NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19 | Sesi Konsultasi (++)

Aura di dalam ruang konseling milik Rellunae Keller masih terasa begitu berat dan sarat akan ketegangan pasca pertengkaran hebat mereka dengan Xabiru di koridor tadi.

​Luna menghela napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang masih belum beraturan. Ia sengaja mengabaikan keberadaan Orion yang sudah duduk santai di sofa. Untuk mengalihkan pikirannya yang kacau dan menghindari tatapan mata abu-abu pria itu, Luna memutar tubuhnya menuju lemari kayu besar di sudut ruangan tempat penyimpanan berkas rekam medis pasien.

Luna bertekad menjaga jarak dan kembali bersikap profesional sepenuhnya. Ia menjinjitkan kakinya sedikit, memajukan tubuhnya ke arah lemari untuk meraih map tebal berisi rekam medis Orion di rak bagian atas.

​"Saya mau kita fokus evaluasi sesi hari ini, Orion. Jangan bahas hal konyol lagi," ujar Luna tegas tanpa menoleh, jemarinya meraba tepi map.

Namun, sebelum jemari Luna sempat menarik map tersebut, sebuah bayangan tegap mendadak mengurung tubuhnya dari belakang.

​Srett.

​Aroma maskulin bercampur sabun antiseptik yang sangat familier menyeruak masuk ke indra penciuman Luna dalam sekejap. Dua lengan kokoh berbalut kaus hitam melingkar mulus di pinggang Luna, menarik tubuh kecil wanita itu tanpa ampun hingga punggungnya menempel rapat pada dada bidang Orion.

Luna tersentak kaku, napasnya tercekat di tenggorokan. "O-Orion?!"

​Orion menyandarkan dagunya dengan santai di bahu kiri Luna, menenggelamkan wajahnya di sela-sela leher dan bahu wanita itu. Napas hangatnya menyapu kulit leher Luna yang tertutup plester, membuat bulu kuduk Luna meremang seketika.

​"Lepasin, Orion! Kamu apa-apaan, sih?!" geram Luna setengah berbisik, tangannya refleks mencengkeram lengan Orion di pinggangnya, berusaha melepas kuncian itu. "Ini ruang konseling!"

Bukannya melepaskan, Orion justru makin mempererat dekapannya. Ia menghirup wangi rambut Luna dalam-dalam, memejamkan matanya seolah menemukan ketenangan yang luar biasa di sana.

​"Biarkan begini sebentar, Nanae..." bisik Orion rendah, suaranya terdengar amat serak dan bervibrasi tepat di telinga Luna. "Selama sesi konsul ini... aku cuma ingin memelukmu."

​"Orion, ini melanggar batasan medis!" seru Luna panik, meronta lebih kuat. Namun kekuatan fisik Orion jelas jauh berada di atasnya. "Turunkan tanganmu sekarang atau saya panggil petugas keamanan!"

​"Panggil saja," sahut Orion santai tanpa beban sedikit pun. Tangannya yang terkunci di pinggang Luna justru bergerak naik sedikit, meremas lembut pinggang wanita itu melewati kain jubah putihnya. "Tapi begitu mereka masuk dan melihat kita menempel seperti ini... kira-kira apa yang akan dipikirkan kakak polisimu itu kalau sampai tau?"

Luna membeku mendengarnya. Nama Xabiru langsung berputar di kepalanya bagaikan alarm bahaya. ​Orion terkekeh pelan di leher Luna, menikmati perubahan drastis pada tubuh wanita di dekapannya yang mendadak pasrah kaku.

​"Anak pintar," gumam Orion penuh kemenangan. Ia mengecup pelan area leher Luna di samping plester medis itu, membuat Luna memejamkan mata erat-erat menahan sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya.

​"Pria tadi membuat kepalaku berisik sekali, Nanae," lanjut Orion, suara beratnya mendadak berubah menjadi rintihan rendah yang sarat akan obsesi. "Cara dia menyentuhmu... cara dia menatapmu... membuatku ingin membunuhnya. Cuma pelukanmu yang bisa bikin kepalaku tenang lagi sekarang."

Luna meremas lengan Orion yang melingkari tubuhnya, napasnya memburu. Di balik kemarahan dan rasa takutnya, ia bisa merasakan betapa posesif dan tidak stabilnya pria yang sedang mendekapnya erat dari belakang ini.

"Orion... saya mohon, lepaskan," suara Luna melunak, berubah menjadi bisikan penuh permohonan di tengah napasnya yang memburu. Ia sudah kehabisan tenaga untuk meronta. "Bagaimana kalau tiba-tiba ada perawat yang masuk? Staf rumah sakit bisa melihat kita."

Orion tidak bergerak sedikit pun. Ia justru memiringkan kepalanya, sengaja mempererat rengkuhannya hingga dada bidangnya menekan punggung Luna tanpa celah. Embusan napas hangat pria itu menggelitik cuping telinga Luna, membuat sekujur tubuh wanita itu merinding hebat.

​"Biarkan saja mereka melihat," bisik Orion santai, suaranya terdengar begitu dalam dan menantang. "Biar seluruh rumah sakit ini tau... bahwa psikiater paling pintar di Silver Oak ini sepenuhnya sudah berada di dalam genggamanku."

​"Orion, jangan gila..." rintih Luna, matanya terpejam erat.

​Alih-alih mendengarkan, Orion malah semakin menjadi-jadi. Bibirnya yang hangat perlahan menyusuri garis rahang Luna, memberikan kecupan-kecupan ringan yang teramat lambat dan memabukkan. Setiap sentuhan itu berhasil melumpuhkan sisa-sisa pertahanan rasional yang mati-matian dibangun Luna.

​"Kamu wangi sekali, Nanae," gumam Orion di sela-sela kecupannya. Tangannya yang bebas kini merayap naik, jemari panjangnya dengan berani menyelip di balik helai rambut Luna, menyingkirkannya ke samping agar ia bisa leluasa mencium tengkuk wanita itu.

​"O-Orion... stop..." suara Luna hampir pecah. Sensasi geli bercampur sengatan panas menjalar dari lehernya ke seluruh saraf tubuhnya, membuatnya nyaris kehilangan pijakan.

Orion terkekeh pelan, sebuah tawa kecil yang terdengar sangat puas. Ia merasakan betapa tubuh Luna yang tadinya kaku kini mulai melunak di dalam dekapannya, menyerah pada intensitas yang ia berikan.

​"Kenapa harus berhenti, hm?" bisik Orion tepat di permukaan kulit leher Luna, jarinya dengan lembut mengelus sisi wajah wanita itu yang kini sudah memerah padam. "Padahal tubuhmu sama sekali tidak menolakku. Detak jantungmu di sini..." Orion menekan sedikit pinggang Luna, mendekatkan tubuh mereka lebih rapat lagi. "...berdetak menggila setiap kali aku menyentuhmu."

Luna menggigit bibirnya hingga nyaris berdarah. Ia benci mengakuinya, tapi Orion benar. Di balik akal sehat dan statusnya sebagai dokter, sentuhan pria ini berhasil menciptakan kekacauan hebat di dalam dirinya, sebuah candu berbahaya yang perlahan-lahan menghancurkan batas profesionalismenya.

​"Kamu benar-benar... iblis, Orion..." lirih Luna putus asa, tangannya mencengkeram erat lemari berkas di depannya.

Mendengar itu, Orion justru makin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya lebih dalam pada lekuk leher Luna. "Kalau aku iblis... maka kamu adalah satu-satunya malaikat yang sengaja menyeret dirinya sendiri turun ke neraka bersamaku."

Sentuhan hangat Orion di lehernya perlahan terangkat. Pria itu memberikan satu kecupan lembut terakhir di sudut rahang Luna sebelum akhirnya melonggarkan kuncian tangannya di pinggang wanita itu.

​Luna memejamkan mata rapat-rapat, menghembuskan napas lega yang tertahan saat rasa dingin kembali menyapu tubuhnya.

Dengan gerakan santai seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan, Orion mundur dua langkah. Binar penuh kemenangan di mata abu-abunya begitu berkilat saat melihat Luna yang masih berdiri bersandar kaku pada lemari berkas dengan napas memburu dan pipi yang merah padam.

​"Sudah," ujar Orion lembut, mengulas senyum tipis tanpa dosa. "Aku sudah melepaskanmu, Nanae. Sekarang kita bisa mulai 'sesi konsultasi resmi' kita."

Tanpa menunggu balasan dari Luna yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya, Orion berbalik dan melangkah mantap menuju sofa cokelat susu. Ia menjatuhkan tubuh tingginya di sana, menyandarkan punggungnya dengan santai lalu melipat kaki kanannya di atas lutut kiri, menunggu dengan penuh antisipasi.

​Luna menarik napas dalam-dalam, menepuk-nepuk pipinya yang terasa terbakar. Ia meraih map berkas medis Orion di lemari dengan jemari yang masih gemetar pelan, merapikan jubah putihnya, lalu melangkah menuju meja kerjanya.

Psikiater itu menolak untuk duduk di sofa. Ia memilih duduk di kursi kebesarannya di balik meja kayu tebal, menciptakan jarak aman yang mati-matian ingin ia pertahankan.

​Brak!

​Luna meletakkan map tebal itu di atas meja dengan agak keras, sengaja memecah sisa-sisa keheningan yang canggung.

​"Mari kita mulai," tegas Luna, suaranya diusahakan selurus dan sedingin mungkin, meski rona merah di wajahnya belum sepenuhnya sirna. Ia membuka lembaran berkas Orion tanpa menatap langsung mata abu-abu di seberang sana.

Orion menyunggingkan senyum miring, menikmati betapa kerasnya usaha sang psikiater untuk mengembalikan topeng profesionalnya. "Silahkan, Nanae. Aku mendengarkan."

​"Berdasarkan rekam medis dari rumah sakit sebelumnya," Luna mengetuk-ngetuk pulpennya di atas kertas, "kamu selalu menunjukkan penolakan total terhadap pengobatan dan terapi kelompok. Kamu memanipulasi dokter-doktermu sampai mereka menyerah. Kenapa kamu melakukan itu, Orion?"

Orion memiringkan kepalanya sedikit, tatapan matanya berubah sedikit lebih dalam. "Sudah kubilang kemarin, kan? Mereka tidak peduli padaku. Mereka cuma peduli pada dosis obat dan laporan bulanan. Bagi mereka, aku cuma gangguan yang harus ditenangkan."

​"Dan bagi saya?" potong Luna, kini berani menatap lurus ke dalam iris abu-abu pria itu. "Apa bedanya saya dengan mereka?"

Orion terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Sepasang matanya meneliti setiap inci wajah Luna, merayap dari mata cokelatnya yang tajam, turun ke hidungnya, hingga berhenti di plester medis di leher wanita itu.

​"Kamu berbeda," jawab Orion pelan, suaranya kini tak lagi bernada godaan, melainkan kejujuran yang terasa dingin dan berat. "Dokter lain takut padaku. Tapi kamu... kamu takut pada dirimu sendiri saat berada di dekatku. Kamu melawan, Nanae. Dan itu membuatku merasa... diakui sebagai manusia."

Luna tertegun. Kata-kata Orion memukul bagian terdalam naluri psikiatrinya. Pria di hadapannya ini bukanlah sekadar sosiopat manipulatif, melainkan jiwa yang sangat rusak, kesepian, dan haus akan kendali serta koneksi nyata meski cara yang digunakannya terdistorsi dan berbahaya.

​"Kalau kamu mau sesi ini berhasil," ucap Luna pelan namun mantap, mencoba mengambil alih kendali sepenuhnya sebagai psikiater, "kamu harus belajar mempercayai prosesnya tanpa harus menggunakan manipulasi atau ancaman fisik padaku, Orion."

Orion menatap Luna dalam keheningan selama beberapa detik. Perlahan, senyum tipis kembali terukir di bibirnya, senyuman yang kali ini terasa sedikit lebih hangat. ​"Aku akan mencoba, Nanae," bisik Orion rendah. "Asalkan... kamu tidak melanggar janjimu untuk tidak pernah membiarkanku ditangani orang lain."

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!