NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Atap Tenda Hijau

Kawasan Terminal Lama Cepu yang mereka datangi, rupanya telah jauh berubah dari masa kejayaannya dahulu. Alih-alih dipenuhi jajaran bus antarkota yang mengular, area aspal yang mulai mengelupas itu kini telah beralih fungsi sepenuhnya menjadi area pasar tradisional yang padat dan riuh. Lapak-lapak pedagang kaki lima, tumpukan keranjang bambu, dan aroma khas buah dan sayur segar berpadu dengan kepulan asap dari warung-warung makan di sekitarnya.

Melihat kondisi pasar yang sangat ramai dan membingungkan, Teguh menoleh ke arah Rana yang wajahnya kian memucat.

"Rana, kamu tunggu di penjual es cendol saja. Biar aku yang jalan kaki ke dalam area pasar untuk bertanya."

Rana yang merasa tenaganya seolah tersedot habis oleh rasa cemas hanya bisa mengangguk pasrah. Ia melangkah lunglai menuju bangku kayu panjang milik pedagang es cendol, sementara Teguh dengan cekatan mulai membelah kerumunan pengunjung pasar.

Teguh berjalan mendekati sebuah lapak besar yang menjajakan aneka buah-buahan segar. Di sana, seorang pria paruh baya sedang sibuk menata buah jeruk ke dalam wadah.

"Permisi, Pak. Numpang tanya," kata Teguh, mengetuk pelan tiang kayu lapak.

"Iya, Mas. Mau cari buah apa?" sahut pedagang buah itu ramah.

"Bukan mau beli buah, Pak. Saya mau tanya, apa Bapak kenal dengan Pak Tarmuji? Katanya tempat tinggal atau tempat usahanya dekat dengan area Terminal Lama ini."

Pedagang buah tersebut menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia meletakkan buah jeruk di tangannya dan tampak berpikir keras, mencoba menggali ingatan dari deretan nama jajaran pekerja di pasar tersebut.

"Tarmuji...? Sebentar ya, Mas."

Pria itu berbalik badan, melangkah masuk ke dalam area rumah petak di belakang lapaknya. Tak berselang lama, ia kembali keluar bersama dengan seorang wanita paruh baya bercelemek tebal yang tampaknya adalah istrinya.

"Cari siapa tadi, Mas?" tanya wanita paruh baya tersebut dengan dahi berkerut, menatap Teguh penuh selidik.

"Pak Tarmuji, Bu. Yang aslinya dari daerah Bojonegoro," perjelas Teguh.

"Owalah, Tarmuji!" seru wanita itu seketika, wajahnya langsung cerah karena mengenali nama tersebut.

"Kalau Tarmuji yang Mas maksud itu, Mas tinggal jalan lurus saja ke arah deretan warung lalapan yang ada di sebelah sana. Itu ujung sana, warungnya Tarmuji."

Teguh menajamkan pandangannya, menatap ke arah titik geografis yang ditunjukkan oleh telunjuk wanita itu. Namun, di sana terlihat ada tiga warung tenda kaki lima yang berdiri berjajar rapat.

"Maaf, Bu, warungnya yang sebelah mana ya? Di sana ada beberapa tenda."

"Yang tendanya warna hijau, Mas. Yang paling pojok dekat pohon mangga," imbuh laki-laki pedagang buah yang sebelumnya, memberikan petunjuk yang lebih spesifik.

"Alhamdulillah. Terima kasih banyak ya, Pak, Bu, atas informasinya," ucap Teguh penuh rasa syukur.

Ia segera memutar langkahnya, berjalan cepat kembali menuju ke tempat di mana Rana sedang menunggunya.

Di bawah rindang pohon kersen, Rana tampak duduk melamun sembari mengaduk-aduk gelas es cendolnya yang mulai mencair tanpa minat untuk meminumnya. Begitu Teguh datang dan menduduki bangku di sampingnya, Rana langsung menatap sepupunya itu dengan pandangan menuntut kepastian.

Teguh tidak langsung menjawab. Ia meraih gelas es cendol miliknya sendiri yang baru saja disajikan, lalu meneguknya dengan cepat hingga tersisa separuh demi membasahi tenggorokannya yang kering akibat terik udara Cepu. Setelah napasnya kembali teratur, barulah Teguh menyampaikan informasi berharga yang baru saja didapatkannya.

"Warung tenda hijau yang paling pojok di seberang sana itu, Na. Kata orang-orang pasar, itu warung milik Paklek Tarmuji," bisik Teguh pelan agar tidak terdengar oleh penjual es cendol.

Rana seketika memalingkan wajahnya, menatap lekat-lekat ke arah warung tenda kain berwarna hijau kusam yang berjarak sekitar lima puluh meter dari posisi mereka duduk. Jantungnya kembali bertalu-talu dengan ritme yang tidak beraturan. Ada rasa tidak percaya yang membuncah di dalam dadanya; setelah belasan tahun hidup dalam kegelapan identitas, kini sosok sang ayah berada tepat di depan matanya.

"Ayo! Kita samperin sekarang," ajak Teguh yang telah menandaskan sisa es di gelasnya hingga mengeluarkan suara sedotan yang nyaring.

Pemuda itu langsung bangkit berdiri dengan penuh semangat.

Rana mengangguk pelan, mencoba mengusir segala bentuk kepanikan yang menggelayuti benaknya. Ia buru-buru merogoh saku, mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar es cendol mereka kepada penjual, lalu melangkah mengekor di belakang punggung tegap Teguh.

Sesampainya di depan warung tenda hijau tersebut, aroma harum sambal terasi dan bau bumbu kunyi dan ketumbar yang seketika menyambut indra penciuman mereka. Teguh menyibak kain tenda penutup perlahan. Kedua sepupu itu melangkah masuk ke dalam dan menemukan kondisi warung yang saat itu sedang sepi pengunjung.

Di balik etalase kaca, tampak seorang wanita paruh baya berwajah teduh yang usianya diperkirakan seumuran dengan Bu Retno sedang sibuk mengelap piring-piring kosong.

"Permisi, Bu. Apa benar ini warung makannya Pak Tarmuji?" tanya Teguh membuka suara, memecah keheningan di dalam tenda.

Perempuan paruh baya itu menghentikan aktivitas mengelapnya. Ia menatap Teguh dan Rana bergantian, lalu menyunggingkan sebuah senyuman ramah yang teramat tulus dari bibirnya yang dihiasi guratan usia.

"Iya, benar sekali, Mas, Mbak. Ini warung milik kami. Tapi mohon maaf, saat ini suami saya sedang tidak ada di tempat, sedang pergi ke pasar induk untuk membeli ayam potong dan ikan. Ada keperluan apa ya, kalau boleh tahu?"

Mendengar frasa "suami saya" keluar dengan begitu natural dari bibir wanita asing tersebut, tubuh Rana seketika bergetar hebat bagaikan tersengat aliran listrik bertegangan tinggi. Kepalanya mendadak terasa pening, dan pasokan oksigen di sekitarnya seolah menipis.

Suami... jadi, Ayah sudah menikah lagi? Ayah sudah membangun sebuah lembaran hidup dan keluarga yang baru di kota ini? batin Rana menjerit pilu. Apa ayah akan sama seperti ibu yang menganggapku sebagai beban?

Dengan gerakan panik yang sarat akan keputusasaan, Rana mendadak menarik kuat-kuat ujung lengan jaket yang dikenakan Teguh. Teguh yang terkejut dengan tarikan mendadak itu seketika menengok ke belakang, menatap wajah Rana yang hampir menangis dengan bibir yang dirapatkan. Rana menggelengkan kepalanya kuat-kuat ke arah Teguh.

"Kenapa?" bisik Teguh sangat pelan, kebingungan dengan perubahan drastis sikap adik sepupunya.

"Bapak... Bapak sudah memiliki keluarga baru di sini, Mas," bisik Rana dengan suara yang teramat serak dan nyaris tidak terdengar di antara deru kendaraan di luar tenda.

"Aku... aku tidak mau mengganggu kebahagiaan hidupnya. Aku tidak ingin apa yang terjadi kepadaku di rumah Ibu, kembali terulang di sini. Aku tidak mau jadi benalu lagi. Kita kembali pulang saja sekarang."

Mendengar kalimat trauma yang meluncur dari lubuk hati Rana, Teguh menatap sepupunya itu dengan pandangan mata yang teramat prihatin sekaligus tegas. Ia memegang kedua belah bahu Rana, mencoba menyalurkan kekuatan yang ia miliki.

"Rana, dengarkan aku," bisik Teguh menenangkan.

"Kita sudah melintasi batas provinsi untuk sampai ke titik ini. Masa kamu mau menyerah begitu saja sebelum melihat wajahnya? Ingat perjodohan gila di rumahmu. Mungkin saja... tabiat bapakmu berbeda dengan Bulek Retno."

Tanpa menunggu persetujuan atau jawaban lebih lanjut dari Rana yang masih dirundung kebimbangan, Teguh langsung membalikkan badannya menghampiri ibu pemilik warung kembali dengan senyum ramah yang terkembang.

"Kalau begitu, kami boleh memesan dua porsi nasi lalapan ayam goreng beserta es teh manisnya? Kami berniat untuk menunggu di sini sampai Pak Tarmuji datang," kata Teguh sengaja memesan makanan agar mereka memiliki alasan logis untuk tetap bertahan di dalam tenda.

"Oh, tentu saja boleh, Mas, Mbak. Silakan duduk dulu. Biar saya siapkan pesanannya ya," jawab ibu tersebut dengan nada yang sangat ramah dan cekatan.

Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung bagi Rana. Makanan yang disajikan di atas meja kayu di depan mereka sebenarnya terlihat sangat menggugah selera, namun bagi Rana, nasi itu terasa hambar di lidahnya. Demi menghargai usaha Teguh, Rana mulai menyuap makanannya sesendok demi sesendok.

"Suami saya barusan telepon, katanya sebentar lagi sampai," kata ibu pemilik warung ramah sembari meletakkan dua gelas es teh manis di atas meja mereka.

Tepat ketika Rana dan Teguh baru saja menyelesaikan suapan terakhir dari makanan mereka, kain penutup tenda hijau di bagian depan seketika tersibak dari luar.

Seorang laki-laki paruh baya melangkah masuk ke dalam tenda dengan langkah yang tidak stabil. Perawakannya tampak sangat kurus, mengenakan kaos oblong putih yang sudah menguning di beberapa bagian, serta celana kain longgar.

Satu hal yang langsung menyita perhatian adalah kaki kanannya yang tampak berjalan pincang; sebuah disabilitas fisik yang tampaknya didapat akibat kecelakaan di masa lalu. Pria tua itu tampak kepayahan menenteng sebuah keranjang plastik besar berisi beberapa ekor ayam potong yang baru dibelinya.

Melihat kedatangan suaminya, sang ibu pemilik warung dengan sigap langsung berlari kecil menghampiri, mengambil alih keranjang plastik berat tersebut dari genggaman sang suami dengan penuh perhatian.

"Pak, itu dua orang anak muda yang menunggumu. Katanya ada keperluan penting yang mau disampaikan langsung," bisik ibu pemilik warung sembari menunjuk ke arah meja Teguh dan Rana menggunakan dagunya.

Pria tua bertubuh kurus itu tampak mengernyitkan dahinya heran. Ia menyeka sisa keringat yang membasahi pelipisnya dengan ujung kaosnya, lalu berjalan melangkah tertatih menghampiri meja.

"Saya Tarmuji, Mas, Mbak. Sepertinya kalian bukan orang sini. Kalau boleh tahu, ada perlu apa mencari saya jauh-jauh ke sini?" tanya Pak Tarmuji sembari mendudukkan tubuh lelahnya di atas bangku panjang, tepat di samping posisi duduk Teguh.

Detik itu juga, seluruh dunia Rana seolah berhenti berputar.

Rana menatap lekat-lekat, tanpa berkedip sedikit pun, ke arah garis wajah pria paruh baya yang kini duduk tepat di depan matanya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa ngilu di dada. Dengan pencahayaan matahari yang melewati sela-sela tenda, Rana menemukan fakta visual yang teramat nyata.

Ada begitu banyak kemiripan fisik yang mutlak antara dirinya dengan pria tua di depannya ini. Bentuk alis tebal yang hampir menyatu, lekuk hidung bangir yang tegas, hingga tekstur rambut lebat yang sedikit bergelombang; semuanya adalah replika sempurna yang selama ini ia lihat setiap pagi di pantulan cermin kamarnya sendiri. Kemiripan yang tidak akan pernah bisa disangkal oleh hukum alam mana pun di dunia ini.

Bersamaan dengan tatapan mata mereka yang saling beradu di udara, Rana mendadak merasakan sebuah sensasi kedekatan emosional yang teramat aneh sekaligus hangat menyergap masuk ke dalam relung hatinya yang paling dalam. Apa ini yang dinamakan ikatan batin suci antara darah daging?

1
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!