NovelToon NovelToon
The Path To Godhood

The Path To Godhood

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: Made Budiarsa

Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?

Ikuti perjalanannya yang memegangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemampuan Nona Xie

Segera tubuhnya ditarik ke depan dan didorong kasar. Ia terjatuh, dagu dan perutnya menghantam bebatuan yang keras di bawah. Xuan Han memejamkan matanya sebentar. Ini terasa sedikit sakit, dan mungkin karena tubuhnya jauh lebih kuat, ia tidak terlalu menderita karenanya.

Beberapa anak panahnya terjatuh dari Quiver-nya. Ia segera bangun mengambilnya, sementara Wang Hao menyeringai dan tidak ada jejak kasihan di wajahnya. Sementara Meng Chahua menatapnya, memperhatikan caranya memungut seluruh anak panah. Tatapannya seperti memikirkan sesuatu yang penting dan mengingat semua kejadian.

Xuan Han segera berdiri.

Sebenarnya, ia ingin melawan dan pergi dari sini, namun baginya itu adalah tindakan nekat untuk kabur. Lalu mungkin saja ia akan segera mati jika melakukannya. Tiga orang di belakangnya ini benar-benar kuat dan ia tak bisa melakukan apa-apa. Lagipula, ia juga tidak punya apa pun yang bisa ditawarkan untuk mereka. Sehingga ia menghela napas sembari menatap gua gelap di depannya.

Ia ingin melangkah, namun segera seseorang melangkah ke sampingnya sembari membawa aroma wangi. Xuan Han mencium aroma ini dan menoleh.

Di sampingnya Meng Chahua yang dingin berada. Itu mengejutkan Xuan Han dan membuat dua orang di belakangnya penasaran.

Meng Chahua berkata, “Ayo kita pergi.”

Ia mulai melangkah dan begitu pun Xuan Han.

Sepertinya waktu berlalu begitu lama selama melewati kolam itu, sehingga tidak lama perut Xuan Han berbunyi membuatnya malu. Wang Hao segera mencibir, Nona Xie mendengus.

Xuan Han tidak tahu harus melakukan apa, namun segera Meng Chahua melemparkannya sebuah buah dan menyuruhnya makan. Pemuda itu berterima kasih lalu mulai berjalan lagi. Buah jeruk yang di simpannya entah kemana perginya.

Semakin lama mereka berjalan, suhunya terasa jauh lebih dingin dan lembap. Beberapa serangga menjijikkan muncul dari sela-sela batu. Tidak ada kelabang yang muncul, namun beberapa ular mendesis dan segera menyerang ketika bertemu mereka. Xuan Han selalu waspada dan menyiagakan pedangnya. Sementara tiga orang yang bersamanya dengan mudah melewati itu semua.

Beberapa ular akhirnya terbunuh selama perjalanan itu, tidak ada yang dibunuh oleh Xuan Han; mereka semua dibunuh oleh tiga orang bersamanya dengan mudah tanpa melihatnya atau merasa terganggu. Ular-ular malang yang impulsif itu harus mati mengenaskan.

Akhirnya mereka tiba di sebuah gerbang besar dengan relief seorang wanita yang melayang-layang. Kedua kakinya dengan lembut terayun dalam balutan kain, sementara tubuhnya sedikit melengkung ke samping. Rambutnya seperti akar-akar pohon kecil yang merambat dengan berbagai bunga yang mekar di atasnya. Bulan besar bersinar di belakangnya dan wanita itu menoleh ke samping, sementara banyak selendang yang melayang-layang di sekitarnya. Itu terlihat megah, kuno, dan memancarkan aura suci. Mungkin karena lembap, banyak lumut-lumut hijau tumbuh di seluruh tubuhnya, tapi karena itu, ia terlihat jauh lebih baik.

Xuan Han tanpa sadar mendongak dan berkata, “Wah.” Ia diam mengamatinya dan tidak menyangka ada gerbang besar seperti ini di tengah gua. Siapa yang membangunnya? Butuh berapa banyak orang? Ia jadi ingat tentang percakapannya dengan Xiao Meimei. Mungkinkah inilah hasil tukang kultivasi? Seberapa dalam dan kuat orang yang melakukannya? Bisakah manusia fana sepertinya bisa melakukannya? Pasti butuh banyak orang untuk mengerjakannya dan itu pasti sangat mahal.

Sementara Meng Chahua memiliki tatapan yang tenang. Ia hanya menatapnya sebentar lalu berkata, “Sepertinya apa yang kita duga benar.”

Wang Hao tersenyum lalu tertawa bahagia. “Nona Meng, sepertinya gua ini salah satu tempat meditasi yang mulia tuan putri. Kita harus cepat membukanya.”

Tanpa menunggu jawaban, Wang Hao mengangkat pedangnya. Qi kuning meledak dari dalam tubuhnya dan segera angin berembus kencang. Cahaya kuning melesat ke langit.

Xuan Han ingat jurus ini dan ia segera berhati-hati.

Menyeringai, ia segera mengayunkannya ke bawah. Dinding-dinding gua bergetar dan beberapa batu berjatuhan.

Menggertakkan giginya, ia mengayunkannya dengan cepat ke bawah.

Ledakan!!

Cahaya itu menyebar setelah bersentuhan dengan gerbang. Batu-batu berjatuhan dan riak angin menyebar, membuat Xuan Han mundur. Dadanya terasa ditekan.

Perlahan-lahan cahaya kuning itu menghilang. Wang Hao ingin tersenyum, namun segera tertahan ketika melihat gerbang itu masih berdiri kokoh. Ekspresinya jadi jelek dan ia segera menyentuh cincin penyimpanannya. Segera lima pedang terbang muncul dan melesat ke depan.

Ketika mendekati gerbang itu, lima pedang itu seperti menghantam sesuatu yang sangat keras, hingga muncul retakan lalu hancur menjadi beberapa kepingan. Wang Hao menggertakkan giginya. Ia mengambil beberapa langkah ke depan dan segera melesat ke arah gerbang itu. Mengepalkan tangannya, segera tinjunya menyentuh sesuatu yang tidak terlihat dan langsung berhenti. Ledakan kembali muncul. Wang Hao berteriak, memaksa seluruh Qi di tubuhnya, namun tidak membuahkan hasil. Segera ia melesat kembali. Napasnya memburu dan beberapa keringat bermunculan di pelipisnya. Ia menatap Meng Chahua dan Nona Xie. “Apa yang kalian tunggu? Cepat bantu aku membukanya!”

Nona Xie mendengus, tapi segera melangkah ke depan. Mengulurkan satu tangannya, segera selendang merah panjang melesat, lalu berhenti beberapa meter di depannya dan berputar-putar seperti ular yang melilit tubuhnya. Selendang itu terus bergerak memutar dan menyelinap ke segala arah, membentuk rajutan bola yang semakin lama semakin besar.

Kemudian di satu tangannya muncul sebuah pedang putih indah. Nona Xie hanya melemparnya dengan tenang, dan segera pedang itu melesat lalu berhenti vertikal di tengah-tengah selendang yang terus bergerak-gerak.

Ketika Nona Xie berkata, "Bungkus," segera ujung selendang yang bergerak pelan itu tiba-tiba berhenti dan bergerak cepat melilit pedang itu, menyelimutinya seperti mumi, dan perlahan-lahan muncul sebuah pedang yang diselimuti selendang. Pedang itu semakin lama semakin membesar dan terus membesar.

Pada akhirnya itu memiliki panjang 10 meter dengan lebar satu telapak tangan orang dewasa.

Nona Xie bilang, "Hancur." Segera pedang itu terbang horizontal dengan ujung mengarah ke gerbang dan langsung melesat.

Bommm!

Pedang itu berhenti setelah menabrak sesuatu. Itu terus berusaha menghancurkan sesuatu yang menghalanginya, namun tidak lama muncul retakan-retakan dan perlahan-lahan melambat.

Melihatnya, Nona Xie perlahan-lahan mengulurkan tangannya dan merentangkan kelima jarinya. Segera dorongan pedang itu semakin kuat. Retakan-retakan bermunculan lalu akhirnya banyak retakan yang muncul.

Nona Xie perlahan-lahan mengepalkan tangannya.

Ketika kepalan tangannya berhasil, segera pedang itu meledak. Cahaya merah muda menyebar dengan potongan-potongan selendangnya. Itu seperti ribuan kertas yang dilontarkan ketika seseorang ulang tahun.

Tapi Nona Xie segera memutar kedua tangannya di depan dada lalu menyatukan kedua ibu jari dan jari telunjuk membentuk segitiga atau gunung. Segera potongan-potongan selendang itu berhenti di udara, sedikit bergetar lalu melesat ke arah gerbang. Ada ratusan potongan selendang dan itu tiba-tiba berubah menjadi pedang. Semua melesat ke arah gerbang.

Xuan Han terbelalak. Meng Chahua sedikit tergerak dan Wang Hao menggerakkan sedikit sudut bibirnya.

Namun meski demikian, segera ratusan pedang itu hancur berkeping-keping dan serpihannya melesat ke segala arah. Xuan Han segera berlarian mundur untuk berlindung.

Suara hancur dan bagaimana seluruh pedang itu secara bersamaan menyentuh sesuatu yang tidak terlihat itu seperti seluruh butiran hujan serempak terjatuh dan mengenai sesuatu. Itu terlihat mengagumkan.

1
Pena Quality
saling support
Budiarsa: Terima kasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!