Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Ketakutan Danyon
Baskara mengganti pakaiannya. Ia melepaskan kaos dan mengambil kemeja, lalu mengenakan sepatu. Hal itu membuat Aira sedikit merasa khawatir.
"Kamu dipanggil komandan malam-malam begini, Bas?" tanya Aira sedikit panik.
Baskara mengangguk. Ia berdiri, menatap lekat Aira, lalu melangkah ke hadapan Aira. Tangannya terulur mengusap lembut wajah Aira yang tidak dapat menyembunyikan perasaan khawatir dan paniknya.
"Kamu tenang aja. Nggak akan terjadi apa-apa, kok," ucap Baskara lembut.
"Ya, tapi tetap saja. Aku ... khawatir."
Baskara tersenyum. Ia meletakkan kedua tangan dibahu Aira. Mereka saling menatap intens dengan sorot mata yang sulit diartikan. Baskara menepuk lembut bahu Aira beberapa kali seraya mengangguk seolah memberikan isyarat jika semua akan baik-baik saja.
"Kamu istirahat aja, Ai. Nggak usah nunggu aku. Mungkin aku bakalan lama."
Aira diam. Wajahnya dengan jelas menampilkan gurat-gurat kekhawatiran.
"Tapi ...."
"Tenang. Nggak akan terjadi apa-apa. Aku pergi dulu, Ai," ucap Baskara seraya kembali mencium kening Aira sepintas sebelum melangkah pergi.
***
Di kantor, Kolonel Haryo sudah menunggu kedatangan Baskara. Wajahnya tampak gusar. Ada guratan-guratan kelelahan yang tampak jelas. Pintu ruang kerjanya terbuka lebar dan detik itu juga menampilkan Baskara yang berdiri menjulang tinggi di sana.
Baskara memberi hormat sebelum melangkah memasuki ruang kerja itu.
"Duduk," ucap Kolonel Haryo tegas.
Baskara duduk, tepat pada kursi yang berada di hadapan meja kerja Kolonel Haryo.
Pria setengah baya itu membuang napas kasar, saat kembali menatap Baskara dengan sorot yang menajam.
"Saya merasa tertampar saat mendengarkan arahan bapak KSAD ketika kunjungan tadi. Saya dengar juga bapak KSAD mampir ke rumah kamu. Benar?"
"Siap, izin, benar, Komandan."
Kolonel Haryo membuang napas berat. "Saya juga tidak ingin membiarkan masalah ini berlarut-larut. Saya bukannya menutup telinga, saya juga tahu namamu jadi perbincangan di sini. Saya memanggilmu bukan untuk membela putri saya, tapi justru ingin membicarakannya lebih serius," ucap Kolonel Haryo tegas.
"Saya meminta Dokter Aira untuk menemui Jelita beberapa waktu lalu. Saya tidak meminta dia untuk memeriksa secara medis. Hanya memintanya berbicara dengan Jelita. Namun, sepertinya tidak menemui titik terang. Saya juga belum bisa mengorek informasi dari Jelita. Dia terus menghindar dan marah-marah tidak terkendali. Hal itu jujur mengganggu saya, Baskara."
Kolonel Haryo diam sejenak.
Ia melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap Baskara lebih serius lagi.
"Saya tahu kamu tidak tinggal diam. Kamu juga diam-diam menyelidiki masalah ini. Saya ingin tahu, apa yang kamu dapatkan," ucap Kolonel Haryo tegas.
Baskara menegakkan posisi tubuhnya. Ia mengembuskan napas pelan sebelum siap berbicara.
"Siap, izin, Komandan saya beberapa waktu lalu memang meminta salah seorang rekan secara tidak resmi untuk menyelidiki masalah ini dan dari situ, saya menemukan fakta baru, Komandan."
Baskara berhenti bicara sejenak. Ia menunggu Kolonel Haryo siap mendengarkan laporan yang ia dapat.
"Dari penyelidikan ini, saya menemukan fakta bahwa ada beberapa anak mahasiswa Universitas Pattimura yang juga berada di dalam cafè tersebut saat kejadian terjadi. Menurut hasil rekaman cctv, terkonfirmasi salah seorang mahasiswa merekam dan mempublikasikan rekaman tersebut ke grup chat kampusnya. Sebelum akhirnya diunggah ke media sosial dengan akun kedua dan viral."
Kolonel Haryo terlihat terkejut mendengar fakta yang disampaikan Baskara.
"Jadi, maksudmu ada teman Jelita yang terlibat?"
"Siap, izin, Komandan, untuk masalah keterlibatan dan siapa orangnya masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut. Namun, fakta pengunggah pertama adalah kemungkinan besar teman Jelita itu benar, Komandan."
Kolonel Haryo diam.
Ia pun mengakhiri pertemuannya dengan Baskara. Ia pun pulang ke rumah. Kepalanya kembali terasa pening saat usai mendengar informasi yang disampaikan Baskara.
Kolonel Haryo membuka pintu. Hari sudah larut, lampu ruang tamu sudah dimatikan. Kondisi rumah hening. Ia menduga, Wina juga pasti sudah tidur. Namun, satu hal yang membuat Kolonel Haryo menaikkan satu alisnya.
Kondisi ruangan gelap, tapi lampu ruang keluarga masih menyala remang-remang. Televisi masih menyala meskipun tanpa volume keras. Jelita masih duduk di sofa dengan fokus menatap dan mengulir layar ponselnya.
"Kamu, belum tidur?" tanya Kolonel Haryo.
Jelita yang tidak terlalu fokus terhadap sekeliling itu pun terkejut dengan kehadiran Kolonel Haryo yang menurutnya datang tiba-tiba. Refleks, Jelita segera menyembunyikan ponsel di balik punggungnya.
"Ah, Papi. Baru pulang?" tanyanya gugup.
Kolonel Haryo memperhatikan. Ada satu hal yang ia lewatkan sejak kemarin. Ia melihat perubahan pada putrinya yang kini mulai tertutup dan terus menggenggam ponsel pintarnya. Kolonel Haryo masih mengamati. Ia pun mengulurkan tangan.
"Tidur, sudah malam. Sini, ponselnya," pintanya seperti biasa saat meminta sang anak untuk tidur.
Namun, alangkah terkejutnya ia saat Jelita tidak mau memberikan ponselnya, tapi justru semakin disembunyikan di balik tubuhnya.
Dahi Kolonel Haryo berkerut. Sedikit heran pada reaksi sang putri yang menurutnya tidak biasa.
"Berikan ponselnya, Lita."
Jelita menggeleng beberapa kali. Wajahnya mulai panik dan gugup.
Kolonel Haryo mencoba tenang. Ia duduk tepat disamping putrinya, tapi saat ia telah duduk, Jelita justru sedikit menghindar dengan menggeser posisi duduknya.
Kolonel Haryo masih mengamati.
"Ada apa?"
"Tidak."
"Kalau begitu, berikan ponselnya."
Jelita kembali menggeleng. "Tidak!"
"Ada apa? Apa papi tidak boleh pegang ponsel kamu? Atau ... ada yang papi tidak boleh tahu?"
Jelita diam. Kedua matanya bergerak kekanan dan kekiri tidak menentu seolah hendak mencari jalan keluar yang tidak dapat ia temukan.
"Jelita ...."
Kolonel Haryo memanggil putrinya dengan suara berat, tapi terdengar lembut. Jelita mendongak. Ia menatap manik mata Kolonel Haryo. Detik itu juga, Jelita tidak dapat menyembunyikan air matanya.
Tangisnya pecah.
Jelita menunduk. Ia terisak beberapa kali dan menangis dalam diam. Ponselnya masih ia genggam dan sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Ada apa? Apa ada yang papi tidak tahu?" tanya Kolonel Haryo. Suaranya begitu lembut. Tatapannya juga begitu hangat.
"Kamu tahu permasalahannya. Apa kamu tidak ingin menyelesaikannya?" tanya Kolonel Haryo.
Jelita kian menunduk. Bahunya bergetar hebat. Tangisan Jelita membuat Wina yang semula sudah terlelap di kamarnya terbangun. Wina membuka pintu kamarnya. Ia sedikit terkejut saat melihat Kolonel Haryo sudah duduk di samping Jelita.
"Mas?"
Kolonel Haryo menatap Wina sejenak sebelum kembali memfokuskan tatapannya kembali pada Jelita.
"Ada mami. Kalau kamu tidak mau memberikan ponselmu pada papi, sekarang berikan pada mami."
Wina tampak sedikit bingung, tapi tak lama ia paham dengan sesuatu yang disembunyikan Jelita di balik badannya.
"Kalau kamu tidak mau menyampaikannya pada papi, kamu bisa sampaikan itu pada mami."
Kolonel Haryo menatap putrinya. Sorot matanya melembut. Tangannya terulur meraih tubuh Jelita dan memeluk tubuh ramping itu. Satu hal yang Kolonel Haryo sadari selain sikap Jelita yang berubah. Kini, tubuh gadis itu kian kurus dan gemetar.
Hal yang paling ditakutkan Kolonel Haryo saat ini bukanlah vidio yang viral itu. Bukan juga pendapat KSAD. Melainkan takut pada sesuatu yang selama ini ia curigai. Takut jika Jelita berbohong.
_________________________