NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingin Bercerai

Minta cerai

Sesampainya di rumah, Rindu tak mendapati ibu mertuanya.

“Sepertinya Mama sudah tidur,” celetuk Elang dari belakang. “Kita sampenya kemalaman.”

Rindu memilih diam. Sejak berada di dalam mobil hingga sampai ke rumah ini, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Ia bergegas memasuki kamar dan membersihkan diri, lalu memilih pakaian malam yang tidak terbuka.

Ceklek

Begitu membuka pintu kamar mandi, pandangan Rindu bertemu dengan Elang yang meliriknya sembari duduk di pinggir ranjang. Biasanya pria itu tidak pernah menunggunya seperti ini, tapi malam ini Elang tampak seperti sedang menunggu istri dan meminta jatah padanya.

“Sudah selesai?”

Rindu mengangguk. Ia memilih cuek dan berlalu menghampiri meja rias. Di sana, Rindu sibuk melakukan ritual untuk perawatan wajahnya. Sedangkan untuk perawatan tubuh, sudah ia lakukan saat berada di dalam kamar mandi.

Jika biasanya, usai melakukan perawatan tubuh, dengan senang Rindu menggunakan pakaian tidur yang seksi dan memperlihatkan bentuk tubuhnya agar sang suami dapat menikmati aroma tubuhnya yang wangi, kali ini tidak lagi. Rindu sengaja membalut tubuhnya dengan piyama berlengan dan bercelana panjang.

Dari balik cermin meja rias, Rindu melihat Elang mendekat. Benar saja, pria itu memeluknya dari belakang.

“Rin, aku Rindu kamu.” Suara itu terdengar berat.

Sungguh, Rindu jijik mendengarnya. Ingin rasanya, ia mengajukan cerai saat ini juga.

Mengingat kelakuan Elang di hotel dengan perempuan yang baru lulus SMA itu dan percakapan pria itu pada ketiga temannya, seketika Rindu melepas kedua tangan Elang yang melingkar di pinggangnya.

“Maaf, Lang. Aku ngantuk.”

Rindu memilih untuk segera mendekati ranjang dan menaikinya. Tak lupa, ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal itu dari kaki hingga kepala.

Elang hanya mampu menatap sang istri yang semakin terlihat aneh. Dan, bukan Elang namanya jika ia harus mendekati Rindu, lalu membujuknya. Elang ikut memilih cuek. Pria itu berlalu ke kamar mandi untuk bergantian membersihkan diri.

Dengan tubuh yang sudah berbaring dan membelakangi suaminya, Rindu pun bernapas lega. Meski, ia menginginkan sebuah sentuhan, tapi rasanya ia terlalu jijik jika yang menyentuhnya adalah Elang.

Sambil berbaring miring, tiba‑tiba tangan Rindu menyentuh miliknya sendiri.

“Ah.”

Entah sudah berapa lama, ia tak bercinta, rasanya Rindu pun merindukan hasrat itu. Terlebih saat ini adalah saat menjelang masa periodenya datang. Masa‑masa hormon berkumpul dan membuat sesuatu di dalam tubuhnya ingin meledak.

“Oh.” Rindu mengeram pelan. Ia butuh sesuatu, butuh kamar rahasia yang sudah lama tak ia datangi untuk melepaskan hasrat merindunya.

Kemudian, Rindu bangkit. Ia duduk di tempat tidur dan menatap ke pintu kamar mandi yang belum terbuka. Ia ingin pergi ke kamar rahasia. Namun, baru saja kakinya hendak dipindahkan ke lantai, tiba‑tiba suara kamar mandi sepertu terdengar akan terbuka.

Rindu pun kembali berbaring dan menutup selimut itu sampai kepala. Sedangkan Elang, tak melihat ada sesuatu yang berubah. Pria itu menghampiri istrinya dan ikut berbaring di sampingnya. Elang ikut berbarin miring dan satu tangannya memeluk pinggang Rindu dari belakang.

Rindu memutar bola matanya malas, ia semakin tidak bisa pergi dari kamar ini. Dengan terpaksa, Rindu memejamkan mata, hingga pagi pun menjelang.

“Rindu.” Bella meanggilnya.

Rindu yang sedang berdiri di depan kompor modern itu pun menoleh. “Mama, sudah bangun?”

“Mama kira, Mama yang bangun paling pagi. Ternyata, kamu sudah di sini.” Bella memilih duduk di kursi mini meja bar yang tak jauh dari tempat Rindu memasak.

“Bukannya semalam kalian pulang malam? Kalau masih ingin istirahat silahkan, Rin. Biar Mama yang buatkan sarapan.”

Bella memang ibu mertua yang sangat baik. Mungkin dari sekian banyak ibu mertua, Bella adalah dua setengah persen dari mereka yang menganggap menantu seperti anak kandungnya sendiri.

“Mama kan tamu di sini, jadi ga dong masak sendiri,” jawab Rindu dengan senyum yang manis.

Bella ikut tersenyum. “Mama memang tidak salah memilihmu untuk jadi menantu. Elang memang beruntung mendapatkan kamu.”

Senyum yang teruals manis tadi, kini berganti tipis. Rindu mengumpat dalam hati. “Ya, tapi aku tidak beruntung mendapatkan putramu, Ma.”

“Elang mana?” Kemudian, Bella bertanya sambil mengedarkan pandangannya mencari sang putra.

“Masih tidur, Ma. Elang mana bisa bangun pagi, apalagi hari libur begini.”

Bella tertawa dan mengangguk setuju. Sejak masih duduk dibangku sekolah dasar, Elang memang selalu bangun siang dihari libur. Apalagi hari ini adalah hari minggu.

“Ma, ini susunya.” Rindu meletakkan segelas susu kalsium yang biasa ibu mertuanya konsumsi setiap pagi.

“Terima kasih, Sayang.”

Rindu mengangguk dan kembali mengambil makanan yang lain, makanan yang baru saja matang.

“Hm, wangi banget,” sahut Bella.

“Rindu cuma bikin telur balado, cap cay, dan tumis tempe kecap, Ma.”

“Ini sudah banyak, Rin. Dan, pasti enak. Masakanmu mana ada yang tidak enak, dari tampilannya saja sudah meyakinkan.”

Lagi‑lagi, Rindu tersenyum. “Mama, jangan memuji Rindu terus ah. Rindu jadi malu.”

“Itu kenyataan, Sayang.”

Sungguh, Rindu merasa malu dipuji seperti itu. Ia seolah manusia yang tidak pernah melakukan dosa atau manusia yang tanpa celah salah dan cacat kelakuan. Meski semua itu benar, karena selama ini hidup Rindu memang selalu lurus‑lurus saja.

Rindu menanggapi pujian itu dengan senyum. “Kalau begitu, Rindu tinggal dulu ya Ma. Mau bangunin Elang.”

Bella mengangguk. “Iya, sana. bangunin suamimu dan suruh sarapan bersama.”

Rindu setuju, lalu melepaskan apron yang melilit di tubuhnya dan kemudian kembali menaiki tangga menuju kamar.

Namun sesampainya di kamar, Rindu tidak langsung membangunkan suaminya, melainkan melihat ponselnya yang tergeletak di atas meja rias dan lupa ia bawa saat memasak tadi.

“Pagi, Rindu. Bagaimana keadaanmu?”

Pesan itu datang dari Rayen yang sengaja Rindu ubah namanya menjadi Lita New. Sedangkan nomor Lita sesungguhnya adalah Lita saja.

“Lebih baik. Terima kasih sudah memberikan bahumu untukku.”

Rindu tersenyum sendiri membalas pesan itu.

“Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya. Apa kalian saling bermaafan setelah itu? Biasanya maaf memaafkan pasangan suami istri akan berakhir di ranjang.”

“Ups, maaf. Jika ini privasi, tidak perlu dijawab.”

Dan, Rindu berniat menjawab pertanyaan itu. Dengan polosnya, ia membalas pesan itu seperti ini.

“Setelah semua yang terjadi, rasanya jijik sekali disentuh olehnya.”

Entah mengapa, di tempat yang berbeda justru Rayen tersenyum mendapatkan jawaban Rindu yang seperti itu.

“Selamat hari minggu, Rindu. Selamat istirahat, besok kita bertemu lagi.”

Rindu membaca pesan terakhir itu. Namun, baru saja ia ingin membalas pesan itu, tiba‑tiba Elang kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang.

Sedari tadi, pria itu sudah terbangun dan mendapati sang istri yang tengah memainkan ponsel sambil senyum sendiri.

“Bertukar pesan dengan siapa?” tanya Elang yang posesif.

Untung saja, layar itu hanya memperlihatkan bagian chat terakhirnya saja. Mata Elang pun hanya menatap nama yang tertera di atasnya saja. Setelah melihat nama itu adalah Lita, Elang pun lega. Ia cukup tahu rekan kerja istrinya itu. Meski, Elang tak pernah bertemu langsung dengan wanita yang bernama Lita, tapi sebelumnya Rindu sering menceritakan teman kerjanya itu.

Rindu langsung mengembalikan posisi layar ponselnya menjadi hitam. Lalu meletakkannya kembali di atas meja rias.

“Ayo ke meja makan! Mama sudah menunggu kita untuk sarapan.”

Arah mata Elang masih saja tertuju pada layar ponsel Rindu. Ia masih penasaran dengan benda pintar yang tak pernah sama sekali ia cek isinya.

Elang yang memang terbiasa memainkan peran dan selingkuh, cukup mencurigai istrinya yang cuek dan tidak ingin disentuh. Terlebih, bukan hanya pagi ini ia mendapati Rindu yang tersenyum sendiri memainkan ponsel. Elang pun curiga. Bukannya berpikir bahwa dirinya ketahuan, justru Elang berpikir bahwa Rindu pun selingkuh dibelakangnya.

“Kamu duluan aja,” jawab Elang. “Nanti aku nyusul. Mau cuci muka dan gosok gigi dulu.”

Mendengar jawaan itu, Rindu pun mengangguk dan kembali keluar dari kamar.

Usai melihat Rindu keluar kamar dan menutup kembali pintu itu, tangan Elang langsung menyambar ponsel milik sang istri. Ia menyalakan layar yang sebelumnya gelap itu dan mendapati perintah yang harus membuka dengan sebuah sandi.

Elang yang mengetahui sandi itu, dengan cepat menekannya. Tapi sayang, sandi yang ia tahu, sekarang bukanlah itu.

“Kamu merubah sandi ponselmu, Rin?” gumam Elang yang kemudian mencoba menekan sandi yang lain yang berpotensi dijadikan password oleh Rindu.

Tanggal pernikahan, salah.

Tanggal lahir sang ibu, juga salah.

Tanggal lahir dirinya pun salah.

Elang merasa putus asa, lalu melempar asal benda itu hingga pintu kamarnya terbuka kembali.

“Lang, kok masih di situ? Mama udah nunggu kita. Ayo, sarapan!” ucap Rindu dengan suara yang sedikit ketus, mengingat sang suami tidak melakukan yang seperti ia ucapkan tadi tapi malah tetap berdiri saja.

“Kamu selingkuh?” tanya Elang, membuat dahi Rindu mengernyit.

“Apa? Kamu bilang apa?” Darah Rindu mulai naik.

Semestinya Elang berdiri di depan meja rias itu tidak dengan membelakangi tubuhnya, sehingga ia bisa berkaca, mana yang sebenarnya tukang selingkuh.

“Kamu selingkuh,” ucap Elang lagi.

“Buktinya, kamu ngga mau disentuh.”

Rindu pun menyeringai. Ia mendekati tasnya dan mengambil sesuatu di dalam sana.

Bruk

Rindu melempar celana dalam berwarna marun yang ia temukan di dalam dasbor mobil suaminya.

Deg

Elang menangkap benda yang terlempar ke mukanya hingga jantungnya seolah berhenti sejenak.

“Maling teriak maling. Kamu yang selingkuh, malah nuduh aku,” ucap Rindu kesal. Dadanya naik turun menahan marah. Ia pun tak bisa mengendalikan intonasi suaranya yang cukup kencang.

“Kalo ngw di dalam mobil, jangan tinggalkan jejak! Jadi ketahuan kan?” Rindu sudah tidak bisa lagi menggunakan bahasa yang baik.

Elang gelagapan, lalu menutupinya dengan menempelkan ibu jarinya ke mulutnya yang tertutup. “Sssttt … pelankan suaramu! Ada Mama di bawah.”

Rindu semakin geli melihat kelakuan suaminya yang ingin terlihat sempurna dihadapan sang ibu. Ia semakin ingin mengeluarkan semua kekesalannya dengan berteriak‑teriak. Tak peduli lagi dengan Bella yang memiliki riwayat penyakit jantung.

“Sebenarnya, aku tidak ingin membuka fakta ini sekarang. Tapi aku juga tidak bisa berlama‑lama lagi hidup denganmu. Aku lelah, Lang. Aku lelah. Aku ingin kita cerai. Aku ingin cerai.”

Akhirnya, kata keramat itu keluar lagi dari mulut Rindu untuk yang kedua kali. Jika pertama, Rindu ingin bercerai karena sikap Elang yang cuek dan lebih mementingkan pekerjaan dibanding dirinya. Kini, bukan alasannya bukan lagi karena hal sepele seperti itu.

Rindu terduduk lemas di bibir ranjang sembari menutup wajahnya.

Elang pun mendekati sang istri dan memeluk Rindu. “Tidak, aku tidak akan melepasmu. Aku sangat mencintaimu, Rindu.”

Saat pasangan suami istri ini sedang dalam fase titik puncak, Bella membuka pintu kamar.

“Elang, Rindu, kalian tidak apa‑apa? Mama mendengar Rindu berteriak, kenapa?”

Deg

Tiba‑tiba kedua insan itu pun menoleh ke arah sang ibu.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!