Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Membekas di Meja Makan
Cahaya matahari pagi yang menyerobot masuk melalui celah gorden terasa seperti jarum-jarum tajam yang menusuk mata Lea. Ia mengerang, memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Rasa mual melilit perutnya, dan tenggorokannya terasa sekering padang pasir. Efek lima botol minuman keras semalam benar-benar menyiksa setiap saraf di tubuhnya.
Lea menatap sekeliling dengan bingung. Ia berada di kamarnya. Di pesantren.
"Gue pulang... gimana caranya?" gumamnya parau.
Memori semalam terasa samar dan berkabut. Ia ingat amarahnya pada Tom, dentuman musik di *club*, rasa terbakar alkohol di lidahnya, dan kemudian... bayangan sesosok pria berjaket hitam dengan tatapan sedingin es. Apakah itu Gus Malik? Ataukah ia hanya berhalusinasi di tengah mabuknya? Lea mencoba mengingat lebih keras, namun yang muncul hanyalah potongan adegan ciuman yang terasa panas dan gerakan tubuh yang ia sendiri malu untuk mengakuinya.
Tanpa sempat mandi atau mengganti pakaian karena kepalanya terlalu sakit untuk sekadar berdiri lama Lea hanya mencuci muka dan merapikan rambut pirangnya yang awut-awutan. Ia masih mengenakan *dress* bunga-bunga yang kini tampak kusut dan berbau alkohol yang tersamar.
Dengan langkah limbung, ia turun ke ruang makan. Ia lapar, dan ia butuh penjelasan.
Di meja makan, suasana sudah penuh. Najwa duduk di kursi rodanya dengan wajah yang masih menyisakan sisa-sisa duka semalam. Gus Malik duduk tegak di kursinya, wajahnya sangat kaku, pandangannya tertuju lurus pada piring nasi goreng di depannya. Arkan duduk di antara mereka, sedang asyik memainkan sendoknya.
Begitu Lea muncul dengan penampilan yang "mengenaskan" dan pakaian dari club semalam, Ibu mertua Malik yang juga ada di sana tampak beristighfar pelan, namun Najwa segera memegang tangan ibunya agar tetap diam.
Lea duduk di kursinya tanpa mengucapkan salam. Suasana mendadak hening, hanya suara denting sendok Arkan yang terdengar.
"Lea, makanlah dulu. Kakak sudah buatkan teh hangat untuk perutmu," ucap Najwa dengan suara yang sangat lembut, meski matanya nampak sembap.
Lea hanya mengangguk kecil, tidak berani menatap kakaknya. Ia justru melirik ke arah Gus Malik. Pria itu sama sekali tidak menoleh padanya. Namun, ada sesuatu yang aneh. Lea menyadari bahwa bibir bawah Malik nampak sedikit membengkak dan ada luka kecil di sudutnya bekas ciuman rakus Lea yang tak terkendali semalam.
Secara tidak sadar, Lea meraba bibirnya sendiri yang juga terasa sedikit perih dan bengkak.
Keheningan itu pecah oleh suara polos Arkan. Bocah kecil itu menatap bibir Lea, lalu beralih menatap bibir abinya secara bergantian. Matanya yang bulat memancarkan rasa penasaran yang murni.
"Abi... Onty Lea..." Arkan menunjuk bibir keduanya.
Gus Malik mendongak, namun tetap menghindari mata Lea. "Kenapa, Arkan?"
"Bibir Abi sama Onty kok sama-sama bengkak sih? Apa Abi sama Onty habis digigit tawon bareng-bareng?" tanya Arkan dengan nada sangat jujur dan polos.
*Uhuk! Uhuk!*
Lea yang baru saja menyeruput teh hangatnya langsung tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk hingga wajahnya merah padam. Di saat yang bersamaan, Gus Malik yang sedang mengunyah nasi gorengnya juga tersedak. Ia terbatuk, meraih gelas air mineralnya dengan gerakan kaku dan tangan yang sedikit gemetar.
Wajah kaku Malik kini berubah menjadi kemerahan, campuran antara tersedak dan rasa malu yang luar biasa karena diingatkan secara langsung pada insiden memalukan di *club* tersebut.
"Bukan, Arkan... Abi... Abi hanya kurang tidur," jawab Malik terbata-bata setelah berhasil menenangkan batuknya. Suaranya terdengar tidak meyakinkan.
"Iya, Arkan. Onty juga... Onty kena alergi makanan kayaknya," sahut Lea cepat, menghindari tatapan semua orang di meja makan. Jantungnya berdegup kencang. Ia mulai teringat betapa agresifnya ia semalam di pangkuan pria itu.
Najwa, yang duduk di sana, hanya bisa menundukkan kepala. Ia melihat reaksi keduanya. Ada rasa senang di sudut hatinya karena suaminya benar-benar menjalankan permintaannya untuk membawa Lea pulang dan menjaganya, meskipun ia tahu ada "sesuatu" yang terjadi yang tidak bisa diceritakan.
Namun, di sisi lain, ada rasa sedih yang mendalam. Ia melihat betapa beratnya beban yang ia letakkan di pundak Malik, dan betapa hancurnya adiknya yang harus melalui semua ini dalam ketidaksadaran.
"Sudah, Arkan. Habiskan makannya," ucap Najwa lirih, mencoba menengahi kecanggungan yang luar biasa itu.
Lea terus menunduk, menyuap nasi gorengnya dengan perasaan tak karuan. Rasa bersalah mulai merayap pelan di hatinya saat ia melihat wajah Najwa yang tulus. Sementara Malik kembali pada posisinya semula dingin dan tak tersentuh meski luka di bibirnya menjadi saksi bisu bahwa semalam, tembok pembatas di antara mereka sempat runtuh dalam cara yang paling tidak terduga.
Pagi itu, di meja makan pesantren yang suci, sebuah rahasia baru kembali terkunci rapat, menyisakan tanya di benak anak kecil dan luka yang semakin dalam di hati orang dewasa.