Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: PERJANJIAN DI ATAS KERTAS DAN PELUKAN KECOA
Pintu kayu yang sudah lapuk itu berderit keras. Vanya berdiri di belakang punggung Reyhan dengan mata berbinar. Ia sudah membayangkan wajah tegas ayahnya muncul untuk menjemputnya dari lubang neraka ini. Namun, binar itu redup seketika saat melihat pria bertubuh tegap dengan setelan safari hitam berdiri di sana.
"Angga?" gumam Vanya kecewa. "Mana Papa? Kamu disuruh jemput aku, kan?"
Angga, ajudan kepercayaan Bramantyo Hutama, hanya menunduk hormat tanpa berani menatap langsung mata majikannya yang merah karena kurang tidur. "Maaf, Nona. Pak Bram tidak ikut. Saya ke sini hanya untuk menyerahkan ini kepada Saudara Reyhan. Dan di tas ini ada baju nona untuk ganti"
Angga menyodorkan sebuah map kulit berwarna hitam kepada Reyhan. Reyhan menerimanya dengan tangan tenang. Begitu dibuka, deretan huruf yang diketik rapi dengan bahasa hukum yang dingin menyambutnya. Sebuah Surat Perjanjian Komitmen Pernikahan.
Reyhan membacanya poin demi poin dengan dahi yang sedikit berkerut:
Pernikahan Kontrak: Saudara Reyhan wajib menjalani status suami selama 1 tahun tanpa menuntut imbalan finansial apa pun dari keluarga Hutama.
Kepatuhan Mutlak: Wajib mengikuti setiap aturan yang ditetapkan Bramantyo Hutama.
Larangan Kontak Fisik: Dilarang keras menyentuh, apalagi meniduri Vanya Hutama. Satu pelanggaran berarti laporan pemerkosaan ke pihak berwajib.
Konsekuensi Pidana: Jika melanggar salah satu poin di atas, pihak pertama (Bramantyo) akan memproses Saudara Reyhan ke jalur hukum dengan tuntutan maksimal.
Reyhan merenung. Ini bukan sekadar perjanjian, ini adalah perbudakan terselubung. Bramantyo ingin menggunakan dirinya sebagai "tempat sampah" untuk mencuci aib putrinya tanpa harus kehilangan sepeser pun kekayaannya. Sangat merugikan, sangat menghina. Namun, Reyhan tahu, sekarang dia tidak berdaya, orang-orang dirgantara terus menguntitnya, dia ingin ayahnya kehilangan jejaknya mungkin dengan nanti masuk kerumah Bramantyo dia gak akan bisa dilacak, dan juga kalau dia melawan Bramantyo sekarang adalah tindakan bunuh diri.
"Cepat tanda tangani," desak Angga dengan nada meremehkan.
Tanpa banyak bicara, Reyhan mengambil pulpen dari saku jaket ojolnya dan membubuhkan tanda tangan. Gerakannya begitu tegas, menunjukkan mentalitas yang tidak goyah meski ditekan.
Tiba-tiba, Vanya merebut map itu dari tangan Reyhan. Ia membaca dengan cepat, lalu matanya membelalak menatap Reyhan. "orang ini dengan mudah tanda tangan, aku jadi curiga..!!"Kenapa kamu setuju?! Satu tahun?! Jangan-jangan kamu memang sengaja? Kamu punya rencana lain kamu pakai motif untuk perlahan-lahan masuk ke keluargaku dan mengambil kekayaan leluarga Hutama, ya?"
Reyhan menatap Vanya datar. "Nona, sudah kubilang ribuan kali, aku tidak butuh uangmu. Aku hanya ingin namaku kembali bersih. Dan satu tahun adalah waktu yang cukup bagiku untuk membuktikan bahwa aku bukan seperti yang kalian tuduhkan."
Vanya mendengus, meski di dalam hatinya ia merasa aneh. Pria ini begitu mudah menandatangani surat yang akan membelenggu hidupnya selama setahun tanpa bayaran. Jika dia benar-benar begal atau pencari harta, dia pasti akan meminta uang di muka.
"Angga, kenapa Papa jahat banget? Kenapa aku harus di sini?" rengek Vanya lagi.
"Maaf Nona, instruksi Pak Bram sudah jelas. Nona harus tetap di sini selama satu minggu sebagai hukuman. Setelah urusan di balai desa benar-benar dingin, baru Nona akan dipindahkan," jawab Angga sebelum pamit undur diri dengan langkah cepat.
Suara notifikasi nyaring terdengar dari ponsel Reyhan yang terpasang di stang motor matiknya. Ting! Sebuah pesanan masuk.
"Nona, aku berangkat dulu. Ada orderan masuk," kata Reyhan sambil merapikan helmnya. Ia melihat Vanya yang masih berdiri mematung di tengah ruangan. "Nih, salam dulu sama suamimu."
Reyhan mengulurkan tangannya dengan nada bercanda. Vanya melompat mundur seolah melihat ulat bulu. "Ih, najis! Jangan harap ya! Kamu itu cuma pengganggu dalam hidupku!"
Reyhan tertawa kecil, suara tawa yang entah kenapa terdengar merdu namun menjengkelkan di telinga Vanya. "Ya sudah, maaf aku lupa. Aku kan tidak boleh menyentuhmu menurut pasal di map tadi."
Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti dan menoleh dengan wajah serius yang dibuat-buat. "Oh ya, hati-hati di dalam. Kecoa di sini genit-genit. Mereka suka sekali dengan kulit halus orang kota yang wangi."
"Kecoa? Ngakk! Aku takut!" Vanya refleks menjerit. Pikirannya langsung terbayang serangga cokelat mengkilap yang terbang ke arah rambutnya.
Tanpa sadar, Vanya berlari dan memeluk lengan Reyhan dari samping, menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu. Aroma maskulin dari kemeja Reyhan yang ia pakai—yang kini bercampur dengan aroma tubuh pria itu—kembali memenuhi indranya.
Reyhan mematung sejenak. Ia menatap ke arah tangan Vanya yang mencengkeram kuat lengannya. "Ini tidak termasuk melanggar perjanjian, kan?" goda Reyhan dengan alis terangkat. "Soalnya kamu yang menyentuhku, bukan aku yang menyentuhmu. Tenang, aku tidak akan mengenakan denda padamu."
Vanya tersadar. Ia langsung melepaskan pelukannya dengan wajah memerah sempurna—antara malu dan marah. "Pergi sana! Dasar begal mesum!"
"Aku berangkat. Assalamu’alaikum," Reyhan menutup pintu, meninggalkan Vanya yang kini berdiri di atas tikar sambil waspada memperhatikan sudut-sudut lemari plastik.
Reyhan memacu sepeda motor matiknya menembus udara pagi yang mulai menghangat. Ia mencoba menyingkirkan bayangan Vanya dari kepalanya. Baginya, pernikahan ini hanyalah jeda dari rencana besarnya untuk kembali ke dunia yang seharusnya ia tempati.
Ponselnya menunjukkan titik jemput di depan sebuah butik mewah yang berjarak tiga kilometer dari desa. Ia sampai tepat waktu. Seorang wanita dengan gaun anggun, kacamata hitam, dan rambut yang tertata rapi sedang berdiri menanti di trotoar.
Reyhan melihat seorang wanita paruh baya berdiri di depan gerbang sebuah rumah. Wanita itu mengenakan gamis yang bersahaja namun elegan, wajahnya memancarkan keanggunan yang tertutup awan kesedihan.
Reyhan menghentikan motornya tepat di depannya. "Pesanan ojek atas nama Ibu Widya?" tanya Reyhan sambil membuka kaca helmnya.
Wanita itu mendongak. Begitu mata mereka bertemu, napasnya seolah tertahan. Tangannya yang memegang tas kecil gemetar hebat. Ia menatap wajah pengemudi ojol di depannya dengan tatapan yang sangat dalam, seolah mencari potongan memori yang hilang.
"Reyhan?" suara wanita itu nyaris tidak terdengar, tercekat di tenggorokan.
Reyhan terpaku. Seluruh otot di tubuhnya menegang. Suara itu, tatapan itu—meski sudah bertahun-tahun ia coba kubur dalam-dalam—tetap menjadi bagian dari setiap denyut jantungnya.
"Ibu...?" gumam Reyhan lirih.
Reyhan tidak percaya, ibunya akan menemukkannya. Dia ingin hilang tanpa jejak dari keluarganya Dirgantara, terutama ayah, paman dan sepupunya. Namun memang sosok ibu-lah yang selalu mengkhawatirkan dan mencemaskannya.
Pria yang baru saja dipaksa menandatangani perjanjian "budak" oleh keluarga Hutama itu, kini justru dihadapkan pada sosok dari keluarganya yang paling menyakitkan. Pertemuan yang tak pernah ia sangka akan terjadi di atas motor matik bututnya. Reyhan terkejut, karena ternyata...
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan