Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Kamu di sini juga rupanya ya."
"Oh iya, aku lupa ... kamu kan pengangguran," cibir Nuraa.
Di bawah meja Vivi mengepalkan kedua tangannya sementara Aska menatap bergantian Nuraa dan juga Vivi.
"Loh kamu udah gak kerja lagi, Vi?" tanya Aska.
"Iya ... aku di pecat sama wanita yang berdiri di samping kak Aska sekarang, gak profesional banget mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan," sindir Vivi.
"Mungkin Nuraa punya alasan lain terkait hal itu, Vi. Kenapa kamu gak datang ke showroom atau ke perusahaan papah," kata Aska.
"Kalo ke perusahaan papah kayanya gak deh, Kak. Kalo kerja di showroom mobil kaka, sepertinya itu ide yang bagus," balas Vivi.
Baru saja Nuraa dan Aska akan duduk, tiba- tiba seseorang memanggil nama Nuraa dengan keras, saking kerasnya, semua pengunjung di kafe Evelyn menatap serempak ke arah sumber suara tersebut, sementara Nuraa tanpa menoleh pun ia tau siapa pemilik suara tersebut.
Melihat kedatangan Kevin, Vivi tersenyum tipis.
Kevin berjalan cepat ke arah Nuraa dengan kedua tangannya yang terkepal dan napas yang memburu. Sampai di hadapan Nuraa dan juga Aska, Kevin membalikkan tubuh Aska menghadapnya dan langsung melayangkan tinjunya ke wajah Aska.
"Kevin! Kamu udah gila ya!" Teriak Nuraa mendorong kuat dada bidang Kevin.
Nuraa langsung membantu Aska berdiri, sementara Vivi terkejut dan langsung berdiri dari duduknya, ia tidak menyangka jika Kevin akan melayangkan tinjunya ke Aska.
Vivi berdiri dan ikut membantu Aska berdiri.
"Jangan sentuh kak Aska!" Nuraa mendorong Vivi ke samping.
"Sebaiknya kamu urus calon suami kamu itu!"
Mendengar ucapan Nuraa, Kevin tertawa sumbang.
"Pantas aja kamu dengan mudah mengakhiri hubungan kita Raa, ternyata kamu sudah punya penggantinya," seru Kevin.
"Jangan-jangan kamu juga berselingkuh di belakang aku dengan pria itu!" tuduh Kevin, menunjuk wajah Aska.
Nuraa berjalan perlahan mendekat ke arah Kevin.
PLAK! Kini giliran Nuraa menampar kuat wajah Kevin.
Kevin memegangi pipinya yang terasa panas bekas tamparan Nuraa, ia tidak menyangka Nuraa memiliki tenaga yang kuat untuk menamparnya, bahkan tamparan Nuraa sampai membuat dirinya meringis menahan sakit di bagian tersebut.
Sementara Nuraa pun merasakan hal yang sama, tangan yang baru saja di gunakannya menampar Kevin, terasa perih.
"Kamu nampar aku cuma karena lelaki itu, Raa?" Kevin menunjuk lagi ke arah Aska.
"Kamu lupa 5 tahun kebersamaan kita, Raa," kata Kevin lagi.
"Iya, aku nampar kamu untuk dia, emangnya kenapa? Hah!"
"Kak Aska, ayo kita pergi dari sini." Nuraa memegang tangan Aska dan hendak mengajaknya keluar bersama dari kafe milik Evelyn.
"Tunggu! Kamu beneran udah lupain semua tentang kita Raa?" Kevin memegang kuat lengan kiri Nuraa.
"Kamu dengan mudah mengakhiri hubungan kita, karena kamu mau bersama dengan lelaki itu, kan!"
"Gak! Aku gak rela ngelepasin kamu Raa." Kevin menarik Nuraa ke sisinya, sementara Aska pun melakukan hal yang sama, mereka saling menarik Nuraa.
"Berhenti!!!" Teriak Evelyn dari kejauhan, ia baru keluar dari ruang kerjanya saat salah satu karyawan kafe nya melaporkan ada keributan di luar.
"Di sini gak ada produser, kalo kalian mau casting drama jangan di sini! Gak semua pengunjung kafe ini suka dengan drama kalian!" sela Evelyn.
Kevin tidak peduli, ia kembali menarik Nuraa agar berdiri di sisinya, Aska pun melakukan hal yang sama.
"Kak ... biar aku selesaiin sendiri urusanku sama lelaki ini." Nuraa menatap lembut Aska dan melepaskan perlahan tangan Aska yang menggenggam telapak tangannya.
Setelah itu, kini giliran tangan Kevin yang di hempaskan kasar oleh Nuraa agar melepaskan genggamannya di tangan Nuraa.
"Kevin ... kamu sadar gak? Kamu yang sekarang berdiri di hadapan aku itu terlihat sangat menyedihkan!"
"Kamu seperti anak kecil yang merengek meminta permen milik orang lain!"
"Menyedihkan sekali!"
"Oh aku tau, kamu sengaja seperti ini hanya untuk balas dendam ke aku, kan?" tuduh Kevin.
"Balas dendam? Ke kamu?"
"Untuk apa?" Nuraa mendengus, kemudian di susul tawanya yang mengejek.
Melihat sikap Nuraa membuat Kevin semakin kehilangan kendali, desah napasnya memburu karena emosi yang meluap.
"Raa, apa kamu udah gak cinta lagi sama aku?"
"Iya atau gak Raa, jawab aku?!" teriak Kevin mencengkram kuat kedua lengan Nuraa dan mengguncang-guncang tubuh Nuraa karena Nuraa hanya diam saja.
"Aku gak percaya semudah itu kamu menghapus aku dari hati kamu!" serunya lagi.
"Ya!"
"Aku udah gak cinta lagi sama kamu!" Nuraa menghempas kasar tangan Kevin yang mencengkram kuat kedua lengannya.
"Dulu aku cinta banget sama kamu, Vin."
"Sekarang aku lebih cinta sama diriku sendiri!" tegas Nuraa.
"Ayo kak kita pergi dari sini, Nuraa menggenggam tangan Aska, mengajaknya untuk pergi dari sana.
Baru beberapa langkah Nuraa teringat sesuatu, ia berhenti dan berbalik.
"Oyah ... aku sampe lupa. Mulai hari ini tolong kamu menjauh dari kak Aska, Vi!" seru Nuraa.
"Atas dasar apa kamu ngelarang aku untuk dekat-dekat kak Aska, dia kakak aku, kamu cuma orang lain!" balas Vivi sengit.
"Kakak? Kalian berdua gak ada hubungan darah. Jangan lupa, kamu hanya anak pungut!"
"Aku cuma khawatir kamu pun akan merebut kak Aska dari sisi aku, sama seperti yang kamu lakukan ke hubunganku dan Kevin."
"Dan soal orang luar yang kamu bilang tadi, sebentar lagi dia bakalan jadi menantu di keluarga itu."
Setelah mengucapkan hal tersebut, Nuraa pergi begitu saja, menarik paksa Aska untuk pergi bersama.
Vivi dan Kevin terpaku memandangi kepergian Nuraa bersama Aska dengan kedua tangan mereka yang terkepal kuat.
Karena enggan berlama-lama hanya dengan Vivi, Kevin pun keluar dari kafe milik Evelyn, yang tersisa hanya Nuraa dan juga Evelyn.
"Gak usah sok terkejut gitu, aku tau ini ulah kamu, kamu kan yang manggil Kevin datang?"
"Kamu juga datang pasti karena kak Aska dan Nuraa mau ke sini, sekalinya datang ke kafe aku cuma bikin kacau," cibir Evelyn.
Evelyn mendekat ke arah Vivi dan berbisik tepat di samping telinga kiri Vivi.
"Niat mau balas dendam ke Nuraa jadi kacau balau ya."
"Kamu salah langkah sih menurut aku, masih perlu banyak belajar lagi jadi wanita yang licik."
"Bener-bener amatir!"
Evelyn tertawa pelan sambil berjalan meninggalkan Vivi yang berwajah pias.
Vivi yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, langsung menyapu semua yang ada di atas meja dengan tangannya.
Pecahan gelas dan juga piring berserakan di lantai.
"Jangan lupa sebelum pergi, bayar ganti ruginya!" teriak Evelyn, yang belum begitu jauh jaraknya dari Vivi.
"Aargghh Evelyn sialan!" Vivi meneriaki Evelyn dengan kuat.
Sementara orang yang di teriaki berjalan santai sambil tertawa ringan.
Bersambung...