Sinta harus membayar hutang keluarganya dengan cara dia menikah dengan kepala desa dan menjadi istri keduanya.
Pernikahan ini diatur oleh mama sangat kepala desa dengan harapan agar Sinta bisa membuat sang kepala desa berpisah dengan istri pertamanya.
Sebuah pernikahan yang penuh misteri sampai akhirnya Sinta tahu rahasia yang membuat nya terjebak dalam pernikahan neraka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Segera Pulang !
Mahendra mengepalkan tangannya. Ia segera menelepon Sinta. Namun ponsel istrinya itu tak aktif. Berulang kali Mahendra mencobanya namun tetap tak bisa dihubungi.
"Sinta.....!" gumam Mahendra sambil melemparkan ponselnya di atas meja. Lelaki itu nampak sangat marah.
Sedangkan di kota, Sinta terkejut melihat ponselnya yang sudah mati total. "Natari, punya power bank?"
Mereka baru saja tiba di makam tempat sang rektor akan di makamkan.
"Nggak bawah, Sin. Kenapa memangnya?"
"Aku tadi nggak periksa batrei ponselku. Soalnya aku pergi tanpa ijin pada Abang. Namun aku sudah bilang pada mbo Sarmi sih."
"Ya sudah. Jangan terlalu kepikiran. Kita kan pergi ke pemakaman. Eh, kok bisa si Arsen bareng sama kamu?"
"Arsen itu ponakan dari istri pertama dari Mahendra."
"Apa? Kok dia bisa ada di sana?"
"Katanya berhubungan dengan tesisnya."
"Kamu nggak merasa kalau itu akal-akalan dia saja?"
"Masa sih? Dia bersifat sopan padaku."
Natari menggelengkan kepalanya. "Aku tak percaya dengan Arsen, Ta. Bisa saja dia ingin tahu tentang pernikahanmu."
"Arsen nggak akan seperti itu."
Natari menatap Arsen yang sedang berbincang dengan beberapa teman mereka. Apakah benar Arsen ingin mengetahui tentang kehidupan pernikahannya?
Acara sudah selesai. Satu persatu pelayat duka meninggalkan area pemakaman.
"Sinta, kita pergi makan dulu ya sebelum kembali ke desa?" kata Arsen.
"Kamu lapar ya?"
"Sangat lapar." jawab Arsen sambil mengusap perut ratanya.
"Tapi aku pinjam charger ya?"
"Di mobil ada, ko."
Mereka pun pergi makan ke sebuah restoran. Aldi dan Natari juga ikut bersama.
"Sinta, pesananmu masih sama kan?" tanya Natari.
"Ya. Bihun goreng seafood." Arsen yang menjawab membuat Sinta jadi tertawa. Arsen sangat tahu dengan makanan kesukaannya.
"Aku nasi goreng ikan asin." kata Natari.
Sementara menunggu makanan yang dipesan, Sinta mencoba menghidupkan ponselnya yang tadi sempat di isi dayanya.
Ia kaget karena melihat ada 4 kali panggilan dari Mahendra dan sebuah pesan.
Segera pulang !
Pesan yang singkat, padat, namun mengandung amarah yang dapat Sinta rasakan sehingga jantungnya berdetak cukup kencang. Ia segera berdiri. "Aku menelepon dulu ya." katanya lalu segera melangkah sambil menghubungi Mahendra. Di dering keempat, panggilannya diterima.
"Hallo, Abang. Aku tadi tak sempat pamit karena ponsel Abang tak aktif."
"Pulang sekarang!"
"Tapi kami baru saja memesan makanan."
Mahendra tak menjawab. Panggilan itu sudah terputus. Sinta jadi gelisah. Suara Mahendra yang terdengar dingin dan datar, sebenarnya itulah puncak kemarahan lelaki itu. Sinta sudah tahu walaupun baru 2 bulan menikah dengan pak kepala desa ini.
"Ada apa, Ta?" tanya Biara saat melihat wajah Sinta yang sedih.
"Aku harus pulang. Abang Mahendra sangat marah karena aku pergi tanpa pamit."
"Makanlah dulu, Sinta. Kamu kan nggak pamit karena ponselnya tak aktif. Bukan salahmu. Kamu mang istrinya. Seorang istri memang harus ijin pada istrinya. Namun situasi kita tadi mendesak. Kalau harus menunggu suamimu pulang rumah, pasti kita tak akan sempat hadir di pemakamannya ibu Ella." kata Arsen. "Nanti kalau pulang, aku yang akan jelaskan pada uncle Mahendra."
Pesanan mereka pun tiba. Sinta makan walaupun sebenarnya ia sudah kehilangan selera makannya.
**************
"Sayang, kenapa makannya hanya sedikit?" tanya Gizel. Keduanya sedang makan malam bersama.
"Aku tidak lapar. Tadi sore sempat minum kopi dan makan pisang goreng bersama pak sekdes." Mahendra membersihkan sudut bibirnya dengan serbet. Ia berdiri. "Mbo Sarmi, begitu Sinta tiba, segera minta dia untuk ke kamar saya." katanya lalu segera meninggalkan ruang makan.
Gizel membanting sendok di tangannya. Ia langsung mendorong piring di depannya. "Sial.....! Selalu saja tentang Sinta. Hanya karena gadis itu pergi tanpa pamit, Mahendra jadi kesal sepanjang hari."
"Nyonya, tenanglah. Anda terlihat sangat tegang." kata Yanti.
"Aku memang tegang dan kesal. Mahendra berubah semenjak menikah dengan gadis itu. Aku curiga kalau Mahendra sudah kena guna-guna dari perempuan kampung itu." Gizel berdiri dan melangkah ke ruang tamu. Tepat di saat itu pintu depan terbuka, Arsen masuk bersama Sinta.
"Sinta, lain kali kalau pergi harus atas ijin Mahendra. Karena ulah kamu, sepanjang hari kami di rumah ini kena getahnya. Kamu sadar nggak sih jika kamu sudah menikah?" Gizel langsung menyerang Sinta dan menumpahkan semua kekesalannya.
"Aunty! Mengapa harus marah sama Sinta? Apakah salah jika kami pergi ke pemakaman rektor kami? Uncle Mahendra terlalu kuno pemikirannya." Arsen membela Sinta.
"Arsen! Jangan ikut campur!"
"Aku bukan ikut campur, aunty. Hanya mengatakan kebenaran. Kok arti seorang istri terlalu dangkal di rumah ini." Arsen menatap Sinta. "Pergilah ke kamarmu, Sinta. Nanti aku yang akan menjelaskan pada uncle Mahendra."
"Nyonya, ditunggu tuan Mahendra di kamarnya." mbo Sarmi menghadang langkah Sinta saat gadis itu akan ke kamarnya.
Sinta pun segera memutar langkahnya dan langsung menaiki tangga sedangkan Arsen segera pergi ke kamarnya sambil menghentakkan kakinya.
Sinta kini berdiri di depan pintu kamar Mahendra. Ia mengetuk pintu kamar itu.
Pintu kamar dibuka. Mahendra berdiri dengan wajah dinginnya. Ia menatap Sinta seolah ingin menelannya. "Masuk!"
Sinta masuk. Ia berdiri di belakang Mahendra saat melangkah.
Lelaki itu kemudian duduk di atas sofa dan menatap Sinta yang duduk di depannya.
"Bukankah dari awal pernikahan aku sudah katakan kalau aku tak ingin kamu mencoreng nama baik keluarga ini?"
"Abang, memangnya aku salah pergi ke acara pemakaman dosenku?"
"Bukan itu masalahnya!"
"Masalah tidak minta ijin? Aku kan tak bisa menghubungi ponselmu! Pada hal jam pemakamannya sudah dekat."
"Aku tidak suka dibantah, Sinta!" Mahendra berdiri. Wajahnya memerah.
"Aku bukan membantah, Abang. Aku hanya membela diriku karena aku memang tak salah. Jika aku harus menunggu kamu pulang. Bukankah mba Gizel bilang kalau kalian akan bermalam di sana?"
"Sinta! Kamu pergi dengan lelaki yang memiliki hubungan khusus denganmu di masa lalu. Kamu menerima ajakannya untuk jalan-jalan. Kamu mencoba selingkuh di belakang aku? Jangan Sinta! Jangan coba-coba kamu melakukan itu padaku!" kata Mahendra dengan tatapan yang tajam sambil mengacung kan jari telunjuknya di depan Sinta.
"Kamu gila! Aku tidak selingkuh!"
"Lalu apa ini?" Mahendra melemparkan foto-foto yang sudah dicetaknya.
Sinta memungut foto itu.
"Kamu mau menyangkalnya? Kalian bahkan terlihat bahagia saat tangan Arsen melingkar di bahumu."
Sinta melihat foto-foto itu. "Yang satu memang foto kami di air terjun. Tapi foto-foto yang lain adalah foto kami saat kuliah. Ini foto lama."
"Dan kamu akan menyangkal kalau sebelum menikah denganku, kalian memiliki hubungan? Aku tidak suka dikhianati. Dan aku tak suka berhubungan dengan perempuan gampangan!"
Plak!
Tangan Sinta bergetar setelah tangannya itu selesai menampar pipi Mahendra dengan keras. "Kamu.....! Kamu ...., jangan pernah menyebut aku sebagai perempuan sembarangan. Kalau bukan karena baktiku pada mamaku, aku juga tidak mau menikah denganmu! Aku benci kamu!" Sinta mendorong tubuh Mahendra dengan sangat kuat sehingga Mahendra terjungkal ke belakang. Sinta tak peduli. Ia langsung pergi dan meninggal Mahendra dengan kemarahan yang tak terkatakan lagi.
Mahendra bangun lalu menatap ke arah pintu yang dibanting oleh Sinta. Lelaki itu mengepalkan tangannya. Tak pernah ada wanita yang berani menamparnya. Bahkan ibunya sendiri.
Sedangkan Sinta keluar dari pintu samping sambil menarik napas panjang beberapa kali. Ia ingin berteriak mengeluarkan kemarahan dalam hatinya. Namun langkahnya terhenti mendengar pertengkaran Arsen dan Gizel.
"Jangan campuri urusan rumah tangga aunty. Kamu tak tahu bagaimana aunty sudah berjuang bahkan menjebak Mahendra agar ia bisa menikah dengan aunty. Jangan buat sesuatu yang akan membuat Mahendra ikut marah pada aunty. Mahendra itu tambang mas bagi keluarga kita. Dia.....!" kalimat Gizel terhenti saat mendengar bunyi ponselnya.
Sinta terpana. Mahendra dijebak oleh Gizel?
nackal kan yg ajarin emak🤣🤣🤣🤣