NovelToon NovelToon
Jina Si Gadis Bodoh

Jina Si Gadis Bodoh

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Petualangan / Contest / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.6
Nama Author: oppusunggu

Seorang gadis dari desa kecil menjalani hidupnya dengan banyak harapan. Sejak kecil dia selalu menderita dan tertekan. Hingga dirinya beranjak remaja, tekanan dan kesulitan ekonomi selalu ada dan erat bersamanya.

Hingga suatu hari, tanpa menyelesaikan sekolah, atau berbekal pendidikan yang terbatas, dia memberanikan diri pergi merantau ke tempat yang jauh. Tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Dia berharap, suatu saat hidupnya bisa berubah menjadi lebih baik.

Tapi yang ada hanyalah kekecewaan dan sakit hati. Semua kerja kerasnya tak pernah dipandang.
Sampai suatu ketika, kekecewaan terbesar datang dari teman dekatnya sendiri. Teman dekat yang dia sudah anggap seperti saudara, tega meninggalkannya dengan semua kerugian yang harus dia tanggung sendiri.


Seperti apa kisah selanjutnya?
Silahkan baca cerita, dan jika suka, jangan lupa vote yah teman-teman
😆😆😆
Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oppusunggu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19. Membuat Keputusan Sulit

Seusai bekerja, gadis itu pergi menemui Doni di kamarnya. Dia mengetuk pintu kamarnya pelan-pelan karena masih diliputi keraguan. Dia mengetuk berkali-kali namun pintu tak kunjung dibuka. Kemudian dia berhenti sejenak dan berbicara sendiri,

"Apa dia sedang tidur? Atau tanganku yang terlalu lemah?

Aduh... kenapa aku gugup sekali.

Rasanya seperti menghadapi ujian nasional.

Baiklah, aku coba lagi.

Jika tidak ada hasil, ya sudah."

Maka dia mengetuk lagi. Kali ini sedikit lebih kencang. Dan setelah beberapa kali ketukan, pintu pun akhirnya dibuka. Pria itu masih mengenakan handuk di pinggangnya dan sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia berkata,

"Ada apa?

Kau mau membersihkan kamarku?

Tidak ada yang kotor.

Lagi pula aku bisa melakukannya sendiri.

Pergilah!"

Dia berkata dan menutup pintu kamarnya lagi.

"Tunggu sebentar pak!

Tolong buka pintunya!"

"Hei, aku akan berganti pakaian. Kalau pintunya terbuka, semuanya akan terlihat jelas. Kau paham kan maksudku?"

"Pak, aku ingin menyampaikan sesuatu. Aku akan menunggu di luar. Maaf kalau tindakan ku salah."

Lalu tanpa membalas perkataannya, pria itu pun masuk dan mengunci pintu.

"Apa yang mau dia sampaikan? Ekspresinya misterius sekali. Biasanya aku yang setengah mati mengajaknya bicara. Tapi kali ini terbalik. Ah... gadis itu..."

Ujarnya sembari memakai pakaiannya.

Kemudian dia merapikan dirinya lalu pergi menghampiri gadis itu yang sudah duduk sejak tadi di sebuah kursi di depan gedung penginapan itu.

Dia duduk di samping gadis itu tapi jaraknya cukup jauh.

"Kau mau bicara apa?

Waktu ku tidak banyak. Besok aku sudah harus pergi. Jadi aku sangat sibuk menyusun dan mengemas barang-barang ku." Ujar pria itu dengan tegas.

"Pak...

Sejak tadi aku berpikir. Dan sejak tadi aku tidak fokus melakukan apapun karenanya. Bagiku ini seperti akhir dari segalanya. Entah keputusanku ini tepat atau tidak, aku tidak mengerti. Aku hanya melakukan apa yang kupikirkan baik. Dan semoga aku tidak salah melangkah." Ujar gadis itu dengan gugup.

"Bicara terus terang Jina. Jangan membuatku bingung."

"Pak...

Bapak tahu aku hidup seorang diri. Jauh dari keluarga. Bahkan jika mereka dekat pun, mereka juga tidak peduli. Yah. itu karena aku sudah dewasa. Mereka berpikir aku mampu menentukan langkahku dengan baik. Sebenarnya aku malu mengungkapkan hal ini pada bapak. Tapi aku tetap nekat karena pengaruh seseorang."

"Siapa?"

"Lagipula itu juga karena dorongan hatiku.

Pak, aku juga menyukai bapak." Balasnya tertunduk malu.

"Apa? Kau serius atau hanya bercanda? Tapi aku akan pergi besok. Lalu bagaimana? Apa kau bisa tahan berjauhan?

Tapi... sejak kapan kau juga menyukaiku?"

"Sebenarnya sejak dulu. Tapi itu tidak mungkin. Aku tidak penting."

"Jadi kau menyembunyikannya selama ini?

Tapi... kenapa sekarang kau mengutarakannya setelah aku akan pergi?"

"Tidak tahu."

"Apa Andi yang menyuruhmu?"

"Bukan. Tapi aku sendiri. Sepanjang hari aku memikirkannya. Tapi, baiklah! Meski besok bapak akan pergi, tapi aku akan tetap menunggu."

"Kau yakin? Tapi bagaimana jika aku tidak akan kesini lagi?"

"Aku yakin bapak akan datang lagi."

"Jina, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan datang lagi kesini.

Apa kau mau ikut denganku?"

"Apa?"

"Yah, ikut bersamaku, ke rumahku."

"Tapi...

Bagaimana dengan orangtua bapak? Mereka pasti keberatan dan tidak setuju aku tinggal di rumah bapak."

"Kau tenang saja. Aku tinggal sendiri."

"Pak, bapak tahu aku sangat miskin. Aku tidak punya apapun selain harga diri dan ketulusan. Bisakah bapak menjaga kepercayaanku dan harga diriku nanti?

Aku sudah mengabaikan segalanya dan memberanikan diri bicara dengan bapak."

"Jina, jangan khawatir. Aku pria baik-baik. Tidak mungkin aku merusak kepercayaan wanita yang aku sukai. Tapi apa kau benar-benar siap dan tidak akan menyesal?"

"Tidak."

"Kalau begitu, katakan pada atasanmu besok pagi kalau kau akan berhenti bekerja. Lalu kemasi barang-barangmu dan ikutlah bersamaku. Kita akan berangkat besok siang. Aku akan memesan tiket untuk kita berdua malam ini juga. Aku sengaja belum memesannya karena aku yakin kau pasti akan ikut. Aku senang kau mempercayaiku Jina. Sekarang pulanglah dan siapkan dirimu untuk esok hari."

**********

Tapi dalam tidurnya, kedua anak muda yang dilanda asmara itu tak bisa terpejam. Keduanya sibuk berpikir apakah keputusan yang mereka ambil tepat atau tidak.

Yang satu berkata,

"Apa yang sudah terjadi padanya? Kenapa tiba-tiba dia datang dan bahkan mau ikut dengan ku?

Astaga... pikiranku sangat kacau.

Aku senang karena cintaku berbalas. Tapi aku masih tidak habis pikir.

Kemarin dia mengabaikanku. Sekarang datang padaku.

Tapi, aku akan menjaga kepercayaannya. Dia sudah membuat pengorbanan besar. Pergi bersama dengan pria yang baru dia kenal, dan tak tahu ke tempat seperti apa dia akan pergi."

Sementara yang satu lagi berkata di tempat pembaringannya,

"Semoga keputusanku tidak salah dan masa depanku tak berakhir sia-sia.

Ah... seperti apa yah kehidupan disana nanti?

Hatiku sangat tidak tenang."

Lalu dia memandang dengan sedih ke sekeliling kamarnya dengan seksama, juga beberapa barang yang akan dia tinggalkan besok.

"Hari ini adalah hari terakhir ku tidur di kamar ini. Di atas tempat tidur yang sudah usang ini. Dan terakhir kali juga aku mengirup udara di tanah papua ini. Entah kapan aku akan kembali lagi kesini. Atau mungkin tidak akan pernah. Selamat tinggal kenangan. Kalian semua akan jadi kenangan manis yang akan selalu tersimpan di hati. Besok aku akan mulai mengukir masa depanku."

**********

Ke esokan paginya, Jina pun menghadap atasannya dan menyampaikan pengunduran dirinya. Dia menghadap sambil menggendong tas ranselnya berisi pakaiannya.

"Memangnya kau mau pergi kemana Jina?" Tanya atasannya sambil memandang heran tasnya yang besar.

"Ke suatu tempat pak."

"Ya sudah. Karena kau sudah bekerja dengan baik selama ini, aku berikan sedikit tambahan gajimu. Anggap saja itu tambahan uang sakumu di perjalanan."

Pria itu menyerahkan amplop coklat yang berisi uang itu pada Jina sambil tersenyum hangat. Lalu Jina berkata,

"Terima kasih pak. Aku tidak akan lupa kebaikan bapak.

Sekali lagi, terima kasih pak. Saya permisi."

Dia segera keluar dan menunggu Doni di luar gedung penginapan. Tak lupa dia selalu meyakinkan dirinya agar tidak salah mengambil keputusan.

Tak lama kemudian, Doni pun muncul dan segera menghampirinya. Sambil tersenyum ramah dia berkata,

"Kau sudah siap Jina?

Sebentar lagi Andi akan datang dan mengantar kita ke bandara.

Kau siap kan?"

"Entahlah pak. Tapi aku sangat cemas."

"Aku bisa paham perasaanmu. Tapi jangan khawatir berlebihan. Nanti kau sakit."

"Terima kasih pak sudah mencemaskan ku."

1
Becky D'lafonte
kerasnya hidup jina
Shinta Dewiana
hhh...🤔😐😠
Shinta Dewiana
kejamnya....
Kiki Emil: terima kasih udah baca novelnya. semoga bersedia baca yang lainnya juga yah😀😀😀
total 1 replies
Shinta Dewiana
hmmmm
Shinta Dewiana
aduh ngerinya....
Kiki Emil: terima kasih yah sudah baca novelnya dan komen. 😀😀😀
total 1 replies
Shinta Dewiana
emang cinta itu buta ya thor....he..he..he..
Kiki Emil: yah.... kadang2 begitulah
total 1 replies
Shinta Dewiana
sedih banget ya ampun....
ROSIDAH
aku juga suka sama novelnya mba🙂
Kiki Emil
makasih yah udah komen😬😬😬😬
Jenna Joni
gw pikir cuma gw yg ngerasa gak nyambung....ternyata bnyak wkwkwkwk
Kiki Emil: makasih yah udah bersedia komen😬😬😬🙂🙂🙂
total 1 replies
Dita
smngat jina
Dita
smngat jina
Dita
yg sbr y.jina
Elvipangau
jaan hidup tiap orang memang berbeda, tapi jika kita mendapat bagian yg sulit artinya kita diberikan ALLAH kemampuan yg lebih
Elvipangau
bingung masih bingung ceritra apa ini
lanjut
Sahmiran
wkkkk
Harlina Sb
ceritanya bgs nggak EA. 😄
Kiki Emil: selamat baca.
jangan lupa baca karya yang lainnya juga yah.
terima kasih🙂🙂🙂
total 1 replies
Joemiati
kok jd ngeri2 sedap bgni ya alur cetanya
Kiki Emil: terima kasih yah udah komen
total 1 replies
Qurniadi Syah Putra Putra
terus lah berjuang
Qurniadi Syah Putra Putra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!