NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARUDEYA

Suasana transisi kekuasaan di Singhasari tidak pernah berjalan mulus. Baru beberapa minggu Anusapati menduduki singgasana sebagai raja kedua, sisa-sisa loyalis garis keras Ken Arok yang mencium aroma kejanggalan mulai bergerak dalam gelap.

Malam itu, saat Anusapati tengah berjalan melintasi koridor sepi keputren didampingi oleh Sena yang kini sering berada di istana atas dalih pemulihan dan urusan padepoka, merasakan bahaya mendadak datang menyergap.

Tiga orang bayangan berpakaian serba hitam melompat dari atas balok atap, menghunus bilik golok tajam langsung mengarah ke leher Anusapati. Sang raja baru yang belum sepenuhnya matang dalam olah kanuragan mendadak membeku, matanya membelalak ngeri melihat maut datang sepenggal detik di depannya.

Namun, reaksi Sena berada di level yang berbeda.

Tanpa membuang waktu, Sena merapal Ajian Saipi Angin. Tubuhnya melesat bagai bayangan kilat, menepis tebasan pertama dengan lengan yang dilapisi Lembu Sekilan, lalu dalam satu putaran balik, Sena melepaskan hantaman Brajamusti ke dada penyerang pertama hingga tewas seketika di tempat. Dua penyerang lainnya yang terkejut mencoba berbalik menyerang, namun dalam hitungan detik, Sena melumpuhkan kaki mereka dengan tendangan berkecepatan tinggi, membuat kedua pembunuh itu tersungkur tak berdaya.

Kesunyian kembali mencekam koridor istana. Para pengawal baru berdatangan dengan obor, mendapati Sena berdiri tegak dengan napas teratur, melindungi sang raja yang masih mematung karena shock.

Berkat aksi heroik penyelamatan kilat itu, Anusapati tidak menyia-nyiakan kesempatan. Keesokan harinya, di hadapan para punggawa istana, Anusapati secara resmi mengangkat Sena sebagai "pengawal pribadi raja", memberikan kekuasaan mutlak bagi pemuda itu untuk berdiri di samping singgasananya setiap detik.

Berita tentang percobaan pembunuhan yang gagal itu langsung sampai ke telinga Ken Dedes. Sang ibu suri yang masih berduka atas kematian Ken Arok kini kembali dilanda ketakutan luar biasa memikirkan keselamatan anak-anaknya yang lain.

Ken Dedes memanggil Anusapati ke ruang pribadinya. Di sana, sang pangeran yang kini telah bergelar raja datang ditemani oleh Sena yang berjaga di ambang pintu luar.

"Anusapati... apa yang sebenarnya terjadi?" suara Ken Dedes bergetar, air matanya meleleh membasahi pipinya. "Ayahmu baru saja pergi dengan cara yang mengenaskan, dan sekarang nyawamu pun mulai diincar.

Sampai kapan pertumpahan darah ini akan berhenti di istana kita?"

Anusapati menatap ibunya dengan tatapan sendu namun menyembunyikan ketegasan baja. Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di hadapan Ken Dedes, menggenggam tangan ibunya yang gemetar.

"Ibu... jangan takut," ucap Anusapati pelan.

"Aku melakukan semua ini bukan karena haus kekuasaan. Aku hanya sedang membebaskan Ibu."

Ken Dedes mengerutkan keningnya, bingung. "Membebaskan Ibu? Apa maksudmu, nak?"

Dengan suara berbisik yang sarat akan makna, Anusapati mengangkat wajahnya menatap sang ibu dalam.

"Ibu ingat cerita legenda "Garudeya" Kisah tentang burung Garuda yang berjuang setengah mati membebaskan ibunya dari cengkeraman naga penguasa yang kejam."

Anusapati menarik napas dalam-dalam. "Ayah... mendiang Ken Arok, adalah naga yang mencengkeram kebebasan Ibu di masa lalu. Ia merebut Ibu dengan darah dan merantai hidup Ibu dalam ketakutan.

Kematiannya, dan takhta yang kududuki sekarang... adalah bentuk pembebasan Garuda. Ibu sudah bebas dari cengkeraman naga itu."

Alih-alih merasa tenang atau tersenyum mendengar perumpamaan agung tersebut, wajah Ken Dedes justru semakin pucat. Tubuhnya merosot lemas. Isak tangisnya pecah bukan karena kelegaan, melainkan duka yang berkali-kali lipat menghujam hatinya.

"Bodoh... anakku yang bodoh..." ratap Ken Dedes sambil mendekap kepala Anusapati dengan tangan gemetar. "Kau pikir dengan menumpas sang naga, penderitaan ini selesai? Kau tidak tahu... kutukan apa yang sedang kau pikul di pundakmu..."

Di ambang pintu, Sena menyandarkan bahunya pada dinding kayu. Ia melipat tangan di dada, memejamkan mata sesaat mendengar ratapan sang ibu suri. Sang Garuda telah terbang memaksa keluar dari sarang, namun sayapnya kini telah bersiap menyambut badai darah babak berikutnya.

 

Malam semakin larut di ruang kerja pribadi raja. Setelah kepergian Ken Dedes yang meninggalkan isak tangis dan rasa ngeri akan kutukan masa lalu, Anusapati dan Sena kembali fokus pada stabilitas kerajaan yang baru seumur jagung.

Anusapati menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Sisa-sisa loyalis Ken Arok memang sudah mulai dibersihkan, tapi para saudaraku Tohjaya dan yang lainnya mulai gelisah. Mereka punya pengaruh, dan tinggal di istana yang sama, hanya masalah waktu untuk kudeta."

Sena, yang berdiri tegak di samping meja kerja raja, memberikan analisis dinginnya.

"Jangan biarkan mereka tinggal di ibu kota," saran Sena tenang. "Berikan mereka wilayah kekuasaan sendiri di daerah-daerah terpencil yang strategis tapi jauh dari pusat pemerintahan. Pecah konsentrasi kekuatan mereka, beri mereka otonomi terbatas, dan beri gelar adipati.

Dengan begitu, mereka sibuk mengurus wilayah masing-masing dan tidak punya waktu atau alasan untuk menggoyang takhtamu."

Anusapati menatap Sena dengan tatapan lelah, lalu mengangguk setuju. "Ide bagus. Aku akan mempertimbangkannya dan menyusun pembagian wilayah itu secepatnya."

Namun, sebelum Anusapati sempat membahas strategi pembagian wilayah para pangeran lebih jauh, ekspresi wajah sang raja tiba-tiba berubah masam. Aura wibawa seorang penguasa mendadak runtuh, digantikan oleh rasa pusing yang teramat sangat. Ia menatap Sena dengan pandangan memelas.

"Tapi, urusan negara itu harus ditunda sebentar," ucap Anusapati dengan nada frustrasi. "Ada satu masalah yang jauh lebih mendesak dan membuatku hampir gila setiap hari."

Sena mengangkat alisnya sebelah, penasaran. "Masalah apa yang bisa membuat seorang Raja Singhasari jadi hampir gila?"

Anusapati mendengus kasar. "Siapa lagi kalau bukan adik kesayangan kita, Dewi Rimbu."

Sena langsung terdiam, matanya sedikit menyipit.

"Sejak kembali dari Panawijen, kerjanya tiap hari merengek terus menemui ku," lanjut Anusapati mengeluh. "Dia menangis, mengancam mau mogok makan, merusak barang-barang di keputren, hanya karena satu tuntutan: dia minta secepatnya dinikahkan denganmu. Dia bilang kau adalah pahlawan penyelamatnya dan dia tidak mau tahu, dia mau menjadi istrimu."

Anusapati menatap tajam ke arah Sena, setengah bercanda setengah mengancam.

"Dia terus mendesak ku sebagai kakaknya untuk merestui dan mencarikan tanggal baik.

Jadi, dengar baik-baik, Sena... selesaikan dulu urusan adikku ini. Kita cari hari baik untuk pernikahan kalian secepatnya, buat dia bahagia, baru setelah itu aku akan mengirim para pangeran keluar dari ibu kota agar istana ini tenang dari segala drama!"

Sena, sang ksatria dingin yang biasa memperhitungkan setiap langkah maut dan pergerakan musuh dengan akurat, untuk pertama kalinya tampak kehilangan kata-kata. Otak modernnya mendadak kebingungan.

"Gila" batin Sena, "Mau bagaimana lagi, kalau ini yang terbaik yasudah" Sena hanya pasrah menerima takdirnya.

1
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!