NovelToon NovelToon
GODDESS AGAINST FATE

GODDESS AGAINST FATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: XING YI

​Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.

​Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19:Konflik Dengan Han Zhao

Pagi itu, suasana di paviliun Chen Lin masih diselimuti sisa-sisa hawa dingin dari meditasinya semalam. Namun, ketenangan itu terganggu saat seorang murid utusan datang membawa pesan penting. Penatua Lu memanggilnya kembali ke aula utama.

Saat Chen Lin melangkah masuk ke Aula Penatua, ia mendapati Penatua Lu tidak lagi duduk bermeditasi, melainkan sedang berdiri menatap sebuah peta wilayah Utara yang terbuat dari kristal cair.

"Chen Lin, kau telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dalam waktu singkat," suara Penatua Lu terdengar berat, namun penuh pertimbangan.

"Namun, seorang kultivator tidak bisa hanya mengandalkan meditasi di balik dinding sekte. Fondasimu sudah stabil, tapi kau membutuhkan sesuatu yang lebih untuk menghadapi badai yang sedang menuju ke arahmu."

Chen Lin membungkuk hormat. "Apakah ini mengenai Han Zhao, Penatua?"

Penatua Lu menghela napas. "Keluarga Han telah mulai bergerak, itu benar. Namun, ada hal lebih mendesak bagi sekte. Tiga hari lagi, Rumah Pelelangan Awan Langit di Kota Salju Abadi akan mengadakan lelang besar tahunan. Kabar yang kuterima menyatakan bahwa salah satu barang yang akan dilelang adalah 'Fragmen Jantung Es Purba'."

Mata Chen Lin sedikit menyipit. Fragmen itu adalah bahan langka yang bisa meningkatkan kualitas energi es hingga ke tingkat yang tidak terbayangkan.

"Aku ingin kau menjadi utusan Sekte Bing Si untuk mendapatkan barang tersebut," lanjut Penatua Lu sambil menyerahkan sebuah lencana perak dengan ukiran kepingan salju.

"Gunakan lencana ini untuk mengakses dana sekte. Selain fragmen itu, carilah apa pun yang sekiranya bisa memperkuat dirimu. Aku tidak ingin kau menghadapi Pure Essence dengan tangan kosong."

Chen Lin menerima lencana itu, merasakan tanggung jawab yang berat di telapak tangannya.

"Mengapa saya, Penatua? Masih banyak murid senior yang mungkin lebih berpengalaman dalam urusan luar." Penatua Lu menatap mata perak Chen Lin dengan tajam.

"Karena kau adalah satu-satunya yang memiliki aura yang tidak bisa ditebak oleh orang-orang dari kota luar. Kota Salju Abadi adalah tempat di mana kekuatan dan kelicikan bertemu. Jika aku mengirim murid senior yang sudah dikenal, mereka akan menjadi sasaran empuk bagi faksi lain, terutama Qian Jian."

"Saya mengerti, Penatua. Kapan saya harus berangkat?"

"Sekarang juga. Ambil seekor kuda salju dari istal bawah. Ingat, Chen Lin, identitasmu sebagai murid baru yang berbakat harus tetap terjaga. Jangan memancing keributan kecuali jika benar-benar diperlukan. Kota itu memiliki aturannya sendiri."

Setelah meninggalkan aula, Chen Lin segera mempersiapkan kebutuhannya. Di gerbang sekte, ia bertemu dengan Li Mei yang terlihat terkejut melihat Chen Lin sudah bersiap dengan pakaian perjalanan.

"Kau akan pergi?" tanya Li Mei dengan nada cemas.

"Penatua Lu mengutusku ke pelelangan di Kota Salju Abadi," jawab Chen Lin sambil memasang pelana pada kuda saljunya yang berbulu putih tebal.

"Itu adalah tempat yang berbahaya, Chen Lin. Banyak kultivator independen dan tentara bayaran berkumpul di sana. Belum lagi mata-mata dari sekte lain," Li Mei memperingatkan.

Chen Lin naik ke atas punggung kudanya. "Bahaya adalah hal yang biasa sekarang. Jika aku hanya berdiam diri di sini menunggu Han Zhao datang, itu sama saja dengan menyerahkan nyawaku. Aku akan kembali sebelum salju pertama bulan depan turun."

Dengan satu sentakan tali kendali, kuda salju itu melesat menuruni jalan setapak sekte, meninggalkan jejak debu es di udara. Perjalanan menuju Kota Salju Abadi memakan waktu dua hari melintasi padang es yang luas.

Sepanjang jalan, Chen Lin tetap waspada, merasakan bagaimana energi es di sekitarnya meresap ke dalam pori-porinya melalui Seni Pernapasan Jantung Salju Abadi yang terus ia latih bahkan saat bergerak.

Saat matahari mulai terbenam di hari kedua, dinding kota yang menjulang tinggi mulai terlihat di cakrawala. Kota Salju Abadi bukan sekadar pemukiman, itu adalah benteng perdagangan yang megah dengan menara-menara pengawas yang memancarkan cahaya biru magis.

"Kota Salju Abadi," gumam Chen Lin saat mendekati gerbang kota yang dijaga ketat oleh prajurit berbaju zirah perak.

Ia menarik napas panjang, merasakan aroma riuh rendah manusia dan energi yang bercampur aduk. Di tempat inilah, langkah pertamanya menuju kekuatan yang lebih besar dimulai.

Namun, tanpa ia sadari, di sebuah penginapan mewah di sudut kota, beberapa orang berjubah hitam dengan lambang pedang bersilang sedang memperhatikan kedatangannya dari balik jendela di lantai 2.

"Target telah tiba," bisik salah satu dari mereka.

"Kabari Tuan Muda Han Zhao bahwa kelinci kecilnya telah keluar dari lubangnya."

​Chen Lin melintasi jembatan gantung yang menghubungkan gerbang luar dengan distrik utama kota. Di bawahnya, sungai yang mengalir deras tidak pernah membeku sepenuhnya karena kandungan mineral spiritual yang tinggi, menciptakan uap hangat yang kontras dengan udara menggigit di atasnya.

Pemandangan ini sungguh memanjakan mata, namun Chen Lin tahu betul bahwa keindahan ini hanyalah selubung bagi kekejaman yang ada di baliknya.

​"Tunjukkan lencanamu, pengembara," tegur seorang penjaga dengan suara yang terdengar seperti gesekan logam.

​Chen Lin tidak mengeluarkan lencana perak pemberian Penatua Lu. Sebaliknya, ia memberikan lencana identitas murid luar yang lebih umum untuk menyamarkan status aslinya.

Penjaga itu menatapnya sejenak, memindai aura Chen Lin yang sengaja ia tekan hingga ke titik terendah.

​"Hanya seorang kultivator independen, ya? Masuklah, tapi ingat, di Kota Salju Abadi, hukum kekuatan adalah satu-satunya hukum yang diakui setelah matahari terbenam," penjaga itu terkekeh sinis, memperlihatkan deretan gigi yang tidak rapi.

​"Terima kasih atas peringatannya," jawab Chen Lin datar, wajahnya tetap sedingin es tanpa emosi sedikit pun.

​Setelah melewati pusat kota, Chen Lin mengambil jalur memutar menuju sisi timur kota, tempat yang dikenal sebagai Distrik Kristal. Di sini, arsitektur kota mulai berubah. Bangunan-bangunan tidak lagi terbuat dari kayu, melainkan dipahat langsung dari balok-balok es kristal yang tidak bisa mencair.

Cahaya lampu lampion biru di sepanjang jalan memantul pada permukaan dinding, menciptakan ilusi bahwa ia sedang berjalan di dalam sebuah permata raksasa.

​Lingkungan di wilayah Timur ini sungguh sunyi, jauh dari kebisingan pasar. Namun, di balik kesunyian itu, Chen Lin merasakan tatapan-tatapan tersembunyi dari balik jendela-jendela yang tertutup rapat.

​"Tempat ini benar-benar sarang ular," gumam Chen Lin pelan sambil terus memacu kudanya dengan kecepatan konstan.

​Tiba-tiba, ia merasakan fluktuasi energi yang ganjil dari arah rimbunan pohon kristal di sisi jalan. Pohon-pohon itu memiliki dahan yang tajam seperti pedang, dan daunnya yang bening gemerincing setiap kali ditiup angin.

Dengan gerakan refleks yang luar biasa, Chen Lin melompat dari punggung kudanya tepat saat sebuah proyektil cahaya melesat menghancurkan tempat ia duduk tadi.

​"Siapa?!" teriak Chen Lin, mendarat dengan ringan di atas permukaan salju yang membeku.

​Dari balik bayangan pohon kristal, muncul sosok wanita dengan pakaian kulit ketat berwarna hitam gelap, memegang sepasang belati yang memancarkan aroma racun. Ia adalah Linna, seorang pembunuh bayaran yang dikenal sebagai Mata Kucing.

​"Wah, wah, reflek yang sangat tajam untuk seorang murid baru," Linna menjilat bibirnya, tatapannya penuh nafsu membunuh yang haus darah. "Sayang sekali wajah tampan ini harus berakhir di tanganku."

​Chen Lin tidak terpancing. Ia menarik pedang esnya perlahan. Suara logam yang keluar dari sarungnya terdengar begitu jernih di tengah malam yang sunyi.

"Han Zhao benar-benar tidak sabar. Mengirim sampah sepertimu untuk menghadangku?"

​"Sampah?" Linna tertawa melengking, suaranya bergema di antara bangunan kristal.

"Kau akan menyesali kata-kata itu saat kepalamu sudah terpisah dari tubuhmu!"

​Dalam sekejap, Linna melesat maju. Gerakannya secepat kilat, menciptakan bayangan-bayangan semu di udara. Namun, bagi Chen Lin, gerakan itu tampak lambat.

Dengan tenang, ia mengalirkan Seni Pernapasan Jantung Salju Abadi ke pedangnya. Udara di sekitarnya seketika membeku, menciptakan zona gravitasi dingin yang menghambat kecepatan Linna.

​"Apa?! Energimu... ini bukan tingkat Marrow Purification biasa!" Suara Linna terkejut saat merasakan kakinya mulai membeku saat menyentuh tanah di sekitar Chen Lin.

​"Kau terlalu banyak bicara," sahut Chen Lin dingin. Dengan satu tebasan horizontal, ia melepaskan gelombang energi es yang memotong udara. Linna berhasil menghindar dengan jungkir balik yang akrobatik, namun ujung pakaiannya tetap terkena es yang langsung merambat.

​"Cukup untuk hari ini! Kita akan bertemu lagi di pelelangan!" Linna menyadari bahwa ia meremehkan targetnya. Ia melemparkan bola asap yang mengandung bubuk kristal, menciptakan kabut tebal yang menyilaukan mata, lalu menghilang ke dalam kegelapan.

​Dua hari sebelum pelelangan besar dimulai, Chen Lin secara rahasia mengirimkan pesan melalui merpati kepada Penatua Lu untuk melaporkan situasi. Ia kini telah menetap di sebuah penginapan kecil bernama Embun Pagi yang terletak di perbatasan Distrik Timur dan Pusat.

​Suasana di aula utama sekte saat Penatua Lu menerima pesan itu tampak sangat sunyi. Penatua Lu membaca gulungan energi itu dengan saksama, wajahnya yang penuh kerutan menunjukkan sedikit kekhawatiran yang jarang terlihat.

​"Chen Lin sudah bertemu dengan kaki tangan Han Zhao," gumam Penatua Lu pada dirinya sendiri.

"Anak itu memiliki ketenangan yang luar biasa, tapi musuh-musuhnya tidak akan berhenti hanya dengan pembunuh bayaran."

​Ia berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap ke arah Kota Salju Abadi yang terlihat seperti titik biru di kejauhan. "Fragmen Jantung Es Purba itu... jika ia berhasil mendapatkannya, ia akan menjadi ancaman bagi seluruh faksi di Utara. Namun jika ia gagal, Sekte Bing Si akan kehilangan masa depannya."

​Di gerbang sekte, Li Mei masih sering berdiri menatap jalan setapak yang dilalui Chen Lin tempo hari. Hatinya tidak tenang. Setiap kali angin bertiup kencang membawa debu es, ia merasa seolah itu adalah pesan dari Chen Lin.

​"Kau harus selamat, Chen Lin," bisiknya dengan suara yang bergetar. "Jangan biarkan ambisimu menelan dirimu sendiri."

​Tiba-tiba, seorang murid junior mendekatinya sambil membawa sebuah botol kecil berisi cairan biru bening. "Kakak Senior Li Mei, ada kiriman pesan energi dari Junior Chen Lin untukmu."

​Li Mei segera mengambil botol itu dengan tangan gemetar. Saat ia membukanya, suara Chen Lin yang jernih dan tenang terdengar di telinganya melalui transmisi suara.

​"Li Mei, kota ini lebih rumit dari yang kita bayangkan. Tapi jangan khawatir, aku telah menyesuaikan diri dengan suasananya. Salju di sini memiliki aroma yang berbeda, lebih tajam, namun itu membuat indraku semakin waspada. Aku akan membawa kembali apa yang diinginkan sekte, dan juga janji yang kuberikan padamu di gerbang waktu itu."

​Wajah Li Mei memerah mendengar kalimat terakhir itu. Ada sedikit senyum lega di bibirnya, meski kekhawatiran itu tetap tersisa. "Dasar kaku... dalam keadaan berbahaya pun dia masih bisa bicara seperti itu," gumamnya pelan, memeluk botol pesan itu di dadanya.

​Kembali di Kota Salju Abadi, malam sebelum pelelangan adalah waktu di mana ketegangan mencapai puncaknya.

Chen Lin berdiri di balkon penginapannya, menatap ke arah gedung Rumah Pelelangan Awan Langit yang kini diterangi oleh ribuan lampu. Bangunan itu tampak seperti istana di atas awan, dikelilingi oleh formasi pelindung yang berkilau.

​"Besok," gumam Chen Lin.

Tangannya meraba lencana perak di pinggangnya. Rasa dingin dari lencana itu seolah menyatu dengan aliran energinya.

​Suasana di luar sana sungguh aneh, jalanan yang biasanya ramai kini sepi senyap, namun udara terasa berat karena dipenuhi oleh niat membunuh yang tersembunyi.

Dari kejauhan, ia bisa melihat rombongan besar pembawa tandu yang dikawal oleh prajurit-prajurit berzirah lengkap ,itu pasti delegasi dari Sekte Qian Jian atau mungkin Keluarga Han sendiri.

​"Siapkan dirimu, Chen Lin," sebuah suara berat tiba-tiba terdengar di belakangnya.

​Chen Lin berbalik dengan cepat, tangannya sudah berada di gagang pedang. Namun, ia segera menurunkan kewaspadaannya saat melihat bayangan Penatua Lu yang diproyeksikan melalui jimat komunikasi tingkat tinggi.

​"Tetua," Chen Lin membungkuk.

​"Aku mengirim proyeksi ini untuk memberimu peringatan terakhir," proyeksi Penatua Lu tampak sedikit bergetar.

"Han Zhao tidak akan hanya diam di pelelangan. Kabar yang kudengar, ia membawa harta karun keluarga untuk menandingi tawaranmu. Dan jika ia kalah dalam pelelangan, ia pasti akan menggunakan cara kekerasan di luar kota."

​"Saya sudah menduganya, Penatua. Kota ini memiliki aturannya sendiri, dan aturan itu seringkali ditulis dengan darah," jawab Chen Lin dengan ekspresi yang sangat mantap.

​"Bagus. Ingat, Fragmen Jantung Es Purba itu memiliki kesadarannya sendiri. Jika kau merasakannya berdenyut saat pelelangan, ikuti instingmu. Jangan biarkan logika menghalangi hubunganmu dengan elemen es," pesan Penatua Lu sebelum proyeksinya menghilang menjadi butiran cahaya.

​Chen Lin kembali menatap langit yang mulai menjatuhkan serpihan salju halus. "Badai sudah datang. Dan aku adalah pusat dari badai itu."

​Pagi harinya, atmosfer kota berubah total. Kerumunan orang tumpah ruah ke jalanan menuju Rumah Pelelangan Awan Langit. Para kultivator dengan berbagai tingkatan kultivasi berkumpul, menciptakan aura kolektif yang sangat menekan. Chen Lin berjalan di antara kerumunan itu, mengenakan jubah abu-abu dengan tudung yang menutupi wajahnya.

​Saat ia tiba di depan pintu masuk besar yang terbuat dari gading gajah purba, dua penjaga tingkat Pure Essence menghadangnya.

​"Undangan atau bukti aset," ucap penjaga itu singkat.

​Chen Lin mengeluarkan lencana perak Sekte Bing Si. Begitu melihat ukiran kepingan salju yang rumit itu, ekspresi penjaga tersebut langsung berubah drastis dari meremehkan menjadi sangat hormat.

​"Silakan masuk, Tuan Utusan. Ruang VIP nomor tujuh telah disiapkan untuk Anda," penjaga itu membungkuk dalam.

​Chen Lin melangkah masuk ke dalam balai lelang yang sangat megah. Ruangan itu berbentuk amfiteater raksasa dengan langit-langit yang dihiasi oleh rasi bintang buatan dari batu permata.

Di tengah-tengah panggung, sebuah kotak kristal hitam yang masih tertutup menjadi pusat perhatian semua mata.

​Saat ia berjalan menuju ruang VIP, ia berpapasan dengan rombongan pemuda yang mengenakan jubah emas dengan sulaman naga api, itu adalah Han Zhao. Keduanya berhenti sejenak. Udara di antara mereka seketika membeku, menciptakan retakan kecil di lantai marmer di bawah kaki mereka.

​"Jadi, kau adalah 'kelinci' yang dikirim Tetua Lu?" Han Zhao tersenyum sinis, matanya memancarkan api permusuhan yang nyata.

"Nikmati kursimu selagi bisa, karena setelah hari ini, kau tidak akan punya kaki untuk berjalan kembali ke sektemu."

​Chen Lin menatap mata Han Zhao tanpa rasa takut sedikit pun. Ekspresinya tetap datar, namun suaranya membawa otoritas yang dingin.

"Seorang pemenang tidak banyak bicara sebelum pertempuran dimulai, Han Zhao. Kita lihat saja, siapa yang akan merangkak di salju nanti malam."

​"Kurang ajar!" geram Han Zhao, namun ia ditahan oleh pengawalnya. "Kita lihat saja nanti!"

​Chen Lin melanjutkan langkahnya menuju ruang VIP nomor tujuh. Di dalam ruangan yang mewah itu, ia duduk di kursi empuk yang menghadap langsung ke panggung.

Dari balik kaca satu arah, ia bisa melihat seluruh peserta lelang. Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang.

​Lampu di balai lelang mulai meredup, digantikan oleh cahaya sorot tunggal ke arah panggung. Seorang pria tua dengan jubah kuning tua melangkah maju.

​"Selamat datang, para pejuang dan bangsawan dari seluruh wilayah Utara! Hari ini, sejarah akan ditulis dalam koin emas! Mari kita mulai Pelelangan Awan Langit!" suara juru lelang itu menggelegar.

​Chen Lin menarik napas panjang, meresap aroma cendana yang ada di dalam ruangannya.

1
Milk Lk
udh nabung 2 minggu lebih gas momentum walau cuman 20 chapter, semangat terus thor up nya
Milk Lk
Wah bagus sih ini, gas next chpter tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!