NovelToon NovelToon
Riyan & Vania

Riyan & Vania

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rini IR

"Kan ku kejar, akan ku cari kemanapun, dimanapun, di sudut Dunia sekalipun, akan ku dapatkan kamu, lagi. Tidak ada alasan lain, selain karna aku ingin hidup dengan mu, selamanya. " ~Riyan Adijaya

Berkisah tentang Riyan dan Vania, kisah cinta manis berujung pahit. Dimana, setelah satu tahun berkuliah di Jerman, Riyan mengalami kecelakaan mengakibatkan Amnesia Retrograde pada dirinya. Dan melupakan, Vania.

Setelah dua tahun kemudian, Riyan malah di paksa untuk menjadi guru pengganti di SMA MERAH PUTIH. SMA di mana Vania berada.

Akankah, kisah asam manis keduanya masih berlanjut? akankah mereka benar -benar bersanding di pelaminan, nanti? Ataukah, itu memang hanya masa lalu belaka?

yuk simak~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Rahasia apa?

***

Sejak awal emang aku harus pergi, memaksa seseorang untuk mengingat kembali aku,  itu adalah sebuah kesalahan.

Sungguh! Berapa lama lagi untuk ku tamat sekolah. Aku benar-benar ingin pergi jauh dari sini. Bahkan jika bisa,  menyusul papah dan mamah lebih baik~

Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mungil gadis itu. Vania bisa merasakan,  panas sekaligus sejuk yang datang menerpanya secara bersamaan.

Tring! Tring!

Telepon Vania berbunyi, ia melihatnya. Ada satu panggilan dari Arfen.

"Vania, lo di rumah aja kan?" tanya Arfen dari ujung sana memastikan.

"Iyaah kak, aku dirumah aja. Gimana keadaan pak Riyan? "

"Riyan baik-baik aja. Dia udah sadar. Lo gak usah khawatir. Selama ada orang baik dengan ketampanan yang melegenda ini. Riyan bakal aman-aman aja."

"Oh gitu, iyah kak. Btw, Tante Airin sama om Agung udah tau? "

"Udah tau sih. Cuman mereka gak bisa pulang. Lagian Riyan juga baik-baik aja kok. "

***

Vania menatap dirinya sendiri di cermin, dia yang mengikat satu rambutnya. Memakai celana baggy pants hitam, dengan sweater cream miliknya, Sungguh terlihat sangat imut.

Vania ingat, satu jam lalu Disha dan Shina dengan heboh mengajaknya menonton film. Entah film apa yang akan mereka tonton. Tapi Vania menolak. Lalu, kemana Vania akan pergi sebenarnya?

Vania mengambil tasnya, lalu berjalan keluar. Tak lupa, dia juga mengambil kacamata dan topi hitam yang ada di meja. Gadis manis itu berpamitan dengan bibi, dan juga pak Jun.

***

Gadis mungil itu, yah Vania namanya. Dia masih setia menunggu Bus di halte. Kali ini dengan menggunakan kacamata hitam miliknya, dan juga masker yang baru saja di belinya. Topi yang sedari tadi di pegangnya di masukan ke dalam tas.

Sampai beberapa saat kemudian Bus itu datang. Vania langsung menaikinya. Ia mencari kursi tengah dan bangku yang kosong.

Mulut ku memang mengatakan aku tidak ingin melihatnya, hatiku tak lagi peduli dengannya. Tapi kenyataannya, aku tidak akan tenang. Sampai aku melihat keadaannya dengan mata kepala ku sendiri.

***

Riyan POV

"Hah? Kak Vania? Bukannya kak Vania pacar kak Riyan yah? Iyah gak sih? " Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Shiren. Aku tidak tau, itu hanya omongan asal. Atau memang begitulah faktanya.

Di tambah dengan Arfen. Arfen juga memberikan pernyataan yang menguatkan bahwa Vania si bocah rese itu adalah kekasih ku. Tapi, tapi sayangnya aku tidak bisa mengingat apapun.

Aku memang merasa akrab dengan Vania. Aku merasa penasaran padanya. Yah, hanya sekedar penasaran. Bukan berarti aku suka padanya.

Mendadak kepala ku sakit. Dua kata itu. "Om Galak! " dua kata yang selalu terngiang di kepala ku. Aku tidak tau pasti. Apakah Vania benar-benar kekasihku. atau hanya bualan Arfen belaka?

Tapi aku juga tidak bisa percaya begitu saja kan?! Shiren dan Arfen adalah orang baik. Mungkin saja mereka mengatakan itu agar aku tidak mengusir Vania. Kebenaran apa sebenarnya yang telah hilang dari diri ku?!

Kepala ku mendadak pusing sekali. Aku meminta mereka semua untuk keluar. Aku tak sudi melihat mereka yang menatapku iba penuh dengan rasa kasihan. Aku benci itu! Aku tidak butuh di kasihani!

Tapi jujur, aku juga tidak begitu menyukai Vania dekat yang lain. Aku ingat saat bocah-bocah sialan itu! Sandy dan Arka mencoba mendekati Vania! Hati ku panas! Badan ku terasa bergetar.

Untuk saat ini aku memang tidak mengingat apapun. Tapi,

Cukup! Cukup untuk hari ini! Aku sudah tidak kuat lagi!

Aku membaringkan tubuhku, aku sudah tak ingin memikirkannya lagi, karna ini begitu menyakitkan.

***

Vania berdiri di depan Rumah sakit, tempat dimana Riyan di rawat. Ingin Vania memakai topinya kembali, namun dia sadar bahwa itu mencurigakan, jadi Vania mengurungkan niatnya mengenakan topi. Semakin aneh penampilannya semakin mencolok pula dia.

Mengenakan masker dan kacamata sepertinya itu juga sudah cukup.

Kamar 73

Batin Vania, dia sudah mengetahui lokasi kamarnya saat dia bertanya pada Thifa. Namun, Vania tidak pernah memberi tahu siapapun bahwa dia akan datang.

Vania mungil bertanya pada resepsionis. Setidaknya Vania mulai mengerti kemana dia akan melangkah selanjutnya.

Saat berjalan menuju kamar 73 Vania menoleh ke kanan. Saat dia merasa kenal dengan orang yang ada di kamar 62 yang baru saja di lewatinya itu.

Vania mundur beberapa langkah, dia mencoba sedikit mendongak dan mengintip siapa Pasien yang agak dikenalnya itu.

"Bagaimana penyakit ku dokter? Berapa lama lagi kira-kira aku bisa bertahan hidup? " tanya Pria itu. Vania kenal dengan orang yang baru saja menanykan lama hidupnya.

Arka?!! Itu Arka?!! Ngapain Arka di sini?! Dan pertanyaan jenis apa barusan itu?!

Batin Vania Shock. Dia benar-benar tidak akan menyangkanya. Orang yang terbaring sendirian itu adalah Arka. Arka si gamers di kelasnya.

"Tuan muda, saya rasa anda akan bertahan selama dua tahun lagi. Untuk itu kita harus cepat mendapatkan pendonornya. " sahut Dokter itu, membantu Arka melepas alat-alat rumah sakitnya.

Dua tahun? Hanya dua tahun lagi? Arka?!! Arkaaaaa!!!

Tanpa Vania sadari, air matanya sudah menetes. Mengingat kemungkinan lama bertahannya Arka.

Vania sudah tidak sanggup lagi. Ia setengah berlari menuju kamar mandi rumah sakit, dia butuh waktu menenangkan diri.

Vania mencuci wajahnya, namun dia masih bisa merasakan hangatnya air mata yang mengalir bersamaan dengan air yang membasuh wajahnya.

"Gak mungkin! Gak mungkin! Dia bukan Arka! Dia pasti bukan Arka!! Yang tadi hikss.. Yang tadi ituu... Itu cuma mirip Arka! Bukan Arka!! Ya Tuhan katakan pada ku bahwa itu bukan Arka!! Dia bukan Arka!!! " Vania terduduk lemas di dalam kamar mandi itu. Air matanya semakin deras berjatuhan.

"Gak mu-mungkin hiks... Gak mungkin Arka cuma punya waktu dua tahun... Arka dia Seh--"

Vania mengingat satu hal. Arka memang biangnya berkelahi dan terlambat di sekolah. Tapi, Arka sama sekali tidak mengikuti Ekskul apapun. Selama ini Arka juga lebih suka main game dan menyendiri. Tidak seperti Sandy yang aktif dalam olahraga Volley. Dan sangat berisik.

Ja-jadi hiks... Jadi itu lah kenapa waktu aku terjebak di Tawuran, Arka mengajakku lari. Bukan malah melawannya? Ja-jadi Arka? Arka benar-benar... Hikss... Enggak... Gak gak gak!!! Itu gak bener!!! gak mungkin! ini hanya ilusi ku!!!!

***

"Tuan muda Arka. Mau sampai kapan anda merahasiakan ini dari orang tua anda? Bukan kah lebih baik memberi tahu mereka. Dengan bantuan uang dan kekuasaan mereka mungkin saja mencarikan jalan keluar, dan dokter yang lebih hebat lainnya. Dan anda bisa sembuh. " Saran Dokter itu, membantu Arka memakai jaket hitamnya kembali.

"Jika aku sembuh, jika tidak? Bagaimana? Di banding melihat wajah sedih dan murung mereka selama dua tahun ini. Lebih baik aku melihat tawa dan menghabiskan waktu bahagia ku dengan mereka selama dua tahun ini, kan? "

***

1
Qaisaa Nazarudin
DASAR GILA,DIA YG MABOK MALAH NYALAHIN ANAKNYA..
Qaisaa Nazarudin
Ratden kalo niat mau nolong Vania tuh jangan setengah2,Tolong sampe tuntas..
Qaisaa Nazarudin
Lha ternyata Shandy beneran suka sama Vania? ku pikir cuman iseng nakal doang,udah terbiasa bercanda gitu..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan lagi tambah kepo aku,Apa maksud Rayden dgn rasa BERSALAH??
Qaisaa Nazarudin
Kok aku curiga ya sama Ortunya Riyan??
Dan aku masih kepo apa maksud Rayden tadi soal kecelakaan ortunya Vania?? 🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Lha kalo ia terus apa hubungannya dgn loe..Kenapa loe yg marah2? Dasar gak jelas..
Qaisaa Nazarudin
Noh udah sembuh kan dari Amnesianya..
Qaisaa Nazarudin
OMG Raka sakit apa??
Qaisaa Nazarudin
Nah pasti sembuh nih Amnesia nya. 🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Kamu udah gede Vania,Masih punya Rumah sendiri,Usaha Cafe sendiri,Kenapa harus bertahan jafi benalu di rumah orang? Dulu kamu masih kecil jadi ortu nya Riyan kasian sama kamu yg hidup sendiri.. Sekarang belajarlah untuk hidup mandiri..
Qaisaa Nazarudin
Kok tau tuh bibi kerja udah puluhan tahun?? katanya Amnesia..😅😅😜😜
Qaisaa Nazarudin
Whaat baru 20 tahun umurnya yg bener thor? Saat Vania 3 SMP umur Vania 15 tahun,Dan umurnya Riyan 19 tahun lho,BEDA UMUR MEREKA 4 TAHUN lho, Sekarang Vania umur 18 Tahun, Masa ia Riyan masih 20 tahun?? Mana hilang umurnya Riyan yg lagi 2 tahun ya?? 🤔🤔🤔🤔🤣🤣🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Kok manggilnya Om?? Beda umur 4 doang,Lagian Riyan umurnya baru 19 tahun juga..Ku pikir Vanoa manggil Om tuh umurnya Riyan udah 26-27 tahun gitu 🤣🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
3 SMP Berarti Vania umur 15 tahun ya,Riyan 19 tahun,Beda cuman 4 tahun doang..
Qaisaa Nazarudin
Waahh memory otak Riyan mundur beberapa tahun nih...
Qaisaa Nazarudin
Emang umur nya Vania ini berapa thor?
Yo rin
karena ganti hp sampai lupa sama novel ini
Siti Mas Ulah Ulah
si nathan noh bapaknya arfen,si legenda
🐾❤︎❣︎𝕲𝖗𝖊𝖞𝖓𝖆𝖙𝖙𝖆✰༆🌿
arka balik yuk nak, belum saatnya masuk😭
🐾❤︎❣︎𝕲𝖗𝖊𝖞𝖓𝖆𝖙𝖙𝖆✰༆🌿
udah pernah baca tapi gak bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!