teman Allan sambil melambaikan tangan ke arahku.
"Cie, cieee ... Suami masa depan katanya .... " sambung temannya yang lain.
kuhentakkan kaki dengan kesal lalu berlari meninggalkan kantin. Aku harus mencari Kak Raka, jangan sampai ia tahu akan gosip gila hasil rekayasa si dinosaurus. Bisa hancur kisah cinta yang semanis gula ini.
Akan tetapi, belum sempat ketemu Kak Raka, bel tanda masuk malah sudah berbunyi. Tuhan, selamatkan hubungan kami. Aku hanya bisa berdoa dalam hati.
Aku gak mau putus darinya hanya karena ulah si mantan nyebelin yang selalu mengusik hubungan ini. Entah apa maksudnya, aku juga tak tahu. Apakah karena ia masih cinta atau hanya karena egonya yang tak mau melihat kebahagiaanku?
Bersambung ....
(Kalau kalian suka cerita ini, jangan lupa tinggalkan like, koment dan votenya ya, gaes 😁
Mungkin sampai part 20 ini, aku istirahatkan jempol dulu ya. Jadi gak bisa up tiap hari lagi.
Kalian sukanya Aline sama siapa nih? Allan si mantan nyebelin atau Siluman Es Batu atau dengan Raka yang putih pucat kayak mayat (kata Bang Aldi sih) kalau menurut ceweknya sih kayak oppa dari Korea 😁