Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19: Bos Baru dan Surat Pecat di Depan Umum
Rio berjalan menyeret kakinya memasuki lobi kantor Wijaya Corp.
Dia baru keluar dari RSUD kemarin sore. Infusnya baru dilepas, meninggalkan bekas lebam biru di punggung tangannya yang kurus. Wajahnya cekung, matanya dikelilingi lingkaran hitam pekat. Kemeja kerjanya terlihat kebesaran di tubuhnya yang menyusut drastis dalam seminggu terakhir.
"Gue harus kerja... Gue harus dapet gaji..." mantra itu terus diulang Rio di dalam hati.
Tanpa gaji bulan ini, dia dan Ibunya benar-benar akan tidur di kolong jembatan. Sekarang saja mereka menumpang sementara di pos ronda kampung sebelah karena Bu Ratna memohon-mohon pada Pak RT (dengan janji palsu akan segera dapat warisan).
Namun, suasana kantor pagi ini terasa aneh.
Sangat aneh.
Biasanya jam segini karyawan masih santai ngopi di pantry. Tapi hari ini, semua orang sibuk. Office Boy sedang menggosok lantai marmer lobi sampai licin. Resepsionis memakai seragam baru yang lebih rapi. Pak Herman, manajer yang biasanya galak, terlihat mondar-mandir di depan lift dengan wajah tegang penuh keringat.
"Eh, ada apaan sih?" tanya Rio pada rekan kerjanya, Dodi, yang sedang merapikan dasi.
Dodi menatap Rio dengan tatapan jijik sekilas, lalu menjawab ketus, "Lo nggak baca email? Hari ini Town Hall Meeting. Investor baru mau dateng. Katanya perusahaan kita udah dibeli sama holding raksasa."
"Dibeli?" Rio bingung.
"Iya. Keuangan kita kan anjlok gara-gara proyek 5 Miliar itu batal. Inget kan salah siapa?" sindir Dodi tajam, lalu pergi meninggalkan Rio.
Rio menelan ludah. Salah dia.
Pukul sembilan tepat.
Seluruh karyawan Wijaya Corp, sekitar lima puluh orang, berkumpul di aula utama kantor. Suasana hening mencekam. Siska berdiri di barisan belakang, wajahnya pucat, terus-menerus membetulkan tatanan rambutnya dengan gelisah. Dia tidak berani menatap Rio.
Rio berdiri di barisan tengah, mencoba menyembunyikan tubuh kurusnya di balik punggung rekan kerja yang tinggi. Firasatnya menjerit bahaya.
"Selamat pagi semua," suara Pak Herman terdengar bergetar di mikrofon. "Hari ini adalah hari bersejarah. Dengan bangga saya umumkan, bahwa mulai hari ini, Wijaya Corp resmi menjadi anak perusahaan dari... ANINDITA GROUP."
DEG.
Darah Rio berhenti mengalir. Kakinya lemas seketika.
Anindita Group.
Lagi. Nama itu lagi.
"Mari kita sambut, pemilik baru sekaligus Komisaris Utama kita... Ibu Kara Anindita!"
Pintu ganda aula terbuka lebar.
Masuklah dia.
Kara Anindita.
Dia mengenakan dress kerja selutut berwarna merah marun yang memancarkan aura kekuasaan (power dressing). Rambutnya diikat ponytail tinggi yang rapi. Langkah kakinya mantap, diiringi bunyi tak-tak-tak sepatu hak tingginya yang menggema di ruangan sunyi itu.
Di belakangnya, berjalan Pak Hadi dan beberapa pria berjas hitam lainnya.
Semua karyawan menahan napas. Terpesona sekaligus terintimidasi.
Mereka tahu siapa Kara—istri Rio yang dulu digosipkan kampungan. Tapi wanita di depan mereka ini? Ini bukan kampungan. Ini adalah definisi "Mahal".
Kara naik ke atas podium. Dia memandang seluruh ruangan dengan tatapan tajam elang.
Rio menunduk dalam-dalam, berharap lantai akan membelah dan menelannya.
"Selamat pagi," sapa Kara. Suaranya jernih, tegas, dan dingin. Tidak ada senyum ramah tamah.
"Saya tidak akan berlama-lama. Saya mengakuisisi perusahaan ini karena saya melihat potensi. Tapi, potensi itu tertutup oleh manajemen yang buruk dan SDM yang tidak berkualitas."
Kara membuka map yang dibawanya.
"Budaya kerja di Anindita Group adalah kejujuran, integritas, dan profesionalisme. Saya tidak mentolerir benalu."
Mata Kara menyapu ruangan, lalu berhenti tepat di titik di mana Rio bersembunyi.
"Saudara Rio Pratama."
Panggilan itu terdengar seperti vonis mati.
Semua kepala menoleh ke arah Rio. Teman yang tadi dijadikan tameng oleh Rio langsung minggir, membiarkan Rio terekspos sendirian di tengah ruangan.
Rio mengangkat wajahnya dengan gemetar. Dia melihat Kara di atas podium. Jarak mereka hanya sepuluh meter, tapi rasanya seperti bumi dan langit.
"Sa-saya, Bu..." cicit Rio.
Kara menatapnya datar. Tidak ada emosi. Tidak ada rasa cinta, benci, atau dendam. Rio baginya hanyalah file rusak yang harus dihapus.
"Berdasarkan audit kinerja yang saya lakukan semalam, Anda tercatat memiliki performa terburuk. Menghilangkan proyek senilai lima miliar, menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, dan memiliki catatan buruk dengan pihak eksternal (debt collector) yang mengganggu operasional kantor."
Kara menutup mapnya.
"Perusahaan ini bukan panti sosial yang memelihara orang tidak kompeten. Mulai detik ini, Anda saya pecat dengan tidak hormat."
Gumam kaget terdengar di seluruh ruangan. Siska menutup mulutnya menahan pekikan.
"T-tapi Ra... eh, Bu..." Rio mencoba bicara, matanya berkaca-kaca. "Saya butuh pekerjaan ini... Saya baru keluar rumah sakit... Saya nggak punya uang..."
Rio mencoba memainkan kartu kasihan lagi di depan umum.
Kara tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Itu bukan urusan perusahaan, Pak Rio. Itu konsekuensi hidup Anda."
Kara menoleh ke arah Kepala Keamanan kantor. "Pak Sekuriti?"
"Siap, Bu!"
"Tolong bantu Pak Rio membereskan barangnya sekarang juga. Pastikan dia keluar dari gedung ini dalam waktu sepuluh menit. Dan pastikan dia tidak membawa aset kantor sekecil apa pun. Termasuk pulpen."
"Siap laksanakan!"
Dua orang satpam bertubuh kekar langsung mendatangi Rio. Masing-masing memegang lengan kanan dan kiri Rio.
"Mari, Pak Rio. Lewat sini."
Rio diseret—secara harfiah diseret karena kakinya lemas—keluar dari aula. Dia melewati barisan teman-temannya yang menatapnya dengan pandangan kasihan bercampur lega (lega karena bukan mereka yang dipecat).
Dia melewati Siska. Rio sempat menatap Siska, berharap ada pembelaan.
Tapi Siska membuang muka, pura-pura sibuk melihat kuku jarinya.
"KARA! TEGA KAMU, RA! AKU INI MANTAN SUAMIMU!" Rio sempat berteriak putus asa sebelum pintu aula tertutup di belakangnya.
Di atas podium, Kara kembali menatap karyawannya yang kini tegang dan ketakutan.
"Baik, kita lanjutkan," ucap Kara santai, seolah baru saja membuang tisu kotor ke tong sampah. "Untuk yang lain, selama kalian bekerja jujur, posisi kalian aman. Dan untuk Saudari Siska..."
Kara melirik Siska yang berdiri gemetar di pojok.
"Ke ruangan saya setelah ini. Kita perlu bicara soal etika hubungan antar rekan kerja."
Siska merasa lututnya mau copot.
Hari itu, di gedung Wijaya Corp, legenda tentang "Istri Gembel" resmi berakhir, digantikan oleh legenda "Ratu Eksekutor" yang tak kenal ampun.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏