Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.
"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.
"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejolak
Bola mata ibu dan ayah menatap serius ke arah Eros yang sedang bersama seorang wanita. Mereka berdua yang awalnya tidak paham jika ada kedua orangtua Aira terkejut. Eros segera melepas pelukan tangan Nara pada lengannya.
"Kenapa Er?" tanya Nara bingung. Sementara itu Eros pucat.
"Apa-apaan ini?" tanya ayah dengan kaku. Suasana menegang.
"Ayah ...," panggil Aira pelan.
"Kamu Eros, bukan?" tanya ayah dengan kedua alis menyatu. Ibu masih terkejut. Jadi beliau masih belum fokus.
"Apa sih Eros? Kenapa aku tidak boleh menggandengmu?" tanya Nara heran. Eros masih ingin menjauhkan tubuh Nara darinya karena wanita ini masih belum mengerti. Eros tidak mampu menggerakkan mulutnya untuk memberitahu perempuan ini, bahwa ada mertuanya di sana.
"Kamu siapa, nak?" tanya ayah pada Nara.
Mendengar ada orang yang bertanya, Nara menoleh dan tersenyum. "Aku Nara, Om. Perempuan yang akan menjadi istri Eros."
Bagai sebuah petir menyambar, kalimat Nara membuat semuanya membulatkan mata. Terperangah kaget mendengar pengakuan Nara.
"Nara!" Eros berteriak marah.
"Kenapa marah? Bukannya itu kenyataan? Aku tidak paham denganmu." Nara melihat Eros dengan tatapan tersinggung dan heran. Mama sedikit gemetar. Kisi memeluk lengan mama karena ikut merasa gemetar pada tubuhnya. Ibu menutup mulutnya seraya bola mata beliau melebar. Merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan perempuan barusan.
"Soal apa ini Eros? Kenapa dia mengaku sebagai istrimu? Bukankah kamu adalah istri putriku?!" tanya ayah mulai menunjukkan kemarahannya.
"Maaf, ayah." Eros hanya bisa berucap itu. Nara melihat ke arah pria paruh baya itu saat Eros menyebutnya ayah. Saat itulah dia paham bahwa mereka adalah orangtua Aira. Mulutnya langsung diam. Tubuhnya ikut menegang. Dia sadar sudah membuat dirinya sendiri dalam bahaya.
"Kamu sudah mengkhianati putriku?!"
Aira yang ingin membuat ayahnya tenang, akhirnya memilih diam sambil menyaksikan semuanya. Kemarahan ayah Aira sudah tidak terbendung lagi. Tumpah. Beliau menunjuk wajah Eros dengan geram dan penuh amarah. Hampir saja tangan beliau melayangkan tamparan. Namun ibu yang menangis mampu menahan.
"Lebih baik tanganmu melakukan hal lain yang lebih baik, daripada menampar anak tidak tahu diri ini, suamiku. Jangan menodai tanganmu." Ibu melirik Eros dan Nara tajam.
"Akhh!" teriak ayah merasa sesak napas.
"Ayah!" teriak Aira. Tangan beliau memegangi dadanya. Semua orang panik. Ibu Aira yang terkejut berusaha mencoba memegangi tubuh suaminya yang terlihat akan ambruk. Namun karena beban yang lebih berat, beliau tidak sanggup. Mama Eros dan Kisi mendekat, tapi tangab Eros lebih dulu menahan tubuh ayah agar tidak tersungkur di lantai.
"Lepaskan tanganmu dari tubuhku!" ujar ayah marah sambil menepis tangan Eros dari tubuhnya. Nara mendekati Eros yang di tolak mertuanya. Ibu kembali membimbing tubuh suaminya untuk duduk.
Aira menyaksikan tangisan dari kedua perempuan yang di hormatinya. Ibu dan mama Eros. Keduanya menangis dengan menyayat hati. Semuanya menjadi satu. Marah, takut, kebohongan yang terkuak. Semuanya muncul ke permukaan hingga membuat gejolak diantara kedua keluarga.
Airmata Aira keluar tidak tertahankan. Kisi mendekat memegangi lengan kakak iparnya. Mama melihat Eros dan Nara dengan marah. Lalu membuang muka dan melihat ke arah besan dan menantunya.
"Ayah, tidak apa-apa?" tanya Aira dengan mata sembab.
"Ayah tidak apa-apa. Harus. Tinggalkan dia dan pulang ke rumah, Aira. Kamu di lahirkan bukan untuk di sakiti." Eros menghela napas. "Mulai hari ini, kita bukan siapa-siapa." Kali ini ayah melihat ke arah mama Eros. Ibu Aira tidak berkata apa-apa.
"Tidak akan aku biarkan kamu terus saja menyakiti putriku." Ayah meminta Aira untuk kembali pulang sebagai putrinya. Beliau tidak sudi jika Aira harus di madu.
Empat bulan berikutnya ...
"Ai, jadi berangkat bareng gak?" tanya Yeri dari luar kamar. "Dandannya lama amat, sih?! Aku telat nih entar!"
"Iya!" Setelah teriakan ini, Aira keluar dari kamarnya.
"Aku pikir kamu bakal dandan habis-habisan, ternyata hanya begitu saja. Lalu dari tadi ngapain kok lama banget?" gerutu Yeri yang melihat Aira belum dandan. Aira hanya tersenyum saja tanpa ada penjelasan.
"Ayo berangkat," ajak Aira mendorong tubuh Yeri keluar. Mereka berangkat bersama dengan satu motor.
Setelah prahara dalam rumah tangganya di ketahui orangtuanya, Aira bercerai di pengadilan secara sah. Kedua orangtuanya langsung memberi ultimatum bagi Aira untuk bercerai. Tidak ada kata maaf bagi Eros yang sudah menyakiti putrinya.
Aira memilih tinggal dalam kontrakan bersama Yeri. Dia tidak mau dirinya yang berstatus janda jadi omongan tetangga. Lebih baik tinggal di tempat yang tidak di kenal orang demi menghindarkan gunjingan yang menyebabkan keluarganya selalu merasa sedih.
"Bagaimana rasanya, Ai?" tanya Yeri saat sampai di pelataran parkir. "Setelah berpisah dari Eros."
"Lega dan sedih."
"Kenapa sedih? Memangnya kamu masih berharap dia memihakmu dan membuang Nara?" gerutu Yeri sambil menoleh ke samping dengan tajam.
"Bukan. Aku sedih karena pernikahan yang seharusnya sekali seumur hidup, kandas. Itu menyedihkan, Yer." Yeri mengangguk paham akhirnya. Karena ikut Yeri, itu berarti dia juga berangkat pagi. Area parkir masih sepi, tapi sebuah mobil muncul membuat mereka menoleh. Mobil milik Ibrar.
Langkah mereka mendekat ke arah mobil. Karena memang posisi mobil itu berada di jalur utama. Sehingga saat mereka keluar dari area parkir untuk masuk ke gedung mall melewati tempat parkir manajer baru itu.
"Selamat pagi, Pak Ibrar," sapa Yeri. Pria itu sudah keluar dari mobilnya. Aira ikut membungkuk.
"Pagi." Bola mata Ibrar bergeser melihat Aira. "Bagaimana keadaanmu pagi ini?" tanya Ibrar membuat Aira terhenyak kaget. Yeri melirik. Namun dia tidak menjawab pertanyaan pak Ibrar yang tidak segera di jawab temannya. Dia menahan diri membiarkan Aira sendiri menjawab.
"Baik," jawab Aira lambat.
"Syukurlah." Ada rasa sangat lega di kalimat Ibrar. Aira sampai perlu mengerjapkan mata heran. Bola mata Yeri melihat ke atas. Pertanda ia sedang berpikir. "Saya jalan dulu," pamit Ibrar yang di sambut dengan anggukan.
"Perhatian banget ke kamu?" Yeri menggerakkan dagunya menunjuk Pak Ibrar.
"Bukan. Itu hanya rasa kemanusiaan yang tinggi."
"Rasa kemanusiaan?" tanya Yeri sambil mengernyit.
"Dia hanya ingin tahu apa kali ini aku baik-baik saja, karena biasanya aku selalu dalam keadaan terluka saat bertemu dia."
"Benarkah?"
"Memangnya apa yang kamu pikirkan selain itu? Dia punya istri kamu tahu?" Aira menunjuk dahi Yeri dengan gemas.
"Punya istri? Kamu menggosip ya, Ai? Dia single tahu. Bukannya dia bilang sendiri pada kita sejak awal muncul disini."
"Siapapun bisa menipu. Tanpa terkecuali dirinya," tandas Aira.
"Kamu menyebarkan berita hoak, Ai. Ini bukan karena kamu sedang mengalami sesuatu dengan seorang pria bukan?" tanya Yeri menyelidik.
"Kamu tidak percaya? Ya sudah. Aku hanya berbicara apa yang sudah aku lihat. Sudahlah. Kenapa kita jadi bahas manajer itu." Aira bersungut-sungut.
Kehidupan Aira kini kembali menjadi nol. Dimana dia hidup sendirian tanpa seorang pria yang menjadi suaminya. Memilih bercerai memang di anggap pilihan tepat. Mengingat Eros begitu tidak pantas menjadi suaminya. Namun, sebagai seorang wanita yang sudah menjadi istri, banyak beban yang di tanggung setelah bercerai dari suami.
Mungkin Aira terlihat biasa saja. Bahkan sedih tampak tidak pantas saat dia harus berpisah dari Eros. Karena pria itu telah menyakitinya begitu dalam. Perceraian adalah hal tepat bagi sebuah hubungan yang tidak sehat.
...----------------...
Dering telepon ibu mengagetkannya. Sebenarnya Aira sedikit enggan. Bukan tidak lagi mau bicara dengan ibu, tapi seringkali terselip pertanyaan soal dirinya yang menjanda. Aira tahu pasti orangtuanya khawatir, tapi ... pertanyaan soal keputusannya menjanda itu begitu membuatnya resah.
Mereka ingin Aira mendapat pendamping. Namun itu bukan hal mudah untuk di lakukannya kali ini. Jika dulu, rasa cinta dan kemapanan sudah sempurna untuk menjadi suami istri, sekarang ... bukan itu saja yang di perlukannya. Karena cinta bisa pudar kapan saja.
"Ada apa ibu?" tanya Aira akhirnya menerima panggilan telepon sang ibu.
"Pulanglah kerumah, besok. Ayah ingin bertemu."
"Baiklah," jawabku pasrah.
"Ya. Sudah. Kamu pasti masih bekerja. Ibu sudahi dulu. Nanti akan menelepon lagi."
"Ya, ibu."
Hh ... Aira menghela napas. Apalagi yang akan di bicarakan ayah nantinya?
banyak pelajaran yang di dapat
berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?