Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMANAKAH DIA PERGI
Bandung masih sibuk mengoleskan kuas ke atas kanvas. Gerakan tangannya lincah, membentuk goresan demi goresan hingga perlahan muncul lapisan warna yang indah.
Sedikit demi sedikit, goresan itu mulai membentuk sebuah wajah.
Bandung terus mengayunkan kuas, mengganti warna, menambahkan sedikit warna lain, lalu kembali mempertegas beberapa bagian. Semakin lama, bentuk wajah itu semakin jelas.
Sebuah wajah yang sedang tersenyum.
Bandung menghentikan gerakan tangannya.
Ia menatap lukisan tersebut, kemudian memiringkan kepalanya ke kanan. Setelah itu ke kiri. Ia bahkan sedikit memundurkan tubuhnya untuk melihat lukisan itu dari jarak yang lebih jauh.
Tiba-tiba matanya membelalak.
“Lah... kok jadi gambar Luna?”
Bandung langsung menoleh ke arah gambar referensi yang sejak tadi digunakannya sebagai panduan.
Ia kembali memperhatikan gambar tersebut, lalu membandingkannya dengan lukisan di kanvas.
Jelas berbeda.
Bandung menepuk keningnya.
“Aneh banget... kenapa bisa jadi gambar wajah Luna, ya?”
Ia menarik napas panjang.
Kemudian matanya beralih ke jam dinding.
04.30 pagi.
Bandung menguap lebar.
“Pantesan otak gue mulai ngaco.”
Ia meletakkan kuas, membersihkan tangannya, lalu berjalan menuju mesin espresso.
Tangannya menekan tombol.
Mesin itu mengeluarkan suara halus. Bandung meletakkan cangkir di bawah keran, dan beberapa saat kemudian kopi mengalir dengan aroma yang memenuhi ruangan galeri.
Bandung membawa kopi tersebut ke sofa di sudut galeri.
Ia meletakkan gelas di atas meja, kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Sebentar doang...”
Tanpa sadar tubuhnya semakin rileks.
Kepalanya miring.
Matanya perlahan terpejam.
Dan beberapa detik kemudian, tubuhnya benar-benar tumbang terlentang di atas sofa.
Bandung tertidur.
Tiba-tiba, sepasang tangan lembut menyentuh pipinya.
Bandung membuka mata perlahan.
Di hadapannya ada wajah yang sangat ia kenal.
Wajah itu tersenyum.
Bandung masih setengah sadar.
“Luna...?”
Luna hanya tersenyum.
Wajahnya mendekat.
Semakin dekat.
Semakin dekat lagi.
Bandung mulai membelalakkan mata.
Kemudian—
“CUP!”
Sebuah kecupan mendarat di pipinya.
Bandung langsung terbelalak.
Belum sempat ia mengatakan apa-apa, wajah Luna sudah kembali mendekat. Bibirnya menyentuh bibir Bandung.
Bandung semakin terkejut.
Ia perlahan mendorong tubuh Luna.
“Luna... apa yang lu lakuin?”
Luna tersenyum santai.
“Bandung, terima kasih ya buat traktirannya kemarin.”
Bandung masih bengong.
“Terus lo barusan ngapain ke gue?”
“Gue cuma mau bilang terima kasih doang.”
“Wah, kalau terima kasih jangan sampai kayak gini dong. Ntar gue malah salah paham.”
Luna tersenyum semakin lebar.
“Bukannya bagus kalau salah paham?”
“Hah?”
“Asal jangan salah beneran.”
Luna kemudian menyandarkan tubuhnya ke Bandung dengan manja.
Bandung yang sama sekali tidak menyangka sikap Luna akan berubah drastis hanya bisa mengecap-ngecapkan matanya.
Kemudian ia mencubit pipi Luna.
“Aduh!”
Luna langsung menjerit.
“Bandung! Ngapain lu cubit gue?”
“Sorry, Luna!”
Bandung menatapnya dengan wajah bingung.
“Gue pikir ini cuma mimpi. Ternyata ini nyata.”
Luna balas mencubit pipi Bandung.
“Gimana? Sakit nggak?”
Bandung mengusap pipinya.
“Ya sakitlah. Gue kan masih hidup.”
“Lu aneh.”
Luna terkekeh.
“Kalau lu mau ngecek ini mimpi atau bukan, harusnya yang lu cubit itu pipi lu sendiri. Bukan malah pipi gue.”
Bandung mengangkat bahu.
“Ya setidaknya kalau lu teriak, gue tahu kalau itu bukan mimpi.”
Luna kembali menyandarkan tubuhnya ke Bandung.
Kedua lengannya kemudian merangkul pundak pria itu.
“Bandung... gimana kalau ke depannya kita lebih dekat lagi, ya?”
Bandung menoleh.
“Bukannya sekarang udah sangat dekat?”
“Maksud gue bukan sekadar tubuh kita yang dekat.”
“Terus apa?”
Luna menatap matanya.
“Tapi hati kita.”
Bandung terdiam.
“Kita pererat. Semakin rapat... semakin menyatu.”
Bandung mengernyitkan kening.
“Tunggu, Luna.”
“Hm?”
“Lu lagi nembak gue?”
Luna mengangguk.
“Iya.”
“Lu yakin mau nembak gue?”
“Iya.”
Bandung menatap Luna dari atas sampai bawah.
“Emangnya apa yang lu lihat dari gue?”
Luna menggeleng.
“Gue nggak lihat apa-apa.”
Bandung semakin bingung.
“Loh, kok aneh sekali? Terus ngapain lu nembak gue?”
Luna tersenyum.
“Mata gue memang nggak lihat apa-apa.”
Ia menyentuh dada Bandung.
“Tapi hati gue udah merasakan semuanya.”
Bandung terdiam beberapa detik.
“Wah... ternyata lu punya rayuan maut juga, ya.”
Luna tertawa.
“Kok jadi gue yang lu interogasi?”
Ia kembali menatap Bandung.
“Sekarang intinya, lu mau nggak kita pacaran?”
Bandung diam.
Beberapa saat kemudian, ia menganggukkan kepala.
“Sepertinya... boleh dicoba.”
Mata Luna langsung membesar.
“Jadi kita pacaran?”
“Kenapa enggak?”
Luna tersenyum lebar.
“Kalau gitu... apa gue boleh cium elu?”
Bandung mengangkat alis.
“Bukannya tadi lu udah cium gue?”
“Tapi gue masih mau lagi.”
Mereka saling berpandangan.
Perlahan, wajah mereka mendekat.
Semakin dekat.
Bibir mereka tinggal beberapa sentimeter lagi.
Dan tiba-tiba—
“Ayah!”
Bandung terdiam.
“Bangun, lo!”
Suara itu semakin keras.
“Udah jam sebelas lewat! Masih tidur aja!”
Bandung membuka mata.
Ia terkejut.
Wajah yang tadi ada di hadapannya sudah berubah.
Bukan Luna.
Melainkan Oreo.
Bandung langsung bangkit dari sofa.
“Lah... Guru lo mana, Oreo?”
Oreo mengernyitkan dahi.
“Guru siapa lagi?”
Bandung masih setengah sadar.
“Si kerempeng.”
“Siapa?”
“Maksud Ayah... Ibu Guru Luna.”
Oreo menatap ayahnya dengan curiga.
Bandung langsung salah tingkah.
“Eh, bukan. Bukan maksud gue... Jessica mana?”
Dari arah belakang terdengar suara Jessica.
“Di sini.”
Jessica keluar sambil membawa beberapa barang.
Ia melihat Bandung, kemudian tersenyum tipis.
“Lo tuh kalau emang suka sama Luna harus lebih aktif.”
Bandung langsung menoleh.
“Lu ngomong apaan sih, Jessica?”
“Gue nggak perlu ngulangin omongan gue, kali.”
Jessica melanjutkan sambil berjalan melewati mereka.
“Sekali lagi gue bilang, lo harus lebih aktif. Kalau nggak, Luna bisa keburu pergi sama orang-orang yang lebih tampan dan lebih menarik di luar sana.”
Bandung terdiam.
Ia menatap Jessica.
Kemudian menatap Oreo.
Setelah itu kembali menatap kosong ke depan.
Gue suka sama Luna?
Bandung mengerutkan kening.
Emang iya?
Pikirannya kembali teringat pada lukisan yang dibuatnya semalam.
Ia langsung berdiri.
“Lukisan gue...”
Bandung berjalan mendekati kanvas.
Ia menatap lukisan itu beberapa saat.
Kemudian wajahnya perlahan berubah menjadi senyum kecil.
Ternyata benar.
Wajah yang ia lukis semalam memang wajah Luna.
Bandung kembali melihat gambar referensi yang digunakannya.
Ia mengangkat gambar itu, lalu membandingkannya dengan lukisan.
Benar-benar berbeda.
“Waduh... kenapa gue bisa bikin lukisannya jadi wajah Luna?”
Ia menggaruk kepalanya.
“Padahal gue udah pakai gambar referensi.”
Bandung menatap lukisan itu lagi.
“Ini benar-benar aneh.”
Ia menepuk keningnya.
“Jangan-jangan ada sesuatu di otak gue.”
Bandung menggeleng-gelengkan kepala.
“Gawat.”
Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi.
“Udah, mandi dulu. Mungkin otak gue cuma kecapekan.”
Pintu kamar mandi tertutup.
Sementara lukisan wajah Luna masih berdiri di atas easel.
Dan untuk pertama kalinya, Bandung mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini sama sekali tidak pernah terpikir olehnya.
Ke manakah sebenarnya hatinya sedang pergi?