“Affan, aku ingin nafkah batin.”
“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”
Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.
Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Ketahuan
Hampir dua minggu telah berlalu sejak kejadian itu. Affandy tidak pernah benar-benar marah kepada istrinya, meskipun sikapnya terhadap Hulya masih tetap cuek.
Saat pulang dari kantor, Affandy kembali terpikir tentang Hulya. Pria itu mulai kecanduan dengan keberadaan istrinya. Walaupun saat ini dia belum mencintai ataupun menyayangi Hulya, entah mengapa keberadaan wanita itu mulai terasa penting baginya.
Affandy Frazendra mengemudikan mobil sambil memperhatikan sebuah apotek di pinggir jalan. Dia sudah merasa gerah dengan semua yang ada di pikirannya. Affandy harus menuntaskan sesuatu agar pikirannya bisa tenang.
Pria itu akhirnya menghentikan mobil di depan apotek.
"Cari apa, Mas?"
"Eummm... ada obat tidur, Mbak?"
"Ada."
Entah apa yang akan dilakukan pria itu. Yang jelas, Affandy sengaja membeli obat tersebut. Kepalanya terasa sakit jika terus memikirkan apa yang ingin dilakukannya saat ini.
[] [] []
Akhirnya, Affandy sampai di rumah. Sialnya, belum sempat masuk ke dalam, tiba-tiba seorang wanita menghampirinya.
"Tiffany. Kamu ngapain?" tanyanya.
"Aku hubungi kamu, tapi nggak kamu angkat."
"Aku sibuk, Sayang. Pekerjaan di kantor banyak."
Ceklek!
Pintu terbuka. Hulya terdiam ketika melihat dua orang itu berdiri di depan pintu rumah.
"Ayo, Sayang. Pintunya udah dibuka sama pembantu kamu."
Tiffany menarik tangan Affandy. Hulya tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya dia ingin sekali bertengkar dengan wanita itu, tetapi dia takut Affandy akan kembali bersikap kasar kepadanya.
Hulya menutup pintu, lalu menghampiri kedua orang yang sudah duduk di sofa. Affandy sempat menatapnya, tetapi wanita itu langsung memalingkan wajah.
"Hulya—"
"Kamu mau minum apa?" tanya Hulya kepada Tiffany.
"Kamu nawarin aku?"
"Iya. Aku pembantunya Affan. Kamu tamu istimewanya."
"Emmm ... Minum air putih aja."
Hulya hendak berlalu pergi, tetapi Tiffany kembali memanggilnya.
"Tunggu, Pembantu."
"Ada lagi?"
"Jangan lupa cemilannya."
Hulya mengangguk kecil sebelum pergi. Tinggallah Affandy dan Tiffany di ruang tamu. Affandy merasa tidak suka dengan cara Tiffany menyebut Hulya.
"Jangan panggil dia begitu."
"Lho, kamu marah?"
"Bukan marah, Sayang. Nanti kalau Hulya mengadu kepada Mami, bagaimana?"
"Kamu ada niat nikahin aku nggak sih?"
"Ada, lah, Sayang. Aku lagi nunggu momen yang pas buat ceraiin Hulya."
"Tapi kapan?" tanya Tiffany.
"Kamu sabar, ya."
Tidak lama kemudian, Hulya datang membawa sesuatu yang diinginkan Tiffany.
"Heh ... Kamu mau ke mana?" tanya Tiffany.
"Ke kamar," jawab Hulya.
"Duduk!"
"Aku nggak mau."
"Sayang, suruh dia di sini. Aku mau dia lihat kita bermesraan."
"Hulya, duduk cepat!" perintah Affandy.
Hulya akhirnya duduk di sofa itu. Dia hanya bisa diam ketika melihat Tiffany sengaja menggoda Affandy.
"Cepat pulang, Tiffany. Aku sudah nggak tahan. Aku ingin Hulya sekarang," batin Affandy. "Cuma Hulya yang bisa membantuku."
"Kamu kok keringat dingin, sih, Sayang?" tanya Tiffany.
Affandy hanya tersenyum tipis.
"Kenapa?" Tiffany bertanya sambil membelai dada pria itu.
"Jangan begini, Tiffany."
"Lho, kenapa nggak mau?"
Affandy sudah tidak tahan dengan perlakuan wanita itu. Ada sesuatu yang membuat dirinya harus segera menuntaskan hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum..."
"Mami," ucap Affandy dan Hulya bersamaan.
Hulya segera beranjak dari tempat duduknya dan memegang tangan Tiffany.
"Heh ... Ngapain kamu sentuh-sentuh aku?" protes Tiffany.
"Ikut aku. Cepat."
"Assalamualaikum..."
"Enak aja kamu perintah aku."
"Mami Affan datang, Tiffany. Kalau dia tahu kamu di sini, dia bisa marah sama Affan."
"Biarin. Biar Andy bilang sama Maminya kalau kami akan menikah."
"Jangan bodoh, Tiffany. Bukan Affan saja yang akan dimarahi. Kamu juga."
"Aku nggak mau," tolak Tiffany.
"Tiffany, aku nggak mau Affan dimarahi."
Affandy justru terdiam mendengar perkataan istrinya. Entah mengapa, dia merasa tersentuh. Untuk pertama kalinya, dia melihat sisi dewasa dari Hulya.
Hulya akhirnya menyembunyikan Tiffany di kamar tamu. Dia akan tetap mempertahankan rumah tangganya, terlebih setelah mengetahui bahwa Affandy telah mengambil haknya sebagai seorang suami.
"Mami."
"Apa kabar, Sayang?"
Hulya dan Maria saling berpelukan. Setiap hari Maria dan suaminya menunggu kedatangan pasangan suami istri itu. Namun, Hulya maupun Affandy tidak pernah datang. Itu sebabnya Maria dan suaminya memutuskan untuk mendatangi rumah mereka.
"Apa kabar, Bro?"
"Apa kabar? Kayak nggak pernah ketemu aja," balas Affandy kepada abangnya.
"Papa nggak datang, Mi?" tanya Hulya.
"Dia ada urusan, Sayang. Ini juga Mami paksa. Kalau nggak, pasti Mami harus naik taksi lagi."
Mereka duduk di sofa. Hulya kemudian berlalu ke dapur untuk menyiapkan minuman bagi para tamu.
"Toilet di mana?" tanya Gerald.
"Ke sini cuma numpang toilet?" goda Affandy. "Bayar!"
"Mau ini," balas Gerald sambil mengepalkan tangannya.
"Sorry, Bang." Affandy terkekeh geli.
"Itu kamar tamu. Toiletnya ada di dalam."
Gerald beranjak dari tempat duduknya. Pria itu mulai melangkahkan kaki menuju kamar tersebut.
Di saat yang sama, Hulya melintas di sana. Dia langsung terkejut ketika melihat Gerald hendak membuka pintu kamar tempat Tiffany bersembunyi.
Dengan cepat, Hulya meletakkan nampan berisi minuman di atas meja tempat foto-foto berada. Dia langsung berlari dan menahan pergelangan tangan Gerald sebelum pria itu sempat membuka pintu.
Gerald juga terkejut karena Hulya tiba-tiba muncul di hadapannya. "Hulya!"
"Abang mau ngapain?"
"Mau ke toilet."
"Jangan di sini."
"Terus?"
"Di sana aja."
"Kenapa kalau di kamar ini?" tanya Gerald.
"Ekhem..."
Suara itu membuat keduanya menoleh.
Hulya panik. Dia sudah bisa menebak bahwa Affandy akan marah besar karena dirinya tidak sengaja memegang tangan abang iparnya.
"Abang sama Hulya ngapain?" tanya Affandy.
"Ini istri kamu melarang Abang masuk ke kamar ini. Abang, kan, mau ke toilet."
Affandy menoleh ke arah Hulya. Wanita itu memberi kode bahwa Tiffany ada di dalam kamar.
"Emmm ... Andy lupa, Bang. Toilet di kamar ini lagi rusak."
"Oh ... Pantes Hulya larang."
"Toilet di dapur aja, Bang," ujar Hulya.
Gerald akhirnya berlalu pergi. Hulya juga segera kembali mengambil nampan tadi. Namun, ketika melewati Affandy, pria itu memanggilnya.
"Hulya."
Wanita itu menghentikan langkahnya.
"Tunggu hukuman dari aku setelah Mami sama Abang pulang."
Hulya langsung menoleh ke arah suaminya. Saat ini dia takut melihat tatapan Affandy. Dia takut jika Affandy akan melakukan hal yang sama seperti kemarin.
"Affan..."
"Pergi!"
"Tadi aku—"
"Pergi atau kamu akan menyesal."
Hulya mengalah. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
[] [] []
Beberapa menit telah berlalu. Obrolan mereka berlangsung cukup intens. Banyak hal yang dibicarakan oleh keempat orang tersebut. Walaupun begitu, Hulya sudah merasa takut memikirkan apa yang akan terjadi setelah mertuanya pulang.
"Hulya, Sayang..."
"Iya, Mi."
"Kamu nggak ada rencana ke Kalimantan?"
"Ada, Mi. Beberapa hari yang lalu Hulya sempat teleponan sama mereka."
"Affan, bawa istri kamu. Dia juga kangen sama orang tuanya. Jangan sibuk kerja terus."
"Affan nggak sibuk kerja, Mi. Dia lebih sering keluar," ucap Gerald.
Hulya sudah tahu pasti suaminya lebih sering keluar bersama wanita lain.
"Keluar ke mana, Affan? Kenapa jarang masuk kantor?"
"Andy ... Ini, Mi—"
"Dia nemenin Hulya, Mi."
Affandy langsung menatap istrinya. Hampir saja dia harus berpikir keras untuk memberikan jawaban asal kepada ibunya.
"Oh, iya."
Maria kemudian menatap Hulya. "Mami mau tanya sama kamu. Andy nyuruh kamu kerja?"
"Kerja," jawab Hulya lirih.
"Waktu itu teman Mami bilang kamu kerja di kafe," ungkap Maria. "Kamu biarin istri kamu kerja?" Maria langsung menatap anak lelakinya.
"Bukan, Mi. Jadi—"
"Hulya pengen, Mi. Mas Affan udah larang, tapi Hulya yang mau sendiri."
"Kamu nggak perlu kerja, Sayang. Cukup suami kamu aja."
"Hulya nggak apa-apa kok, Mi. Lagian Hulya suntuk di sini. Kalau kerja, Hulya punya banyak teman."
"Makanya kalau suntuk datang ke rumah. Jangan di sini terus," ucap Maria sambil tersenyum lebar.