Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Ancaman di Tengah Malam
Malam menyelimuti desa dengan udara yang dingin. Setelah makan malam bersama, Aluna membantu Nenek Ratih membereskan dapur. Meski berusaha terlihat tenang, pikirannya masih dipenuhi berbagai kejadian beberapa hari terakhir. Semakin banyak orang asing yang muncul, semakin besar rasa penasarannya tentang masa lalunya.
"Nek, sebaiknya malam ini Nenek istirahat lebih awal," ucap Aluna.
Ratih tersenyum lembut.
"Kamu juga jangan terlalu banyak berpikir."
Aluna mengangguk, tetapi hatinya tetap gelisah.
Sementara itu, tidak jauh dari rumah mereka, dua pria berpakaian hitam mengawasi dari balik pepohonan.
"Bos benar. Wanita tua itu masih hidup."
"Sekarang bagaimana?"
"Tunggu sampai lampu rumah padam."
Mereka terus mengamati tanpa menyadari bahwa beberapa orang kepercayaan Arsen juga sedang mengawasi dari arah yang berbeda.
Di kantor Mahardika Group, Arsen belum pulang meski waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Rangga masuk membawa laporan terbaru.
"Pak, orang-orang kita melihat dua pria mencurigakan di sekitar rumah Nona Aluna."
Arsen langsung berdiri.
"Hubungi mereka. Jangan bertindak gegabah, tapi pastikan Ratih dan Aluna tetap aman."
"Baik, Pak."
Arsen mengambil kunci mobilnya.
"Aku juga akan ke sana."
Di rumah keluarga Prasetya, Damar masih meneliti kembali salinan data lama yang berhasil diperoleh Surya.
Semakin ia membaca, semakin besar keyakinannya bahwa Aluna memiliki hubungan dengan keluarganya.
Surya masuk dengan wajah serius.
"Tuan, ada kabar buruk."
"Apa lagi?"
"Victor mulai bergerak."
Damar mengepalkan tangan.
"Kalau benar dia terlibat, berarti Aluna benar-benar dalam bahaya."
"Perlu saya kirim orang untuk melindunginya?"
Damar mengangguk tanpa ragu.
"Segera."
Menjelang tengah malam, seluruh lampu rumah Ratih telah dimatikan.
Aluna sudah tertidur di kamarnya, sementara Ratih masih berdoa sebelum beristirahat.
Di luar rumah, dua pria berpakaian hitam mulai mendekat.
Salah seorang dari mereka mengeluarkan sebotol cairan berbau menyengat.
"Kita buat seolah-olah kecelakaan."
Saat pria itu hendak menyiramkan cairan ke dinding rumah, tiba-tiba terdengar suara tegas.
"Jangan bergerak!"
Beberapa pengawal Arsen keluar dari tempat persembunyian mereka.
Kedua pria itu terkejut lalu mencoba melarikan diri.
Kejar-kejaran pun terjadi di jalan desa yang gelap.
Tak lama kemudian, Arsen dan Rangga tiba di lokasi.
"Apa mereka tertangkap?" tanya Arsen.
"Yang satu berhasil kabur, Pak. Tapi yang satu lagi berhasil kami amankan."
Pria yang tertangkap berusaha melepaskan diri.
"Aku tidak tahu apa-apa!"
Arsen menatapnya tajam.
"Siapa yang menyuruhmu?"
Pria itu tetap diam.
Rangga menemukan sebuah ponsel di saku jaketnya.
Saat dinyalakan, muncul pesan terakhir yang membuat semua orang terdiam.
"Pastikan wanita tua itu tidak sempat bicara."
Arsen mengepalkan tangan.
"Mereka benar-benar ingin membungkam Ratih."
Suara keributan membuat Aluna dan Ratih keluar dari rumah.
"Ada apa?" tanya Aluna panik.
Arsen segera menenangkan mereka.
"Tenang, kalian selamat."
Ratih melihat pria yang ditangkap itu dengan wajah pucat.
"Aku pernah melihat wajahnya..."
Semua orang langsung menoleh.
"Di mana, Nek?" tanya Arsen.
Ratih menutup matanya, berusaha mengingat.
"Delapan belas tahun yang lalu... dia ada di malam ketika seseorang menitipkan Aluna kepadaku."
Ucapan itu membuat suasana menjadi sunyi.
Pria yang ditangkap langsung terlihat gugup.
Ia sadar rahasia yang selama ini disembunyikan perlahan mulai terbongkar.
Sementara itu, di sebuah gudang tua, Victor menerima kabar bahwa salah satu anak buahnya telah tertangkap.
Wajahnya berubah dingin.
"Kalau dia sampai bicara..."
Victor mengambil sebuah pistol dari dalam laci meja.
"...maka dia tidak boleh hidup sampai besok pagi."
Di saat yang sama, pria yang ditangkap itu belum menyadari bahwa nyawanya kini juga menjadi target. Rahasia besar tentang Aluna semakin dekat untuk terungkap, tetapi semakin banyak pula nyawa yang berada dalam bahaya.