Alih-alih menikmati fasilitas orang tuanya Sheeva memilih menepi dan hidup di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas 8 menengah atas. Banyak hal membuatnya memutuskan demikian
lantas apa yang mendorong gadis sekecil itu menjauh dari dekapan hangat keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anggap saja aku sudah mati
Langkah kaki Sheeva terhenti berayun. Dadanya bergemuruh dan nafasnya memburu. Orang-orang yang selama lima tahun ini berusaha keras ia hindari terlihat berdiri tegak di hadapannya. Dia berusaha tetap tenang dan menguasai diri dengan baik.
" Queen..!" Sheeva menatap acuh pria yang memanggilnya. Pria yang seharusnya menjadi tempat ternyaman baginya bersandar, namun pada kenyataannya pria inilah yang paling menebar luka dalam dirinya.
Pandu berusaha mendekat. Dia berusaha meraih tubuh putrinya yang sudah lima tahun ini tak dapat dia peluk. Tanpa aba-aba Pandu dengan erat memeluk tubuh Sheeva. Bunda aya yang ada di sebelah Sheeva hanya bisa menatap sendu kearah Sheeva yang tak bereaksi kala di peluk papanya.
Sheeva memejamkan matanya. Mencoba meredam amarah dan rasa kecewa yang selama ini dia pendam. Andai tidak sedang di tempat umum begini, tentu Sheeva memilih berontak.
" Kemana aja selama ini kamu sayang, papa terus cari kamu. Pulang ya ?" Sheeva tersenyum sinis. Dia tau papanya berbohong. Mana mungkin seorang pandu Hutama tidak bisa mengetahui keberadaan dirinya yang masih satu kota yang sama dengan tempat dirinya tinggal.
" Apa kamu tidak kangen papa Queen..?" Sheeva masih saja bungkam. Mulutnya terlihat sangat enggan menjawab. Sheeva justru terlihat ingin melepas pelukan papanya.
" Queen...!" pandu nampaknya Frustasi dengan kediaman Sheeva.
" Jadi selama ini kamu yang menyembunyikan anak pelakor ini ?" Bunda Aya terkejut, yang lain pun sama.
Suara lantang Anjani sukses membangkitan amarah Sheeva yabg sejak tadi dia mencoba keras menahannya. Matanya tajam menoleh kearah Anjani.
" Coba kamu ulangi sekali lagi pertanyaanmu ?" Ucap Sheeva penuh penekanan.
" Jaga mulutmu " Imbuh Sheeva dengan suara sedikit lebih lantang. Ini sukses mebuat Anjani terlonjak kaget.
" Sudah jangan pada ribut kalian kan saudara. Kamu ikut papa ya Queen " Sheeva kembali menoleh kearah Pandu. Bukan sorot kerinduan, hanya pancaran amarah yang ada dalam sorot matanya.
" Untuk apa ?" Satu pertanyaan keluar dari mulut Sheeva dengan nada dingin.
" Hay jaga ya sopan santumu, dia itu papamu " Saut ibu tiri Sheeva.
" Bun Ayo pulang " Sheeva meraih tangan bunda Aya.
Sheeva enggan menciptakan huru-hara dengan keluarganya. Terlebih di tempat umum begini. Maka dari itu dia memilih meninggalkan toko tempat dia belanja barang-barang keperluan tokonya itu segera.
" Berhenti kamu anak pelakor !" Suara lantang Anjani menarik atensi para pengunjung toko sekaligus membuat tubuh Sheeva bergetar karena menahan amarah. Dia secepat kilat membalikan badannya.
" Jangan membuatku lepas kendali atau memang kamu ingin dunia tau siapa yang sebenarnya pelakor di sini, mamaku atau mama yang kamu banggakan itu ?"
" Buat apa aku takut, faktanya memang kamu anak pelkor kan ?"
" Bisa anda jelaskan yang sebenarnya tuan Pandu ?" Sheeva sepertinya enggan memanggil Pandu dengan sebutan papa"
" Baik kalau anda tidak sanggup menjelaskannya. Biar saya wakilkan. " Sheeva mendekat kearah Anjani dengan tatapan tajam fokus ke mata Anjani.
" Anda dengan baik-baik nona Anjani Hutama. Nyonya Widya ini adalah perebut sebenarnya. Salah jika anda menuduh mama Maharani sebagai seorang pelakor. Karena pelakor sesungguhnya itu adalah mamamu "
" Jangan memutar balikan Fakta "
" Kenyataannya memang begitu nona. Anda silahkan buktikan sendiri dengan melihat buku nikah mereka yang entah punya apa tidak ?"
" Jangan kurang ajar ya kamu " Widya yang tidak terima dengan ucapan Sheeva hampir saja melayangkan tamparan ke arah pipi Sheeva. Beruntung ada yang menangkap tangannya sebelum sempat menyentuh pipi Sheeva.
" Kak Kai " Sheeva terkejut begitu mengetahui Kay lah yang berusaha melindunginya.
" Hai siapa kamu, jangan ikut campur urusan keluarga kami. " Kay menghempas tangan Widya dan menatap Widya dengan tajam.
" Ogh atau jangan-jangan kamu .. ?" Kai masih menatap tajam kearah perempuan paruh baya itu.
" Bagus kamu ya Queen, lima tahun keluar dari rumah menjalang kamu rupanya ?" Bukan hanya Sheeva, amarah Kay dan bunda Aya pun mendidih.
" Apakah anda lupa nyonya jika, andalah jalan sesungguhnya ?" Ucap Sheeva dengan senyuman sinis di bibirnya.
" Queen jaga bicaramu, dia itu mamamu " Suara menggelegar Pandu membuat tubuh Sheeva bergetas, namun dia tutupi dengan kekehan kecil.
" Apakah anda lupa tuan Pandu jika, mama saya sudah meninggal lima tahun lalu ?" Ucap Sheeva dengan suara bergetar.
" Tapi dia ini istri papa. Hormati dia, sekarang dia itu mamamu. Minta maaf sama mamamu atau... ?"
" Atau apa tuan Pandu ?"
" Anda mau mengusir saya, mengeluarkan saya dari KK atau mau menghapus nama saya dari ahli waris anda ?" Pandu terdiam.
" Bukankah itu sudah anda lakukan semenjak lima tahun lalu atau bahkan sejak sebelum saya lahir ?"
" Dasar anak pelakor tidak tau diri. Jaga sopan santunmu " Anjani lagi-lagi membuat amarah Sheeva meluap.
" Kamu masih kurang jelas dengan apa yang ku ucap tadi ?"
" Baik kalau begitu. Tolong dengarkan baik-baik yang aku ucap ya ?"
" Wanita sering kamu sebut-sebut sebagai seorang pelakor itu adalah istri pertama sekaligus istri sah tuan Pandu. Karena tak kunjung memberikan keturunan. Wanita jalang ini " Sheeva menunjuk Widya.
" Berhasil membuat tuan Pandu berpaling kearahnya dengan rayuannya yang menjijikan. Mamamu ini datang mengaku hamil tuan muda Jagad saat hari di mana mama Maharani dan tuan Pandu merayakan pesta anniversary yang ke 4. Sekarang pakai otak tumpul kamu buat berfikir, siapa perebut sesungunya di sini ?"
Tubuh Sheeva bergetar, beruntung Kay mengenam salam satu tanganya. Kay membiarkan Sheeva mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hatinya. Dia hanya terus mengenggam tangan Sheeva agar Sheeva tau ada dia yang akan selalu mendukungnya.
" Dek..!" Jagad segera meluncur ketempat orang tuanya menemui Sheeva setelah mendapat laporan dari pamungkas.
" Kenapa tuan muda Jagad ?"
" Anda tidak terima saya bicara begitu?"
" Anda masih saja diam demi menjaga nama baik wanita yang bahkan merawat anda pun tak mau ?"
" Cukup.. Sudah cukup selama ini kalian merendahkan harga diri mamaku "
" Apakah kalian masih punya muka, selalu saja menghina mamaku akan tetapi kalian masih menikmati hasil kerja keras mamaku ?"
" Cukup Queen .." sentak Pandu.
" Sebatas mana saya harus berhenti tuan Pandu ?"
" Mohon maaf, saya bukan mama yang hanya dia ketika anda mengkhianatinya, menikmati hartanya bahkan merendahkan harga dirinya karena terlalu cinta pada pria tidak tau diri seperti anda "
" Lupakah anda dengan banyaknya luka yang anda toreh dalam diri mama saya ?"
" Anda mengkhianatinya hanya kerena dia belum memiliki keturunan padahal demi anda dia rela meninggalkan kehidupan nyamannya bersama keluarga besarnya. Anda meniduri sekretaris anda dan dengan tega membiarkan mama saya merawat anak hasil perselingkuhan anda. Masih manusiakah anda ?"
" Itu mamamu yang mau Queen " Seru Widya.
" Ya, itu karena anda ingin membuang tuan muda jagad kepanti asuhan " Ucapan lantang Sheeva membuat Jagad tertegun. Dia tidak tau jika begitu ceritanya dulu. Sementara Pandu dan Widya kelabakan di buatnya.
" Sebaik itu seorang Maharani Raharja. Tapi lagi-lagi hanya bisa diam kala saat dunia menyebutnya sebagai seorang pelakor. Anda sebagai suaminya alih-alih menjelaskan anda justru memilih dia dan seolah membenarkan tuduhan kejam itu. Terima kasih tuan Pandu sudah melukai mama saya sedalam ini "
" Queen.." Pandu berusaha meraih tangan putrinya. Dia sudah mulai kehilangan muka. Karena banyak pengunjung yang melihat kearah mereka.
" Jangan panggil aku Queen. Queen sudah mati bersama jasad Maharani yang sudah tersemayamkan " Suara Sheeva berubah menjadi dingin.
" Andai anda datang tepat waktu tuan Pandu. Rasa sakit dan kecewa ini tentu tidak akan mendarah daging. Anda begitu gila dalam mengabaikannya. Tubuhnya sekarat, namum masih sempat mencari anda. Dia hanya ingin anda memeluknya. Sebelum nyawa itu benar-benar lepas dari raganya. Namum alih-alih segera kerumah sakit, anda justru berpesta dengan gundikmu itu "
" Saya yakin di hari mama saya meninggal anda lebih memilih mengadakan pesta ulang tahun wanita ular itu ketimbang mendatangi makam mama saya " Pandu merasa tertampar. Memang begitulah kenyataannya.
" Bagaimana anda mau mendatangi makamnya, saya rasa sampai sekarang anda pun tak tau di mana pusarannya. Anda bahkan baru pulang saat kami selesai mengubur jasadnya. Benar-benar suami luar biasa kan anda ini ?"
Bunda Aya mendekat lalu, mengusap lengan Sheeva. Dia tau tidak mudah bagi Sheeva mengeluarkan semuanya begini.
" Jika tuhan menjodohkan kalian rasanya memang sudah sangat tepat. Yang satu tak tau malu dan satunya lagi bajingan tidak tau diri "
" Jaga batasanmu Queen " Karena marah bercampur malu, Pandu melayangkan Tamparan keras kearah Sheeva. Sheeva sedikit terhuyung.
Kay yang tadi kurang fokus merasa kecolongan dia segera memeluk tubuh Sheeva yang mulai lemah.
" Queen..!" Jagad segera mendekat kearah adiknya.
" Papa benar-benar keterlauan " Dia hendak berucap kembali, namu tangannya di raih dan di genggam oleh Sheeva. Sheeva maju mendekat ke arah papanya.
" Terima kasih tuan Pandu. Anda membuat saya semakin yakin jika saya memang tidak pernah ada di hati anda. Maaf apabila mulut saya sudah terlalu lancang membuka aib anda. Saya berjanji setelah ini saya tidak akan pernah meributi hidup anda lagi. Anggap saja saya sudah mati " Pandu terlihat sangat menyesal dan mecoba meraih tubuh Sheeva yang semakin melemah.
terlalu berat beban hidup sheeva..