kehidupan umi berubah setelah dia di tinggal neneknya, satu persatu orang yang dekat dengan nya pun mulai meninggal kan nya,
umi bertahan hidup dengan bekerja serabutan, demi menyelesaikan sekolah nya, dan cita citanya untuk segera berkumpul lagi dengan adik tercinta, sedangkan ibunya tidak perduli dengan keadaan umi dan adiknya semenjak kehilangan ayahnya ibu umi telah menikah lagi. dan suaminya yang baru tidak menginginkan umi dan adiknya,
di sekolah umi termasuk siswa berprestasi, ia mempunyai seorang sahabat baik , namun saat umi baru merasakan cinta pertamanya pada seorang cowok yang pernah membantunya, umi pun terpaksa harus mengalah demi persahabatanbnya, karena ternyata sahabatnya juga menyukai pria yang sama
bagaimana dengan keseharian umi, mampukah umi menyelesaikan sekolah dan berkumpul lagi bersama adik tercinta , lalu bagaimana dengan cinta pertama umi
***
cerita ini aku buat tentang kisah percintaan anak di era tahun 2000 an , di mana saat itu tidak ada sosial media , dan ini cerita pertama ku , masih berantakan dan aku berharap kritikan dan saran dari pembaca yang baik hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfirzik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
meminta izin kakek
umi sedang duduk di bawah batang jambu yang ada di halaman rumah saat bang mizi dan ica pulang dari sawah,
" kakak..." pekik ica dari jauh terlihat sangat senang
umi tertawa melihat kelakuan konyol adiknya itu,
" kau seperti anak TK aja ca, dari jauh udah berlarian seperti bertahun gak ketemu kaka, " kata umi
ica merengutkan muka nya berpura pura ngambek ke umi,
" ih.. emang nya kak umi tidak pernah ingat ica ya, " katanya manja..
" hahaha, jangan manja kamu udah besar, kakak senang sekali melihat mu di sini " kata umi lagi
" kapan kakak datang , " kata ica
" tadi siang tapi aku pulang kau dan bang mizi tidak di rumah, oh ya mana bang mizi " kata umi
" abang langsung ke sungai mandi, dia menyuruh ica pulang duluan , ica juga mau mandi dulu, , " ica langsung masuk ke dalam rumah dan menuju kamar mandi
umi hanya tersenyum melihat kelakuan adiknya itu, sudah lama sekali dia tidak melihat senyum di wajah ica , dan ia pun menyusul ica masuk ke dalam rumah,
bang mizi kaget pas melihat umi sudah ada di rumah, dia juga senang karena adik mya itu terlihat baik baik saja,
" jam berapa kau sampai mi, " tanya abang mizi
aku tadi sampai siang bang sekitar jam satu, aku langsung tidur jadi tidak sempat menyusul abang ke sawah, tapi aku sudah memasak untuk kita makan malam . abang makan lah dulu abang pasti lapar " kata umi
" umm, iya abang sangat lapar, selama kau tidak ada, abang jarang masak sayur kadang abang cuma masak nasi, sayur sering di antar sama nenek zar, " kata bang mizi
"bagaimana kabar ibu wati ?" tanya bang mizi
" Alhamdulillah, ibu sehat bang, dan ibu memintaku dan ica untuk pindah sekolah ke sana "
" apa kau mau..?" tanya bang mizi
" umi terserah ica aja bang, dimana dia akan betah aja, "
" kau sudah bertemu dengan suami ibu wati?"
" iya umi sudah bertemu dengan nya, "
" terus bagaimana pendapat mu tentang dia" tanya bang mizi penuh selidik
" umi juga tidak mengerti bang, tapi yang umi lihat dia baik pada umi, bahkan dia juga yang memberi umi uang buat menjemput ica" terang umi pada bang mizi
" kau harus hati hati di sana yah mi, pandai pandai bawa diri, jangan bergaul dengan sembarang orang, abang sangat khawatir pada kalian berdua,sebenarnya abang maunya kalian tetap di sini, abang akan berusaha menyekolahkan kalian sampai kalian tamat SMA, tapi jika itu permintaan ibu wati abang akan tetap mendukung apa pun keputusan mu, " kata bang mizi
" iya bang, umi tidak ingin merepotkan lagi, umi sangat bersyukur karena ada abang dan teknin yang selalu berusaha menjaga umi dan ica, sampai kapan pun tidak akan umi lupakan jasa abang dan teknin " ucap umi penuh rasa haru, tanpa terasa air matanya menetes..
"sudahlah kau tidak perlu memikirkan semua itu, yang penting kau dan ica akan segera berkumpul dengan bu wati,abang sangat senang, tapi jika kau tidak betah dan ingin pulang kau telpon lah ke tempat buk anisa, abang akan mengirim ongkos untuk mu, bagaimana pun caranya , "kata bang mizi menatap umi dalam, penuh rasa sayang
" iya bang, " ..
" oh ya, jangan lupa tinggalkan abang no telpon yang bisa abang hubungi untuk menanyakan kabar mu nanti, saat abang rindu pada kalian berdua "
" iya bang, ada no telpon tetangga nek sima, dan ada juga no telpon tetangga ibu "
"kau sudah bicarakan sama ica, "
"belum bang, nanti saja " kata umi
" dia pasti akan sangat senang, karena dia sangat merindukan ibumu , mi... apa kau masih membenci ibumu?"tanya bang mizi hati hati
umi terdiam dan menatap bang mizi
" tidak bang, setelah umi melihat kehidupan ibu dengan mata umi sendiri, dan umi juga telah tau alasan ibu tak pulang selama ini umi tidak punya hak untuk membencia ibu bang, "umi pun menceritakan pada bang tentang kehidupan ibunya, sejauh yang dia tau dan alasan ibunya tidak pulang ke kampung
" jika suami ibumu seperti itu, kenapa kau mau pindah kesana mi, apa kau yakin dia tidak akan jahat pada kalian, bagaimana jika dia punya niat yang tidak baik"
tentu saja mizi khawatir pada dia adik perempuan nya yang beranjak remaja itu, setelah dia tau kalau paman nya ternyata seorang pemabuk
" dari cara nya menghormati ibunya dan dia sangat menyayangi putri , umi yakin dia sebenarnya baik kok bang, dia juga sudah berjanji pada ibu akan mencarikan sekolah untuk umi dan ica, makanya kami di siruh secepatnya kembali , takut nanti tidak bisa mendaftar jika terlambat , apa lagi orang sudah masuk sekolah mulai hari ini " jawab umi meyakin kan bang mizi agar tidak khawatir
" kalau begitu keputusan mu, abang akan mendukung mu, jadi kapan kau akan kembali ke kota J "
" menurut sopir nya lusa mobil akan berangkat lagi dari sini bang, soalnya sopir nya teman om rudi, jadi umi di suruh naik mobil yang sama biar aman "
" kalau begitu kau jangan lupa minta izin pada kakek, kau temui kakek di rumah nya, kalau jisa malam ini juga, biasanya kalau pagi kakek sudah ke ladang takut nya kau tidak bertemu dengan kakek nanti , "
" um, bisa gak abang saja yang memberitakukan kakek saat umi sudah pergi, umi takut bertemu kakek, " kata umi lagi dengan wajah di tekuk
" tidak bisa begitu mi, kau harus ingat kakek yang mengurus kita dari kita kecil, jadi kau tidak boleh menaruh dendam pada kakek , "
" umi tidak dendam bang, tapi umi takut, dan mals juga " jawab umi lagi
" abang akan mengantar mu, dan ica .nanti sehabis solat magrib kita kesana " kata bang zi lagi
" iya bang, " jawab umi tak bersemangat
malam harinya umi dan ica telah bersiap ke rumah kakek, di antar oleh bang mizi
" assalamualaikum, ..." kata umi
" waalaikumsalam, " jawaban dari dalam rumah kakek
pintu terbuka, seorang wanita usia 35 tahun keluar, ..
" mm kalian,... ada apa kesini ?"katanya ketus
" kami ingin bertemu kakek " jawab umi
" buat apa,? kakek kalian belum gajian, dan bukan kah kau sudah menjual cincin curian mu itu,jadi untuk apa lagi kau meminta uang pada kakek mu " katanya menatap umi denga. pandangan sinis
" kami kesini bukan mau meminta uang, dan ingat adik ku tidak mencuri cincin itu, lagi pula kalau pun dia mencuri itu hak dia, karena cincin itu memang untuk ibunya dan tek nin, . jadi nenek jangan asal menuduh adik ku, aku malah curiga cincin itu hilang nya di sini " jawab bang mizii gak kalah sinis
" kau... berani sekali kau, aku akan pastikan kakek mu tidak akan memberikan sepersen pu. pada kalian " kata nya lagi dengan percaya diri
" kita lihat saja nanti, lagi pula aku tidak membutuh kan nya, sekarang panggil saja kakekku,kalau nenek tidak ingin ada keributan di sinj," ancam mizi lagi
" aku bukan menek mu bocah sialan, " katanya geram
" aku pun tak sudi punya nenek sepertimu, anggap saja panggilan ku itu sebagai bentuk rasa hormat ku pada istri kakek ku,"mizi tak mau kalah
"siapa yun,.. ?.. sebelum yuni sempat membalas mizi terdengar suara kakek dari dalam
" oh.. ini pak, ada cucu kita datang, katanya ingin bertemu," jawab yuni dengan lembut..yang di buat buat
" oh.. kenapa tidak di suruh masuk, ? "
" ia pak, ini mereka juga mau masuk,.." yuni pun menyuruh mereka masuk dengan mata yang di pelototkan
" kek,.. " kata mizi sambil mencium punggung tangan kakek, di susul oleh umi dan ica
" umm ada apa," kakek memandang cucunya itu,
"umi dan ica mau berangkat ke kota J kek," kata bang mizi membuka percakapan mereka
" ummm, mau apa kalian kesana?" tanya kakek
tapi umi enggan untuk menjawab dia hanya menunduk kan kepalanya,
" buk wati menyuruh mereka pindah sekolah kesana " lagi lagi mizi yang menjawab
" jadi kapan rencana nya kalain akan berangkat ?" kakek menatap umi yang dari tadi hanya menunduk
" esok.. lu..." belom selesai mizi melanjutkan kata katanya , dipotong oleh suara kakek yang mulai terlihat kesal
" apa kau tidak punya mulut untuk menjawab umi, kalau kau tak ingin bicara untuk apa lau kesini, " bentak kakek pada umi
umi hanya diam tak bergeming, dia terlanjur kecewa pada kakek,bukan karena cambukan kakek, tapi karena kakek tidak mempercayainya
" kak, kakek memanggil mu, " ica sambil berbisik pada umi
" bang, sudah ,selesai kan, ayok kita pulang ," pinta umi pada mizi
" umi .... " bang mizi menatap umi tegas, memberi intruksi lewat tatapan nya itu
" iya.. , " umi pun lamgsung mengerti maksud bang mizi
" kalian pasti haus minum lah dulu" kata yuni yang yang datang membawa nampan berisi air putih
" pak, jangan membentak cucu cucumu,nanti mereka menjadi takut padamu, kan sudah aku katakan padamu, ikhlaskan saja cincin itu, jangan menyimpan kemarahan pada mereka , mereka masih kecil... dan butuh bimbingan. dari kita orang tua, " kata kata yuni yang sengaja memancing emosi kakek dengan cara halus , tapi dia tidak tau kalau sebenarnya kakek telah melupakan cincin itu, karena jauh di lubuk hatinya dia yakin bukan umi yang mencurinya , dia sengaja memijit mijit lembut pundak kakek dengan senyum sinis nya, berharap kakek akan tambah meledak dan mengusir cucunya itu
" aku tidak memikirkan cincin itu yun, aku sudah mengikhlaskan nya , aku hanya tak suka kalau cucuku tak menghargaiku saat aku bicara " kata kakek lagi, yuni merasa kesal dan mukanya mulai memerah, tapi dia tidak kehabisan ide
"tapi bapak tidak perlu membentak mereka,bapak bisa mengajarinya dengan lembut, dan jika mereka membantah juga bapak bisa lebih tegas dengan tidak memberikan uang bulanan pada mereka, biar mereka tau bagaimana rasanya tidak ada orang tia yang mengurus mereka, " yuni kembali memancing kakek ,
tapi yuni tidak tau,bahwa mizi dan adik adiknya tidak berharap uang dari kakek mereka, dan kata kata yuni hanya di tanggapi senyuman sinis dari mizi
" ya sudah kek kami permisi dulu, ini sudah malam, umi dan ica harus ke rumah tekzar tidak enak kalau membangunkan tekzar malan malam, "
kata mizi pamit pada kakek dan mereka mencium punggung tangan kakek,
kakek manarik ica dan uni kedalam pelukan nya, dia mengusap puncak kepala cucunya itu, sambil dia mencium. puncak kepala cucu cucunya itu, mizi memandang haru pada kakeknya, dia tau kakeknya sangat menyayangi mereka,
" kalian hati hatilah di rantau orang, pandai pandai lah dalam bersikap, jangan merepotkan ibu kalian, "nasehat kakek pada umi dan ica
" iya kek, maafin umi kek, umi bersumpah demi Allah, agama dan kitab Al-Quran, umi tidak mencuri kek.. hik.. hik.. hik.." tangis umi pun akhirnya pecah di pangkuan kakek
"kakek tau,maaf kan kakek karena tidak percaya pada mu, kakek yakin mungkin kakek menjatuhkan cincin itu di suatu tempat , maaf kan kakek telah memukul mu, kakek menyesal," tangis kakek pun pecah ..
" yun, tolong ambil kan dompetmu di saku, " kakek menyuruh yuni, dan yuni mengambil kan dompet kakek dengan. wajah kesal, mizi sangat senang melihat raut muka kesal yuni, dia puas melihat wanita licik itu kalah telak, tanpa dia membalasnya .
" ambil lah ini, gunakan untuk jajan di perjalanan, dan jangan lupa jaga adik mu baik baik mi,kalau terjadi apa apa di sana hubungi kakek atau abang mu, segera kakek akan mengirim abang mu untuk menjemputmu, " kata kakek lagi
" terima kasih kek,umi pamit dulu, lusa umi berangkat denga. mobil jam 10 pagi kata umi lagi
" ya,hati hati di jalan, ..
mizi dan adik adiknya meninggalkan rumah kakek, mizi sangat senang melihat kakek yang ternyata masih sangat menyayangi mereka, dan urusan yuni itu adalah bonus pertinjukan biat mizi..
***
pagi pagi umi dan ica mulai mengepak pakaian dan barang barang keperluan mereka untuk pindah sekolah, dan umi akan ke SMP, nya dulu karena umi belum sempat mengambil ijazah SMP nya,
tok tok tok...
" assalamualaikum, pak , "sapa umi saat berada di depan ruang kepala sekolah kebetulan ruangan itu terbuka,
" waalaikumsalam, masuk lah, kamu umi Khumairah, kan. " kata bapak kepala sekolah,
" iya pak, saya ingin memgambil ijazah pak, "
"kenapa kamu baru mengambil ijazah mu, apa kamu tidak membutuhkan nya untuk mendaftar, ke SMA, "tanya pak kepala sekolah
" ia pak, waktu itu saya sudah meminta foto kopi nim pada buk rita pak, jadi tinggal meminta asli sama kopian yang di legalisir aja pak, "
kata umi menjelaskan
" ooo, iya iya,buk rita ada bilang sama saya, di
mana kamu mendaftar umi ?" tanya pak kepsek lagi
" tadinya saya mendaftar di smk negri satu pak, tapi karena orang tua saya meminta saya pindah ke kota J maka saya akan mendaftar di sana pak, "kata umi lagi
" oh.. apa kamu sudah mendaftar .., "
" belum pak, mungkin saya akan mendaftar belakang, .. mudah mudahan masih bisa pak, " kata umi lagi
"yah, bapak doakan semoga kamu masih ada kesempatan, tapi jika pihak sekolah melihat nilai nim mu,bapak rasa tidak akan sulit bagimu , kata pak kepsek lagi
i" ini tanda tangan dan cap jari di sini," pak kepala sekolah memberikan ijazah dan nim umi, beserta legalisiran nya
setelah semua urusan selesai umi menemui para guru dan pamit sambil mencium punggung tangan guru gurunya, terutama buk ainil yang sudah banyak membantu umi dalam banyak hal..umi pun pulang namun di perjalanan umi teringat ingin bertemu demgan rina sahabat karibnya itu ...