Senja Maharani, seorang sekretaris muda yang cerdas, ceroboh, dan penuh warna, di bawah asuhan Sadewa Pangestu, seorang CEO yang dingin dan nyaris tak berperasaan. Hubungan kerja mereka dipenuhi dinamika unik: Maha yang selalu merasa kesal dengan sikap Sadewa yang suka menjahili, dan Sadewa yang diam-diam menikmati melihat Maha kesal.
Di balik sifat dinginnya, Sadewa ternyata memiliki sisi lain—seorang pria yang diam-diam terpesona oleh kecerdasan dan keberanian Maha. Meski ia sering menunjukkan ketidakpedulian, Sadewa sebenarnya menjadikan Maha sebagai pusat hiburannya di tengah kesibukan dunia bisnis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckygurl_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak dalam dilema
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Di ruang kerja Sadewa, Maha masih berkutat dengan beberapa berkas yang seolah tidak ada habisnya. Sejak satu jam yang lalu, Sadewa belum kembali ke ruangan. Pria itu masih bersama Abimana diruang tamu, entah membahas apa. Maha pun tidak terlalu perduli.
Keinginannya untuk pulang semakin menguat seiring berjalannya waktu. Namun, tumpukan berkas didepannya belum juga selesai. Terpaksa, ia terus bekerja, meski lelah mulai menyergap. Maha tahu, meminta izin pulang dengan pekerjaan yang belum rampung bukanlah pilihan bijak. Sadewa jelas tidak akan menerima alasan itu dengan mudah. Lebih dari sekedar takut, Maha hanya malas berdebat dengan pria kaku itu.
Maha menghela nafas untuk mencoba fokus kembali. Tapi pikirannya terusik, membayangkan kasur empuk dirumah yang sudah menunggu. “Sabar, Maha… sedikit lagi,” gumamnya, berusaha meyakinkan diri.
Derit pintu yang terbuka perlahan mengalihkan perhatian Maha dari berkas-berkas yang masih menumpuk dari pangkuannya. Sadewa melangkah masuk, seperti biasa dengan auranya yang dingin dan tak tergoyahkan. Pandangannya tetap lurus, seolah tak terganggu oleh kehadiran Maha yang duduk di sofa sejak tadi.
“Menginap lah di sini. Saya tidak bisa membiarkan mu pulang sendirian selarut ini.” Celetuk Sadewa, tanpa sedikitpun nada keraguan. Sambil berjalan menuju kursinya, lalu duduk dengan tenang dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Maha menatapnya dengan bibir yang terkatup rapat. Ia berusaha memahami kata-kata yang terdengar keras dari Sadewa. Bukankah aku sudah berjanji untuk mengikuti alur permainannya? Pikirnya. Sehingga, Maha menenangkan diri dan menahan gejolak emosi yang ingin meledak.
“Saya tidak membawa pakaian ganti, Pak…” jawab Maha, sambil menatap Sadewa yang duduk di kursinya dengan tenang.
Sadewa mendongakkan kepalanya untuk menatap Maha. “Besok saya suruh Maya menyiapkan semuanya, termasuk pakaian dalammu. Tidak mau yang berenda, ‘kan?” Balas Sadewa dengan nada datar, seolah itu hal yang biasa dibicarakan.
Maha tertegun, seketika wajahnya memanas. Ia segera mengusap wajahnya lembut, berusaha untuk menyembunyikan rasa malunya kini membanjiri dirinya. Ingatan tentang saat Sadewa membelikannya pakaian dalam itu kembali menghantui pikirannya, dan membuatnya canggung.
Sialan! Maha mengumpat dalam hati, tapi wajahnya tetap tenang.
“Terserah Anda saja, Pak. Saya ngikut,” jawab Maha, matanya kembali fokus pada layar laptop di pangkuannya. “Sebenarnya, saya juga punya yang renda-renda, Pak. Mau lihat nggak? Cute, loh, siapa tahu Anda mau belikan yang serupa buat saya.” Sambungnya, dengan nada menggoda.
Namun, dalam hati Maha, ia merasa sangat malu. Ucapannya itu hanyalah bualan. Sebenarnya, ia tidak memiliki pakaian dalam seperti yang ia sebutkan tadi. Hanya saja, godaan itu keluar sebagai bentuk balasan atas sikap frontal Sadewa.
Disisi lain, Sadewa yang semula tampak tenang, mulai menunjukkan sedikit kegusaran. Mata dinginnya kini menatap Maha lebih tajam, seolah menantang. “Semacam lingerie?” Tanyanya, suaranya terdengar datar, tapi ada sedikit perubahan dalam intonasi nya.
Maha berusaha keras untuk menahan senyumnya, ia tahu telah berhasil membuat Sadewa sedikit gelisah. Meskipun begitu, ia juga tidak bisa mengabaikan rasa panas yang merayap diwajahnya, membayangkan keberanian yang baru saja ia tunjukkan.
Astaga, percakapan macam apa ini? Maha menggerutu dalam hati, wajahnya memerah oleh rasa malu. Ia semakin salah tingkah akibat ulahnya sendiri yang memancing percakapan tak senonoh ini.
“Kok, Anda tahu, Pak? Wah, keliatannya suka beliin ceweknya lingerie, ya?” Ceplos Maha dengan nada bercanda, berusaha menutupi kegugupannya sambil menunjuk kearah Sadewa. Ia merasa percakapan ini cukup menarik, meski dibalik pikirannya ia bertanya-tanya, kenapa ini malah semakin seru?
“Jangan sok tahu kamu! Apa jangan-jangan kamu ingin saya belikan lingerie itu? Jika iya, besok saya belikan satu lusin. Tapi kamu harus pakai dan saya harus melihatnya. Bagaimana?” Sambar Sadewa dengan tegas sambil mengangkat sebelah alisnya, pun ekspresinya tetap dingin namun penuh intensitas.
Maha terkejut oleh kelancangan Sadewa, membuatnya menelan ludah dengan kasar. Jantungnya pun berdetak lebih cepat, ia terjebak dalam percakapan yang semakin ngawur ini.
“Dih, enak Anda, nggak enak di saya, Pak Sadewa!” protes Maha.
“Loh, ‘kan, kamu milik saya, Maha. Jadi, setiap inci dari tubuh kamu itu ya milik saya. Saya berhak melihatnya,” ucap Sadewa, sudut bibirnya terangkat.
“Astaga, Pak Sadewa! Istighfar, Pak!” Seru Maha yang tengah terperangah, sambil mengelus dadanya berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu.
Sadewa mengangkat bahu dengan santai. “Saya non-muslim,” jawabnya.
Maha terkekeh, meski masih merasa salah tingkah. “Oh iya, lupa…” ujarnya.
Beberapa saat kemudian, Sadewa berdiri dari kursinya, menyibakkan jimbei dengan gerakan elegan. “Ya sudah, ayo kita tidur, Maha… Saya lelah, ingin istirahat,” ajaknya dengan nada lebih tenang, namun tetap mengundang otoritas.
“Kita?!” Sambar Maha mengerutkan keningnya, suaranya naik sedikit diujung kata menandakan rasa herannya.
“Iya, saya dan kamu…” Sadewa menjeda ucapannya, membiarkan ketegangan menggantung di udara dan tangannya terangkat ke pinggang. “Ck, jangan berpikir macam-macam! Kamu tidur di kamar tamu, sementara saya tidur di kamar saya. Ya ampun, ternyata pikiranmu lebih mesum dari yang saya kira.” lanjut Sadewa, ia menggelengkan kepalanya, sementara bibirnya melengkung dalam senyum tipis yang penuh godaan.
Bodoh, kenapa aku harus berpikir sejauh itu, sih? Batin Maha mengomel pada dirinya sendiri. Wajahnya terasa memanas, karena rasa malu yang menyeruak.
“Baiklah.” Jawab Maha akhirnya. Ia tahu bahwa tubuhnya terlalu lelah untuk menolak. Selain itu, pikirannya pun setuju, tidak mungkin juga ia mengemudi dalam keadaan seperti ini.
Sadewa berbalik, langkahnya pelan tapi penuh keyakinan. Sementara Maha, mengamati punggung tegap pria itu yang semakin menjauh, merasakan ketenangan mulai merayap hatinya. Sadewa itu emang nyebelin. Tapi, ada sisi dirinya yang entah kenapa buat aku merasa nyaman, pikirnya saat ini. Namun, Maha menggelengkan kepala untuk mengusir perasaan aneh yang mulai muncul.
...****************...
Pagi yang cerah menyapa dengan lembut, sinar matahari menyusup melalui celah-celah tirai, membawa kehangatan yang menenangkan. Awan putih berarak dilangit biru, seakan menari mengikuti irama pagi untuk mengiringi insan bumi dalam aktivitas mereka.
Maha, meskipun masih ingin berlama-lama dalam pelukan selimut hangat, ia sudah terbiasa bangun pagi. Matanya perlahan terbuka, mencoba mengusir kantuk yang masih menyelimuti. Maha duduk ditepian ranjang, mengusap wajahnya berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang bercerai berai. Semalam tidurnya cukup nyenyak, tapi tubuhnya masih merindukan beberapa jam tambahan di dunia mimpi.
Sesaat kemudian, Maha beranjak dari ranjang. Langkah kakinya pelan menuju kamar mandi untuk mencari kesegaran guna membangunkan semangat paginya. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, membiarkan sensasi segar itu membangunkan setiap sel tubuhnya yang telah.
Hari ini akan baik-baik saja, bisiknya pada diri sendiri, meyakinkan bahwa segala sesuatu akan terjadi seperti seharusnya.
Biasanya, setiap pagi setelah membuka mata. Maha selalu menyeduh secangkir teh hangat untuk menenangkan pikirannya. Rutinitas kecil itu selalu berhasil membuatnya merasa lebih baik.
Pagi ini, ingatan tentang ucapan Sadewa terlintas dibenaknya. ‘Anggap saja rumah sendiri.’ dengan keyakinan itu, Maha pun melangkah menuju dapur.
Ruangan itu terasa sunyi, hanya terdengar suara langkah kaki Maha yang menyentuh lantai dingin. Maha mengamati sekeliling, memastikan bahwa sosok Sadewa tidak tampak dimanapun, dan sunyi tanpa kehadiran pria itu. Itu berarti Sadewa masih terlelap dibalik pintu kamarnya.
“Aman.” Bisik Maha merasa lega. Ia mulai mengambil teko dan menuangkan air kedalam nya, mempersiapkan teh seperti biasanya. Sentuhan hangat dari teh yang ia seduh nanti akan menjadi awal yang nyaman untuk harinya.
Maha tersenyum kecil dalam kesunyian dapur, ia menikmati momen tenang ini. Hatinya merasa lebih ringan, setidaknya untuk sementara waktu, sebelum kembali berhadapan dengan keseharian yang menuntut. Sebenernya, ia merasa sungkan saat ini. Terlebih ini rumah bos-nya, namun di sisi lain, ia juga merasa tidak enak jika pulang tanpa berpamitan. Menurutnya, tidak sopan. Sehingga, ia memilih untuk menyeduh teh dan menunggu Sadewa bangun.
Tak berselang lama, air panas di teko mendidih. Maha mulai menyeduh teh nya, menikmati aroma daun teh yang baru saja terendam. Pagi ini benar-benar sepi, hanya ada suara ketikan lembut dari teko yang mengisi ruangan. Saat tangan Maha mulai mengaduk teh, tubuhnya terperanjat ketika tiba-tiba ada sebuah tangan besar yang melingkar di pinggangnya.
Cup!
Sadewa menunduk dan mengecup pipi Maha tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Suara decakan kecil itu membuat jantung Maha seketika berdetak lebih cepat.
“Good morning, Maha…” ucap Sadewa dengan Husky voice.
Sebuah nafas hangat menyentuh leher jenjangnya, dan Maha membeku ditempatnya. Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Kejadian itu begitu cepat, hingga ia hanya bisa menatap Sadewa yang sudah berjalan menjauh menuju alat pemanggang roti dengan santai.
Maha merasa canggung, dalam kesunyian hanya ada suara detak jantungnya yang terasa begitu keras. Apa ini? Apa yang baru saja terjadi? Pikirnya, matanya terpaku pada punggung Sadewa yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
Sementara Sadewa, ia memasukkan roti kedalam alat pemanggang sambil melirik Maha. Begitu melihat ekspresi Maha yang masih keheranan, ia akhirnya menoleh. Matanya yang tajam, menatap Maha, seolah mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dibingungkan dari tindakan barusan.
“Kenapa? Ada yang salah?” Tanya Sadewa. “Bukankah hal seperti itu sudah biasa dilakukan oleh pasangan kekasih? Jadi, bukan hal yang salah, ‘kan?” lanjutnya, menatap Maha penuh arti.
“Pak, tapi hal seperti itu tadi tidak ada dalam kontrak. Jadi, Anda jangan terlalu lancang dan harus tahu batasan, Pak.” Balas Maha dengan tegas, meskipun ada sedikit gemetar dalam suaranya.
Mendengar jawaban itu, membuat Sadewa tersenyum smirk. Ia menyadari betul bahwa kata-kata Maha bukan hanya sebuah peringatan, tetapi juga batasan yang tak ingin dilewati. Namun ada kilatan kesal dimatanya, merasa sedikit tertantang. Sadewa tidak suka jika apa yang ia lakukan mendapat perlawanan, terutama dari seseorang yang ia anggap tidak bisa menghalangi kehendaknya.
Sadewa melangkah mendekati Maha. Tindakan tiba-tiba itu membuat Maha membelalakkan matanya, hampir tidak percaya, hingga sendok yang digunakannya untuk mengaduk teh terjatuh dan berbunyi nyaring saat menyentuh lantai.
Dalam sekejap, Sadewa menangkup rahang Maha dengan sikap tegas. Tatapannya penuh keinginan, lalu ia melumat bibir Maha dengan lembut. Sensasi hangat menyelimuti tubuh Sadewa, seolah ada aliran listrik yang mengalir di tubuhnya. Saat bibirnya menyapa setiap lekuk bilah bibir ranum Maha dengan lembut.
Dalam ciuman itu, Sadewa, menunjukkan dominasi, menegaskan keberadaannya. Wajahnya yang dingin menunjukkan ketegasan. Sementara matanya berkilau dengan semangat, menentang setiap ancaman yang diucapkan Maha—ia ingin menunjukkan bahwa dialah yang mengendalikan segalanya.
Sayangnya, Maha, tidak membalas ciuman panas itu. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Sadewa akhirnya melepas ciumannya, meski masih menangkup kedua pipi Maha dengan lembut. Nafasnya terdengar terengah-engah, menunjukkan betapa intens nya momen itu.
“Jangan pernah mengancam saya, ingat itu. Terlepas dari kontrak itu, ada atau tidaknya skin ship, saya tidak peduli. Karena saya sudah membayar mahal dirimu, Maharani.” Jelas Sadewa, suaranya meninggi dan penuh determinasi
Ting!
Suara alat pemanggang roti memecah suasana, menandakan bahwa roti tersebut sudah matang sempurna. Suara tersebut tampak sangat kontras dengan ketegangan diantara mereka.
“Siapkan roti panggang dengan selai kacang untuk saya. Saya akan bersiap-siap,” kata Sadewa berbisik sambil mengusap sedikit saliva yang tersisa dibibir Maha. “Ingat, Maha, kamu milik saya dan sepenuhnya hak saya.” Lanjutnya.
Cup!
Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Maha, menciptakan sensasi hangat yang mengikat sebelum Sadewa beranjak pergi, meninggalkan Maha sendirian didapur. Ciuman itu bagai tanda kepemilikan, seolah mempertegas bahwa Maha adalah milik Sadewa Pangestu.
Apa bedanya aku dengan wanita bayaran? Batin Maha dengan tangan bergetar. Airmatanya menetes deras, ia merasa seolah harga dirinya telah dibeli secara kontan oleh Sadewa.
Maha terjebak dalam dilema, bertanya-tanya apakah ini benar-benar hasil dari kontrak yang di sepakati bersama, atau hanya sekedar alibi dari Sadewa yang sebenarnya ingin memonopoli dirinya sepenuhnya, membuatnya merasa terasing di dalam dirinya sendiri.