Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.
Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.
Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tolong Selamatkan Aku
Pria yang menjadi kepala kelompok itu, yang berdiri tepat di belakang Violet, tampaknya tidak menyukai sikap anak laki-laki tersebut. Namun, di tengah begitu banyak orang, mustahil bagi Violet untuk melarikan diri. Karena itu, ia hanya bisa diam.
Anak laki-laki itu masih terus menunjukkan ketertarikannya pada Violet. Saat ia mengangkat tangan kecil Violet dengan rasa penasaran, tiba-tiba rasa sakit yang membakar menjalar dari telapak tangannya.
“Ah!”
Violet tanpa sadar mengerang.
Anak laki-laki itu melihat luka di telapak tangannya dan mengatakan sesuatu kepada kepala kelompok dengan nada marah. Namun, ia masih menggenggam erat tangan Violet yang terluka.
Darah mengalir dari telapak tangannya hingga membasahi pergelangan.
Melihat itu, kepala kelompok berkata, “Wah, Saintess. Bukankah sudah kukatakan bahwa Anda tidak boleh menyakiti diri sendiri?”
Ia menyuruh salah seorang anak buahnya mengambil kain bersih, lalu membalut telapak tangan Violet dengan kain tersebut. Anak laki-laki itu mengernyit melihatnya.
“Kenapa? Jangan-jangan Anda ingin meninggalkan jejak dengan tetesan darah itu?”
Kepala kelompok itu melontarkan candaan, tetapi sesaat kemudian ekspresinya berubah.
Di tempat darah Violet menetes, tampak tunas-tunas hijau bermunculan dari tanah.
Ia langsung mencengkeram lengan Violet dan menariknya, lalu menampar pipinya dengan keras.
Tamparan itu begitu kuat hingga telinga Violet berdenging dan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dengan kedua tangan masih terikat, ia hampir saja jatuh dan membenturkan kepala ke tanah.
Menyedihkan sekali, tetapi Violet sudah tahu bagaimana harus menjatuhkan diri agar rasa sakitnya tidak terlalu parah saat dipukul.
“Dasar perempuan sialan! Rupanya kau selama ini membocorkan keberadaan kami!”
Violet tanpa sengaja menggigit bibirnya saat ditampar. Rasa amis darah memenuhi mulutnya, dan darah perlahan menetes dari bibirnya yang terluka.
Tanah yang terkena darah Violet kembali menumbuhkan tunas-tunas hijau yang begitu jelas hingga dapat terlihat dengan mata telanjang.
Anak laki-laki itu hendak membantu Violet berdiri, tetapi pandangannya tertuju pada tunas-tunas tersebut.
Violet sendiri hanya bisa menatap kosong rerumputan yang tumbuh tepat di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa kuatnya kekuatan yang ia miliki.
Namun, apa gunanya semua itu?
Saat ini, ia mungkin akan mati.
“Dasar perempuan sialan! Akan kubunuh kau hari ini!”
Mendengar itu, anak laki-laki tersebut berteriak mengatakan sesuatu. Namun, kepala kelompok itu sudah dikuasai amarah. Ia menghunus belati dan mengarahkannya ke leher Violet.
Saat kaum Vaelith bersiap menghunus pedang untuk mengantisipasinya, tiba-tiba sebuah bayangan hitam melintas dengan cepat.
Seorang pemuda dari kaum Vaelith segera merangkul pinggang anak laki-laki itu dan menariknya menjauh.
Terdengar suara logam beradu.
Violet yang masih terbaring di tanah menyadari ada sebuah lengan yang memegang belati tergeletak di samping tubuhnya.
Darah mengalir dan meresap ke tanah.
Terkejut melihat pemandangan mengerikan itu, Violet buru-buru bangkit dan menoleh ke arah kepala kelompok. Pria itu berdiri dengan lengannya yang telah terputus sambil menjerit ketakutan.
Jeritannya menjadi tanda dimulainya serangan.
Dari berbagai penjuru terdengar teriakan panik lainnya. Para pria berjubah biru dengan lambang Keluarga Marquis Rivera telah menyerbu dan menebas kaum Vaelith satu demi satu.
Kaum Vaelith pun segera menghunus pedang dan bersiap menghadapi mereka.
Violet merasakan seseorang membantunya berdiri.
Sepasang mata biru tua tampak jelas di hadapannya.
Ia hampir tidak percaya.
Carlisle berdiri tepat di depannya.
Violet benar-benar enggan mengakuinya, tetapi kehadiran Carlisle membuatnya merasa lega. Baru saja ia hampir mati, dan Carlisle-lah yang menyelamatkannya.
Carlisle mengamati wajahnya dengan saksama.
Tidak ada kata-kata lembut yang menanyakan apakah Violet baik-baik saja atau apakah ia terluka. Tatapannya hanya tertahan lebih lama pada pipi Violet yang memerah dan membengkak, dengan bekas telapak tangan yang masih jelas, serta bibirnya yang mengeluarkan darah.
Kemudian, Carlise kembali menatap lurus ke depan dan berkata dengan suara tenang, tetapi cukup keras untuk terdengar di tengah keributan.
“Ini perintah Marquis Rivera. Bunuh semuanya tanpa terkecuali, kecuali kaum Vaelith.”
Deg.
Violet merasa pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.
Di mana?
“Perintah Marquis Rivera.”
Ia yakin pernah mendengarnya di suatu tempat.
Carlisle mengarahkan pedangnya kepada anak laki-laki dari kaum Vaelith beserta orang-orang yang berdiri di sampingnya.
“Aku adalah wakil Marquis Rivera, kepala keluarga berikutnya, sekaligus pewarisnya. Aku juga seorang kesatria negeri ini. Asteria bukan negeri yang bisa kalian kuasai sesuka hati.”
Seolah menganggap pedang yang diarahkan kepadanya sebagai penghinaan besar, salah satu pria Vaelith langsung menyerang Carlisle.
Violet hendak menjerit, tetapi Carlisle dengan tenang menangkis serangan itu sambil tetap memeluk Violet.
Trang!
Suara logam beradu terdengar nyaring.
Untuk pertama kalinya, Violet melihat Carlisle tersenyum.
Namun, senyum itu justru membuat bulu kuduknya meremang.
Carlisle menusukkan pedangnya tepat ke jantung pria yang tadi mengarahinya dengan pedang. Darah kembali memercik, tetapi Carlisle segera menarik pedangnya dengan gerakan cepat lalu kembali mengarahkannya kepada anak laki-laki itu.
Darah menetes perlahan dari bilah pedangnya.
Sekali lagi, Carlise berkata dengan tegas, “Kembalilah ke negerimu.”
Para pria yang berkumpul di sekitar anak laki-laki itu membisikkan sesuatu kepadanya. Anak itu memasang ekspresi tidak senang, lalu mengatakan sesuatu kepada Carlisle.
Tatapannya kemudian beralih kepada Violet.
“i li se jmorru biex issib dak tiengfi.”
Melihat wajah Violet yang kebingungan, anak laki-laki itu tersenyum.
“zhar.”
Carlisle segera menyembunyikan Violet di belakang tubuhnya.
Anak laki-laki itu mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu lagi kepada Carlise, tetapi seorang pria yang membawa pedang langsung menariknya pergi.
Violet menoleh ke belakang.
Para pria yang tampaknya merupakan pasukan Marquis sedang bertempur melawan orang-orang yang sebelumnya menjual dirinya.
Begitu kaum Vaelith pergi, ketegangan yang semula terasa begitu mencekam pun berakhir. Pertempuran berubah menjadi pembantaian sepihak.
Pria yang menjadi kepala kelompok itu sudah lama diseret pergi.
Violet sangat terguncang melihat pembantaian tersebut. Carlisle kemudian menggandengnya dan membantunya naik ke atas kuda.
Hiih!
Suara ringkikan kuda membuat Violet sempat ketakutan. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara yang berkata, “Jangan khawatir.”
Violet terkejut dan terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia dapat memahami bahasa yang diucapkan oleh seekor kuda.
“Tuan Muda! Anda berhasil menyelamatkannya.”
Seorang kesatria mendekat dan berbicara kepada Carlise.
“Beritahu Sir Vaselhund untuk membereskan tempat ini.”
“Baik, Tuan Muda!”
Kuda itu kembali meringkik.
Violet masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ia hanya bisa memandangi keributan di sekelilingnya.
Orang-orang yang membawanya ke tempat itu sudah lama tewas.
Mungkin karena tamparan yang diterimanya tadi, kepalanya masih terasa linglung. Saat itulah Violet menyadari sesuatu. Ia ternyata merasa lega ketika melihat baju zirah dan pedang.
Padahal, selama ini benda-benda itu selalu menjadi sesuatu yang mengancam dirinya.
Namun, untuk pertama kalinya, pedang dan baju zirah justru menjadi sesuatu yang melindunginya.
Ketika mereka melaju dengan kuda, angin menerpa wajah Violet dan membawa bau amis darah yang menusuk hidung.
Namun, Violet menerimanya dengan tenang.
Sepanjang perjalanan menuju kastel, Carlise tidak mengatakan apa-apa.
Violet pun demikian.
Ketika kuda mereka memasuki jalan utama, langkahnya perlahan melambat menjadi berjalan santai.
Angin musim dingin yang dingin menusuk tubuh mereka, tetapi karena perjalanan mulai melambat, Violet dapat mendengar gumaman Carlise dengan jelas.
“Aku akan mengambil kembali milikku. Aku pasti akan melakukannya.”
Violet tidak sanggup menoleh ke belakang.
“Miliknya...?”
Ia tidak mengerti apa yang dimaksud Carlisle, tetapi tetap memasang telinga, berharap mendengar kelanjutannya.
Namun, Carlise tidak mengatakan apa-apa lagi.
Begitu memasuki gerbang kastel, Carlisle segera turun dari kudanya dan mengulurkan tangan kepada Violet.
Violet sempat ragu, tetapi akhirnya meraih uluran itu dan membiarkan tubuhnya bertumpu padanya. Carlisle menopang pinggang Violet dengan kuat untuk membantunya turun.
Setelah itu, Carlisle hanya memandangi wajah Violet dalam diam sebelum kembali mengulurkan tangan.
Violet masih ragu apakah ia harus meraih tangan tersebut, tiba-tiba ia mendengar suara yang memanggil namanya.
“Violet!”
Mendengar suara yang begitu dikenalnya, Violet menoleh.
Ledian berdiri di sana.
Di belakangnya, Violet juga melihat Cedric dan Meirra.
Ia bahkan tidak sempat bertanya, 'Kenapa?'
Tiba-tiba saja, rasa lega karena masih hidup memenuhi dadanya. Alasan mereka berada di tempat itu tidak lagi penting.
Violet yang semula hendak meraih tangan Carlise justru langsung menangis begitu Ledian berlari menghampirinya dan memeluknya erat.
“Nona, ya ampun... Lihat wajah Nona. Bagaimana ini?”
Setelah Violet sedikit tenang, Meirra yang berdiri di samping Ledian berbicara kepadanya dengan lembut.
Cedric sejak tadi hanya diam menatap Violet. Ia tampaknya benar-benar terkejut dengan apa yang telah terjadi.
Carlisle yang sejak tadi hanya mengamati pertemuan mereka dalam diam akhirnya berkata dengan dingin, “Sudah waktunya kau berhenti memanjakannya, Meirra.”
“Nona masih kecil, Tuan Muda.”
Meirra menjawab dengan nada menentang.
Violet baru pertama kali melihat Meirra berbicara kepada Carlisle seperti itu.
“Sekalipun masih kecil, dia harus memahami akibat dari pilihan yang dibuatnya sendiri. Aku akan menunjukkan padanya.”
“Tuan Muda, jangan bilang...!”
Meirra berteriak.
“Bawa dia kemari.”
Para prajurit yang berdiri di belakang Carlisle langsung menjawab perintahnya.
Carlisle kemudian menarik Violet dari pelukan Meirra.
Violet memandang Ledian, meminta pertolongan lewat tatapannya. Namun, Ledian hanya menggigit bibir dan menghindari tatapannya.
Suasana yang tiba-tiba berubah membuat tubuh Violet gemetar ketakutan.
“Haruskah sampai seperti ini?” Meirra bertanya.
Carlisle menjawab, “Kau pasti tahu, terus ikut campur hanya akan membahayakan dirimu sendiri. Kalau kau memang ingin terlibat, berarti kau juga harus siap menanggung akibatnya.”
Mendengar itu, Meirra tidak mampu menjawab apa pun dan hanya menggigit bibir.
Aura mengintimidasi Carlisle membuat Ledian maupun Meirra tak sanggup berkata-kata lagi. Tuan Muda Pertama benar-benar sedang marah.
Violet dibawa pergi oleh Carlise, hampir seperti seorang tahanan yang hendak diadili.
Tempat yang mereka tuju adalah ruang audiensi di dalam kastel. Meskipun Violet sudah lebih dari sebulan tinggal di kastel ini, ia belum pernah sekalipun datang ke tempat tersebut.
Ruangan itu memiliki tata letak yang hampir sama dengan ruang audiensi tempat ia pernah menghadap Raja, hanya saja suasananya jauh lebih sederhana.
Di sepanjang karpet beludru biru yang terbentang di tengah ruangan, baju-baju zirah berjajar rapi.
Carlisle duduk di kursi yang lebih tinggi dari lantai utama.
Karena masih digandeng olehnya, Violet mau tak mau berdiri di samping Carlisle. Saat ia menoleh kepada Meirra, Meirra justru menghindari tatapannya dan menundukkan kepala.
Violet sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
“Kak.”
Ledian mencoba menghentikan Carlisle.
Tatapannya terus tertuju pada Violet yang tampak ketakutan dan gelisah.
“Lediam, diam dan lihat baik-baik. Cedric, kau juga perlu melihatnya.”
Cedric sejak tadi tidak mengatakan apa-apa.
Ketegangan yang lebih dingin daripada angin musim dingin menyelimuti mereka.
Di tengah keheningan itu, terdengar suara tangisan memohon.
Suara tersebut semakin lama semakin dekat, membuat tubuh Violet menegang.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tidak bisa.
Ia mengenal suara itu.
Tatapan Violet yang semula tertuju kepada Carlisle beralih ke arah datangnya suara.
Terdengar bunyi gemerincing baju zirah yang saling berbenturan, disusul erangan orang sakit, tangisan, lalu suara tendangan yang menghantam tubuh seseorang.
Bruk!
Mereka terjatuh dan berguling di lantai.
Entah mengapa, nenek yang selama ini dikatakan sedang sakit justru terbaring dengan wajah yang tampak sehat. Sementara itu, Dilan dan ibunya sendiri tersungkur di lantai dengan wajah penuh memar.
Semua orang mengalihkan pandangan ke arah mereka.
Bahkan Violet pun tidak bisa berpaling.
Dilan.
Orang yang begitu ia benci karena telah mengkhianatinya kini ada di sana.
Perasaan yang aneh muncul dalam diri Violet.
Ia berdiri di tempat yang lebih tinggi sambil memandang mereka dari atas. Namun, entah mengapa, ia merasa seolah-olah kini benar-benar bisa melakukan apa saja terhadap mereka.
Pada saat yang sama, Violet merasa takut melihat Carlisle yang duduk begitu santai di kursinya.
Ia seperti seorang raja.
Tidak.
Ia bahkan tampak lebih tinggi daripada Raja.
Meski wajahnya masih terlihat muda, tubuhnya yang besar membuat sosoknya jauh lebih mengintimidasi daripada orang-orang yang lebih tua di ruangan itu.
Untuk pertama kalinya, Violet benar-benar memahami mengapa orang-orang begitu takut kepada kaum bangsawan.
Hanya dengan duduk di kursi itu, seseorang bisa merenggut nyawa orang lain tanpa sedikit pun keraguan.
“Aku duduk di sini mewakili ayahku, Marquis Rivera. Angkat kepalamu.”
Carlisle berkata pelan kepada para tahanan yang masih menundukkan kepala. Mereka pun perlahan mengangkat wajah.
“T-Tolong ampuni kami. Tolong selamatkan kami, Tuan.”
“Mohon, tolong selamatkan kami.”
Permohonan mereka terdengar begitu menyedihkan hingga nyaris tidak menyisakan harga diri. Seharusnya pemandangan seperti itu mampu menggoyahkan hati seseorang, tetapi ekspresi Carlisle tetap dingin.
“Kalian telah menculik satu-satunya Saintess di negeri ini dan berusaha menjualnya ke negara lain.”
“B-Bukan begitu! Sungguh, bukan! Kami hanya dipaksa dan diancam oleh mereka!”
Ibu Dilan berteriak mati-matian.
Namun, Violet masih mengingat wajah wanita itu ketika tersenyum dan memujinya karena telah melakukan hal yang benar.
Lalu, mengapa sekarang ia berbohong?
Tidak, alasannya jelas.
Ia hanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.
Carlisle bahkan tidak membiarkannya menyelesaikan perkataannya.
“Saintess memiliki kewajiban suci untuk memusnahkan Abyss, dan tidak ada seorang pun selain dirinya yang dapat menjalankan kewajiban tersebut. Dengan berusaha menjual Saintess kepada Guzar, negara yang menjadi musuh kita, kalian telah mempertaruhkan keselamatan negeri ini. Bukankah begitu?”
“B-Bukan! Kami hanya diberi tahu bahwa dia akan diserahkan kepada Paus. Kami sama sekali tidak tahu soal itu. Kalau kami tahu, kami tidak akan pernah menyerahkannya. Sungguh!”
“Kalau kalian memang bebas menentukan sendiri apakah akan menyerahkannya atau tidak, berarti itu bukan ancaman, bukan?”
Mendengar itu, ibu Dilan langsung terdiam.
Keheningan dingin menyelimuti ruangan.
Carlisle tersenyum.
Selama ini, Violet mengira Carlise adalah orang yang hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi. Namun, ternyata ia cukup sering tersenyum.
Hanya saja, senyumnya selalu muncul dalam situasi seperti ini.
Ada sesuatu yang membuat senyumannya terasa mengerikan bagi siapa pun yang melihatnya.
“Kami telah memberi kalian kelonggaran setelah kalian menjadi korban para sisa gerombolan perampok. Kami bahkan menyediakan tempat tinggal dan memberi kalian pekerjaan agar kalian dapat menetap di sini.”
Carlisle berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara tenang.
“Namun, kalian justru menyelundupkan Saintess keluar dari kastel, membahayakan nyawanya, dan bahkan hampir membawa negeri ini menuju kehancuran.”
“Perbuatan seperti ini seharusnya dihukum berdasarkan hukum negara. Namun, ini adalah urusan wilayah Rivera.”
Tatapan Carlise menjadi semakin dingin.
“Aku tidak akan menyerahkan kalian kepada Kuil maupun kepada negara.”
Sambil berkata demikian, Carlise bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri mereka.
Violet sempat berpikir, Apakah dia akan mengampuni mereka?
Entah mengapa, ia merasa sedikit kecewa.
Kenapa mereka dibiarkan begitu saja?
Pikiran itu membuat Violet tersentak.
Saat ini, dirinya bukan lagi Violet si rakyat jelata.
Ia sedang memandang mereka dari atas, dari sudut pandang yang sama dengan Carlise.
“Te-Terima kasih! Terima kasih, Tuan!”
Mereka menundukkan kepala dengan penuh suka cita.
Violet sendiri masih berdiri terpaku, terkejut oleh pikirannya sendiri.
Mengapa ia merasa kecewa?
Bukankah seharusnya ia bersyukur jika mereka tidak dibunuh?
Saat itu, Violet melihat wajah Meirra yang tiba-tiba menjadi sangat serius. Jantungnya mulai berdegup kencang karena firasat buruk.
Dari sampingnya, terdengar suara Carlise.
“Aku dengar nenekmu sedang sakit. Lalu, mengapa sekarang dia terlihat begitu sehat?”
Mendengar pertanyaan itu, Dilan menjawab dengan tubuh gemetar.
“S-Saintess yang menolongnya. Nenekku sudah hampir meninggal, tetapi Saintess menyelamatkannya.”
Mendengar itu, orang-orang mulai berbisik.
Violet terkejut.
Aku? Aku yang melakukan itu?
Ia menatap telapak tangannya.
Selain bekas luka sayatan pisau, tangannya masih terlihat sama seperti biasanya.
Kalau dipikir-pikir, saat itu ia memang sempat menggenggam tangan wanita tua tersebut tanpa sadar. Selain itu, ia tidak melakukan apa pun.
Lalu, bagaimana mungkin?
Kemudian Violet teringat bahwa genggaman tangan wanita tua itu sempat menguat ketika ia memegang tangannya.
Jangan-jangan... tanpa kusadari, aku melakukan sesuatu?
Violet menyadari bahwa Carlise sedang menatapnya, lalu ia berkata.
“Sayang sekali. Padahal, nenekmu baru saja menerima anugerah Saintess.”
Carlisle mencabut pedangnya.
Kemudian, ia menusukkannya tepat ke jantung wanita tua yang sedang gemetar itu.
Wanita tua itu tewas tanpa sempat mengeluarkan suara sedikit pun.
Tubuhnya langsung terkulai.
Violet hampir menjerit.
“Sebagai wakil penguasa wilayah ini, aku menjatuhkan hukuman mati kepada kalian di tempat.”
Violet terpaku menatap pembunuhan yang terjadi di hadapannya.
Ia tidak bisa merasakan kenyataan dari apa yang baru saja terjadi.
Dilan terisak ketakutan sambil menatap tubuh neneknya yang tergeletak bersimbah darah.
Tatapan Violet bertemu dengan tatapan Dilan.
Dilan segera memanfaatkan kesempatan itu.
“Vi-Violet, tolong selamatkan aku! Kumohon, selamatkan aku!”
Violet menatap wajah Dilan yang penuh keputusasaan.
Itu adalah sebuah perjuangan.
Perjuangan sia-sia dan tak berdaya dari seseorang yang hanya ingin mempertahankan hidupnya beberapa menit lebih lama.
Violet memandanginya dengan tatapan kosong.
Lalu, ia menyadari sesuatu.
Dilan saat ini adalah dirinya di masa lalu, saat ia mengalami kejadian yang begitu mengerikan itu.
Sosok Dilan yang memohon agar para perampok mengampuninya bertumpuk dengan bayangan dirinya yang masih kecil, yang dulu juga memohon agar nyawanya diselamatkan.
Violet membenci Dilan karena telah mengkhianatinya.
Ia benar-benar tidak bisa memaafkannya.
Namun, bukan berarti ia ingin melihat Tommy mati.
Ia tahu betul bagaimana rasanya putus asa dan memohon demi mempertahankan hidup.
Violet pun berlari menuruni anak tangga.
“J-Jangan! Jangan, Tuan Mu—... Kak, jangan! Kumohon!”
Namun, meski Violet terus memohon, Carlisle tidak menurunkan pedangnya.
Bilah perak yang terangkat itu telah berlumuran darah dan berkilat tajam, seolah siap menebas leher mereka kapan saja.
Benar.
Carlisle tidak akan mengabulkan permintaan Violet.
Ia benar-benar berniat membunuh mereka.
“Kumohon. Ini salahku. Kumohon, tolong... Biarkan mereka hidup. Kumohon.”
Violet terus memohon.
Carlisle memandanginya tanpa ekspresi, lalu berkata, “Kau harus menyadari akibat dari pilihan yang telah kau buat.”
“Aku mengerti. Aku benar-benar sudah mengerti sekarang. Kumohon... tolong selamatkan mereka!”
Air mata menggenang di mata Violet lalu mengalir di pipinya.
Melihat Violet menangis seperti itu, siapa pun pasti akan merasa iba.
Namun, sejak awal Carlise tidak pernah benar-benar mengabulkan permohonannya.
Bahkan ketika ia mengusir pelayan yang sangat disayangi Violet, ia tetap tidak menghiraukan permintaannya.
“Kumohon... Kumohon!”
Seberapa pun besar kebenciannya, seberapa pun dalam pengkhianatan yang telah ia terima, Violet tetap tidak ingin Dilan mati.
“Dia satu-satunya teman yang kumiliki dari kampung halamanku. Kumohon.”
Ketika air mata Violet terus mengalir, gerakan Carlise terhenti sejenak.
Ekspresinya masih sulit dibaca, sehingga Violet tidak tahu mengapa ia berhenti.
Kalau harus menebak, mungkin Carlise tampak sedikit terkejut.
Namun, ia segera mengalihkan pandangan dari Violet.
“Sadari baik-baik kedudukanmu, Violet.”
Carlisle menyebut namanya dengan nada dingin.
Namun, Violet sama sekali tidak merasa senang mendengarnya.
“Selamatkan aku... Selamatkan aku!”
Teriakan putus asa seseorang yang berada di ambang kematian terdengar dari hadapannya.
Suara itu bertumpuk dengan suara ayahnya yang dulu berteriak sebelum meninggal.
Saat itu, ayahnya mengangkat pedang untuk menyingkirkan para perampok yang menindih ibunya, tetapi ia dengan mudah dilumpuhkan oleh mereka.
Ayahnya memohon agar nyawanya diselamatkan.
Selamatkan aku. Tolong, selamatkan aku!
Suara yang telah lama dilupakan Violet kembali bergema di dalam kepalanya.
Jantungnya berdetak keras.
Deg. Deg.
Carlisle mengangkat pedangnya yang masih berlumuran darah.
Lalu, ia mengayunkannya ke bawah.
Kilatan cahaya perak menyambar.
“Aaaah! Ibu!”
Jeritan Dilan menggema di telinga Violet.
Napasnya terasa sesak. Ia tidak bisa bernapas
-
Flashback
Hahaha.
Sebuah tawa terdengar.
Tawa rendah dan menjijikkan dari orang-orang yang baru saja melakukan pembunuhan memenuhi telinga Violet.
Tanpa sadar, Violet menerima sesuatu yang dilemparkan oleh salah seorang perampok, lalu menggenggamnya erat dengan kedua tangan.
“Lihat ekspresinya. Hahaha.”
Violet tidak tahu apa yang ada di tangannya.
Benda itu terasa hangat.
Bentuknya bulat dan, entah mengapa, terasa sedikit familier. Namun, di saat yang sama, tidak ada sesuatu yang lebih asing daripada benda itu.
Tekstur bulu yang kasar.
Permukaan yang terasa lunak.
Apa ini?
Gadis kecil itu menatap benda yang digenggamnya.
Yang terlihat adalah segumpal rambut berwarna cokelat.
Violet kecil membalik benda itu.
“Lihat, dia menggenggam kepala ayahnya seperti sedang memegang bola. Mau menendangnya juga, Nak?”
Ayahnya—
Tidak.
Kepala ayahnya menatapnya dengan mata melotot.
“Kyaaaaaaa!”
Saat itu, Violet kecil menjerit dan pingsan.
-
Namun, Violet yang sekarang tidak menjerit dengan cara menyedihkan seperti dulu.
Ia bahkan tidak mampu berkedip.
Kepala seorang wanita yang tertebas hanya dengan satu ayunan pedang menggelinding ke arahnya.
Mata wanita itu masih terbuka lebar, tetapi tatapannya kosong.
Meski begitu, entah mengapa Violet merasa seolah-olah wanita itu sedang menatapnya dengan penuh kebencian.
Wajah itu begitu mirip dengan wajah ayahnya.
Darah merah membasahi beludru biru.
Teriakan Dilan perlahan terdengar semakin jauh.