NovelToon NovelToon
THE QUEEN'S RETURN

THE QUEEN'S RETURN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19. Cumbu dalam Gelap

Dominic tidak menjawab pertanyaan Clarissa di lorong utama. Pria itu justru meraih pergelangan tangan istrinya dengan cengkeraman tegap, lalu menariknya melangkah lebar menuju kamar utama di lantai atas.

Pintu kayu tebal bergaung keras saat Dominic membanting dan menguncinya dari dalam.

Clarissa terdorong pelan hingga punggungnya menyentuh permukaan pintu kayu yang dingin.

Namun, bukannya panik, Clarissa justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memikat. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Dominic yang kini mengurung tubuhnya dengan kedua lengan kekar yang bertumpu pada pintu.

"Kasar sekali, Suamiku," tutur Clarissa dengan suara yang mengalun amat lembut, seolah tak terpengaruh oleh atmosfer mengintimidasi yang dipancarkan pria di hadapannya.

"Apakah begini cara seorang penerus Pratama Group menyambut istrinya yang baru saja membersihkan benalu di rumahnya?"

Napas Dominic berhembus berat, sangat panas, dan memburu tepat di atas kening Clarissa.

Tatapan matanya yang memerah membara menelusuri setiap inci wajah cantik di bawahnya—mulai dari sepasang mata jernih yang memancarkan binar keemasan, turun ke leher jenjangnya yang mulus, hingga berakhir pada bibir merah marun yang menyunggingkan ejekan mematikan.

"Siapa kau sebenarnya, Clarissa?" bisik Dominic rendah, suaranya serak dan sarat akan ancaman yang berbahaya.

"Clarissa yang kukenal tidak memiliki pandangan mata sedingin ini. Dia tidak sanggup memutarbalikkan skandal hotel, menumbangkan Helena, dan mematahkan Bibi Sarah dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."

Jemari tegap Dominic naik, menangkup dagu Clarissa dengan penekanan yang kuat, lalu secara perlahan menyusuri leher halus wanita itu hingga jemarinya menyusup di balik kerah gaunnya.

"Katakan padaku... di mana istriku yang penurut itu?"

Clarissa terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang bergema indah di dalam kamar yang sunyi. Ia tidak mencoba melarikan diri. Sebaliknya, ia menatap lurus ke dalam manik mata pria itu tanpa kedip.

"Istrimu yang penurut dan ringkih itu... sudah mati di malam kalian membiarkannya sendirian dalam keputusasaan, Dominic," jawab Clarissa dengan nada suara yang turun satu oktaf, teramat dingin, sensual, dan tajam.

"Yang berdiri di depanmu sekarang adalah Clarissa yang baru. Wanita yang tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menjadikan dirinya sebagai mangsa."

Dominic membeku sejenak. Kalimat itu menghantam dadanya dengan rasa bersalah yang asing, namun di saat yang sama, gairah dan kekaguman gila justru makin meledak memadati kepalanya.

Wanita di depannya ini teramat sangat memikat—seorang Ratu berdarah dingin yang siap menelan siapa saja yang berani mengusiknya.

"Kalau begitu..." Dominic mencondongkan tubuhnya makin rapat, mengikis seluruh jarak hingga dada tegapnya menempel pas pada dada Clarissa.

Srett.

Dengan satu gerakan kasar penuh gairah, Dominic melepaskan jubah hitam Clarissa hingga terhempas ke lantai.

Tangan tegapnya merayap masuk ke pinggang gaun sutra marun wanita itu, meremas lekuk tubuhnya dengan dominasi mutlak dan menarik pinggul Clarissa menempel tanpa jarak pada reaksi fisiknya yang sudah menegang sempurna, keras, dan meronta di balik celana bahannya.

Clarissa sanggup merasakan dengan sangat jelas betapa besarnya gairah gila yang telah ditahan pria itu sepanjang hari.

Sebelum Clarissa sempat bersuara, Dominic menunduk dan mengunci bibir merah istrinya dalam sebuah ciuman yang liar, dalam, dan penuh penuntutan.

Ciuman itu tidak lagi berisi kebingungan seperti semalam, melainkan sebuah klaim dominasi dari seorang pria yang telah kehilangan akal sehatnya.

Dominic melumat bibir bawah Clarissa, memperdalam pagutan panasnya, sementara lidahnya menerobos masuk menguasai rongga mulut istrinya tanpa ampun.

Tangan tegap Dominic merayap naik, mencengkeram erat tengkuk Clarissa, sementara tangannya yang lain melingkar di pinggul, menekan paha bagian dalam wanita itu agar kian rapat menyatu dengan keperkasaannya.

"Emmmh..." erangan halus dan pasrah lolos dari tenggorokan Clarissa saat Dominic menyesap bibirnya kian dalam, menyebarkan rasa panas yang menjalar liar ke seluruh seluk-beluk tubuhnya.

Namun, naluri seorang penguasa di dalam diri Clarissa menolak untuk sekadar menjadi pihak yang ditaklukkan.

Di tengah leburan ciuman yang memabukkan dan gesekan panas tubuh mereka, Clarissa menggegam kerah kemeja Dominic.

Bukannya mendorong pria itu menjauh, ia justru membalas ciuman panas itu dengan gigitan halus yang sensual di bibir bawah Dominic—membuat pria itu mengerang rendah dan tertahan di tengah peraduan napas mereka.

Srett!

Clarissa memanfaatkan momen lengah Dominic saat pria itu terbuai. Jemari lentiknya merayap dari dada tegap Dominic, menyusuri deretan kancing kemeja pria itu hingga ke sabuk kulitnya, lalu dengan satu dorongan terukur dan cengkeraman kuat pada pinggang Dominic, ia membalikkan posisi mereka secara instan!

Brak.

Kini, punggung tegap Dominic yang terdorong menempel erat pada pintu kayu, sementara Clarissa berdiri tegak di hadapannya, mengurung pria itu dengan paha mulusnya yang menyelip di antara kedua kaki Dominic.

Napas mereka berdua terengah-engah, memburu penuh dahaga dalam jarak yang teramat dekat.

Clarissa menyapu bibirnya sendiri yang sedikit basah dan memerah akibat lumatan Dominic dengan ujung jarinya. Binar keemasan di matanya memancarkan gairah yang mematikan sekaligus dominasi yang tak tersentuh.

Dengan gerakan lambat yang sangat menyiksa, Clarissa menunduk sedikit, menyapukan bibirnya di sepanjang garis rahang Dominic hingga ke leher pria itu, memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat Dominic memejamkan mata dan mengetatkan otot perutnya, menahan hasrat membara yang makin memuncak.

Jemari lentik Clarissa bergerak perlahan di atas benjolan keras di balik celana Dominic, menekan dan mengelusnya lembut dari luar fabric, membuat napas Dominic terhenti seketika dengan geraman serak yang teramat sangat ketat.

"Clarissa... damn it," desis Dominic dengan suara serak yang berat, matanya memerah penuh rasa dahaga. Tangannya dengan cepat mencengkeram paha mulus Clarissa, berniat mengangkat tubuh wanita itu ke pinggangnya.

Namun, Clarissa menahan pergelangan tangan Dominic dengan cengkeraman anggunnya. Ia menarik diri sedikit, menatap Dominic dari atas dengan senyuman Ratu yang paling memikat sekaligus menyiksa.

"Jangan terburu-buru, Dominic Sayang," bisik Clarissa dengan nada menggoda yang amat sangat menyengat, sementara jemarinya masih memberikan tekanan halus pada pusat gairah pria itu.

"Kau pikir kau bisa mengambil kendali dan menikmati tubuhku begitu saja hanya dengan satu ciuman panas?"

Dominic menatap istrinya dengan rahang terkatup rapat, dadanya naik turun memburu.

"Clarissa... kau benar-benar memancing singa yang salah."

"Nanti malam," potong Clarissa manis, menarik jemarinya dari selangkangan Dominic lalu menepuk dada tegap pria itu dengan ujung telunjuknya.

"Tunjukkan padaku sejauh mana Tuan Dominic Pratama yang terhormat sanggup berlutut dan memohon di bawah kakiku. Sekarang... aku ada janji penting dengan pengacara klan."

Clarissa menyunggingkan senyuman kemenangan, merapikan gaun sutra marunnya yang sedikit tersingkap, lalu melangkah anggun menuju pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam—meninggalkan Dominic sendirian yang bersandar di pintu dengan napas memburu, rahang mengetat, dan gairah gila yang kian membakar tubuhnya hingga hampir meledak.

1
Anonim
Lanjutkan
Anonim
Teruskan
atulyaas
semangatt kakk, ditunggu updatenya yaaaa
sangat menarik sekali
Annida Annida
bagus , lanjut tor
nilim
akhirnya up jugaa aku tunggu kamuu kaa 😍, semangat ya kak 🫰
Senja_Puan: Waaah terima kasih kak😍
total 1 replies
nilim
BAGUSS UPP TERUSS😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!