NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 - Bad

Langit cerah telah tergantikan oleh langit gelap.

Aku sedang merias wajah di kamar. Riasanku sederhana. Aku hanya ingin terlihat rapi dan sopan di depan Papa Liam. Untuk pakaian, aku memilih dress seperti yang kukenakan waktu itu, hanya saja kali ini warnanya berbeda.

Setelah selesai merias wajah, aku mengambil tas lalu duduk di ruang tengah sambil menunggu Liam. Dia berjanji akan menjemputku.

Tak lama kemudian, bel berbunyi.

Aku langsung menuju pintu dan membukanya.

Di sana sudah ada Liam.

“Kenapa kamu dandan cantik begini sih? Kan cuma mau makan malam doang,” ucap Liam.

“Lah, masa mau ketemu camer nggak dandan sih?” balasku.

Liam tersenyum.

“Kenapa kamu tersenyum?”

“Aneh aja kamu bilang camer,” jawab Liam.

“Lah, kan kita mau nikah. Papa kamu ya camer.” Aku menghela napas kecil. “Udah, yuk, kita pergi.”

Aku pun keluar dan menutup pintu.

Kami langsung masuk ke dalam lift.

“Kenapa tiba-tiba Papa kamu ngundang aku ke rumah? Kan kemarin aku udah ke sana,” tanyaku.

“Katanya pengin lebih akrab sama kamu,” jawab Liam.

“Hah? Pengin akrab?”

“Iya.”

“Ini bukan akal-akalan kamu, kan?”

“Akal-akalan aku gimana?”

“Ya entah. Kamu kan nggak bisa ditebak.”

“Nggak, ya. Aku nggak kayak gitu. Lagi pula, kan, cuma ngundang kamu ke rumahku, bukan ke tempat lain. Di rumah juga ada Papa dan ART. Aku nggak akan macem-macem.”

“Baguslah kalau begitu.”

Tak lama kemudian, lift terbuka di lantai basement.

Kami keluar lalu masuk ke dalam mobil Liam dan meninggalkan apartemenku.

Malam itu, bintang-bintang tampak bertebaran di langit. Pemandangan yang sangat indah. Rasanya aku ingin terbang ke sana dan menghindari kesepakatanku dengan Liam.

Sepanjang perjalanan, kami berdua hanya diam.

Aku menatap keluar jendela sambil memikirkan masa depanku.

Menikah dengan Liam.

Beberapa menit kemudian, kami tiba di rumah Liam.

Tiba-tiba rasa gugup mulai menjalar ke seluruh tubuhku. Aku memang sudah tahu Papa Liam menyukaiku, tetapi tetap saja aku merasa gugup harus bertemu lagi dengannya.

“Ayo,” ucap Liam.

Kami keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.

“Pa...” panggil Liam begitu kami masuk.

Aku berjalan beberapa langkah di belakangnya.

Kulihat Papa Liam sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.

“Selamat malam, Om,” sapaku.

“Malam, Elle.” Papa Liam tersenyum. “Ayo, kita langsung makan saja.”

Papa Liam berdiri. Liam segera mendekat dan membantunya berdiri dengan lebih nyaman.

Kami pun berjalan menuju meja makan.

Papa Liam duduk di kursi sebelah kiri, sementara Liam duduk di sampingnya. Aku mengambil tempat di seberang Liam.

“Liam, kamu duduk di samping Elle aja,” ucap Papa Liam.

Hah?

Aku menatap Papa Liam dengan sedikit terkejut.

“Iya, Pa.”

Liam langsung berpindah dan duduk di sampingku.

“Ayo, Elle. Silakan dimakan. Memang makanannya hanya seperti ini. Semua juga nggak pedas,” ucap Papa Liam sambil mempersilakanku menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja. “Kata Liam, kamu nggak bisa makan pedas. Lambung kamu nggak kuat sama makanan pedas katanya.”

Aku menoleh ke Liam.

Dia masih ingat itu?

Di atas meja sudah tersaji beberapa hidangan rumahan. Aku mengambil nasi secukupnya, lalu mulai mengambil lauk yang ada di dekatku. Aku mencoba salah satu masakan yang disiapkan tanpa cabai.

Rasanya enak.

Aku kemudian menatap Papa Liam.

“Iya, Om. Saya memang tidak bisa makan pedas.” Aku tersenyum kecil. “Ternyata ingatan Liam tajam juga. Masih ingat itu.”

“Karena aku nggak pernah lupain,” ucap Liam santai.

Tanganku yang sedang memegang sendok berhenti sejenak.

Aku menoleh ke arahnya.

Liam juga sedang menatapku.

Untuk beberapa detik, kami hanya saling menatap sebelum akhirnya aku mengalihkan pandangan dan kembali menyendok makanan ke piring.

Kenapa dia harus mengatakan itu?

Aku memasukkan makanan ke mulut dan pura-pura sibuk menikmati makan malam.

“Ngomong-ngomong, kenapa kalian saling panggil nama?” tanya Papa Liam sambil mengambil lauk. “Bukannya biasanya anak sekarang punya panggilan sayang?”

Aku dan Liam langsung menatap Papa Liam.

“Oh... kami...” Aku mulai gugup.

“Kami ada kok, Pa,” potong Liam.

Aku menoleh kepadanya.

“Tapi karena di depan Papa, kami nggak ngelakuin,” lanjutnya.

Papa Liam mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“Oh, begitu. Ngomong-ngomong, apa panggilan sayang kalian?”

“Aku memanggil Elle, Tuan Putri.”

“Tuan Putri?” Papa Liam mengangkat alis.

“Iya. Karena namanya ada Putri-nya, ya udah aku panggil gitu.”

Papa Liam terkekeh kecil.

“Oh... menarik juga.” Ia kemudian menatapku. “Kalau kamu manggil Liam apa?”

“Ehm... itu...”

Aku terdiam.

Aku benar-benar bingung harus menjawab apa.

Masalahnya, dulu aku memang tidak pernah punya panggilan khusus untuk Liam.

“Elle nggak punya panggilan kayak gitu ke aku, Pa,” ucap Liam.

Aku menghela napas lega.

Untung saja Liam berkata seperti itu.

Tapi ternyata aku terlalu cepat merasa lega.

Liam kembali melanjutkan makannya dengan santai sebelum berkata,

“Elle manggil aku dengan sayang. Iya, kan, Elle?”

Aku hampir tersedak.

Sayang?

Aku langsung menoleh kepadanya.

Kenapa Liam mengatakan itu?

“Ah... i-iya,” jawabku gugup.

Papa Liam tersenyum lebar.

“Oh, begitu. Tapi nggak apa-apa kok kalian pakai panggilan sayang di depan Papa. Papa juga pernah muda.”

Aku hanya tersenyum canggung, kemudian kembali menundukkan kepala dan menyuapkan makanan ke mulut.

Liam benar-benar menyebalkan.

“Ngomong-ngomong, kapan kalian akan menikah?” tanya Papa Liam.

Aku menghentikan gerakan tanganku dan ikut mendengarkan.

“Setelah Ginsera dirilis, Pa. Dan tentu aja setelah kami mendapat restu dari orang tua Elle.” Liam meletakkan sendoknya sebentar. “Weekend ini kami akan ke Semarang.”

“Ah... begitu. Oke, oke.” Papa Liam kembali mengambil makanan. “Oh iya, untuk baju pernikahan kalian, ambil aja di butik Tante Rosa.”

“Iya, Pa.”

Papa Liam kemudian menatapku.

“Elle, apa kamu punya gaun pernikahan impian?”

Gaun pernikahan impian?

Aku menatap Papa Liam dengan sedikit heran.

Kenapa Papa Liam tiba-tiba bertanya tentang itu?

Aku kembali memegang sendok yang tadi sempat kuletakkan.

“Tidak ada, Om.”

“Tidak ada?” Papa Liam tampak sedikit terkejut. “Biasanya perempuan, apalagi perempuan zaman sekarang, punya baju pernikahan impian.”

Aku tersenyum kecil.

“Saya tidak pernah memikirkan itu, Om. Pesta pernikahan juga tidak pernah saya pikirkan.” Aku mengambil sedikit makanan dan kembali menyuapkannya ke mulut sebelum melanjutkan. “Yang saya pikirkan justru bagaimana pernikahan itu sendiri.”

Aku menelan makanan sebelum melanjutkan.

“Untuk acara pernikahannya, saya malah maunya sederhana saja. Yang penting sah secara agama dan negara.”

Papa Liam tersenyum.

Aku kembali menikmati makan malam, sementara suasana di meja makan terasa sedikit lebih hangat daripada sebelumnya.

“Om jadi semakin suka sama kamu.” Papa Liam tersenyum kepadaku. “Sepertinya Liam tidak salah pilih pasangan. Kalau perempuan lain, mungkin mereka akan meminta pernikahan yang mewah dan megah karena Liam kaya. Tapi kamu malah maunya sederhana.”

“Itu karena saya tidak terlalu suka bertemu banyak orang.” Aku tersenyum kecil. “Kalau pernikahannya mewah dan megah, saya harus bertemu banyak orang dan akhirnya malah capek. Lagipula, yang penting dalam pernikahan bukankah keabsahan pernikahannya itu sendiri, bukan pestanya?”

Papa Liam tertawa kecil.

“Kamu memang beda, Elle. Dan Om suka.”

Aku hanya tersenyum canggung.

“Itu juga yang bikin aku suka sama Elle, Pa. Elle memang beda dari perempuan lain,” ucap Liam.

Aku langsung menoleh kepadanya.

Kaget.

Bagaimana bisa Liam mengatakan itu dengan begitu santainya?

Apa dia terlalu banyak menonton film romantis?

Tidak!

Itu pasti karena dia memang pintar bicara.

Makanya dulu aku bisa tertipu olehnya.

Papa Liam tersenyum.

“Kamu memang nggak salah pilih, Liam.”

“Iya, Pa.”

Aku hanya bisa diam.

Liam tidak salah pilih aku?

Entahlah...

Yang jelas, aku justru merasa akulah yang salah memilih Liam.

Pertemuanku dengan Liam adalah sebuah kesalahan.

Seharusnya kami tidak perlu bertemu.

Kalau aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan pernah mau bertemu dengannya.

Setelah itu, kami melanjutkan makan malam tanpa banyak bicara. Sesekali Papa Liam mengajak kami berbicara, tetapi sebagian besar waktu kami habiskan dengan menikmati makanan masing-masing.

Setelah makan malam selesai, aku pun berpamitan.

Liam mengantarku pulang.

“Liam...” panggilku begitu mobil kami meninggalkan kompleks perumahan.

“Hm?” jawab Liam tanpa menoleh.

“Aku tahu kamu memang pintar dalam pelajaran. Dulu kamu selalu ranking, makanya sekarang kamu bisa gantiin Papa kamu.” Aku menatapnya. “Tapi aku nggak nyangka kamu juga pintar ngomong kayak tadi.”

“Ngomong apa?”

“Kamu bilang kamu nggak salah pilih aku.” Aku mendengus pelan. “Pinter banget kamu bohongin Papa kamu.”

“Aku nggak bohong, kok.”

Aku mengernyit.

“Hah? Maksudnya?”

“Aku memang nggak salah pilih kamu buat jadi pacar palsuku.”

“Oh...”

Aku kembali menatap ke luar jendela.

“Kenapa?” tanya Liam. “Kamu berharap aku ngomong yang lain?”

“Nggak.” Aku langsung menjawab. “Dan aku nggak akan baper sama omongan kamu, ya. Cukup sekali aku kayak gitu.”

“Oke.”

Liam terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.

“Tapi, Elle... kemarin waktu Papa tanya kenapa kamu suka aku, itu juga kamu pinter banget.”

“Itu biar Papa kamu percaya kalau aku ini pacar kamu.”

“Berarti kamu nggak berpikiran kayak gitu? Itu cuma akting?”

Deg!

Aku terdiam sesaat.

“Dulu aku kayak gitu,” jawabku akhirnya. “Sekarang nggak.”

Liam diam.

Aku pun tidak mengatakan apa-apa lagi.

Setelah itu, kami tidak bicara lagi hingga sampai di depan apartemenku.

Aku langsung melepaskan sabuk pengaman lalu keluar dari mobil.

“Sampai besok, Tuan Putri,” ucap Liam.

Aku menoleh kepadanya.

“Jangan panggil aku kayak gitu. Hubungan kita nggak kayak dulu lagi.”

“Tapi kita mau nikah.” Liam tersenyum tipis. “Dan kamu juga harus manggil aku sayang.”

“Nggak!” Aku langsung membantah. “Aku nggak sayang sama kamu. Ngapain aku harus manggil kamu begitu?”

“Mungkin sekarang nggak.” Liam menatapku. “Siapa tahu nanti sayang. Masa depan kan nggak ada yang tahu.”

“Nggak! Nggak akan terjadi kayak gitu.”

“Oke.” Senyumnya semakin terlihat. “Kita lihat aja nanti.”

Aku menghela napas berat.

Tanpa membalas ucapannya lagi, aku berbalik dan masuk ke dalam gedung apartemen.

Aku segera menuju lift.

Pintu lift tertutup.

Aku bersandar pada dinding lift sambil menghela napas panjang.

Sayang?

Tidak!

Tidak akan!

Aku tidak akan terjebak di lubang yang sama untuk kedua kalinya.

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!