Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Arunika masih berusaha menetralkan wajahnya yang terasa seperti disetrika saat sebuah bayangan muncul di depan mejanya. Ia mendongak dan mendapati Ardi berdiri di sana dengan senyum miring yang sangat menyebalkan, tangan pria itu bertumpu pada pinggiran meja sambil memegang cangkir kopi.
"Duh, Nika... gue liat tadi dari balik kaca divisi operasional. Gila, itu serangan fajar paling maut yang pernah gue saksikan di kantor ini," Ardi terkekeh, bahunya naik turun. "Tapi menurut gue, tadi itu kurang lama. Harusnya lo cium aja sekalian itu suami lo, tahan sepuluh detik, biar si Marcell nggak cuma melongo, tapi pingsan sekalian karena kepanasan."
Arunika langsung melempar tumpukan klip kertas ke arah Ardi, yang tentu saja dengan mudah ditangkis pria itu.
"Ih, Kak Ardi apa sih! Jangan kencang-kencang ngomongnya, nanti orang kantor dengar!" bisik Arunika dengan nada panik namun penuh rasa malu. "Tadi itu spontan tahu! Rencana awalnya aku cuma mau nyium jidatnya doang biar kelihatan sweet gitu, tapi Mas Thomas-nya kayak tiang listrik! Kaku banget! Jadi yaudah lah, aku nyium apa yang bisa digapai aja daripada gagal total."
Ardi tertawa terbahak-bahak sampai hampir menumpahkan kopinya. "Jadi karena lo pendek dan dia kayak tiang, targetnya meleset ke bibir? Legend banget alasan lo, Nik!"
"Sttt! Kak Ardi berisik!" Arunika menarik ujung kemeja Ardi agar pria itu merunduk. "Tapi Kak, liat muka Marcell tadi... puas banget nggak sih? Dia kayak baru liat hantu di siang bolong."
Ardi mengubah ekspresinya menjadi lebih serius, ia menarik kursi di samping meja Arunika dan duduk di sana. "Emang puas, Nik. Tapi lo harus hati-hati. Marcell itu tipe yang makin dipanasin makin nekat. Dia itu obsessed karena ngerasa 'miliknya' diambil paksa sama kakaknya sendiri. Dia belum paham kalau lo itu manusia, bukan barang milik siapa pun."
Arunika menghela napas, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. "Terus aku harus gimana, Kak? Aku capek dikejar-kejar terus sama dia, padahal dia sendiri yang dulu buang aku."
Ardi mengetuk-ngetuk jarinya di meja, otaknya yang licik mulai bekerja. "Gini, Nik. Strategi paling ampuh buat bikin orang kayak Marcell berhenti itu bukan cuma pamer mesra, tapi bikin dia sadar kalau lo udah ada di 'level' yang nggak bisa dia sentuh lagi. Bukan cuma sebagai istri Thomas, tapi sebagai wanita yang bener-bener bahagia tanpa bayang-bayang dia."
"Maksudnya?"
"Lo harus lebih dominan," saran Ardi. "Setiap kali dia ganggu atau coba ngomong berdua sama lo, jangan kabur. Hadapi. Tapi hadapinya dengan cara yang bikin dia ngerasa dia itu cuma 'semut' di mata lo. Panggil dia dengan sebutan yang formal, atau sebaliknya, panggil dia 'Adik'. Itu bakal nyerang egonya sebagai pria."
Arunika mengangguk-angguk, mulai tertarik. "Panggil 'Adek Marcell'? Wah, dia bisa ngamuk itu, Kak."
"Justru itu tujuannya!" Ardi menyeringai. "Terus, lo jangan mau dengerin omongan dia soal 'kebusukan' Thomas atau apa pun. Kalau dia mulai ngomong jelek soal Thomas, lo harus langsung potong. Bilang gini: 'Sel, Mas Thomas itu suami aku. Kalau ada yang salah sama dia, itu urusan rumah tangga kami, bukan urusan orang luar kayak kamu.' Kata-kata 'orang luar' itu bakal nancep lebih dalem daripada ciuman lo tadi pagi."
Arunika merenungkan saran Ardi. Benar juga. Selama ini ia selalu terlihat reaktif atau justru menghindari Marcell, yang membuat Marcell merasa masih punya pengaruh atas emosinya.
"Satu lagi," tambah Ardi. "Lo harus lebih sering nunjukin kalau lo itu 'nyonya' di sini. Bukan cuma asisten Thomas. Pakai fasilitas yang Thomas kasih. Kalau perlu, suruh Thomas antar jemput lo terus. Biar Marcell sadar kalau posisi lo itu sudah permanen, bukan cuma kontrak yang bisa dia goyang."
Arunika terdiam sejenak mendengar kata 'kontrak'. "Tapi Kak... Kak Ardi tahu kan kalau aslinya—"
"Iya, gue tahu soal kertas itu," Ardi memotong dengan suara rendah. "Tapi Nika, lo liat Thomas tadi nggak pas lo cium? Dia emang matung, tapi matanya nggak bisa bohong. Thomas itu udah 'jatuh' dari lama, cuma dia terlalu gengsi buat ngaku karena dia ngerasa dia 'nyuri' lo dari adiknya."
"Mas Thomas sayang sama aku?" tanya Arunika ragu.
"Lo tanya aja sama tembok kantor ini, mereka lebih tahu jawabannya daripada lo yang tiap hari tinggal serumah tapi masih nggak peka," ledek Ardi sambil berdiri. "Pokoknya, tetep panasin Marcell, tapi dengan cara yang elegan. Jangan mau jadi korban dramanya dia lagi. Oke, Nyonya Besar?"
Arunika tersenyum lebar, rasa percaya dirinya kembali pulih. "Oke, Kak Ardi! Makasih ya sarannya. Nanti aku coba praktikin kalau dia muncul lagi."
"Sip. Gue balik ke ruangan dulu sebelum 'tiang listrik' lo itu keluar dan pecat gue karena kelamaan ngerumpi sama istrinya," Ardi mengedipkan mata lalu melenggang pergi.
Arunika kembali menatap layar komputernya, tapi pikirannya melayang pada saran Ardi. Orang luar. Ya, Marcell sekarang hanyalah orang luar. Dan ia tidak akan membiarkan orang luar merusak kedamaian yang sedang ia bangun bersama suaminya yang kaku namun hangat itu.
Tak lama kemudian, pintu ruangan Thomas terbuka. Thomas keluar dengan beberapa map di tangannya. Ia berjalan menuju meja Arunika, lalu berhenti tepat di depan gadis itu.
"Nanti siang kita makan di luar. Ada restoran baru yang katanya punya semur daging paling enak," ucap Thomas tanpa basa-basi, namun matanya menatap Arunika dengan lembut.
Arunika mendongak dan memberikan senyum paling manisnya. "Boleh, Mas. Tapi nanti Mas yang suapin ya? Kan kita harus latihan jadi pasangan paling bahagia di dunia."
Thomas tertegun sejenak, lalu ia berdehem untuk menutupi rasa canggungnya. "Terserah kamu saja. Siap-siap jam dua belas."
Thomas kembali masuk ke ruangannya, sementara Arunika terkikik geli. Ia mulai menyukai permainan ini. Permainan yang mungkin awalnya hanya kontrak, tapi perlahan-lahan mulai terasa seperti kenyataan yang tidak ingin ia akhiri. Dan untuk Marcell? Arunika sudah menyiapkan mental untuk menjadikannya benar-benar sebagai "adik ipar" yang tidak punya tempat lagi di hatinya.
***
Koridor kantor yang tadinya sunyi mendadak terasa panas saat Arunika berpapasan dengan Marcell di dekat dispenser air. Arunika, yang baru saja mendapat "amunisi" mental dari Ardi, menegakkan punggungnya. Ia tidak lagi menunduk atau menghindar seperti biasanya.
"Halo, adek ipar," sapa Arunika dengan nada yang sangat ramah, namun terselip penekanan yang mematikan pada kata terakhirnya.
Marcell yang sedang memegang gelas kertas hampir saja meremasnya. Ia mematung, menatap Arunika dengan tatapan tidak percaya. "Adek? Kamu serius manggil aku 'adek', Nik?"
Arunika tersenyum manis, tipe senyum yang biasa ia berikan pada anak-anak panti asuhan. "Iya, kenapa? Kamu kan adeknya Mas Thomas, dan Mas Thomas itu suami aku. Secara silsilah keluarga, panggilan itu sudah paling benar, kan? Masa aku panggil kamu 'Sayang'? Nanti suamiku marah, loh."
Wajah Marcell memerah padam. Egonya sebagai pria yang pernah dipuja oleh Arunika hancur berkeping-keping. "Nik, berhenti akting! Kamu tahu panggilan itu nggak cocok buat kita. Kita itu—"
"Kita itu keluarga, Marcell," potong Arunika cepat. "Dan aku senang sekarang hubungan kita jadi jelas. Nanti kalau lebaran, kamu jangan lupa sungkem ya sama aku dan Mas Thomas."
"Arunika!" bentak Marcell rendah, giginya gemeletuk.
"Arunika!"
Suara bariton yang lebih berat menyambar dari arah belakang. Thomas berdiri di sana dengan kunci mobil di tangannya, menatap pemandangan itu dengan mata tajam. Marcell seketika bungkam, sementara Arunika langsung mengubah ekspresinya menjadi ceria.
"Eh, Mas! Sudah siap?" Arunika langsung menghampiri Thomas dan merangkul lengannya. Ia menoleh sedikit ke arah Marcell yang masih mematung. "Bye, adek. Jangan lupa makan siang ya, nanti maag kamu kambuh loh. Kasihan Aletta kalau harus nungguin kamu di RS."
Thomas tidak mengatakan apa-apa pada Marcell. Ia hanya memberikan tatapan "peringatan" sebelum menuntun Arunika menuju lift khusus CEO.
Di dalam lift yang bergerak turun, suasana mendadak hening. Arunika masih asyik dengan pikirannya sendiri, merasa menang telak atas Marcell. Namun, ingatannya kembali pada ucapan Ardi tadi pagi. Rasa penasaran itu tiba-tiba membuncah, tak tertahankan.
"Mas, kita mau makan di mana? Semurnya beneran enak kan?" tanya Arunika membuka percakapan.
"Restoran langganan klienku. Kamu pasti suka," jawab Thomas pendek.
Arunika menggigit bibir bawahnya. Ia menatap pantulan mereka di dinding lift yang mengkilap. "Mas... tadi pas aku lagi ngerumpi sama Kak Ardi, dia ngomong sesuatu yang aneh."
Thomas melirik sekilas. "Ardi selalu ngomong aneh. Jangan didengarkan."
"Tapi ini soal Mas," Arunika melepaskan rangkulannya dan berdiri menghadap Thomas sepenuhnya. "Kata Ardi, Mas itu... sebenarnya sayang sama aku. Dia bilang Mas sudah 'jatuh' dari lama."
Langkah Thomas terhenti tepat saat pintu lift terbuka di area parkir bawah tanah. Ia tidak langsung keluar, melainkan menatap Arunika dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Maksudnya apa ya, Mas?" lanjut Arunika dengan tawa canggung. "Kan nggak mungkin, ya kan? Kita kan cuma nikah kontrak. Mas bantuin aku, aku bantuin Mas. Syarat dan ketentuan berlaku. Nggak ada poin soal 'sayang' di kertas itu, kan Mas?"
Thomas tetap diam. Ia berjalan menuju mobilnya, membukakan pintu untuk Arunika, lalu memutar ke sisi pengemudi. Setelah mesin menyala dan mereka mulai membelah jalanan Jakarta, Thomas akhirnya bersuara.
"Kenapa kamu tanya itu sekarang?" tanya Thomas tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Ya... habisnya Kak Ardi yakin banget bilangnya. Terus aku mikir, apa Mas Thomas sebaik ini sama aku karena emang 'kasihan' sebagai partner kontrak, atau karena apa yang dibilang Kak Ardi itu bener?" Arunika menoleh ke arah Thomas, matanya menuntut jawaban. "Mas nggak beneran sayang sama aku kan? Maksudku, itu bakal ngerusak rencana dua tahun kita kalau ada perasaan yang terlibat."
Thomas mengerem mobilnya perlahan saat lampu merah. Ia menoleh ke arah Arunika, menatap mata gadis itu dengan intensitas yang membuat Arunika ingin bersembunyi di bawah jok mobil.
"Arunika, menurutmu pria mana yang rela masak semur daging pagi-pagi, gendong istrinya di lorong apartemen, dan menciumnya di depan umum hanya karena 'kasihan'?" tanya Thomas balik, suaranya sangat tenang namun berwibawa.
Arunika tertegun. "Ya... mungkin Mas Thomas emang orangnya sangat berdedikasi sama peran? Mas kan CEO, pasti kalau ngerjain sesuatu harus totalitas."
Thomas mendengus pelan, sebuah tawa kecut yang langka. "Totalitas? Kamu pikir aku sedang main sinetron?"
"Loh, kan emang kita lagi sandiwara depan Marcell dan keluarga!" seru Arunika membela diri.
Thomas memajukan tubuhnya sedikit, membuat jarak di antara mereka menipis. "Kalau ini cuma sandiwara, aku tidak akan peduli kamu mau panggil Marcell 'adek' atau 'mantan'. Aku tidak akan peduli siapa yang mengirimkan pesan di ponselmu. Dan aku tidak akan merasa sesak setiap kali kamu menyebut soal 'dua tahun' itu."
Arunika menelan ludah. Jantungnya berdegup sangat kencang. "M-mas... maksudnya..."
"Ardi benar soal satu hal," potong Thomas. "Aku memang sudah memerhatikanmu sejak lama. Sejak kamu masih sering menangis di taman belakang rumah karena Marcell membatalkan janji mainnya. Kamu yang terlalu sibuk mengejar bayangan adikku sampai tidak pernah sadar kalau ada orang lain yang selalu memastikan jalanmu tetap aman."
Lampu berubah hijau. Thomas kembali menjalankan mobilnya, meninggalkan Arunika yang masih dalam kondisi loading tingkat tinggi.
"Jadi... Mas beneran sayang?" tanya Arunika lirih, hampir seperti bisikan.
Thomas menggenggam kemudi dengan lebih erat. "Kontrak itu aku buat untuk memberimu ruang, Arunika. Supaya kamu tidak merasa terbebani untuk membalas perasaanku saat itu. Aku ingin kamu bebas memilih. Tapi kalau kamu tanya apakah aku sayang... jawabannya sudah ada di setiap tindakan yang aku lakukan sejak kita pindah ke apartemen."
Arunika merasa otaknya berasap. Jadi, selama ini ia tinggal serumah dengan pria yang mencintainya secara diam-diam? Dan ia dengan polosnya sering bertingkah manja dan minta gendong?
"Mas... aku... aku bingung harus jawab apa," gumam Arunika jujur.
"Aku tidak minta jawaban sekarang," sahut Thomas. "Nikmati saja makan siangmu. Dan soal kontrak itu... anggap saja itu cadangan kalau-kalau aku gagal jadi suami yang baik buat kamu. Tapi selama aku masih di sini, jangan harap aku akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah dua tahun."
Arunika terdiam seribu bahasa. Ia menatap tangannya yang sedikit gemetar di atas pangkuan. Ternyata, "kebusukan" Thomas yang dimaksud Marcell—jika memang itu yang ia maksud—adalah sebuah rencana besar untuk menjebak Arunika dalam cinta yang sebenarnya. Dan lucunya, Arunika merasa ia sama sekali tidak keberatan untuk terjebak di sana.
"Mas..."
"Ya?"
"Nanti... suapin semurnya ya? Biar totalitas sayang-sayangannya," ucap Arunika sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat.
Thomas tersenyum miring, senyum kemenangan seorang CEO yang baru saja menutup kesepakatan terbesar dalam hidupnya. "Tentu, Sayang. Apapun buat kamu."
gagal
coba lagi dong 🤭