Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepingan Puzzle
"Aku cucu pemilik yayasan sekolah ini, Bara," bisik Laras mantap.
Detik itu juga, Bara melongo. Mulutnya sedikit terbuka, sementara matanya membelalak menatap Laras seolah gadis itu baru saja mengaku sebagai agen rahasia. Bayangan tentang nenek pemilik yayasan langsung melintas di benak Bara.
(12 Tahun yang Lalu)
Di samping bengkel tempat Pak Seno bekerja, terdapat sebuah taman bermain pusat kota yang riuh oleh suara tawa anak-anak. Bara kecil, yang baru menginjak usia 6 tahun, tampak asyik dengan dunianya sendiri. Mengenakan kaus oblong yang sedikit terkena noda oli dari bengkel papanya, ia sibuk menumpuk butiran pasir menjadi sebuah gundukan besar.
Tiba-tiba, bayangan seseorang menutupi istana pasirnya. Seorang anak perempuan yang sangat cantik duduk di sebelahnya. Kulitnya putih bersih, rambut lurusnya dikuncir rapi, bergoyang setiap kali ia bergerak.
"Kamu main apa?" tanya anak perempuan itu, matanya bulat menatap gundukan pasir di depan Bara.
"Aku bikin istana pasir," jawab Bara polos, tangannya masih sibuk menepuk-nepuk dinding istananya agar kokoh.
"Aku boleh ikut?"
"Boleh."
Dua bocah itu pun tenggelam dalam imajinasi. Dari istana pasir, mereka beralih menjelajahi seluruh sudut taman. Mereka meluncur di perosotan, beradu tinggi di ayunan, hingga berakhir dengan aksi kejar-kejaran yang seru. Namun, keceriaan itu terhenti saat si anak perempuan tersandung akar pohon dan jatuh tersungkur. Tangisnya pecah seketika. Melihat teman barunya terluka, jiwa pelindung Bara kecil bangkit. Tanpa ragu, ia berjongkok di depan anak itu.
"Ayo naik ke punggungku, aku gendong sampai ke sana."
Dengan isak tangis yang mulai mereda, anak perempuan itu melingkarkan tangan di leher Bara. Ia menunjuk ke arah sepasang lansia yang duduk di kursi taman. Mereka tampak sedang berbincang hangat, sebuah potret harmoni yang meneduhkan.
"Ada apa ini kok digendong, Le?" tanya sang nenek dengan nada cemas saat melihat cucunya datang di punggung seorang bocah laki-laki.
"Tadi jatuh, Nek," jawab Bara sambil menurunkan beban di punggungnya dengan hati-hati.
"Oh, nggak apa-apa. Adek kan anak kuat," kata sang kakek menenangkan sembari mengambil alih cucunya ke dalam gendongan yang lebih mantap.
"Adek mau es krim?" tanya sang kakek lembut. Anak itu mengangguk pelan sembari menghapus sisa air matanya.
Sang nenek kemudian menatap Bara, melihat kaus kumalnya namun binar matanya yang jujur.
"Kamu boleh makan es krim, Le?"
Bara mengangguk mantap dengan mata berbinar. Akhirnya, mereka berempat duduk bersama di kursi taman itu. Menikmati es krim di bawah naungan pohon rindang. Suasana begitu bahagia, penuh tawa kecil yang tulus. Sang kakek menatap Bara dengan binar bangga.
"Terima kasih ya, Le. Kamu anak laki-laki yang top!" pungkasnya sambil mengacungkan jempol tinggi-tinggi.
Sebelum mereka pergi menjauh, si nenek sempat mengusap lembut kepala Bara, sebuah sentuhan yang terasa sangat ibu.
"Makasih ya, Le."
Bara berdiri mematung di tengah taman, menatap kepergian keluarga kecil yang terlihat sangat berwibawa namun bersahaja itu. Ia tidak tahu siapa mereka.
Sepuluh tahun telah berlalu, kini Bara berdiri di tengah lapangan sekolah yang panas, mengenakan seragam putih biru yang sebentar lagi akan berganti menjadi putih abu-abu. Peluh bercucuran di pelipisnya saat ia mengikuti upacara pembukaan MPLS. Pandangan Bara terpaku pada barisan kursi tamu undangan di panggung utama. Di sana, seorang wanita lanjut usia duduk dengan punggung tegak, memancarkan aura otoritas yang begitu dingin dan kaku.
Bara menyipitkan mata, mencoba menggali ingatan masa kecilnya. Ia mengenali wajah itu. Namun ada sesuatu yang hilang secara drastis. Raut wajah sang nenek kini tampak begitu datar, nyaris tanpa ekspresi. Tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan yang dulu Bara rasakan di taman bermain. Tatapannya kini menyapu barisan siswa baru dengan pandangan tajam yang menuntut kepatuhan, bukan lagi tatapan keibuan yang menenangkan.
Dan yang paling membuat dada Bara berdenyut aneh adalah kekosongan di samping nenek itu. Tidak ada lagi sosok kakek yang dulu mengacungkan jempol ke arahnya. Tidak ada lagi tawa hangat yang dulu menawarkan es krim sebagai penawar tangis. Nenek itu berdiri sendiri, seolah-olah waktu telah merenggut seluruh keceriaan yang dulu menyatukan mereka di kursi taman pusat kota.
Bara menelan ludah. Ia teringat kembali pada anak perempuan kecil berambut kuncir yang pernah ia gendong di punggungnya. Di manakah anak itu sekarang? Apakah dia ada di antara ratusan siswa ini?
Lamunan Bara buyar saat kepala sekolah memperkenalkan sosok tersebut dengan suara yang bergema melalui speaker.
"Mari kita sambut dengan hormat, Ibu Retno Widjaya , selaku Ketua Yayasan Pendidikan Merah Putih."
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
Bara menatap Laras dalam-dalam, menelusuri setiap inci wajah yang kini berada tepat di depannya. Matanya terpaku pada sebuah titik kecil di dahi Laras—sebuah tai lalat yang menjadi saksi bisu waktu. Ingatan tentang anak kecil berkuncir yang menangis di taman itu mendadak tumpang tindih dengan gadis yang kini menyandang status sebagai pacarnya.
Bara tertawa kecil, sebuah tawa yang penuh dengan rasa tidak percaya. Ia menangkup kedua pipi Laras dengan tangannya. Ternyata itu kamu, Ras, batinnya berteriak lega sekaligus takjub.
"Kamu kenapa ketawa?" tanya Laras heran, dahinya berkerut.
"Lagi keinget sesuatu."
"Apaan tuh? Jangan bikin penasaran deh."
"Sebelumnya... kamu pernah ketemu aku nggak? Kira-kira sepuluh tahun yang lalu?" Bara meringis, matanya berbinar penuh harap agar Laras memiliki kepingan memori yang sama.
Laras terdiam, matanya menerawang ke atas, mencoba menggali ingatan masa kecilnya yang samar. Namun, ia menggeleng. Wajahnya menunjukkan ia benar-benar tidak ingat. Tanpa menunggu lama, Bara mulai menceritakan detail tentang bengkel Pak Seno, istana pasir, kecelakaan kecil di perosotan, hingga momen makan es krim bersama kakek dan nenek.
Mata Laras perlahan membelalak.
"Bara? Jadi anak kecil yang gendong aku waktu itu... kamu?"
Mereka tertawa riang, merayakan pertemuan yang tak disengaja oleh takdir. Namun, tawa Laras perlahan memudar, digantikan oleh awan mendung di wajahnya.
"Ada apa?" tanya Bara, suaranya melembut.
"Nenek dulu sangat hangat ya, Bar? Tapi sekarang..." Laras menggantung kalimatnya.
Suasana rooftop mendadak hening.
"Sepeninggal Kakek, Nenek jadi seperti itu. Dingin, kaku, dan seolah nggak punya hati lagi."
Laras mulai bercerita dari sudut pandangnya. Tentang bagaimana kecelakaan tragis itu merenggut Kakek, pengkhianatan mekanik kepercayaan keluarga dan bagaimana setelah hari itu, Eyang Putri berubah menjadi sosok diktator di keluarga. Bara mendengarkan dengan seksama, mencoba menggabungkan cerita Laras dengan potongan ingatannya sendiri seperti menyusun sebuah puzzle. Namun, semakin banyak potongan yang terkumpul, semakin sesak dada Bara.
Seketika, sebuah gambaran mengerikan melintas di benaknya—mimpi buruk yang selalu menghantuinya setiap malam selama bertahun-tahun. Suara batuk papanya, tangisan mamanya, dan bayangan penderitaan keluarganya serta kematian papanya.
Bara syok. Badannya mulai bergetar hebat. Pikirannya mendadak berisik oleh suara-suara masa lalu yang selama ini ia tekan dalam alam bawah sadar. Papa tidak bersalah ... Kecelakaan itu ...
"Bara? Bara! Bara!"
Suara Laras terdengar jauh, sebelum akhirnya tepukan di pipinya menarik Bara kembali ke realita.
"Haaah... hahh..." Bara terengah-engah, rasanya ia baru saja dipaksa muncul ke permukaan setelah tenggelam di dasar lautan yang gelap dan dingin.
"Kamu kenapa, Bara? Muka kamu pucat banget!" Laras tampak sangat khawatir, tangannya masih menempel di pipi Bara.
"Enggak... aku nggak apa-apa kok," Bara memaksakan sebuah senyum kecut, meski tangannya masih sedikit gemetar.
Ia belum sanggup menceritakan kepingan puzzle terakhir yang baru saja ia temukan. Kepingan yang mungkin saja akan menghancurkan segalanya. Laras hanya bisa diam, menatap Bara dengan kebingungan yang mendalam. Ada sebuah rahasia yang lebih gelap dari sekadar hubungan backstreet kini mulai membayangi mereka.
Ijin mampir🙏